cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Geoscience Journal
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Padjadjaran Geoscience Journal adalah suatu jurnal Geologi berskala nasional yang mencakup berbagai pokok persoalan dalam kajian ilmu Geologi. Bidang kajian dalam jurnal ini meliputi Geologi Dinami,Geofisika, Geokimia dan Geothermal, Geomorfologi dan Penginderaan Jauh, Paleontologi, Petrologi dan Mineral, Sedimentologi dan Geologi Kuarter, Stratigrafi, Geologi Teknik dan Geologi Lingkungan serta Hidrogeologi
Arjuna Subject : -
Articles 495 Documents
LITOFASIES, ASOSIASI FASIES DAN LINGKUNGAN PENGENDAPAN LAUT DALAM BAGIAN SLOPE – CONTINENTAL RISE FORMASI HALANG PADA SEBAGIAN LINTASAN SUNGAI CILUTUNG DAN CIKIDANG, DAERAH BANTARUJEG, MAJALENGKA, JAWA BARAT Iyan Haryanto, Mulyana Saputra, Abdurrokhim,
Geoscience Journal Vol 1, No 1 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1993.043 KB) | DOI: 10.24198/pgj.v1i1.13729

Abstract

Tulisan  ini  bermaksud  membahas    litofasies  dan  lingkungan  pengendapan  pada  Formasi  Halang  Miosen    Akhir  yang  tersingkap  di  sebagian  sungai  Cilutung  dan  Cikidang  di  daerah  Bantrujeg, Majalengka-Jawa  Barat. Total  585  meter  suksesi  batuan  sedimen  Formasi  Halang  telah  diamati  secara rinci.  Suksesi  ini  memiliki  karakteristik  dominasi  fasies  batulempung    yang  berselingan  dengan batulanau  berlapis  tipis  halus – sangat  halus,  batupasir  tipis  sampai  sangat  tipis,  dengan  secara  lokal perselingan batupasir tipis sampai tebal dengan breksi komponen-matriks suported berlapis tipis sampai tebal,  endapan  slump, dan  debrite.  Sequence  Bouma  (Ta-Tc)  umumnya  ditemukan  pada  suksesi batupasir  berlapis  tipis  bagian  atas  Formasi  Halang  di  daerah  studi.  Berdasarkan  karakteristik  litologi, struktur  sedimen  dan  geometri,  suksesi  Formasi  Halang  yang  tersingkap  di  wilayah  studi  dapat dikelompokkan  menjadi  4  asosiasi  fasies: (i)  Interbedded  claystone  and  sandstone,  (ii)  Debris-flow deposit,  (iii)  Slump  deposit, dan  (iv)Channel-fill  deposit.  Suksesi  Formasi  Halang  diinterpretasikan telah diendapkan pada bagian slope– continental rise dalam setting laut dalam.   Kata kunci: litofasies; asosiasi fasies;  lingkungan pengendapan; Formasi  Halang; Bantarujeg menengah, Pra Tersier, Akresi, Retrograde
POTENSI BATUAN INDUK ANGGOTA ZELDA DAN GITA, FORMASI TALANG AKAR, CEKUNGAN ASRI BERDASARKAN ANALISIS GEOKIMA Yoga Andriana Sendjaja, Nisa Nurul Ilmi, Baharianto Irfree, Damian Pascal Ginting, Edy Sunardi,
Geoscience Journal Vol 3, No 2 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (768.694 KB) | DOI: 10.24198/pgj.v3i2.23160

