cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Sejarah dan Budaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 232 Documents
Nasionalisme Islam: perjuangan Ahmad Hanafiah di Lampung, 1937-1947 Hamid, Abd. Rahman
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 18, No 1 (2024): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v18i12024p18-37

Abstract

This article examines how nationalism and Islam intersected in Ahmad Hanafiah's struggels by using historical research methods. Newspapers, actor’s biographies from the past, and two publications by Hanafiah served as the historical materials for this study. Hanafiah is an enlightened religious scholar and intellectual. Through the book of Sirr al-Dahr (1936), he was able to address societal problems in Lampung. His use of the concepts from the Book Al-Hujjah (1937) in supported Indonesian independence based on Islamic values. He has been focusing his ideas and efforts on strengthening Indonesian nationalism and the Lampung Muslim community. As an effect of Dutch aggression in Ramadhan 1366 H (July-August 1947), he led Hezbollah troops from Lampung to conquer Baturaja City in the spirit of sabil war (jihad) until he was captured and killed. Hanafiah was successful in combining nationalism and Islam. This study learning that nationalism and religion may coexist peacefully in order to establish a sovereign and independent state. Artikel ini mengkaji tentang bagaimana perjumpaan Islam dan nasionalisme dalam perjuangan Ahmad Hanafiah dengan menggunakan metode penelitian sejarah. Sumber sejarahnya adalah karya Hanafiah, surat kabar, dan catatan para pelaku sejarah. Hanafiah adalah seorang ulama dan intelektual yang tercerahkan. Melalui buku kitab Sirr al-Dahr (1936), dia mampu mengatasi masalah-masalah kemasyarakatan di Lampung. Dia menggunakan pemikiran dari Kitab Al-Hujjah (1937) untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia berlandaskan nilai-nilai Islam. Ia mencurahkan pikiran dan tenaganya untuk membangun masyarakat muslim Lampung dan nasionalisme Indonesia. Akibat agresi militer Belanda pada Ramadhan 1366 H (Juli-Agustus 1947), ia memimpin pasukan Hizbullah dari Lampung merebut Kota Baturaja dengan semangat perang sabil (jihad) hingga akhirnya ditangkap dan dibunuh. Hanafiah berhasil mempertemukan spirit Islam dan nasionalisme. Kajian ini menunjukkan bahwa agama dan nasionalisme merupakan kesatuan dalam membangun negara yang merdeka dan berdaulat.
Sejarah endemik gondok di Kecamatan Jabon Sidoarjo, 1998 - 2012 Munawaroh, Madinatul
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 18, No 2 (2024): Sejarah Lisan: Menggali Ingatan untuk Memahami Masa Kini dan Membingkai Masa De
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v18i22024p183-199

Abstract

The number of people affected by goiter since the late 1990s led to Jabon Sub-district in Sidoarjo being designated as a goiter endemic area by the World Health Organization (WHO). This paper aims to present the history of the goiter endemic in Jabon Sub-district. Using the oral history method, this paper seeks to explore the historical memory of mumps in Jabon Sub-district, Sidoarjo. This paper shows that the cause of goiter in Jabon sub-district was iodine deficiency. The source of iodine deficiency comes from residents' well water that is polluted with lead (Pb) as a result of the Porong River pollution, the use of krosok salt (not iodized) and the consumption of food containing lead (Pb) and food ingredients that contain goitrogenic substances. Efforts made by the health office and Jabon Community Health Center were able to cope well with the goiter endemic in Jabon Sub-district. However, most goiter lumps in the neck cannot shrink by themselves, thus affecting one's appearance, especially for a woman. Banyaknya warga yang terkena penyakit gondok sejak akhir 1990-an menyebabkan Kecamatan Jabon Sidoarjo ditetapkan sebagai wilayah endemik gondok oleh World Health Organization (WHO). Tulisan ini bertujuan mempresentasikan sejarah endemik gondok yang terjadi di Kecamatan Jabon. Dengan menggunakan metode sejarah lisan, tulisan ini berusaha menggali memori sejarah gondok di Kecamatan Jabon Sidoarjo. Tulisan ini menunjukkan bahwa penyebab terjadinya penyakit gondok di Kecamatan Jabon karena kekurangan yodium. Sumber kekurangan yodium berasal dari air sumur warga yang tercemar mengandung timbal (Pb) imbas dari pencemaran Kali Porong, penggunaan garam krosok (tidak beryodium) dan konsumsi makanan mengandung timbal (Pb) serta bahan makanan yang mengandung zat goitrogenik. Upaya yang dilakukan dinas kesehatan dan Puskesmas Jabon mampu menanggulangi endemik gondok di Kecamatan Jabon dengan baik. Meski demikian, sebagian besar benjolan gondok di leher tidak dapat mengecil dengan sendirinya, sehingga memengaruhi penampilan seseorang, terlebih bagi seorang perempuan.
Kuntowijoyo., dkk. (2023). Perubahan sosial di perdesaan, sejarah lisan Surakarta 1930 - 1960. Kerjasama antara Kasan Ngali, Departemen Sejarah UGM dan STPN Press. IV+363 hlm. 978-623-97734-7-2. IDR. 120.000 Subekti, Arif
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 18, No 2 (2024): Sejarah Lisan: Menggali Ingatan untuk Memahami Masa Kini dan Membingkai Masa De
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v18i22024p241-244

