Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Pemaknaan Simbol sebagai Identitas Diri pada Komunitas ‘Blacklist Borneo’ di Samarinda Rico Tri Lukman Hadi Saputra; Kadek Dristiana Dwivayani; Dony Kristian; Harry Isra Muhammad
Jurnal Ragam Pengabdian Vol. 3 No. 1 (Spesial Issue) (2026): "Dharma Samudera"
Publisher : Lembaga Teewan Journal Solutions

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/9x6qhh74

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemaknaan simbol sebagai konstruksi identitas diri pada komunitas motor "Blacklist Borneo" di Samarinda melalui perspektif Interaksionisme Simbolik Herbert yang mencakup konsep Mind, Self, dan Society. Melalui metode kualitatif dengan teknik observasi serta wawancara mendalam, hasil penelitian pada aspek Mind menunjukkan bahwa anggota melakukan redefinisi kognitif terhadap nama "Blacklist" dari stigma negatif menjadi simbol kekuatan kolektif, di mana atribut visual seperti logo mahkota dan warna kuning diinternalisasi sebagai representasi wibawa serta kehormatan. Pada aspek Self, atribut komunitas berfungsi sebagai looking-glass self yang memicu transformasi identitas individu menjadi lebih disiplin dan bertanggung jawab karena adanya beban moral untuk menjaga marwah kelompok saat mengenakan simbol organisasi di ruang publik. Sementara itu, pada aspek Society, komunitas secara aktif melakukan negosiasi identitas melalui "manipulasi simbolik" berupa kegiatan sosial dan kolaborasi strategis dengan institusi kepolisian untuk merekonstruksi respons masyarakat (the generalized other) dari persepsi buruk menjadi pengakuan positif sebagai mitra keamanan. Simpulan penelitian menegaskan bahwa simbol bukan sekadar penanda visual, melainkan instrumen kontrol moral internal dan sarana komunikasi dinamis yang efektif dalam membentuk citra positif serta memperkuat solidaritas persaudaraan di tengah stigma negatif masyarakat perkotaan.
Simbol Visual Sebagai Petunjuk Perkembangan Karakter dan Alur Cerita dalam Film Viva La Vida Ain Ratu Syafana; Silviana Purwanti; Johantan Alfando WS; Dony Kristian
Jurnal QOSIM : Jurnal Pendidikan, Sosial & Humaniora Vol 4 No 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/jq.v4i3.7056

Abstract

Film tidak hanya menyampaikan cerita melalui dialog, tetapi juga melalui simbol visual. Namun, kajian tentang peran simbol visual dalam membentuk karakter dan alur cerita masih terbatas, termasuk pada film Viva La Vida karya Han Yan. Oleh karena itu, diperlukan analisis untuk mengungkap makna simbol visual dalam film tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana simbol visual dalam film Viva La Vida berkontribusi terhadap perkembangan karakter dan alur cerita. Jenis penelitian yang digunakan yaitu jenis penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan semiotika Peirce. Sumber data penelitian ini yaitu data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data yaitu dokumentasi dan observasi.  Teknik Analisis Data menggunakan pendekatan semiotika Charles Sanders Peirce melalui tiga unsur utama yaitu representament, objek, dan interpretant. Berdasarkan hasil dan pembahasan diperoleh bahwa simbol visual dalam film Viva La Vida berfungsi sebagai sistem tanda yang membentuk perkembangan karakter dan mengarahkan alur cerita melalui proses semiosis menurut Charles Sanders Peirce. Warna, pencahayaan, komposisi visual, dan gestur karakter menjadi representamen yang merujuk pada kondisi biologis, relasi antar tokoh, serta pilihan hidup, sehingga menghasilkan interpretant yang berubah seiring perkembangan narasi. Pada tahap awal, dominasi warna pucat, ruang sempit, pencahayaan redup, dan gestur terbatas membentuk makna keterbatasan dan stagnasi hidup tokoh utama. Memasuki tahap konflik, perubahan komposisi ruang, jarak visual, dan gestur konfrontatif menandai ketegangan hubungan serta pergeseran nilai dan keputusan. Pada tahap akhir, pencahayaan yang lebih terang, ruang terbuka, dan gestur yang tegas membentuk makna penerimaan dan keberlanjutan hidup.
Analisis Resepsi Komunitas Kejar Mimpi Terhadap Pesan Meritokrasi dalam Konten Tiktok Vina Muliana Natasya Ferta Ananda; Nurliah; Dony Kristian; Harry Isra Muhammad
Jurnal QOSIM : Jurnal Pendidikan, Sosial & Humaniora Vol 4 No 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/jq.v4i3.7058