Abstract

Cekungan Asri merupakan setengah graben tersier yang aktif pada cekungan busur belakang sejakOligosen Awal, berlokasi sekiranya 200 km dari utara busur gunungapi Jawa dan 400 km dari utarajalur subduksi yang memanjang dari barat ke timur sepanjang pulau Jawa. Interval batuan induk yangaktif menggenerasi minyak pada cekungan Asri belum diketahui dengan pasti dan diasumsi hanyaFormasi Banuwati yang berperan sebagai batuan induk aktif tersebut. Studi ini mengevaluasi anggotaZelda dan Gita bagian dari formasi Talang Akar, untuk mengidentifikasi potensinya sebagai batuaninduk cekungan Asri. Analisis dilakukan terhadap TOC, vitrinite reflectance, warna maseral flurosen,serta data nonbiomarker lainnya sebagai hasil olah metode geokimia berupa rock eval pyrolysis dan gaschromatography. Potensi sebagai batuan induk diidentifikasi berdasarkan jumlah karbon organik, tipekerogen, dan tingkat kematangan. Hasil analisis geokimia terhadap kedua kandidat menunjukkan bahwaanggota Zelda Bawah formasi Talang Akar berpotensi sebagai batuan induk dengan nilai TOC dalamrentang 1% - 5%, memiliki kerogen tipe II dengan dominasi minyak, serta tingkat kematanganterkategori matang.Kata kunci: batuan induk, Zelda, Gita, Talang Akar, cekungan Asri, geokimia migas
Karakteristik Geokimia Organik Formasi Talang Akar pada Graben Bandar Agung dan Tanjung Miring, Sub-Cekungan Palembang Selatan: Implikasinya Pada Paleodepositional Setting dan Potensi Generasi Hidrokarbon Yoga Andriana Sendjaja, Yara Regina, Ildrem Syafri,
Geoscience Journal Vol 1, No 3 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1350.082 KB) | DOI: 10.24198/pgj.v1i3.15086

Abstract

Formasi Talang Akar Pada Graben Bandar Agung dan Tanjung Miring, Sub-Cekungan Palembang Selatan evaluasi menggunakan data geokimia dari dua puluh sampel sedimen (cuttings) dari empat sumur eksplorasi untuk analisis batuan induk meliputi kuantitas, kualitas, dan kematangan. Penelitian lebih lanjut menggunakan tiga ekstrak batuan yang dianalisis menggunakan metode geokimia molekular terdiri atas n-alkana, isoprenoids, terpana, dan sterana untuk mengetahui karakteristik geokimia organik, asal material organik, paleodepositinal setting, dan potensinya untuk menggenerasikan hidrokarbon. Berdasarkan hasil analisis geokimia organik, Formasi Talang Akar pada Graben Bandar Agung dan Tanjung miring memiliki kekayaan material organik good sampai excellent dengan tingkat kematangan early mature sampai peak mature. Sampel batubara pada Graben Tanjung Miring dan sampel batulempung pada Graben Bandar Agung merupakan bagian dari Formasi Talang Akar Bawah yang diendapkan pada lingkungan fluvio-deltaic dibawah kondisi suboksik sampai oksik dan kontribusi dominan dari tumbuhan tingkat tinggi. Sedangkan, sampel batulempung serpih Formasi Talang Akar pada Graben Tanjug Miring diinterpretasikan merupakan bagian dari Formasi Talang Akar Atas yang diendapkan pada lingkungan delta/laut dangkal dibawah kondisi suboksik sampai oksik dengan kontribusi dominan dari alga laut. Jenis material organik pada batuan induk berasosiasi dengan tipe kerogen dan jenis hidrokarbon tertentu yang digenerasikan dari suatu batuan induk, menunjukkan sampel Formasi Talang Akar yang memiliki nilai Indeks Hidrogen (HI) dibawah 200 mg HC/g TOC (kerogen tipe III) berpotensi tinggi untuk menggenerasikan hidrokarbon jenis gas, sedangkan sampel yang memiliki nilai HI lebih tinggi dari 200 mg HC/g TOC hanya dapat meggenerasikan minyak bumi dalam jumlah yang terbatas. Kata kunci: Geokimia organik, Paleodepositional setting, Formasi Talang Akar, Generasi Hidrokarbon
PENGARUH MUKA AIRTANAH TERHADAP SUDUT LERENG STABIL PADA PIT “X” PT. BORNEO INDOBARA, KALIMANTAN SELATAN ,Dicky Muslim, Hasan Ashari, M.S. Joko Santoso, Anggi Hardian, Rafly Anugrah Ramadhian,Zufialdi Zaka
Geoscience Journal Vol 3, No 4 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (772.472 KB) | DOI: 10.24198/pgj.v3i4.23192