Abstract

Pertama kali saya mengenal buku ini, ketika disebutkan dalam catatan kaki bagian kata pengantar buku berjudul “Tahun yang Tak Pernah Berakhir, Memahami Pengalaman Korban 65” (Roosa et al., 2004). Di antara segelintir perhatian sejarawan Indonesia periode 1970-an hingga 1990-an yang menganggap sejarah lisan sebagai metode, terdapat laporan tim riset dari Universitas Gadjah Mada yang dipimpin oleh sejarawan Kuntowijoyo. Laporan tersebut diterbitkan dalam buku yang berjudul Perubahan Sosial di Perdesaan: Sejarah Lisan di Surakarta, 1930 – 1960. Maka dapat dipahami, bahwa laporan tim riset yang diselesaikan pada pertengahan 1990 ini adalah salah satu rintisan penelitian sejarah lisan dari sejarawan Indonesia.
Sejarah lisan: menggali ingatan untuk memahami masa kini dan membingkai masa depan Leksana, Grace T.; Wahid, Abdul
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 18, No 2 (2024): Sejarah Lisan: Menggali Ingatan untuk Memahami Masa Kini dan Membingkai Masa De
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v18i22024p128-130

Abstract

Apakah kita dapat menggali narasi-narasi sejarah yang tidak tercatat dalam arsip atau dokumen-dokumen tekstual lainnya? Sejarah lisan adalah jawaban atas pertanyaan ini, di mana kelisanan menjadi salah satu sumber alternatif di samping sumber-sumber tekstual, yang seringkali dihasilkan oleh mereka yang berkuasa. Tidak hanya itu, sejarah lisan dapat digunakan sebagai metode untuk menggali pengalaman-pengalaman dari orang-orang biasa atau kelompok sosial yang dianggap ‘tidak penting’ sehingga dimarjinalkan dalam penulisan sejarah konvensional (Thompson, 2000). Jika sebelumnya kehidupan para kaum buruh, perempuan, atau petani, tidak menjadi pusat historiografi karena tidak tercatat dalam arsip, sejarah lisan mampu ‘menghidupkan’ mereka kembali. Menelusuri kehidupan mereka dapat memunculkan interpretasi baru terhadap sejarah, yang sebelumnya tidak dipertimbangkan oleh tradisi eksklusif dalam penulisan sejarah. Dengan kata lain, metode sejarah lisan muncul sebagai kritik terhadap tradisi konvensional dalam historiografi yang menjadikan dokumen tertulis sebagai sumber utama untuk menemukan ‘fakta-fakta sejarah’.
Perempuan dalam industrialisasi di Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan tahun 1980-an: profil 2 buruh perempuan di pabrik kayu Gunung Gangsir Dibah, Nadila Farah
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 18, No 2 (2024): Sejarah Lisan: Menggali Ingatan untuk Memahami Masa Kini dan Membingkai Masa De
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v18i22024p200-214