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis resepsi anggota Komunitas Kejar Mimpi Samarinda terhadap pesan meritokrasi dalam konten TikTok Vina Muliana. Fokus penelitian terletak pada bagaimana audiens memaknai narasi keberhasilan yang berbasis kerja keras di tengah realitas sosial yang beragam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis resepsi model encoding-decoding Stuart Hall. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara mendalam terhadap informan yang terdiri dari anggota aktif dan alumni komunitas. Hasil penelitian menunjukkan adanya pemetaan posisi resepsi yang dipengaruhi oleh latar belakang pengalaman hidup dan pencapaian profesional informan. Informan pada posisi dominant-hegemonic cenderung berasal dari kalangan alumni yang telah merasakan manfaat sistem meritokrasi dalam karier mereka, bahkan mengimplementasikan pesan tersebut dengan menjadi motivator internal di komunitas. Sebaliknya, informan pada posisi negotiated menerima nilai kerja keras namun memberikan catatan kritis terhadap adanya perbedaan garis start sosial, ekonomi, dan geografis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun pesan Vina Muliana diterima sebagai motivasi yang efektif bagi komunitas pengembangan diri, audiens tetap memiliki kesadaran kritis terhadap bias kelas dan hambatan sistemik yang tidak tertampilkan dalam konten video pendek.
The Use of Instagram as a Fashion Reference for Fisip UNMUL Students on the @Natasharizkynew Account Try Desy Rahmawati; Nurliah Nurliah; Dony Kristian; Harry Isra Muhammad
INFOKUM Vol. 14 No. 03 (2026): Infokum, May - June 2026
Publisher : Sean Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58471/infokum.v14i03.3106

Abstract

This study aims to explore the use of Instagram as a fashion reference among female students of the Faculty of Social and Political Sciences (FISIP), Universitas Mulawarman, through the Instagram account @natasharizkynew. The study employed a descriptive qualitative approach using the Uses and Gratifications theory, which focuses on four audience needs: information, personal identity, social interaction, and entertainment. Informants were selected using purposive sampling, consisting of Muslim female students who actively use Instagram, follow @natasharizkynew, and have adopted fashion references from the account in their daily lives. Data were collected through observation, semi-structured interviews, and documentation, and analyzed using the interactive model of Miles and Huberman, including data collection, data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that the Instagram account @natasharizkynew fulfills students' information needs by providing references for modest, syar'i, and fashionable Muslim clothing suitable for campus activities. The account also contributes to strengthening personal identity by increasing self-confidence and helping students develop a style that aligns with their personality and values. In terms of social interaction, the content becomes a topic of discussion and fosters connections with others who share similar interests. Furthermore, the account provides entertainment by creating positive emotional experiences, including feelings of happiness, comfort, tranquility, and relief from boredom. Therefore, Instagram as a fashion reference serves not only as a source of information but also as a medium for shaping identity, enhancing social relationships, and supporting the emotional well-being of Muslim female students in the digital era..
Komunikasi Antarpribadi sebagai Sarana Rekonsiliasi dan Penerimaan Diri dalam Film A Silent Voice Muhammad Farid Firdausy; Dony Kristian; Johantan Alfando WS
Takuana: Jurnal Pendidikan, Sains, dan Humaniora Vol. 5 No. 2 (2026): Takuana (July-September)
Publisher : MAN 4 Kota Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56113/takuana.v5i2.596

Abstract

This study examines interpersonal communication as a mechanism for reconciliation and self-acceptance in the film A Silent Voice. The film portrays the relationship between Shoya Ishida, a former perpetrator of bullying, and Shouko Nishimiya, a deaf student who experienced bullying and social exclusion. This research employed a qualitative descriptive approach using Krippendorff’s content analysis method. The data consisted of dialogues, scenes, and character expressions that reflect interpersonal communication dynamics throughout the narrative. The analysis was based on the dimensions of interpersonal communication, including openness, empathy, supportiveness, positiveness, and equality, as well as relevant psychological communication aspects. The findings indicate that interpersonal communication develops progressively from ineffective interactions characterized by trauma, lack of empathy, and inequality toward more constructive communication patterns. Feelings of guilt and regret encourage openness, which subsequently facilitates empathy, support, and positive interpersonal attitudes. These communication processes contribute to relationship restoration, reconciliation, and self-acceptance among the main characters. The study concludes that interpersonal communication functions as an essential mechanism for resolving interpersonal conflict and rebuilding damaged social relationships. This research enriches interpersonal communication studies by demonstrating how communication dynamics contribute to reconciliation and self-acceptance within media narratives.
Komunikasi Interpersonal Orang Tua dan Anak Perempuan Perokok: Perspektif Fundamental Interpersonal Relations Orientation (FIRO) Nia Agustina Putri; Nurliah Nurliah; Dony Kristian; Harry Isra Muhammad
Takuana: Jurnal Pendidikan, Sains, dan Humaniora Vol. 5 No. 2 (2026): Takuana (July-September)
Publisher : MAN 4 Kota Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56113/takuana.v5i2.599