Abstract

Kestabilan lereng merupakan suatu masalah yang sangat sering dijumpai dalam kegiatan penambangan. Lereng yang berada dalam keadaan tidak stabil akan berpotensi menghasilkan longsor. Kondisi muka airtanah dalam tubuh lereng dapat menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kestabilan lereng. Untuk mengetahui pengaruh kondisi muka airtanah terhadap sudut lereng pada Pit “X”, PT. Borneo Indobara, metode penelitian yang dilakukan dimulai dari pengolahan data sifat fisik material dari hasil uji laboratorium. Data tersebut selanjutnya akan digunakan sebagai material properties pada proses simulasi kestabilan lereng dalam software Slide v.6.0. Proses simulasi kestabilan lereng dilakukan dengan variasi ketinggian lereng yang berbeda dan pengaruh muka airtanah pada tubuh lereng dengan variasi ketinggian yang berbeda pula. Data hasil penelitian menunjukkan bahwa simulasi pada lereng highwall dengan tinggi 100meter dapat membentuk sudut stabil hingga 47˚ saat kondisi muka airtanah 1/8 tinggi lereng dari kaki lereng. Sedangkan simulasi pada lereng sidewall dengan tinggi sekitar 110meter dapat membentuk sudut stabil hingga 50˚ saat kondisi muka airtanah 1/8 tinggi lereng dari kaki lereng. Dapat disimpulkan bahwa penurunan elevasi muka airtanah pada lereng dapat menghasilkan sudut lereng stabil yang lebih tinggi. Sehingga penurunan elevasi muka airtanah pada lereng highwall area penelitian dapat menaikkan rekomendasi sudut lereng stabil dari 15˚ hingga 22˚. Pada lereng sidewall area penelitian, rekomendasi sudut lereng stabil dapat dinaikkan dari 18˚ hingga 20˚.Kata kunci: Kestabilan lereng, muka airtanah, highwall, sidewall
HUBUNGAN DENSITAS KEKAR DENGAN PROBABILITAS LONGSOR PADA BATUAN DIORIT DI TAMBANG TERBUKA BATU HIJAU, SUMBAWA, PROVINSI NUSA TENGGARA BARA Dicky Muslim,Yan Adriansyah, Muhammad Nur Arizal,Raden Irvan Sophian,
Geoscience Journal Vol 2, No 3 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (902.697 KB) | DOI: 10.24198/pgj.v2i3.17258

Abstract

Lokasi penelitian terletak di Tambang terbuka Batu Hijau PT. Amman Mineral Nusa Tenggara di bagian barat daya pulau Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Longsor pada daerah penelitian merupakan masalah utama terutama pada lereng tambang yang disusun oleh batuan Diorit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar probabilitas longsor dan sejauh mana hubungan densitas kekar dengan probabilitas longsor. Berdasarkan hasil penelitian arah dari struktur minor (kekar) berarah barat-timur, hal tersebut akan mengikuti pola arah struktur utama yang ada di daerah penelitian dengan arah yang sejajar/ berpotongan. Hasil analisis kinematik terdapat 2 jenis probabilitas longsoran di daerah penelitian yaitu probabilitas longsoran Bidang dan Baji. Pada longsoran Bidang mempunyai nilai PoF tertinggi 14.3 % dan terendah 0 %, sedangkan pada longsoran Baji mempunyai nilai PoF tertinggi 24.7 % dan terendah 2.4 %. Probabilitas longsor didominasi oleh longsoran baji hal tersebut dibuktikan dengan hasil uji statistik. Hasil uji statistik hubungan densitas kekar dengan probabilitas longsoran baji berhubungan secara signifikan dengan nilai r= 0.66 sedangkan densitas kekar dengan probabilitas longsoran bidang berhubungan tidak signifikan dengan nilai r = 0.39. Pada longsoran bidang ada faktor lain yang mempengaruhi tidak hanya densitas kekar namun orientasi salah satunya arah dipping dari kekar.Kata Kunci : Tambang Batu Hijau, Densitas Kekar, Probabilitas Longsor
ALTERASI HIDROTHERMAL DI LAPANGAN PANAS BUMI X, LAMPUNG Agus Didit Haryanto, Dewi Gentana, Santy Liesdayanty,Euis Tintin Yuningsih,
Geoscience Journal Vol 3, No 3 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (782.283 KB) | DOI: 10.24198/pgj.v3i3.23182

