cover
Contact Name
Seli Septiana Pratiwi
Contact Email
jsph.journal@um.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jsph.journal@um.ac.id
Editorial Address
Semarang St. No 5, Malang, Indonesia
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
ISSN : 25027875     EISSN : 25275879     DOI : https://doi.org/10.17977
Core Subject : Humanities,
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis (JSPH) issued by the Department of Sociology, Faculty of Social Sciences, State University of Malang in collaboration with the Perkumpulan Profesi Pendidik dan Peneliti Sosiologi Indonesia (AP3SI). JSPH committed to being a scientific journals, relevant to the development of science, as a reference, especially in the fields of sociology, education and culture. JSPH published twice a year continuously (July and December). JSPH contains the results of research and conceptual ideas that have not been published anywhere.
Arjuna Subject : -
Articles 116 Documents
Kapital Politik: Kuasa yang Mengikat dalam Relasi Kerja Nelayan dan Pangamba’ di Pondok Mimbo Adhe Yoga Rivaldi
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol 5, No 2 (2020): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um021v5i2p134-143

Abstract

This article discusses the role of power on the work relations of fishermen and the middle man at Pondok Mimbo. Engagement occurs when the fisherman builds a partnership and accept a work contract, as long as the contract has not been completed. The fisherman must provide the fish catch to the middle man before it is sold to the trader and then share the results according to the work agreement which is 10% to 20% for the middle man from the income of the fisherman. The absence of work contract restrictions makes the relationship so binding because fishermen must comply with the amba system 'or the prevailing norms. As a result, fishermen will continue to be bound to the middle man but, because the relationship is for capital needs, it requires fishermen to pay it to the middle man to be free from the employment contract. The purpose of this study is to describe and analyze the role of political capital in the relations of fishermen and the middle man. This research method is qualitative, supported by participant observation, and in-depth interviews to collect data. The results showed the existence of power in the work relations of fishermen and the middle man especially in the attitude of compliance, even showing the existence of work competition in the relationship. And each party is cheating work for more profit, whether it's from the fishermen themselves or the middle man. Artikel ini membahas tentang tindakan kuasa atau penggunaan kekuasaan dalam relasi kerja nelayan dan pangamba’ di Pondok Mimbo. Keterikatan terjadi ketika nelayan membangun kerja sama dan menyepakati kontrak kerja dengan pangamba’, tselama kontrak belum selesai maka nelayan harus memberikan hasil tangkapan ikan kepada pangamba’ sebelum di jual ke pedagang yang kemudian dilakukan pembagian hasil sesuai kesepakatan kerja yaitu 10% hingga 20% untuk pangamba’ dari hasil pendapatan nelayan. Tidak adanya batasan kontrak kerja menjadikan relasi tersebut begitu mengikat, karena nelayan harus mematuhi sistim amba’ atau norma yang berlaku. Alhasil, nelayan akan terus terikat dengan pangamba’ namun, karena relasi tersebut untuk kebutuhan modal, mengharuskan nelayan untuk melunasinya kepada pangamba’ agar dapat lepas dari kontrak kerja tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan dan menganalisis peran kapital politik dalam relasi nelayan dan pangamba’. Metode penelitian ini adalah kualitatif, didukung dengan melakukan observasi partisipan dan wawancara mendalam untuk mengumpulkan data. Hasil penelitian menunjukan adanya kekuasaan dalam relasi kerja nelayan dan pangamba’, terutama pada sikap kepatuhan, bahkan menunjukan adanya persaingan kerja dalam relasi tersebut. Selanjurnya, penelitian juga menunjukkan bahwa masing-masing pihak melakukan kecurangan kerja demi keuntungan yang lebih, entah itu dari diri nelayan maupun pangamba’. 
Makna Tradisi Ruwatan Petirtaan Candi Jolotundo Sebagai Sarana Pelestarian Air Yosi Maurin; Neni Wahyuningtyas; I Nyoman Ruja
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol 5, No 1 (2020): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um021v5i1p24-34