Abstract

This study aims to analyze interpersonal communication between parents and female student smokers in the Communication Studies Program at Mulawarman University using the Fundamental Interpersonal Relations Orientation (FIRO) theory. This study employed a qualitative case study approach involving five female students selected through purposive sampling. Data were collected through in-depth interviews and analyzed using the Miles and Huberman interactive analysis model. The findings indicate that the interpersonal needs of inclusion, control, and affection interact in shaping interpersonal communication between parents and daughters. Participants who felt accepted, were given opportunities to express themselves, and received emotional support from their parents demonstrated greater openness in communication. In contrast, dominant parental control and judgmental responses encouraged participants to conceal their smoking behavior. The study also identified differences between expressed and wanted behaviors, indicating that participants limited self-disclosure while still expecting harmonious relationships with their parents. These findings highlight the importance of fulfilling interpersonal needs when discussing socially stigmatized issues.
Analisis Framing Isu Sosial dalam Konten Youtube Malaka Project: Kajian Atas Rasionalitas Madilog Tan Malaka: Penelitian Muhammad Alip Syahrul Lisan; Ainun Nimatu Rohmah; Kadek Dristiana Dwivayani; Dony Kristian
Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial Vol. 4 No. 1 (2026): Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial Volume 4 Nomor 1 February - May 2
Publisher : PT PUSTAKA CENDEKIA GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70292/pchukumsosial.v4i1.400

Abstract

Madilog Tan Malaka dalam memaknai isu sosial di ruang publik digital, sekaligus menguji sejauh mana praktik komunikasinya konsisten dengan standar epistemologis Madilog yang dikampanyekannya sendiri. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis Framing model Robert N. Entman yang meliputi define problem, diagnose causes, make moral judgment, dan suggest remedies. Tiga video YouTube Malaka Project dipilih melalui purposive sampling dan data dikumpulkan melalui observasi non-partisipan, kemudian dianalisis secara lintas video. Hasil: Ketiga video secara konsisten membingkai persoalan sosial sebagai krisis cara berpikir, menempatkan faktor kognitif-kultural sebagai penyebab utama, menghakimi logika mistika secara moral, dan menawarkan Madilog sebagai solusi transformasi paradigma berpikir; namun diagnosis dan penilaian moral tersebut disampaikan tanpa data empiris yang memadai, serta ajakan berdialektika disampaikan melalui format monolog satu arah. Kesimpulan: Malaka Project berhasil membangun Framing yang runtut dan konsisten dalam mengampanyekan rasionalitas Madilog di ruang publik digital, tetapi prinsip materialisme dan dialektika Madilog belum sepenuhnya tercermin dalam praktik komunikasinya sendiri, sehingga diperlukan penguatan basis data empiris dan ruang dialog terbuka dalam konten-konten selanjutnya.
Strategi Komunikasi Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Provinsi Kalimantan Timur dalam Melaksanakan Program Kerja Literasi Media di Kota Samarinda Periode Tahun 2022/2025 Mahpujah; Kadek Dristiana Dwivayani; Johantan Alfando Wikandana Sucipta; Dony Kristian
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 6 No. 7 (2026): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v6i7.3688