Abstract

Daerah penelitian terletak di lapangan panas bumi X, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung. Daerah ini dipengaruhi oleh Sistem Sesar Sumatra berarah baratlaut-tenggara dan timurlaut-baratdaya Studi alterasi hidrothermal pada Sumur SL2 dilakukan dengan metode petrogafi terhadap 7 sampel serbuk bor dan 2 batuan inti. Metode petrografi digunakan untuk mengetahui mineral-mineral hidrothermal sebagai indikator temperatur dan fluida hidrothemal. Litologi daerah penelitian tersusun atas andesit (800-902 m), breksi vulkanik (902-1202 m), dan tuf (1202-1265 m). Batuan-batuan tersebut telah teralterasi sedang (40%) - kuat (53%). Temperatur daerah penelitian diperkirakan mencapai >240°C dengan ditemukan mineral hidrothermal indikator temperatur tinggi, yaitu incipient epidot (200-250°C) dan wairakit (220-310°C). Fluida panas bumi kemungkinan berupa fluida klorida netral karena terdapat mineral yang stabil pada kondisi netral-basa seperti klorit, epidot, dan wairakit. Zona hilang sirkulasi pada kedalaman 1264-1809 m mengindikasi adanya permeabilitas baru yang disebabkan oleh struktur daerah penelitian. Hal ini menyebabkan fluida menjadi sedikit asam akibat air kondesat yang masuk ke sistem hidrothermal melalui media rekahan, yang ditandai dengan mineral serisit pada kedalaman 1810,36 m.Kata kunci : Alterasi Hidrothermal; Epidot;Fluida;Temperatur
Daya Dukung Tanah Pondasi Dangkal pada Lokasi Penstock PLTMH Batang Sinamar Kecamatan LintauBuo Utara Kabupaten Tanahdatar Sumatera Barat Aton Patonah, Dedet Darma Yanda, Agung Mulyo,
Geoscience Journal Vol 2, No 3 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (695.918 KB) | DOI: 10.24198/pgj.v2i3.17248

Abstract

Daerah penelitian berada di lokasi pembangunan PLTMH Batang Sinamar termasuk kedalam morfologi dataran tinggi, dengan lebar sungai berkisar antara 30-50 m dengan pinggiran sungai tinggi tebing mendekati vertikal dengan ketinggian mencapai 30-70 m. Dalam sebuah pembangunan infrastruktur kajian sebelum pembangunan sangat di butuhkan agar tidak terjadi kerobohan bangunan pada kemudian hari. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah daya dukung tanah pada lokasi pembangunan tersebut.Dengan mengetahui daya dukung tanah pada lokasi tersebut maka dapat di tentukan bangunan apa yang dapat di bangun pada lokasi tersebut dan jenis pondasi apa yang dapat di gunakan. Nilai daya dukung tanah pondasi dangkal yang dihitung menggunakan rumus terzaghi dapat berbeda pada kedalaman yang sama antara satu titik dengan titik yang lain. Hal ini dapat terjadi karena perbedaan persentase butiran lempung yang terdapat pada lokasi tersebut.Kata Kunci : PLTMH, Daya dukung tanah, terzaghi
RANCANGAN TERASERING UNTUK STABILISASI LERENG PADA TAMBANG NIKEL LATERIT Zufialdi Zakaria, Agung Mulyo., Muhammad Ilham Sidiq,
Geoscience Journal Vol 1, No 2 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1193.094 KB) | DOI: 10.24198/pgj.v1i2.14318