Abstract

Culture is a Indonesia’s treasure. One form of culture is tradition. One Example which belongs to tradition and still exist nowahdays is Ruwatantradition in Petirtaan Jolotundo Temple. The purpose of this study is to describe the history, the process, and the meaning of ruwatantradition. This study uses qualitative research within descriptive approach. The study was located at Petirtaan Jolotundo Temple, precisely on the Slope of Penanggungan Mountain. There are two froms of data,primary and secondary data. Observation, interviews, and documentationis used as data collection techniques. Based on the research can be concluded that ruwatantradition has existed since long ago which is known as a barikansumber. The existence of this tradition is a gratitude for the abundant water resources that can be utilized. Since 2007-2008, this tradition began to be packaged and enlivened so that an annual event was organized, including sumaninggah, grand carnival, release of birds and tree planting, and manunggaling tirta. Ruwatantraditionmeans a reminder of the beginning to the end of life aimed at humans and the environment.The meaning of ruwatanis depends on the trust of each individual, trust is divided into sacred and profane. Kebudayaan merupakan kekayaan yang dimiliki oleh Indonesia. Salah satu bentuk kebudayaan yaitu tradisi. Contoh tradisi yang dilakukan hingga saat ini yaitu tradisi ruwatandi Petirtaan Candi Jolotundo. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan sejarah, proses, dan makna tradisi ruwatan. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian dilakukan di Petirtaan Candi Jolotundo tepatnya di Lereng Gunung Penanggungan. Data diperoleh dari data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa tradisi ruwatansudah ada sejak dulu yang dikenal sebagai barikan sumber. Adanya tradisi ini merupakan rasa terima kasih masyarakat terhadap sumber air yang melimpah sehingga dapat dimanfaatkan. Sejak tahun 2007-2008 tradisi ini mulai dikemas dan disemarakkan sehingga terbentuk susunan acara yang diadakan setiap tahun diantaranya: sumaninggah, kirab agung, pelepasan burung dan penanaman pohon, dan manunggaling tirta. Tradisi ruwatanbermakna pengingat akan awal hingga akhir kehidupan yang ditujukan untuk manusia dan lingkungan. Pemaknaan ruwatanair suci tersebut tergantung kepercayaan masing-masing individu, kepercayaan terbagi atas sakral dan profan.
Diskriminasi Ras Dan Hak Asasi Manusia Di Amerika Serikat: Studi Kasus Pembunuhan George Floyd Oktoviana Banda Saputri
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol 5, No 2 (2020): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um021v5i2p120-133

Abstract

The United States (US) had bad history of racial conflict between whites and blacks people for about three centuries.That happened to a black man named George Flyod in the US has very high attention for the US community and even people of around the world. This is because black people are often becomes victims of discriminatory acts by white people. White American society is difficult to assimilate black people, because the process enter of black people to the US was only as slave labor, so that the mindset of black people as second-class citizens was formed which became an attitude in social stratification in the US. This study aims to analyze the phenomenon of racial discrimination and human rights and the settlement of legal cases that occur in the US. Based on literature review and material analysis from various scientific sources, it can be concluded that the US Government as a state administrator is also still implementing discriminatory policies, even the US, which we know as the originator and main pioneer of human rights in the world, has not ratified several legal policies related to the elimination of discrimination. Racism, racial discrimination and intolerance are serious threats to the social progress of the global community.Amerika Serikat memiliki sejarah kelam mengenai konflik rasial antara orang kulit putih dan orang kulit hitam selama kurang lebih tiga abad lamanya. Kasus yang terjadi terhadap orang kulit hitam bernama George Flyod di Amerika Serikat memiliki atensi yang sangat tinggi untuk masyarakat Amerika Serikat bahkan dunia. Hal tersebut dikarenakan orang kulit hitam sering kali menjadi korban tindakan diskriminatif orang kulit putih. Masyarakat kulit putih Amerika Serikat sulit untuk mengasimilasi orang kulit hitam, dikarenakan awal kedatangan orang kulit hitam ke Amerika Serikat hanya sebagai budak pekerja, sehingga terbentuk pola pikir mengenai orang kulit hitam sebagai warga negara kelas dua yang menjadi sebuah sikap dalam stratifikasi sosial di Amerika Serikat. Penelitian ini ingin menganalisis mengenai fenomena diskriminasi ras dan Hak Asasi Manusia (HAM) serta penyelesaian kasus hukum yang terjadi di Amerika Serikat. Berdasarkan kajian literatur dan analisis materi dari berbagai sumber ilmiah dapat disimpulkan bahwa Pemerintah Amerika Serikat sebagai penyelenggara negara juga ternyata masih menerapkan kebijakan diskriminatif, bahkan Amerika Serikat yang kita kenal sebagai pencetus dan pelopor HAM di dunia belum meratifikasi beberapa kebijakan hukum terkait penghapusan diskriminasi. Rasisme, diskriminasi ras, dan intoleransi merupakan ancaman serius terhadap kemajuan sosial masyarakat global.
PENGUATAN SISTEM SOSIAL DALAM MENGATASI KERENTANAN MASYARAKAT INDUSTRI Ghufronudin Ghufronudin; Bagas Narendra Parahita; Nur Fatah Abidin
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol 5, No 1 (2020): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um021v5i1p%p