Abstract

Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Provinsi Kalimantan Timur (KPID-KALTIM)  adalah sebuah lembaga independen di Indonesia yang berfungsi sebagai regulator penyelenggaraan penyiaran di daerah khususnya Kalimantan Timur. Hadirnya KPID diharapkan mampu menekan dampak negatif dari penyiaran yang ada. KPID mempunyai wewenang diantaranya menetapkan standar program siaran, menyusun peraturan dan menetapkan pedoman perilaku penyiaran. KPID atas dasar amanat Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran menjalankan program Pendidikan Literasi Media. Program ini bertujuan membekali masyarakat agar kritis terhadap terpaan media, mampu memilah informasi, dan memahami hak-hak mereka sebagai khalayak. Bentuk kegiatannya meliputi seminar, talkshow, dan sosialisasi yang menyasar berbagai kalangan, mulai dari pelajar SMP/SMA, mahasiswa, organisasi masyarakat, hingga komunitas lokal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana Strategi Komunikasi Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Provinsi Kalimantan Timur dalam Mensosialisasikan Literasi Media. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian yang didapatkan yaitu Pelaksanaan sosialisasi literasi media dalam mewujudkan penyiaran sehat, Adapun pelaksanaan sosialisasi yang dilakukan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah KALTIM tentang Literasi media dilakukan dalam bentuk, pertama, Pelaksanaan secara langsung dalam bentuk kegiatan sosialisasi yang berkaitan dengan Literasi Media dan P3SPS. Kedua, pelaksanaan menggunakan media massa (video edukasi pada platfom Instagram, seminar online, dan talkshow online).
Analisis Etnografi Virtual Tentang Roleplayer dan Identitas Diri Penggemar K-Pop di Instagram Sapta Lika Wulandari; Silviana Purwanti; Johantan Alfando Wikandanda Sucipto; Dony Kristian
Jurnal Media Informatika Vol. 7 No. 1 (2026): Edisi Januari - Februari
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55338/jumin.v7i1.8302

Abstract

Perkembangan media sosial, khususnya Instagram, telah melahirkan ruang interaksi bagi penggemar K-Pop untuk mengekspresikan diri melalui praktik roleplaying idola. Aktivitas ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi arena pembentukan dan negosiasi identitas diri secara virtual. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses interaksi simbolik dalam aktivitas roleplayer K-Pop di Instagram melalui fitur feed, story, dan direct message (DM) dalam membentuk konstruksi identitas diri virtual para anggotanya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi virtual. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi daring, dokumentasi digital, serta wawancara terhadap tiga informan yang dipilih secara purposive. Analisis data dilakukan dengan mengacu pada teori Interaksi Simbolik George Herbert Mead yang meliputi konsep mind, self, dan society. Hasil penelitian menunjukkan bahwa roleplayer memanfaatkan simbol-simbol khas fandom seperti bahasa, emoji, dan aturan IC/OOC sebagai media komunikasi yang membentuk makna bersama. Interaksi sosial yang terjadi secara berulang mendorong terbentuknya identitas diri yang bersifat cair, reflektif, dan bergantung pada pengakuan komunitas. Identitas virtual roleplayer tidak bersifat statis, melainkan terus dinegosiasikan melalui umpan balik sosial dan norma komunitas yang berlaku. Penelitian ini menyimpulkan bahwa praktik roleplaying K-Pop di Instagram berperan penting dalam proses eksplorasi dan konstruksi identitas diri remaja di ruang digital.
The Role of Cross-Cultural Communication in the Adaptation Process of Participants in the 2024 Mulawarman University Indonesian International Student Mobility Awards Ananda Nazeli Ahsan; Johantan Alfando Wikandana Sucipta; Dony Kristian
Jurnal Indonesia Sosial Sains Vol. 7 No. 7 (2026): Jurnal Indonesia Sosial Sains
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jiss.v7i7.2434

Abstract

The increasing participation of students in international mobility programs has created new challenges related to cross-cultural adaptation, particularly in communication processes within unfamiliar cultural environments. The Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA) program provides opportunities for students to gain global academic experiences; however, differences in language, cultural values, communication patterns, and social norms may influence their adaptation processes. This study aimed to analyze the role of cross-cultural communication in the adaptation process of 2024 IISMA participants from Mulawarman University based on Young Yun Kim’s Integrative Communication Theory. This research employed a qualitative case study approach. Data were collected through in-depth interviews, observations, and literature reviews, while data analysis followed the Miles and Huberman model, consisting of data reduction, data display, and conclusion drawing/verification. The findings indicated that cross-cultural communication played a significant role in supporting students’ adaptation through six dimensions: host social communication, ethnic social communication, personal communication, environmental factors, predisposing factors, and cross-cultural transformation. Interactions with host communities and exposure to local media enhanced cultural understanding, while communication barriers and cultural differences initially generated stress during the adaptation process. Nevertheless, continuous interaction enabled students to develop communication competence, cultural awareness, and a cross-cultural identity. This study concluded that effective cross-cultural communication facilitated the transition from stress to adaptation and personal growth, enabling international students to successfully integrate into new cultural environments.