Abstract

Kajian geologi teknik merupakan hal yang penting dalam tambang terbuka, rancangan lereng yang stabil diperlukan untuk keberlangsungan pertambangan. Bahan dari kajian ini merupakan tambang nikel laterit yang berada di daerah Sebuku,Kabupaten Kota Baru, Kalimantan Selatan. Beberapa cara yang dilakukan untuk membuat suatu rancangan lereng diantaranya dengan menggunakan analisis Software Slide 6.0. Penulis melakukan analisis perhitungan nilai keamanan lereng tunggal tanah dimulai dari sudut overall slope 60o, 50o, 40o, 30o, dan analisis lereng majemuk dengan sudut overall slope 40o dan disertai pembuatan terasering dengan 2 lereng dan 3 lereng, sehingga di peroleh nilai faktor keamanan lereng (FS) > 1.25 ( Bowles,1984). Data untuk modifikasi rancangan lereng pada titik pengamatan yang memiliki faktor keamanan stabil dan yang belum stabil diperoleh berdasarkan hasil analisis laboratorium uji sifat fisik dan mekanik tanah. Berdasarkan hasil analisis nilai faktor keamanan lereng untuk lereng tunggal tanpa dipengaruhi oleh nilai koefisien getaran gempa, FS yang stabil di dapat pada sudut 40o dengan nilai FS > 1.25, dari hasil simulasi lereng majemuk dengan dua lereng di dapat pada sudut overall slope 40o dan bench slope 50o dengan nilai FS > 1.25 dan dari simulasi lereng majemuk dengan tiga lereng didapat simulasi lereng stabil dengan overall slope 40o dan bench slope 60o. Dengan dipengaruhi nilai koefisien getaran gempa tejadi penurunan nilai faktor keamanan lereng, penurunan nilai kestabilan lereng ini sebesar 0.11 - 0.117. Rekomendasi untuk rancangan lereng stabil pada tambang nikel laterit ini yaitu lereng majemuk 2 lereng dengan sudut lereng yaitu overall slope 40 o dan bench slope 50o .Kata kunci : Rancangan Lereng, Nikel Laterit
ANALISIS PORE PRESSURE PADA SUMUR IHW-01 CEKUNGAN JAWA TIMUR UTARA Reza Mohammad Ganjar Gani, Yusi Firmansyah, Don Basuki, Ilham Hariz Wardhana, Ildrem Syafri,
Geoscience Journal Vol 3, No 2 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1545.388 KB) | DOI: 10.24198/pgj.v3i2.23165

