cover
Contact Name
Seli Septiana Pratiwi
Contact Email
jsph.journal@um.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jsph.journal@um.ac.id
Editorial Address
Semarang St. No 5, Malang, Indonesia
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
ISSN : 25027875     EISSN : 25275879     DOI : https://doi.org/10.17977
Core Subject : Humanities,
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis (JSPH) issued by the Department of Sociology, Faculty of Social Sciences, State University of Malang in collaboration with the Perkumpulan Profesi Pendidik dan Peneliti Sosiologi Indonesia (AP3SI). JSPH committed to being a scientific journals, relevant to the development of science, as a reference, especially in the fields of sociology, education and culture. JSPH published twice a year continuously (July and December). JSPH contains the results of research and conceptual ideas that have not been published anywhere.
Arjuna Subject : -
Articles 116 Documents
Menebus Dosa Masa Lalu: Ekoliterasi Pada Anak Sebagai Penyadaran Lingkungan Iqbal Muttawakkil; Maulana S Kusumah
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol 5, No 2 (2020): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um021v5i2p97-106

Abstract

Using the wrong fishing gear causes the Bangsring beach environment to become damaged. This environmental damage has created local heroes to restore the environment to its original state. This research is a qualitative study using a life history case study approach. Researchers use Derrida's deconstruction as a tool for analyzing phenomena. Researchers focused on Ikhwan Arif's thoughts as a process of environmental awareness for coastal communities in Bangsring Village, Wongsorejo in Banyuangi Regency. The results of this study explain that there is environmental awareness by means of socialization related to the importance of protecting the marine environment to objects around fishermen, namely through children, in local nuances this socialization is also referred to as marine education. The process of providing this material is used to provide understanding and knowledge related to the environment (ecoliteration). The presence of the marine education program is used as a way to atone for past sins committed by fishermen for exploiting the marine environment. In the marine education process, children are given knowledge about the marine environment and how to manage it. Ecoliteration is not only seen as a form of education about the environment. On a different side, there are other things that can be seen from the ecoliteration of children, namely making children as agents to help change fishermen's fishing patterns. Children are chosen to be agents because children are considered as individuals who dare to express opinions, individuals who are easily formed, and individuals who must be cared for who will continue the next generation. Penggunaan alat tangkap yang salah menyebabkan lingkungan pantai Bangsring menjadi rusak. Kerusakan lingkungan tersebut memunculkan local heroes untuk mengembalikan lingkungan seperti semula. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode pendekatan studi kasus life history. Peneliti menggunakan dekonstruksi Derrida sebagai pisau analisis fenomena. Peneliti memfokuskan pada pemikiran Ikhwan Arif sebagai proses penyadaran lingkungan masyarakat pesisir di Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi. Hasil penelitian menjelaskan bahwa terdapat penyadaran lingkungan dengan cara sosialisasi terkait pentingnya menjaga lingkungan laut kepada objek disekitar nelayan yaitu melalui anak-anak, dalam nuansa lokal sosialisasi ini juga disebut sebagai marine education. Proses pemberian materi ini digunakan untuk memberikan pemahaman dan pengetahuan terkait dengan lingkungan (ekoliterasi). Hadirnya progam marine education digunakan sebagai cara untuk menebus dosa di masa lalu yang dilakukan nelayan karena telah mengeskploitasi lingkungan laut. Dalam proses marine education, anak diberikan pengetahuan tentang lingkungan laut dan cara menjagannya. Ekoliterasi tidak hanya dilihat sebagai sebuah bentuk edukasi tentang lingkungan saja. Disisi yang berbeda, terdapat hal lain yang dilihat dari ekoliterasi pada anak, yaitu menjadikan anak sebagai agen untuk membantu merubah pola tangkap nelayan. Anak dipilih menjadi agen karena anak dianggap sebagai individu yang berani untuk mengungkapkan pendapat, individu yang mudah dibentuk, dan individu yang harus dijaga yang akan meneruskan generasi selanjutnya
Kontribusi Modal Sosial Dalam Pengembangan Desa Wisata Mas-Mas Kabupaten Lombok Tengah Isnan Nursalim; Rosiady Husaenie Sayuti; Oryza Pneumatica Inderasari
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol 6, No 1 (2021): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um021v6i1p79-92

