cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
madesrisatyawati@yahoo.co.id
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Linguistika
Published by Universitas Udayana
ISSN : 08549613     EISSN : 26566419     DOI : -
Core Subject : Education,
The linguistic journal as a vehicle for the development of the linguistic horizon is published by the Linguistics Master Program (S2) Linguistics and Doctoral Program of Udayana University Graduate Program. The publication of this journal in 1994, led by the Chairman and Secretary of Master Program (S2) and S3 Postgraduate Program of Udayana University, Prof. Dr. I Wayan Bawa and Prof. Dr. Aron Meko Mbete. In its development, there are various changes in linguistic journals, such as cover colors, style selingkung, and the number of articles published.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 19 (2012): March 2012" : 10 Documents clear
SYNTACTIC BEHAVIOUR OF NOUN IN MUNA LANGUAGE Aderlaepe Aderlaepe
Linguistika: Buletin Ilmiah Program Magister Linguistik Universitas Udayana Vol 19 (2012): March 2012
Publisher : Program Magister Linguistik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.365 KB)

Abstract

This research is concerned with noun in Muna language with the main focus on  syntactic aspects particularly its syntactic behaviour.  The problem of the research is stated in the form of questions, as follows: (1) What are the kinds of language units function as modifiers of noun in Muna language? and  (2)  What syntactic functions can be filled by noun in Muna language?  The objective of this research is determined based on the problem.  Thereby, the objectives are:  (1) To describe and explain the language units function as modifiers of noun in Muna language and (2) To describe and explain the syntactic functions which can be filled by noun in Muna language.  The research is designed qualitatively, where the analysis is based on the language natural usage of Muna language by its speech community.  Data were gathered by using several techniques, namely: (1) observation, (2) interview, (3) note taking, (4) ellicitation, and (5) introspection.  The obtained data were analyzed by employing certain techniques,  they are:  (1) permutation, (2) substitution, and (3) expansion.  The results of the research are: noun in Muna language is not only modified by adjective, but also some other language units.  Noun in Muna language is modified by: (1) adjective;  (2) adverb: negative adverb soano ‘not’ and limitative adverb kaawu ‘only’;  (3) demonstratives aini ‘this’, aitu ‘that’,  atatu ‘that’, amaitu ‘that’, awaghaitu ‘that’, and anagha ‘that’;  (5) possesive;  and (6) quantitative: definite and indefinite quantitatives.  Definite quantitative as noun modifier in Muna language appears in the form of cardinal number, whereas the indefinite  one consists of two sub parts: variety quantitative sabhara ‘various’ and totality quantitative bhari-bharie ‘all’.  The other results of the research are:  noun in Muna language syntacticly can fill the functions of (1) subject of sentence, (2) predicate, (3) object which consists of  direct and indirect objects, and (4) complement of sentence that consists of  subjective and objective complements.  This phenomenon proves the difference of syntactic behavior of noun in Muna and English languages where noun in English language can not fill in predicate.
TIPE-TIPE KALIMAT IMPERATIF BAHASA INDONESIA RAGAM LISAN FORMAL DALAM UJIAN TERBUKA Ni Wayan Sartini
Linguistika: Buletin Ilmiah Program Magister Linguistik Universitas Udayana Vol 19 (2012): March 2012
Publisher : Program Magister Linguistik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (78.6 KB)

Abstract

Secara umum bentuk formal kalimat imperatif ada dua yaitu imperatif aktif dan pasif. Sebagian besar bentuk imperatif yang digunakan dalam konteks formal ini adalah imperatif pasif. Secara pragmatic hal ini untuk menunjukkan kesantunan. Berdasarkan konstruksinya, kalimat imperatif yang digunakan dalam konteks formal ini adalah imperatif yang diperluas. Perluasan imperatif sangat ditentukan oleh verba yang merupakan inti kalimat imperatif. Verba merupakan komponen wajib hadir dalam konstruksi imperatif.  Dengan demikian, dalam penelitian ini ditemukan kalimat imperatif yang diperluas oleh  kata, frasa dan klausa. Akan tetapi,  arah perluasan ada di sebelah kiri verba, di sebelah kanan verba, serta di sebelah kanan dan kiri verba secara simultan.
INTERAKSI OBLIK DENGAN TOPIK DALAM BAHASA JEPANG Ketut Widya Purnawati
Linguistika: Buletin Ilmiah Program Magister Linguistik Universitas Udayana Vol 19 (2012): March 2012
Publisher : Program Magister Linguistik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (113.326 KB)