Abstract

Fenomena waktu tidak produktif saat kegiatan pengeboran 40% terjadi akibat dari permasalahanmengenai tekanan di bawah permukaan. Untuk mengurangi biaya produksi yang dikeluarkan maupunwaktu yang lebih efisien dibutuhkan prediksi mengenai tekanan bawah permukaan pada suatu sumur.Terkait dengan permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui metode yang tepatuntuk digunakan pada sumur IHW-01 yang bermasalah di daerah Tuban, Cekungan Jawa Timur Utaraserta mengetahui mekanisme dari pore pressure pada sumur tersebut. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sumur yang meliputi lumpur pengeboran, suhu,kronologi pemboran, dan data wireline logging. Metode penelitian yang digunakan dalam prediksi porepressure adalah mengamati reaksi wireline logs, metode Eaton untuk prediksi pore pressure dan metodeFluid Retention Depth untuk mengetahui prediksi pore pressure pada suhu tinggi. Hukum Terzaghi jugadigunakan untuk mengetahui stres efektif batuan dan mengetahui mekanisme adanya overpressure padasumur IHW-01. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa pore pressure yang dianalisis pada sumur IHW-01 diketahuisebagai zona overpressure mulai dari kedalaman 800 m- 1200 m pada Formasi Ngrayong. Analisisprediksi pore pressure yang digunakan adalah metode Eaton sebagai metode yang umum dipakai dalammemprediksi pore pressure. Tetapi setelah diketahui suhu dari sumur ABP-01 meningkat menjadi 112⁰ C,metode yang digunakan adalah metode Fluid Retention Depth karena metode Eaton hanya berfungsidengan baik pada keadaan normal. Kesalahan pemilihan metode seringkali mengakibatkan beberapaprediksi yang salah. Pore pressure yang ada pada sumur IHW-01 tergolong menjadi overpressure karenabeberapa mekanisme seperti loading dan unloading. Loading terjadi karena cekungan Jawa Timur Utaramerupakan cekungan muda berumur Tersier dan terjadi pada batulempung. Unloading terjadi karena suhuyang tinggi (113⁰ C) mengakibatkan adanya diagenesis mineral lempung yang mengakibatkan adanyapenambahan air pada batuan serta kemungkinan perubahan wujud hidrokarbon pada formasi dari padatmenjadi fluida.Kata kunci: pore pressure, fluid retention depth, Eaton, Cekungan Jawa Timur Utara
Karakteristik Tanah Hasil Pelapukan Granit dan Fungsinya untuk Material Penutup TPA di Wilayah Tanjungpinang, Riau Zufialdi Zakaria, Fery Erawan, Winda Oktaviana, Emi Sukiyah,
Geoscience Journal Vol 2, No 2 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (647.53 KB) | DOI: 10.24198/pgj.v2i2.16592

Abstract

Berdasarkan data tahun 2010, penduduk Kota Tanjungpinang mencapai 187.359 jiwa dengan kepadatanpenduduk 804 jiwa/km2. Sebagaimana wilayah dengan kepadatan penduduk yang relatif tinggidibandingkan wilayah di sekitarnya, masalah sampah menjadi krusial. Sehingga diperlukan pengelolaanTempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang tepat, salah satunya dengan pembangunan TPA dengan sistemlandfill. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik tanah di wilayahTanjungpinang dan pengaruhnya untuk kesesuaian tanah penutup. Karakteristik tanah yang diperlukanuntuk lapisan penutup harus memiliki kualitas yang baik dalam menahan rembesan air hujan sehinggadapat mengendalikan air lindi yang dihasilkan. Pada penelitian ini digunakan sampel tanah tidakterganggu yang diambil dari 3 lokasi. Berdasarkan hasil uji sifat fisik didapatkan tanah yang sesuaiuntuk tanah penutup adalah pada lokasi 3, dengan nilai permeabilitas paling rendah yaitu 1,213 x 10 cm/detik. Kata Kunci : Karakteristik Tanah, Tutupan Lahan, Permeabilitas, Tanjungpinang

Filter by Year

2017 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 9, No 4 (2025): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 9, No 1 (2025): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 8, No 4 (2024): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 8, No 3 (2024): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 8, No 2 (2024): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 8, No 1 (2024): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 6 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 5 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 4 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 3 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 2 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 1 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 6, No 4 (2022): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 6, No 3 (2022): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 6, No 2 (2022): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 6, No 1 (2022): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 6 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 5 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 4 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 3 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 2 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 1 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 6 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 5 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 4 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 3 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 2 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 1 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 6 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 5 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 4 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 3 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 2 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 1 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 6 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 5 (2018): Padjadjaran Geoscience Vol 2, No 4 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 4 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 3 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 3 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 2 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 2 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 1 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 1 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 1 (2017): Vol 1, No 1 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 3 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 3 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 2 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 2 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 1 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 1 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal More Issue