Abstract

This study discusses the contribution of social capital in the development of the Mas-Mas Tourism Village. The method used is the Mixed method which is a combination of quantitative and qualitative approaches. The results of the study show the importance of social capital in the development of the Mas-Mas Tourism Village. Through the network created in the form of relationships between members of the organization and other stakeholders, resulting in community participation as measured by community involvement in training, mutual cooperation and promotion of the Mas-Mas Tourism Village. Values and norms are shown by local wisdom that is still maintained. This is because of the awiq-awiq or rules for tourists that must be obeyed and socialized to tourists. This is what increases public trust in tourism village managers, tourists and stakeholders. Factors that play a role in the development of the Mas-Mas Tourism Village are the driving factors and inhibiting factors. The right strategy is carried out by Mas-Mas Tourism Village in developing tourism for now is to optimize the potential of the community and innovate with the tourism programs offered.This study discusses the contribution of social capital in the development of the Mas-Mas Tourism Village. The method used is the Mixed method which is a combination of quantitative and qualitative approaches. The results of the study show the importance of social capital in the development of the Mas-Mas Tourism Village. Through the network created in the form of relationships between members of the organization and other stakeholders, resulting in community participation as measured by community involvement in training, mutual cooperation and promotion of the Mas-Mas Tourism Village. Values and norms are shown by local wisdom that is still maintained. This is because of the awiq-awiq or rules for tourists that must be obeyed and socialized to tourists. This is what increases public trust in tourism village managers, tourists and stakeholders. Factors that play a role in the development of the Mas-Mas Tourism Village are the driving factors and inhibiting factors. The right strategy is carried out by Mas-Mas Tourism Village in developing tourism for now is to optimize the potential of the community and innovate with the tourism programs offered. Penelitian ini membahas kontribusi modal sosial dalam pengembangan Desa Wisata Mas-Mas. Metode yang digunakan yaitu Mixed method yang merupakan gabungan antara pendekatan kuantitatif dengan kualitatif.. Hasil Penelitian menunjukan pentingnya modal sosial dalam pengembangan Desa Wisata Mas-Mas. Melalui jaringan yang tercipta berupa relasi antar anggota organisasi dan stakeholders lainnya menghasilkan partisipasi masyarakat yang diukur dari keterlibatan masyarakat dalam mengikuti pelatihan, gotong royong serta melakukan promosi Desa Wisata Mas-Mas. Nilai dan Norma ditunjukan dengan kearifan lokal yang masih terjaga. Hal ini karena adanya awiq-awiq atau aturan bagi wisatawan yang harus dipatuhi dan disosialisasikan kepada wisatawan. Hal ini yang membuat meningkatnya kepercayaan masyarakat kepada pengelola desa wisata, wisatawan dan stakeholders. Faktor yang berperan dalam pengembangan Desa Wisata Mas-Mas berupa faktor pendorong dan faktor penghambat. Strategi yang tepat dilakukan oleh Desa Wisata Mas-Mas dalam mengembangkan pariwisata untuk saat ini adalah mengoptimalkan potensi yang dimiliki masyarakat serta berinovasi dengan program wisata yang ditawarkan.
Kekuasaan dan Pengetahuan: Diskursus Mitos Maskulinitas Pada Seksualitas Pemuda Larossa Bilquis; Nurul Hidayat
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol 5, No 2 (2020): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um021v5i2p168-179