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan interaksi antara fungsi gramatikal oblik dengan fungsi pragmatik topik. Fungsi gramatikal oblik meliputi obliklokasi, oblikinstrumen, oblikkomitatif, oblikgoal/sasaran, obliksumber, oblikagen, dan oblikpenerima. Fungsi oblik yang berinteraksi dengan topik memunculkan oblik topik. Fungsi oblik yang semuanya dimarkahi oleh posposisi  akan mengalami penambahan pemarkah topik wa apabila konstituen yang menempati posisi oblik tersebut berfungsi juga sebagai topik kalimat. Teori yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah teori mengenai fungsi gramatikal dan fungsi pragmatik dalam Tata Bahasa Leksikal Fungsional. Metode penelitian yang dipergunakan dalam tesis ini secara umum adalah metode kualitatif. Metode simak dipergunakan sebagai metode untuk pengumpulan data. Untuk menganalisis data dipergunakan metode agih, sedangkan untuk penyajian hasil analisis dipergunakan metode formal dan informal.
KETIDAKSETARAAN DAN SISTEM KESANTUNAN MASYARAKAT TUTUR JAWA Majid Wajid
Linguistika: Buletin Ilmiah Program Magister Linguistik Universitas Udayana Vol 19 (2012): March 2012
Publisher : Program Magister Linguistik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.55 KB)

Abstract

Bahasa Jawa (BJ) dikenal dengan tingkat tutur ngoko ‘tingkat tutur rendah’ dan basa ‘tingkat tutur tinggi’ dalam istilah lokal. Karena adanya tingkat tutur ngoko dan basa, BJ diidentifikasi dan diklasifikasikan sebagai bahasa yang hidup dalam situasi diglosia dan memungkinkan para penuturnya memperlihatkan keakraban, penghormatan, dan jenjang (hierarki) dengan sesama anggota masyarakat. Penelitian ini menerapkan dengan kritis teori sapaan (Brown & Gilman 1960) untuk menganalisis pola ketidak-setaraan, faktor yang mempengaruhi, dan kesantunan penggunaan tingkat tutur ngoko dan basa BJ.                                                                                                                      Temuan penelitian menunjukkan bahwa dalam komunikasi diadik tak-setara, yakni penggunaan tingkat tutur ngoko dan basa memperlihatkan fenomena alih kode, campur kode, dan fenomena yang mendasar, temuan penelitian ini, adalah fenomena “silang kode”. Ketika dua partisipan tak setara berkomunikasi, yakni partisipan atasan (superior) menggunakan tingkat tutur ngoko dan partisipan bawahan (inferior) menggunakan tingkat tutur basa, fenomena komunikasi tak-setara ini diinterpretasi sebagai komunikasi “silang kode”.       Penggunaan tingkat tutur ngoko dan basa BJ secara asimetris yang melahirkan komunikasi silang kode, dapat disimpulkan diglosia BJ adalah “diglossia par excellence”. Dalam sebuah penelitian penting untuk mengadopsi, mengadaptasi, dan mereinterpretasi teori yang diaplikasikan.
ALIANSI GRAMATIKAL BAHASA DAWAN: KAJIAN TIPOLOGI BAHASA I Wayan Budiarta
Linguistika: Buletin Ilmiah Program Magister Linguistik Universitas Udayana Vol 19 (2012): March 2012
Publisher : Program Magister Linguistik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.616 KB)