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mekanisme penguatan sistem sosial masyarakat dalam mengatasi kerentanan masyarakat industri akibat pencemaran limbah. Penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus ini dilaksanakan di Sentra Industri Batik Kampung Batik Laweyan Surakarta dengan informan yang dipilih dengan purposive sampling. Teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi. Validitas data dengan triangulasi sumber, kemudian dianalisis dengan model interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meningkatnya intensitas produksi batik di kawasan Kampung Batik Laweyan mengakibatkan dampak pada meningkatnya tingkat pencemaran logam berat pada ekosistem sungai. Dibutuhkan upaya penguatan sistem sosial melalui skema AGIL (Adaptation, Goal Attainment, Integration, Latency). Adaptasi (Adaptation), pemerintah, stakeholders dan pengusaha harus beradaptasi dengan lingkungan dan menyesuaikan lingkungan dengan kebutuhan terkait upaya mewujudkan industri batik ramah lingkungan. Pencapaian tujuan (Goal attainment), perlu upaya kolaboritif segenap stakeholders dalam menumbuhkan kesadaran bersama dalam mendefinisikan dan mencapai tujuan pengembangan kawasan industri batik ramah lingkungan. Integrasi (Integracy), pemerintah harus mengatur hubungan antara stakeholders dan pengusaha dalam pengembangan kawasan industri ramah lingkungan. Pemeliharaan pola (Latency), pemerintah dan stakeholders harus saling melengkapi, memelihara dan memperbaharui motivasi pengusaha dan pola–pola budaya yang menciptakan dan mempertahankan motivasi pengusaha dalam pengembangan industri batik berbasis ramah lingkungan.
Makna Upacara Balian dalam Ritual Pengobatan Tradisional Suku Paser Kabupaten Paser Cucu Widaty; Yuli Apriati; Aldian Hudaya; Siska Kusuma
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol 6, No 1 (2021): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um021v6i1p55-64

Abstract

This study describes the balian ceremony in the form of a ritual that is carried out as a traditional treatment in the Paser tribe, Paser district, East Kalimantan. This is motivated by the belief of the Paser people who still maintain healing rituals with the balian ceremony because of hereditary and entrenched beliefs, considerations of alternative medicine, perceptions and views of life. This study aims to uncover 3 important focuses, namely: the form of the balian ceremony procession, the meaning of the balian ceremony for the Paser tribal community, and the function of the balian ceremony. The research method used in this study is qualitative with an ethnographic approach. This study uses data collection techniques in the form of observation, in-depth interviews, and documentation with primary data sources and secondary data sources. The results showed that the form of the balian ceremony procession consists of three stages, the first is the preparation stage, namely the organizer prepares the equipment and coordinates with the parties involved in the balian ceremony. Second, the core activity stage is a mulung dancing along with reciting healing spells. Third, the closing stage is mulung awareness, wiping water, and returning ceremonial equipment. The meaning of the Balian ceremony is the struggle for life, harmony, welfare, safety, good morals, and opening of sustenance, the meaning of asking for protection, remembering God, and remembering the nature of life. The function of the balian ceremony is an effort to heal patients, as a medium of public entertainment, as a medium for connecting the Paser tribal community to the spirits of their ancestors. Penelitian ini mendeskripsikan upacara balian berupa ritual yang dilaksanakan sebagai pengobatan tradisional pada suku Paser kabupaten Paser Kalimantan Timur. Hal ini dilatarbelakangi kepercayaan masyarakat Paser yang tetap mempertahankan ritual penyembuhan dengan upacara balian karena kepercayaan turun-temurun dan membudaya, pertimbangan pengobatan alternatif, persepsi dan pandangan hidup. Penelitian ini bertujuan untuk menguak menguak 3 fokus penting yakni: bentuk prosesi upacara balian, makna upacara balian bagi masyarakat suku Paser, dan fungsi upacara balian. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan etnografi. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi dengan sumber data primer dan sumber data sekunder. Hasil penelitian diketahui bahwa bentuk prosesi upacara balian terdiri dari tiga tahap, Pertama tahap persiapan yaitu penyelenggara mempersiapkan perlengkapan dan berkoordinasi dengan pihak yang terlibat pada upacara balian. Kedua, tahap kegiatan inti yaitu seorang mulung menari bersamaan dengan pembacaan mantra penyembuhan. Ketiga, tahap penutup yaitu penyadaran mulung, pengusapan air ,dan pengembalian peralatan upacara. Makna dari dilaksanakannya upacara balian adalah perjuangan hidup, keharmonisan, kesejahteraan, , keselamatan, moral baik,dan pembuka rezeki, makna memohon perlindungan, mengingat tuhan, dan mengingat alam kehidupan. Fungsi upacara balian adalah upaya penyembuhan pasien, sebagai media hiburan masyarakat, sebagai media penghubung masyarakat suku Paser terhadap roh leluhurnya.
Upaya Pencegahan Perceraian Akibat Media Sosial dalam Perspektif Sosiologis Aulia Nursyifa; Eti Hayati
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol 5, No 2 (2020): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um021v5i2p144-158