Abstract

The presence of this research is motivated because of the lack of studies on the history of women labours, so that this article places women as the main subjects of research by displaying their social experience both as factory labours, family labours workers, or women's lives as they live it. The method used in this study is oral history that is useful for digging information about events in the past, and assisted with other sources such as books, newspapers, and scientific articles. The results of this study indicate that the arrival of the industry in Beji, especially in Gunung Gangsir Village, changed the pattern of life of women in the village, from traditional life to industrial life because many of them decided to become factory labours. In carrying out life as a factory worker there are twists and turns faced by them both in the scope of families and factories, to regain the limits of traditional views, the distribution of togetherness with family and the world of work, as well as the double role that is carried out. Kehadiran penelitian ini dilatar belakangi karena masih minimnya kajian terhadap sejarah buruh perempuan, sehingga artikel ini menempatkan perempuan sebagai subyek utama penelitian dengan menampilkan pengalaman sosial mereka baik sebagai buruh pabrik, buruh pabrik berkeluarga, atau kehidupan perempuan sebagaimana mereka menjalaninya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah sejarah lisan atau oral history yang berguna untuk menggali informasi mengenai peristiwa dimasa lampau, serta dibantu dengan sumber lainnya seperti buku, surat kabar, dan artikel ilmiah. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa datangnya industri di Beji khususnya di Desa Gunung Gangsir mengubah pola kehidupan perempuan di Desa tersebut, dari kehidupan tradisional menuju kehidupan industri karena banyak dari mereka memutuskan menjadi buruh pabrik. Dalam menjalankan kehidupan sebagai buruh pabrik terdapat lika-liku yang dihadapi oleh mereka baik di lingkup keluarga dan pabrik, menganai batasan pandangan tradisional, pembagian intesitas kebersamaan dengan keluarga dan dunia kerja, serta peran ganda yang dijalankan.
Recording the Future: an audio-visual archive of ‘everyday life’ in Indonesia in the 21st century Hoogenboom, Ireen
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 18, No 2 (2024): Sejarah Lisan: Menggali Ingatan untuk Memahami Masa Kini dan Membingkai Masa De
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v18i22024p131-145

Abstract

Recording the Future (RtF) is a long-term project of KITLV (Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies) in cooperation with PRMB-BRIN (Pusat Riset Masyarakat dan Budaya Badan Riset dan Inovasi Nasional) that has been running since 2003. The project aims to create an audiovisual archive of everyday life in Indonesia during the 21st century that can be used for research, teaching, documentaries, artistic work and so on. Recordings are made every four years in: Jakarta, Delanggu (Central Java), Payakumbuh (West Sumatra), Kawal (on the island of Bintan), Sintang (West Kalimantan), Bittuang (Tana Toraja on Sulawesi), Ternate, and Surabaya. Because the same locations are being revisited, visual changes, continuities in the landscape, and developments in society can be traced and compared over time. The archive consists of footage of people and (how they shape) their environment: work, housing, leisure, education, health, politics, government, infrastructure, urban development, mobility, culture, religion and so on. So far, the RtF archive consists of approximately 700 hours of recordings, which have been indexed and made accessible for research. Recording the Future (RtF) merupakan proyek jangka panjang dari KITLV (Institut Kerajaan Belanda untuk Kajian Asia Tenggara dan Karibia) bekerja sama dengan PRMB-BRIN (Pusat Riset Masyarakat dan Budaya Badan Riset dan Inovasi Nasional) yang sudah berjalan sejak tahun 2003. Proyek ini bertujuan untuk menciptakan arsip audiovisual kehidupan sehari-hari di Indonesia selama abad ke-21 yang dapat digunakan untuk penelitian, pengajaran, film dokumenter, karya artistik dan sebagainya. Rekaman dibuat setiap empat tahun sekali di: Jakarta, Delanggu (Jawa Tengah), Payakumbuh (Sumatera Barat), Kawal (di pulau Bintan), Sintang (Kalimantan Barat), Bittuang (Tana Toraja di Sulawesi), Ternate, dan Surabaya. Karena lokasi-lokasi yang sama dikunjungi kembali, perubahan visual, kesinambungan lanskap, dan perkembangan masyarakat dapat ditelusuri dan dibandingkan dari waktu ke waktu. Arsip ini terdiri dari rekaman masyarakat dan (bagaimana mereka membentuk) lingkungan mereka: pekerjaan, perumahan, waktu luang, pendidikan, kesehatan, politik, pemerintahan, infrastruktur, pembangunan kota, mobilitas, budaya, agama, dan lain-lain. Sejauh ini, arsip RtF terdiri dari sekitar 700 jam rekaman, yang telah diindeks dan dapat diakses untuk penelitian.
Eksistensi Padepokan Asmoro Bangun: sebuah eksplorasi awal Asmawati, Rika Inggit; Triningsih, Luly; Rahmanto, Kelik Desta
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 18, No 2 (2024): Sejarah Lisan: Menggali Ingatan untuk Memahami Masa Kini dan Membingkai Masa De
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v18i22024p215-224