Abstract

This study aims to uncover how the masculinity discourse of young immigrants in Uluwatu Bali (basecamp) exists. By using Foucault's Genaology, the insights and values they adopt one by one must be dismantled to see what logic they are constructs. This research using qualitative method with fenomenology approach, which used foucoult framework abour sex and power. It can be said, in this research found various discourses reproduced by various sources of youth knowledge regarding the myth of masculinity which is identical to the characteristics and behavior of men who are strong, aggressive, dominant, rude, and full of egoism. In practice, they myth that their various behaviors, especially regarding their sexuality, are a manifestation of their masculinity as a male. The internet or online media and the environment in which they live are one of the sources of knowledge for young people that create discourses about the myth of masculinity. The youth in the peer group also take part in formulating discourses about ideal masculinity for their group. Free sex behavior, dare to take risks, follow wild races to cause chaos are the masculinity myths they adopt as the ideal male masculinity. This study also found that the masculinity myth was more often represented in youth sexual practices as an affirmation of control over women's bodies and sexuality in order to maintain their reputation in front of their friends and others. Penelitian ini bertujuan untuk membongkar bagaimana hadirnya diskursus maskulinitas pemuda pendatang di uluwatu Bali (basecamp). Dengan menggunakan Genaologi Foucault, pemahaman dan nilai yang mereka adopsi satu per satu harus dibongkar untuk melihat logika apa yang sebenarnya mereka bangun. Sehingga dapat ditemukan berbagai wacana yang direproduksi oleh berbagai sumber pengetahuan pemuda mengenai mitos maskulinitas diamana identik dengan sifat dan perilaku laki-laki kuat, agresif, dominatif, kasar, dan penuh egoisme. Dalam praktiknya mereka memitoskan beragam perilakunya terutama menyangkut seksualitasnya merupakan manifestasi dari maskulinitasnya sebagai laki-laki yang jantan. Internet atau media online serta lingkungan tempat tinggal mereka menjadi salah satu sumber pengetahuan pemuda yang menciptakan diskursus mengenai mitos maskulinitas tersebut. Para pemuda dalam peer groupnya juga mengambil bagian dalam merumuskan wacana-wacana mengenai maskulinitas ideal bagi kelompoknya. Perilaku seks bebas, berani mengambil resiko, mengikuti balap liar hingga menyebabkan keonaran merupakan mitos-mitos maskulinitas yang mereka adopsi sebagai maskulinitas laki-laki ideal. Penelitian ini juga menemukan jika mitos maskulinitas tersebut lebih banyak direpresentasikan kedalam praktik-praktik seksual pemuda sebagai penegasan atas penguasaan tubuh dan seksualitas perempuan demi mempertahankan reputasinya di hadapan teman-temannya dan orang lain.
Peran Pendamping Sosial dalam Penanganan Konflik Keluarga Penerima Manfaat Program Keluarga Harapan Aulia Sholichah Iman Nurchotimah; Bunyamin Maftuh; Elly Malihah; Yuni Harmawati
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol 5, No 1 (2020): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um021v5i1p61-70