Abstract

Technological advances not only have a positive impact on people's lives, but misuse of technology can cause social problems. One of the consequences of technology misuse is the phenomenon of divorce due to an affair between husband and wife that can be recorded through social media. The purpose of this study seeks to know the efforts made in preventing divorce due to social media abuse in a Sociological perspective. This research uses qualitative research methods with phenomenological approach, data processing using Nvivo 12. The results showed that divorce due to social media abuse was triggered by an affair between the husband and wife through social media resulting in an ongoing altercation. Efforts to prevent divorce due to social media abuse are carried out by various parties such as efforts from couples not to divorce, families who seek to reconcile, courts that seek mediation, even the city government that actively provides socialization about family resilience rules, premarital education programs, mother's father's school program, and efforts to strengthen the functioning of the family. Efforts to prevent divorce due to social media abuse can be effectively supported by cooperation between institutions and all elements of society to strengthen family resilience Kemajuan teknologi bukan hanya berdampak positif bagi kehidupan manusia, tetapi penyalahgunaan teknologi dapat menimbulkan masalah sosial. Salah satu akibat penyalahgunaan teknologi menimbulkan fenomena maraknya perceraian akibat adanya perselingkuhan antara suami dan isteri yang dapat terekam lewat media sosial. Tujuan dari penelitian ini berupaya untuk mengetahui upaya yang dilakukan dalam mencegah perceraian akibat penyalahgunaan media sosial dalam perspektif Sosiologis. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, pengolahan data menggunakan Nvivo 12. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perceraian akibat penyalahgunaan media sosial dipicu karena adanya perselingkuhan antara suami isteri lewat media sosial sehingga membuat pertengkaran yang terjadi terus menerus. Upaya pencegahan perceraian akibat penyalahgunaan media sosial dilakukan oleh berbagai pihak diantaranya upaya dari pasangan agar tidak bercerai, pihak keluarga yang berupaya mendamaikan, pihak pengadilan yang berupaya melakukan mediasi, bahkan pemerintah kota yang giat memberikan sosialisasi tentang aturan ketahanan keluarga, program pendidikan pra nikah, program sekolah ayah bunda, dan berupaya memperkuat fungsi keluarga. Upaya pencegahan perceraian akibat penyalahgunaan media sosial dapat berjalan efektif didukung dengan adanya kerjasama antar institusi beserta semua elemen masyarakat untuk memperkuat ketahanan keluarga. 
The Ecopopulism Movement of the Samin Community against Cement Companies in The Kendeng Mountains Enkin Asrawijaya
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol 5, No 1 (2020): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um021v5i1p35-47