Abstract

This study investigates the historical development and inheritance processes of Padepokan Asmoro Bangun, a cultural institution dedicated to preserving Topeng Malangan art, through an oral history approach. Data was gathered through interviews with the fifth-generation successor and the last surviving wife of the founder. The findings reveal that the padepokan has sustained its legacy across several generations since its establishment in the early 1900s. Particularly notable is the third generation, whose leadership elevated the art of Topeng Malangan dance to national prominence, cementing its cultural significance. The inheritance process within the padepokan not only entails the transmission of artistic knowledge and cultural values but is also deeply rooted in the Javanese philosophy of trahing kusumo rembesing madu—a concept emphasizing the continuation of noble lineage through the harmonious dissemination of virtue and excellence. This philosophy underscores the interplay between familial heritage and the preservation of cultural traditions, reflecting broader Javanese values in the stewardship of intangible cultural heritage. Penelitian ini bertujuan untuk menggali sejarah dan proses pewarisan Padepokan Asmoro Bangun yang aktif dalam melestarikan seni Topeng Malangan dengan menggunakan pendekatan sejarah lisan. Wawancara dilakukan dengan pewaris generasi kelima, dan istri terakhir pendiri padepokan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa padepokan telah melintasi beberapa generasi sejak didirikan oleh generasi pertama sekitar tahun 1900-an. Generasi ketiga dikenal sebagai maestro yang mengangkat seni tari Malangan ke level nasional. Proses suksesi tidak hanya melibatkan transfer pengetahuan dan nilai budaya, tetapi juga selaras dengan filosofi jawa Trahing kusumo rembesing madu - sebuah konsep yang menekankan pada kelanjutan garis keturunan bangsawan melalui penyebaran kebajikan dan keunggulan yang harmonis. Filosofi ini menggarisbawahi interaksi antara warisan keluarga dan pelestarian tradisi budaya, yang mencerminkan nilai-nilai Jawa yang lebih luas dalam pengelolaan warisan budaya tak benda.
Kehidupan Masyarakat Tionghoa di Malang, studi pada perkumpulan wayang orang Ang Hien Hoo, 1953-1965: sebuah penafsiran kembali terhadap konsep akulturasi Rizqullah, Gani Darmanto
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 18, No 2 (2024): Sejarah Lisan: Menggali Ingatan untuk Memahami Masa Kini dan Membingkai Masa De
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v18i22024p146-165

Abstract

This article discusses the activities of the Chinese community in Malang through a study of the Ang Hien Hoo wayang orang association in 1953-1965. This research uses the oral history method and using a life history approach that looks at the historical context through a person's life history. The results of this study show the acculturation that exists in the Ang Hien Hoo Chinese community through the art of wayang orang brought into the group. Looking at the Chinese community from the perspective of external parties who see the Chinese community will only bring up various problems (labeling) ranging from political segregation, racial discrimination, peranakan and totok differences, exclusive groups and debates over citizenship issues. However, using the perspective of the Chinese community itself through the life histories of the performers and people involved in the Ang Hien Hoo puppetry group will show a Chinese community that is very open, inclusive and a very fluid community towards various cultures. This perspective reverses the labeling that is constantly given to the Chinese community. Artikel ini membahas aktivitas masyarakat Tionghoa di Malang melalui studi pada perkumpulan wayang orang Ang Hien Hoo tahun 1953-1965. Penelitian ini menggunakan metode sejarah lisan dan menggunakan pendekatan life history yang melihat konteks sejarah melalui riwayat hidup seseorang. Hasil dari penelitian ini menunjukkan akulturasi yang ada dalam komunitas Tionghoa Ang Hien Hoo melalui kesenian wayang orang yang dibawa kedalam kelompok tersebut. Melihat komunitas Tionghoa melalui perspektif pihak-pihak eksternal hanya akan memunculkan berbagai permasalahan mulai dari segregasi politik, diskriminasi rasial, labeling, perbedaan antara peranakan dan totok, kelompok yang eksklusif serta perdebatan tentang masalah kewarganegaraan. Namun apabila menggunakan perspektif dari komunitas Tionghoa sendiri melalui life history dari para pemain dan orang-orang yang terlibat dalam kelompok wayang orang Ang Hien Hoo akan memperlihatkan masyarakat Tionghoa yang sangat terbuka, inklusif dan menjadi komunitas yang sangat cair terhadap berbagai budaya. Perspektif ini membalik berbagai labeling yang terus-menerus diberikan kepada masyarakat Tionghoa.
Ketika lisan menjadi saksi: pelembagaan proyek sejarah lisan dan perkembangan historiografinya di Indonesia Santoso, Fajar
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 18, No 2 (2024): Sejarah Lisan: Menggali Ingatan untuk Memahami Masa Kini dan Membingkai Masa De
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v18i22024p225-236