Abstract

Indonesia as a big country certainly is not free from various problems, one of which is poverty. Poverty in Indonesia has strong effect on the welfare of Indonesian citizens. “Program Keluarga Harapan”  is a government program as an effort to reduce poverty in Indonesia. The purposes of this research were: (1) To determine the factors which caused conflict among the beneficiaries in Patikraja, Banyumas Regency, Central Javs; (2) To determine the role of social caseworker in managing conflicts on Program Keluarga Harapan beneficiaries in Patikraja, Banyumas regency. Methods used in this research was case study. Data collection techniques which were used in this study were observation, interview, and documentation. The results of this research were factors caused conflicts were the limited quota of the “Program Keluarga Harapan” and the social jealousy from the citizens who were not belong to the beneficiaries. Furthermore, the role of social caseworker in managing conflict on the Program Kelarga Harapan beneficiaries in Patikraja, Banyumas Regency, Central Java was by conductiong a mediation which used a strategy of communication and strongly hold on to the  mediator principles.Indonesia sebagai negara yang besar tentu saja tidak luput dari berbagai persoalan salah satunya yaitu kemiskinan. Kemiskinan yang terjadi di Indonesia sangat berpengaruh terhadap kesejahteraan warga negara Indonesia. Program Keluarga Harapan adalah program pemerintah sebagai upaya menanggulangi kemiskinan di Indonesia. Tujuan Penelitian ini adalah; (1) mengetahui faktor-faktor penyebab terjadinya konflik penerima bantuan sosial di Kecamatan Patikraja Kabupaten Banyumas Jawa Tengah (2) mengetahui peran pendamping sosial dalam mengatasi konflik pada penerima bantuan sosial Program Keluarga Harapan di Kecamatan Patikraja Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah. Metode penelitian menggunakan metode kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Adapun hasil penelitian ini adalah faktor-faktor penyebab terjadinya konflik yaitu keterbatasan kuota bantuan program keluarga harapan dan kecemburuan sosial dari warga masyarakat yang tidak menerima bantuan. Kemudian peran pendamping sosial dalam mengatasi konflik pada penerima bantuan sosial program keluarga harapan di Kecamatan Patikraja Kabupaten Banyumas adalah dengan cara mediasi dengan strateri fasilitasi komunikasi dan berpegang teguh pada prinsip-prinsip sebagai mediator. 
Attitudes Towards Blended Learning : A Study of Leadership Training Education (Diklat PIM) IV Year 2018 Training Participants Nadya Megawati Rachman; Caterin Magdalena Simamora; Ratnaningsih Hidayati
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol 6, No 1 (2021): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um021v6i1p30-38

Abstract

The advancement of information technology is one of the driving factors for implementing e-Government. Nevertheless, the learning process in government official capacity development is now conceivably conducted online. This research aims to discover government officials' attitudes towards blended learning in a population of 40 respondents of Leadership Training Education or   Diklat PIM IV in 2018. This research is conducted with a quantitative methodology approach. The T-test used to test the first research hypotheses. A one-way ANOVA was performed for examining the second and third hypotheses. The result shows there is a favorable attitude towards blended learning among the Diklat PIM IV 2018 training participants. There are significant differences in attitudes toward blended learning based on gender but there is no significant difference in attitudes towards blended learning based on age classification.
Praktik Bermusik Musisi Muda dalam Skena Metal Ekstrem Oki Rahadianto Sutopo; Agustinus Aryo Lukisworo
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol 5, No 2 (2020): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um021v5i2p107-119