Abstract

The focus of this study is on the movement of the Samin group (indigenous people) in Bombong Hamlet, Sukolilo, Pati, Central Java, who are able to mobilize the masses, especially Kendeng farmers to oppose the establishment of a cement factory in the Kendeng mountainous area, because if a cement factory is established. will damage the environment which also has an impact on the local economy, especially the disruption of the profession of farmers due to loss of agricultural land and damage to springs that have supported them for their daily needs and to fertilize agriculture and feed and drink livestock. The theory and paradigm used in the discussion this time is to use the concept of ecopopulism, which is a social movement that focuses more on environmental sustainability because in it there is local livelihood which has been the mainstay of society, one of which is agriculture. so that this movement seeks to maintain the position of natural resources in the hands of local communities. The research method used was observation and in-depth interviews with Samin Bombong community leaders and there were also elements from Kendeng farmers. The results showed that there were three things that became the main focus of the birth of the ecopopulism movement, namely environmental, economic and legal factors. These three things form a movement ideology, namely ecopopulism, which has been able to attract many masses, especially Kendeng farmers, which eventually formed a movement organization, has a wide network, and resistance is open. Fokus penelitian ini adalah pada gerakan komunitas Samin di Dusun Bombong, Pati, Jawa Tengah, yang mampu melakukan mobilisasi massa, terutama petani Kendeng untuk melawan pendirian pabrik semen di area pegunungan Kendeng, hal tersebut karena adanya kekhawatiran jika pendirian pabrik semen terlaksana maka akan merusak lingkungan yang berimbas pula pada perekonomian lokal, khususnya terganggunya profesi petani. Teori yang digunakan dalam pembahasan kali ini adalah menggunakan konsep ekopopulisme, yaitu sebuah gerakan sosial yang lebih menitik beratkan kepada kelestarian lingkungan karena di dalamnya terdapat penghidupan lokal yang selama ini menjadi andalan masyarakat, salah satunya pertanian, sehingga gerakan ini berupaya mempertahankan kedudukan sumber daya alam tetap berada di tangan masyarakat lokal. Metode penelitian yang digunakan adalah etnografi. Hasil penelitian menunjukan bahwa Ada tiga hal yang menjadi sorotan utama lahirnya gerakan ekopopulisme, yaitu faktor lingkungan, ekonomi dan hukum. Ketiga hal inilah yang membentuk sebuah ideologi gerakan yaitu ekopopulisme, yang telah mampu menarik banyak massa terutama petani Kendeng yang pada akhirnya terbentuklah organisasi gerakan, memiliki jejaring yang luas, dan perlawananpun terbuka.
Perilaku Pencarian Informasi Mengenai Kebijakan Sekolah Tatap Muka oleh Orang Tua Siswa di kota Malang Kun Sila Ananda
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol 6, No 1 (2021): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um021v6i1p1-17

Abstract

Recently, the Ministry of Education and Culture has established a policy for implementing face-to-face schools. Regarding this policy, students’ parents become a key point in order to make decisions to allow children to attend face-to-face schooling. Before decision making, parents must first reduce uncertainties and lack of information related to the policy. This study discusses the information-seeking behavior of parents related to face-to-face school policies and the decision-making. The method used is descriptive survey. Data collected through online surveys and interviews. The results showed that parents did the active and passive behavior on information seeking. The school (teachers, homeroom teachers, principals, etc.) is the most frequently referred source of information by parents and is considered the most trusted source of information. The most important information needed by parents is regarding the readiness of the school in the implementation of face-to-face learning during the pandemic. In decision-making process, parents often use information sources through online media and discussions with other parents. The majority of parents will delay decision making if the information obtained is deemed insufficient, while on the other hand parents can also experience decision-making failure due to information overload. Belakangan ini Kemdikbud telah menetapkan kebijakan pelaksanaan sekolah tatap muka. Selain akademisi, orang tua menjadi pihak krusial dalam hal ini terutama berkaitan dengan pengambilan keputusan untuk mengizinkan anak mengikuti pelaksanaan sekolah tatap muka. Sebelum mengambil keputusan terlebih dahulu orang tua harus mereduksi berbagai ketidakpastian dan kurangnya informasi terkait kebijakan tersebut. Penelitian ini membahas mengenai perilaku pencarian informasi yang dilakukan orang tua terkait kebijakan sekolah tatap muka hingga proses pengambilan keputusan. Metode yang digunakan adalah survei deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui survei dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang tua melakukan pencarian informasi secara aktif dan pasif. Pihak sekolah (guru, wali kelas, kepala sekolah, dsb) menjadi sumber informasi yang paling sering dirujuk oleh orang tua siswa sekaligus dianggap sebagai sumber informasi yang paling terpercaya. Informasi yang dianggap paling penting oleh orang tua siswa adalah mengenai kesiapan sekolah dalam pelaksanaan pembelajaran tatap muka di masa pandemi. Adapun dalam pengambilan keputusan orang tua seringkali memanfaatkan sumber informasi melalui media daring dan diskusi bersama orang tua siswa lainnya. Mayoritas orang tua akan menunda pengambilan keputusan jika informasi yang didapatkan dirasa belum cukup, sementara di sisi lain orang tua juga dapat mengalami kegagalan pengambilan keputusan karena paparan informasi yang terlalu berlebihan.
PENYELESAIAN SENGKETA INFORMASI PUBLIK SEBAGAI PENDEKATAN PENGELOLAAN KONFLIK DALAM MASYARAKAT Afrizal Tjoetra; Triyanto -
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol 5, No 1 (2020): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um021v5i1p10-23