Abstract

Artikel ini berjudul Aliansi Gramatikal Bahasa Dawan: Kajian Tipologi Bahasa. Penelitian tentang aliansi gramatikal bahasa Dawan ini bertujuan untuk memahami (1) konstruksi dasar klausa, (2) konstruksi kalimat kompleks, (3) Sistem pivot, dan (4) pada akhirnya penentuan sistem aliansi gramatikal.Penelitian ini menggunakan teori tipologi bahasa sebagai teori utama yang dikemukakan oleh Comrie (1988). Data penelitian ini berupa klausa-klausa dan kalimat-kalimat. Data penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan metode linguistik lapangan dan didukung pula oleh metode  kepustakaan. Data dari konstruksi koordinatif dan konstruksi subordinatif  BD, secara tipologis menghantarkan pada temuan bahwa secara sintaksis BD memperlakukan S sama dengan A, dan memberi perlakuan yang berbeda kepada P (S`=`A`? P). BD merupakan kelompok bahasa yang bekerja dengan sistem S/A pivot. Sistem aliansi gramatikal seperti ini menunjukkan bahwa  BD secara sintaksis adalah bahasa yang bertipe nominatif-akusatif. Memperhatikan perilaku S pada klausa intransitif dengan perilaku A dan P pada klausa transitif  BD yang menunjukkan bahwa S dimarkahi sama dengan A begitu pula dimarkahi sama dengan P, maka secara morfologis BD memiliki kecenderungan sebagai  bahasa nominatif-akusatif.
BAHASA BALI DAN PEMERTAHANAN KEARIFAN LOKAL I Wayan Suardiana
Linguistika: Buletin Ilmiah Program Magister Linguistik Universitas Udayana Vol 19 (2012): March 2012
Publisher : Program Magister Linguistik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.306 KB)

Abstract

Bahasa Bali sebagai salah satu bahasa dan perekam budaya Bali sangat penting untuk dipelihara. Pemeliharaan bahasa Bali juga diharapkan untuk mempertahankan taksu Bali. Di Bali ada tingkatan(anggah-ungguhin basa) berbahasa yang menyebabkan terdapatnya klasifikasi sosial dalam masyarakat Bali.  Kemampuan seseorang dalam menggunakan bahasa Bali memperlihatkan kedudukan sosial dan etika orang tersebut dalam berbahasa. Kemudian muncul pertanyaan ketika orang Bali berbicara dalam bahasa Bali tanpa menguasai tingkatan bahasa. Untuk situasi sopan dan harmonis, penutur bahasa Bali diharapkan mampu menggunakan bahasa yang tepat sesuai dengan tingkatan berbahasa (saling singgihang).
e135 ELIPSIS STRATEGIS KATA KUNCI FILSAFAT MARXIS DALAM SURAT-SURAT POLITIK TAN MALAKA Sawirman Sawirman
Linguistika: Buletin Ilmiah Program Magister Linguistik Universitas Udayana Vol 19 (2012): March 2012
Publisher : Program Magister Linguistik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.249 KB)

Abstract

Setiap politisi termasuk Tan Malaka memiliki kata kunci. Kata kunci Tan Malaka yang terkenal adalah Madilog. Madilog adalah singkatan dari Materialisme, Dialektika, dan Logika. Ketiga kata kunci tersebut didukung oleh sejumlah leksikon Marxis yang dalam surat-surat politiknya di era kolonial Belanda kepada pergerakan kaum kiri di Indonesia tahun 1926-1927 sering dilesapkan. Sejumlah leksikon yang dilesapkan secara sengaja tersebut tidak mengacu pada ranah gramatikal atau preposisi layaknya kriteria elipsis yang diajukan oleh Halliday. Saya menyebutnya dalam PAS-e sebagai “elipsis strategis”. Penelitian ini dilakukan secara kualitatif yang disokong oleh statistik deskriptif dengan bantuan Sawirman’s keyword engine software 1.0 version.
BENTUK KEMASAN WACANA KRITIK SOSIAL PERTUNJUKAN WAYANG KULIT CENK BLONK LAKON DIAH GAGAR MAYANG I Nyoman Suwija
Linguistika: Buletin Ilmiah Program Magister Linguistik Universitas Udayana Vol 19 (2012): March 2012
Publisher : Program Magister Linguistik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (75.939 KB)