Abstract

This article investigates the young extreme metal musicians’ musical practices in Yogyakarta within the context of neoliberal era. To construct an empirical knowledge based on young extreme metal musicians’ narratives, this research utilized qualitative approach, specifically ethnography, from April to August 2019. In order to articulate conflictual and hierarchical dimension of extreme metal scene, this research applied Bourdieusian perspective. Based on data analysis, this study shows that, firstly, objectively, young musicians’ practices started within the condition which social inequality already existed. This represent a hierarchical characteristic of extreme metal scene as a field of struggle -ranging from local, national, to global level. Secondly, theoretically, young musicians’ practices within extreme metal scene require and reproduce particular capital, with regard to the specific rule of the game of the extreme metal scene, defined as extreme metal capital. Thirdly, the goal of the extreme metal, social, and symbolic capital accumulation, also cultural codes embodiment, was on the extreme metal scene’ doxa reproduction mechanism which accentuate three important values, namely authenticity, independency, and community. Finally, this three findings are the manifestation of extreme metal scene resistance towards state and market power in the neoliberal era. Tulisan ini berfokus pada praktik bermusik musisi metal ekstrem muda di Yogyakarta dalam konteks era neoliberal. Guna membangun pengetahuan sesuai dengan narasi musisi metal ekstrem muda, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, secara spesifik etnografi, antara April hingga Agustus 2019. Untuk mengartikulasikan dimensi konfliktual dan hierarkisitas skena metal ekstrem, penelitian ini menggunakan perspektif Bourdieusian. Adapun hasil analisis temuan lapangan menunjukkan bahwa, pertama, secara objektif, praktik bermusik musisi muda dimulai dalam kondisi dimana kesenjangan sosial telah eksis bahkan sebelum praktik tersebut terjadi. Hal ini menunjukkan karakteristik skena metal ekstrem sebagai ranah perjuangan yang bersifat hierarkis -terbentang dari leval lokal, nasional hingga global. Kedua, secara teoritis, praktik bermusik musisi muda dalam skena metal ekstrem membutuhkan dan mereproduksi kapital yang sangat spesifik terkait dengan rule of the game dalam skena tersebut, kami menyebutnya sebagai ‘kapital metal ekstrem’. Ketiga, muara dari proses akumulasi kapital metal ekstrem, kapital sosial dan kapital simbolik, serta proses embodiment mengenai kode-kode budaya terletak pada mekanisme reproduksi doxa skena metal ekstrem yang mengutamakan tiga nilai penting yaitu otentisitas, kemandirian dan komunitas. Adapun ketiga temuan tersebut merupakan manifestasi dari perlawanan skena metal ekstrem terhadap kuasa Negara dan pasar dalam era neoliberal
Konsep Pedagogi Emansipatif Menurut Jacques Ranciere Ayi Hambali; Rakhmat Hidayat
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol 5, No 1 (2020): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um021v5i1p1-9

Abstract

The purpose of this article to analyze the thought of Jacques Ranciere in the practice of emancipatory education. Ranciere is one of the new generation of French philosopher.This article written by library research method whichis relevant with Ranciere. He revealed a critique of the explicative order he calls the myth of pedagogy which dominate educational practices today. Furthermore, the result of this study shows that the conception of education in Ranciere thought seeks to show ways to envision pedagogical practice as a form of intellectual emancipation, or in other words, a practice which verifies the equality of human intelligence. Realized in practice through teaching methods introduced by Josep Jacotot with the name of Universal Teaching. To confirm the true nature of humanity that: "all men are equally intelligence". Tujuan dari artikel ini menganalisis pemikiran Jacques Ranciere dalam praktik pendidikan emansipatoris. Ranciere adalah salah satu generasi baru filsuf Perancis. Artikel ini ditulis dengan pendekatan kepustakaanyang relevan dengan tokoh Ranciere. Dia mengungkapkan kritik terhadap tatanan penjelasan yang disebutnya mitos pedagogi yang mendominasi praktik pendidikan saat ini. Selain itu, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsepsi pendidikan di bidang pembelajaran adalah bentuk emansipasi intelektual, atau dengan kata lain, praktik yang memverifikasi kesetaraan kecerdasan manusia. Hal tersebut terwujud dalam praktik dengan metode pengajaran yang diperkenalkan oleh Josep Jacotot dengan nama Pengajaran Universal. Untuk mengkonfirmasi sifat sejati kemanusiaan: “semua manusia sama-sama memiliki kecerdasan”.
Merumuskan Ulang Konsep Moralitas: Sumbangan Pemikir Feminis Paulus Bagus Sugiyono
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol 5, No 2 (2020): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um021v5i2p180-188