Abstract

Sengketa informasi publik berlaku jika pemohon informasi publik tidak memperoleh jawaban dan/atau respon yang sesuai dari badan publik. Sengketa dimaksud dapat dimaknai sebagai situasi konflik antara pemohon informasi dengan badan publik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui 2 (dua) hal, yakni tentang pengelolaan konflik melalui pemenuhan hak atas informasi publik yang berlangsung pasca perdamaian di Aceh serta pelayanan informasi publik pada badan publik negara di Aceh. Tulisan ini dilakukan melalui kajian dokumen dan wawancara dengan sejumlah pemohon penyelesaian sengketa informasi publik, akademisi, aktivis dan komisioner Komisi Informasi Aceh. Hasil yang diperoleh melalui penelitian bahwa pengelolaan konflik pasca kesepakatan damai melalui pemenuhan hak atas informasi publik sudah berlangsung sesuai cakupan wilayahnya. Berikutnya, pelayanan informasi publik pada badan publik negara di Aceh sudah berjalan sesuai UU KIP. Namun pun demikian, masih memerlukan pendampingan dan pembinaan oleh Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi Utama kepada Satuan Kerja Pemerintah Aceh dan Satuan Kerja Pemerintah Kabupaten/kota karena berbagai hambatan dan kendala. Berikutnya, mengenai pelayanan informasi publik pada badan publik negara di Aceh  pada umumnya sudah berjalan sesuai mekanisme yang diatur dalam Undang-undang Keterbukaan Informasi Publik dan Standar Layanan Informasi Publik. 
Makna Pendidikan dan Pewarisan Ajaran Samin bagi Masyarakat di Desa Sambongrejo Kecamatan Sambong Kabupaten Blora Rohana Siti Nurkasanah; Agus Purnomo; Bayu Kurniawan
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol 6, No 2 (2021): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um021v6i2p108-118

Abstract

Masyarakat Samin adalah salah satu komunitas di Jawa Tengah yang biasa dikenal dengan sedulur sikep. Masyarakat Samin muncul sebagai bentuk penolakan terhadap Belanda. Penolakan tersebut diikuti dengan sikap tidak setuju terhadap beberapa hal, misalnya keberadaan sekolah. Akan tetapi, perkembangan zaman yang semakin maju telah membawa banyak perubahan pada masyarakat Samin. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan sejarah, makna pendidikan formal, dan ajaran Samin. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian dilakukan di Desa Sambongrejo Kecamatan Sambong Kabupaten Blora. Data diperoleh dari data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa ajaran Samin yang dipelopori Samin Surosentiko pada tahun 1890 dan langsung diterima oleh masyarakat Blora. Hal tersebut dikarenakan keadaan masyarakat Blora sangat memprihatinkan. Tekanan dari pemerintahan Belanda pada bidang pendidikan, melalui sekolah masyarakat akan mendapat penanaman nilai yang berbasis kebudayaan Belanda. Sekitar tahun 1945 setelah Indonesia merdeka, sedikit demi sedikit masyarakat Samin mulai menerima pendidikan formal. Mulai tahun 2000-an mayoritas masyarakat Samin sudah menempuh pendidikan formal sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Ajaran Samin yang masih dipegang teguh sebagai patokan hidup masyarakat Samin yaitu ucapan, pikiran, dan tingkah laku. The Samin community is a community in Central Java which is commonly known as sedulur sikep. The Samin community emerged as a form of rejection of the Dutch. This rejection was followed by disagreement with several things, for example the existence of a school. However, the progress of the times has brought many changes to the Samin community. The purpose of this study was to describe the history, meaning of formal education, and Samin's teachings. This research uses qualitative research with a descriptive approach. The research was conducted in Sambongrejo Village, Sambong District, Blora Regency. Data obtained from primary and secondary data. Data collection techniques using observation, interviews, and documentation. Based on the research, it can be concluded that the Samin teachings were pioneered by Samin Surosentiko in 1890 and were immediately accepted by the people of Blora. This is because the condition of the people of Blora is very apprehensive. The pressure from the Dutch government on education, through community schools, will get the inculcation of values based on Dutch culture. Around 1945 after Indonesia's independence, little by little the Samin people began to receive formal education. Starting in the 2000s, the majority of the Samin people have taken formal primary and junior high school education. The Samin teachings that are still firmly adhered to as the standard of life for the Samin community are speech, thoughts, and behavior.

Page 8 of 12 | Total Record : 116