Abstract

Pada sekitar tahun 1990-an mulai terkenal nama sebuah pertunjukan wayang kulit Cénk Blonk yang digagas oleh I Wayan Nardayana, dalang muda dari Desa Belayu, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan. Dia berhasil membuat wayang kulit Bali diminati kembali oleh penontonnya akibat kepiawaiannya melakukan inovasi dalam teatrikal pertunjukannya dan juga dalam menata wacana lelucon yang dapat menghibur serta penuh dengan tuntunan dan kritik sosial. Sampai saat ini wayang Cénk Blonk masih sangat eksis dan laris di Bali dengan bayaran pementasan yang cukup tinggi dan setiap pementasannya selalu dipadati penonton. Penelitian ini bertujuan untuk dapat mendeskripsikan, bagaimana sang dalang mengemas wacana kritik sosial dalam pementasannya, khususnya dalam pementasan Lakon Diah Gagar Mayang yang merupakan lakon terlaris pada puncak kejayaannya. Berdasarkan pengamatan yang cermat terhadap wacana-wacana kritik sosial yang dikomunikasikan terutama lewat tokoh-tokoh punakawannya, dapat diketahui bahwa wacana kritik sosial dikemas dalam bentuk (1) perumpamaan, (2) plesetan berbentuk singkatan, dan (3) berbentuk paribasa Bali (sesenggakan, sloka, bebladbadan).
AKSARA MODRE SEBAGAI MORFOSILABIK I Made Suweta
Linguistika: Buletin Ilmiah Program Magister Linguistik Universitas Udayana Vol 19 (2012): March 2012
Publisher : Program Magister Linguistik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (132.334 KB)

Abstract

Bahasa Bali merupakan salah satu bahasa daerah besar di Indonesia, yang memiliki tradisi lisan dan tulis. Sebagai tradisi lisan bahasa Bali eksis digunakan sebagai alat komunikasi intrapenutur pada masyarakat Bali, sedangkan sebagai tradisi tulis bahasa Bali memiliki tradisi tulisan yang disebut dengan aksara Bali. Khusus tentang aksara Bali yang tergolong aksara modre memiliki bentuk silabel yang dalam tulisan ini disebut dengan morfosilabel, karena silabel jenis ini sudah memiliki makna yang menjadi bagian kajian morfologi. Permasalah yang menjadi pembahasan tulisan ini adalah: (1) Bagaimana bentuk silabel aksara modre? dan (2) Bagaimana variasi silabel aksara modre? Metode penemuan data dalam tulisan ini dilakukan secara simak pada data teks kajang. Data tersebut diambil secara selektif, selanjutnya dianalisis secara deskriptif kwalitatif. Berdasarkan analis yang dilakukan dapat diuraikan bahwa silabel aksara modre berbentuk komplek, tunggal, dan beberapa bentuk aksara modre bersifat variatif sebagai variasi silabel.
ASIMILASI FONEMIS BAHASA JAWA KUNA SALAH SATU TIPE MORFOFONEMIK Ni Ketut Ratna Erawati
Linguistika: Buletin Ilmiah Program Magister Linguistik Universitas Udayana Vol 19 (2012): March 2012
Publisher : Program Magister Linguistik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.58 KB)

Abstract

Bahasa Jawa Kuna merupakan bahasa dokumenter. Bahasa ini digolongkan sebagai bahasa aglutinasi. Bahasa yang kaya akan proses morfemis ini cenderung mengalami perubahan-perubahan yang bersifat fonemis. Namun perubahan setiap bahasa berbeda. Dengan demikian dalam tulisan ini dibahas asimilasi fonemis dengan penerapan teori fitur Distingtif. Untuk itu dalam tulisan ini,  ditemukan proses fonemis berupa penggabungan antara /a/ + /i/?    /e/ , /a/ + /u/ ? /o/,  proses fonemis antara /u/ + /a/?  /w/, /i/ + /a/  ? /y/, proses fonemis dalam proses morfofonemik dengan nasal berupa keselarasan fitur,  pelesapan, dan satu proses fonologis berupa bunyi luncuran antarvokal sehingga dalam BJK ditemukan  asimilasi fonemis resiprokal, asimilasi fonemis progresif, asimilasi fonemis regresif, dan satu penyisipan bunyi luncuran nasal /n/.

Page 1 of 1 | Total Record : 10