Abstract

The aim of this article is to re-conceptualize the meaning of morality according to the perspective of feminists. This article employed the method of literature review within the qualitative approach. Morality, in the history of western thought, is often related with the concept offered by Immanuel Kant. Human being is perceived to have a sufficient ratio to access the universal morality. Therefore, there is no reason for not following the principles of morality. Nevertheless, feminists argued that the concept offered by Kant does not give a flexible space for the dynamics of contingent things, such as feeling, sensitivity, and inclination. Whereas, these contingent things have given such an influential meaning for the concept of morality. Marilyn Friedman (2000) specifically proposes and explains this point of view in her article entitled “Feminism in Ethics: Conception of Autonomy”. Her approach is thus later shown clearly in the concept of care ethics. Even though, I argue that care ethics would not substitute Kantian ethics, but rather complement it, so that the paradigm of the morality can be seen broader from several perspectives. This entwined paradigm, between Kantian and care ethics, is then can be employed to analyze various social phenomena that occur in our society. Tujuan artikel ini adalah untuk merumuskan ulang konsep mengenai moralitas, terutama ketika mendapatkan sumbangsih pemikiran dari para pemikir feminis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kajian literatur dalam pendekatan kualitatif. Moral, dalam perjalanan panjang sejarah pemikiran barat, identik dengan pemikiran Immanuel Kant dalam sifatnya yang berlaku universal. Untuk mengakses universalitas moral, manusia diandaikan memiliki nalar atau rasionalitas yang cukup. Dengan demikian, sebagai manusia yang otonom secara moral, tidak ada alasan baginya untuk tidak mengikuti prinsip-prinsip moral. Penggunaan nalar tidak memberikan ruang bagi hal-hal yang sifatnya kontingen, seperti perasaan, sensitivitas, dan kecenderungan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa apa yang disingkirkan oleh etika Kantian tadi diangkat oleh para pemikir feminis. Mereka memberikan sumbangsih pemikirannya tersendiri dalam membangun konsep moralitas. Selain itu, penelitian ini juga menunjukkan bahwa etika kepedulian adalah muara dari pemikiran mengenai moralitas dari para pemikir feminis. Meski demikian, etika kepedulian tidak hadir sebagai substitusi atau pengganti dari etika Kantian, melainkan sebagai komplementer yang menjadikan cakrawala moralitas semakin utuh. Bak dua sisi sepayang sayap, kedua pendekatan moralitas tadi saling menyeimbangkan pemaknaan mengenai apa itu moralitas, terutama untuk menelaah fenomena-fenomena secara sosiologis dalam masyarakat.
PRODUKSI PENGETAHUAN SEKSUALITAS : REPRESENTASI PELECEHAN SEKSUAL REMAJA DI PUGER Nur Idayati; Maulana Surya Kusumah
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol 5, No 1 (2020): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um021v5i1p71-85

Abstract

In this article that focuses on issues of youth, sexuality and sexual harassment. The existence of culture in the reality of adolescent habits about permitting sexual harassment behavior. Besides sexuality is still considered taboo to be discussed in public spaces. Sociologically this phenomenon can be said as a form of failure of the construction of sexuality in adolescents. This assumption is supported by the knowledge of adolescent sexuality that allows sexual harassment and is considered a joke. Sexuality as a production of knowledge is taken from the point of view of adolescents and environments that have direct relations. The discourse of sexuality comes with a variety of operators. This article is the main issue narrated using the knife of Michel Foucault's analyst about sex, power and knowledge. In addition this study aims to describe the knowledge of adolescent sexuality in Puger. In its methodological consequences this article uses the Foucault genealogy to narrate the knowledge of adolescent sexuality. Researchers try to see how basic problems that arise can be solved by a historical framework. Then the key informants were teenagers / students from junior high schools (Public Schools) and senior high schools (Religious Schools) in Puger Kulon.Pada artikel ini akan fokus pada isu remaja, seksualitas dan sexual harassment. Secara konseptual argumentasi peneliti lebih merujuk pada kehidupan remaja hari ini. Adanya budaya dalam realitas kebiasaan remaja tentang diijinkannya perilaku pelecehan seksual. Selain itu seksualitas masih dianggap tabu untuk diperbincangkan di ruang publik. Secara sosiologis fenomena ini dapat dikatakan sebagai suatu bentuk kegagalan konstruksi seksualitas pada remaja. Asumsi ini didukung dengan adanya pengetahuan seksualitas remaja yang mengijinkan pelecehan seksual dan dianggap sebagai lelucon. Pengalaman remaja tentang pelecehan seksual di lingkungan sekolah seperti komentar seksual, lelucon, gerakan, serta menunjukkan video porno. Seksualitas sebagai suatu produksi pengetahuan diambil dari sudut pandang remaja serta lingkungan yang memiliki relasi secara langsung. Diskursus seksualitas hadir dengan ragam operatornya. Artikel ini menjadi isu utama yang akan dinarasikan dengan menggunakan pisau analisisi Michel Foucault tentang seks, kekuasaan dan pengetahuan. Selain itu penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengetahuan seksualitas remaja di Puger. Pada konsekuensi metodologisnya artikel ini menggunakan genealogi Foucault untuk menarasikan pengetahuan seksualitas remaja. 
Menelisik Pencegahan Pernikahan Usia Anak di kota Surakarta Giyartika Giyartika; Nurhadi Nurhadi; Yuhastina Yuhastina
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol 6, No 1 (2021): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um021v6i1p39-54