Abstract

Archives serve as an indispensable source of evidence for historical narratives. When archives are not a crucial component of the heuristic for historical problems, it becomes problematic. An alternate method for researching historical events for which there are few written records is oral history. This article aims to determine the development of oral history in the archipelago. Using historical methods, this article tries to compile the development of oral history chronologically. The results of the study show that oral history research in Indonesia was rapidly encouraged by ANRI in 1973 through an oral history project pioneered by Soemartini and Harsja Bachtiar. The development of oral history experienced ups and downs. The golden age of oral history occurred in the period 1982-1983 with the acquisition of 304 cassettes and 59 sources in 1982 and 333 cassettes and 155 sources in 1983. After that, oral history experienced a period of decline and then rose again after 1998 when Soeharto stepped down with an agenda to straighten out history Narasi sejarah dibangun tidak dapat dipisahkan dari arsip sebagai sumber bukti. Menjadi suatu masalah ketika permasalahan sejarah tidak memiliki arsip sebagai bagian penting dari heuristik. Sejarah lisan dapat menjadi alternatif untuk mengkaji peristiwa sejarah yang minim sumber tertulis. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan sejarah lisan di nusantara. Dengan menggunakan metode sejarah, artikel ini mencoba menyusun perkembangan sejarah lisan secara kronologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penelitian sejarah lisan di Indonesia digalakkan dengan pesat oleh ANRI pada tahun 1973 melalui proyek sejarah lisan yang dipelopori oleh Soemartini dan Harsja Bachtiar. Perkembangan sejarah lisan mengalami dinamika pasang surut, Masa keemasan sejarah lisan terjadi pada kurun waktu 1982-1983 dengan perolehan sebanyak 304 kaset dan 59 sumber pada tahun 1982 serta 333 kaset dan 155 sumber pada tahun 1983. Setelah itu, sejarah lisan mengalami masa surut dan kemudian bangkit kembali setelah tahun 1998 ketika Soeharto lengser dengan agenda untuk meluruskan sejarah.
Inrehab, “lepra politik” dan “bersih diri”: metafora kesehatan sebagai ingatan pe-liyan-an rezim Orde Baru Safitry, Martina; Mariana, Anna
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 18, No 2 (2024): Sejarah Lisan: Menggali Ingatan untuk Memahami Masa Kini dan Membingkai Masa De
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v18i22024p166-182

Abstract

Masalah terbesar paska rezim otoriter tumbang adalah tidak adanya rekonsiliasi untuk menegakkan keadilan. Rezim memberikan penanda kuasanya membungkam kelompok kiri. Memori kolektif masyarakat atas peristiwa 1965 yang berbeda-beda saling berkontestasi di masyarakat. Maka, penting membangun (kembali) ingatan masyarakat yang bertitik tolak pada ingatan yang dibungkam. Salah satu situs ingatan yang dibungkam itu adalah pengalaman para korban yang di-liyan-kan melalui metafora kesehatan. Beberapa kosakata yang merupakan metafora kesehatan dikaitkan dengan peristiwa 1965. Ingatan masyarakat terhadap instalasi rehabilitasi Pulau Buru dan Plantungan merupakan ingatan bagaimana orang-orang yang (dianggap) terlibat peristiwa G30S harus “disembuh”kan dari penyakit “ideologi”. “Bersih diri”, “Bersih lingkungan,” adalah mekanisme rezim melakukan pengawasan terhadap masyarakat. Tulisan ini menunjukkan penggunaan istilah medis sebagai metafor dalam kebijakan anti-komunis masa Orde Baru mengakibatkan pemarjinalan dan pe-liyan-an masyarakat. Dengan menggunakan sejarah lisan sebagai perspektif, penelitian ini menunjukkan bagaimana metafora kesehatan sebagai kuasa wacana atas ingatan berlangsung lebih lama daripada keruntuhan rezim yang anti-komunis itu sendiri. The biggest problem after the authoritarian regime fell was the absence of reconciliation to uphold justice. The regime signaled its power to silence the left. Different collective memories of the events of 1965 are contested in society. Therefore, it is important to (re)build the memory of the community, starting from the silenced memories. One of the sites of silenced memory is the experience of the victims, which is queered through health metaphors. Several vocabulary words that are health metaphors are associated with the events of 1965. People's memories of the Buru Island and Plantungan rehabilitation installations are memories of how people who were (perceived to be) involved in the G30S events had to be "cured" of the disease of "ideology". "bersih diri", "bersih lingkungan," is the regime's mechanism for monitoring society. Using oral history as perspective, this paper shows how the metaphor of health as a discursive power over memory lasted longer than the collapse of the anti-communist regime itself.