Abstract

This study aims to understand and explain efforts to prevent child marriage in Surakarta city in the study of population sociology. The areas sampled were five “Kampong KB” (Family Planning Villages) spread over five subdistricts in the city of Surakarta. Data were collected through in-depth interviews with 16 informants and structured interviews with 48 informants, consisting of Family Planning Instructors (PKB), Regional Family Planning Assistants (PPKBD), parents, teenagers and government officials. Data analysis was carried out in three stages, namely data reduction or the selection process, simplification, abstraction and transformation of raw data, then data presentation. Conclusions and verification are carried out continuously during the study. The results showed that in the effort to prevent the practice of child marriage in Surakarta city, there were several strategies implemented by various parties, namely Family Planning Instructors (PKB), Regional Family Planning Assistants (PPKBD) and government officials, so as to form a patterns of social interaction and evolutionary processes, also known as symbolic interactionism. The strategies that are carried out include taking a cultural approach, synergy of Activity Groups, enthusiasm for achievement, building interventions, commitment and consistency in running programs, maximizing the use of social media and orderly administration. Penelitian ini bertujuan untuk memahami dan menjelaskan upaya pencegahan pernikahan usia anak di Kota Surakarta dalam kajian ilmu sosiologi kependudukan. Wilayah yang dijadikan sampel adalah lima Kampung KB (Kampung Keluarga Berencana) yang tersebar di lima Kecamatan di Kota Surakarta. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan 16 informan dan wawancara terstruktur dengan 48 informan, yang terdiri dari Penyuluh Keluarga Berencana (PKB), Pembantu Pembina Keluarga Berencana Daerah (PPKBD), orangtua, remaja dan aparatur pemerintah. Analisis data dilakukan melalui tiga tahapan, yakni reduksi data atau proses pemilihan, penyederhanaan, abstraksi dan transformasi data mentah, kemudian penyajian data. Penarikan kesimpulan serta verifikasi data dilakukan terus menerus selama penelitian berlangsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam upaya pencegahan pernikahan usia anak di Kota Surakarta terdapat beberapa strategi yang dilakukan oleh berbagai pihak, yakni Penyuluh Keluarga Berencana (PKB), Pembantu Pembina Keluarga Berencana Daerah (PPKBD) dan aparatur pemerintah, sehingga terbentuk suatu pola interaksi sosial dan proses evolusioner atau yang dikenal dengan interaksionisme simbolik. Adapun strategi yang dilakukan diantaranya, melakukan pendekatan budaya, sinergisitas Kelompok Kegiatan (PokTan), semangat berprestasi, membangun intervensi, komitmen dan konsistensi menjalankan program, memaksimalkan penggunaan media sosial dan tertib administrasi.

Page 7 of 12 | Total Record : 116