Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

GAMBARAN KARAKTERISTIK KASUS PSORIASIS VULGARIS DI POLIKLINIK PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN RSUD KABUPATEN BULELENG TAHUN 2012-2013 Komang Aditya Yudistira; Anak Agung Gde Putra Wiraguna
E-Jurnal Medika Udayana vol 3 no 9 (2014):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.032 KB)

Abstract

Psoriasis merupakan penyakit kulit kronis yang sering mengalami kekambuhan. Penyakit psoriasis tidak segera mengancam nyawa akan tetapi sangat mempengaruhi kualitas hidup penderitanya. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengetahui profil dari pasien psoriasis vulgaris dan gambaran karakteristik pasien dengan psoriasis vulgaris. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan mengambil data sekunder pasien psoriasis vulgaris yang berobat ke poliklinik kulit dan kelamin RSUD Buleleng pada tahun 2012 sampai 2013. Sampel penelitian ini adalah pasien dengan psoriasis vulgaris yang berobat ke poliklinik kulit dan kelamin RSUD Buleleng. Dari hasil penelitian ini didapatkan sebanyak 54 pasien mengalami penyakit psoriasis vulgaris pada tahun 2012 dan sebanyak 50 pasien mengalami penyakit psoriasis vulgaris pada tahun 2013. Dari kedua tahun ini hampir sebagian besar merupakan kasus lama, persebaran kelompok usia hampir sama di semua kelompok usia dan jenis kelamin. Dari karakteristik pasien, sebanyak 74,1% dengan BMI normal pada tahun 2012 dan 54% pasien dengan BMI normal pada tahun 2013. 25,9% pasien yang memiliki kebiasaan merokok pada tahun 2012 dan 28% pasien di tahun 2013. Sebanyak 16,7% pasien memiliki kebiasaan minum alkohol pada tahun 2012 dan 24% pasien di tahun 2013. Untuk riwayat penyakit lain pada pasien psoriasis vulgaris, 24% pasien dengan diabetes mellitus di tahun 2012 dan 20% pasien di tahun 2013,  5% pasien dengan rheumatoid artritis di tahun 2012 dan 4% pasien di tahun 2013.
COMPARISON OF HBA1C LEVELS AMONG PATIENTS WITH TYPE 2 DIABETES MELLITUS WITH AND WITHOUT CHRONIC COMPLICATIONS AT BALI ROYAL GENERAL HOSPITAL Wulandari, Christina Nyoman; Atmaja, Kadek Surya; Masyeni, Sri Masyeni; Yudistira, Komang Aditya
JURNAL WIDYA MEDIKA Vol. 12 No. 2 (2026): July
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jwm.v12i2.8188

Abstract

Diabetes mellitus (DM) remains a major public health problem globally. Glycated hemoglobin (HbA1c) is widely used to assess long-term glycemic control in type 2 diabetes mellitus (T2DM), and persistent poor control may precipitate chronic microvascular and macrovascular complications. However, HbA1c profiles among hospitalized T2DM patients with established chronic complications in tertiary referral settings are still limited. This study compared HbA1c values between hospitalized T2DM patients with and without chronic complications at Bali Royal General Hospital. A cross-sectional analytic observational study was conducted using 130 inpatient T2DM medical records from 2022–2024 obtained through consecutive sampling. Descriptive variables included sex, age, antidiabetic regimen (oral vs injectable), and hypertension status. Chronic complications were categorized as macrovascular or microvascular based on clinical diagnoses documented in the medical records. Most patients were women (57.7%), with a mean age of 60.57 ± 10.41 years. Injectable therapy predominated (66.2%), and 58.5% had no documented hypertension. Patients with chronic complications had a higher median HbA1c than those without complications (8.60% [5.0–15.0] vs 7.50% [4.9–15.0]; p = 0.040). Overall, HbA1c levels were frequently above common treatment targets, indicating suboptimal long-term glycemic control in this inpatient cohort. Among hospitalized T2DM patients in a tertiary referral hospital, chronic complications were associated with significantly higher HbA1c levels, reflecting poorer long-term glycemic control. These findings highlight the need for sustained HbA1c optimization alongside comprehensive risk-factor management to mitigate long-term complication risk in referral settings.
Acute Coronary Syndrome in Dextrocardia : A Case Report Ni Kadek Nadia Ayu Agustini; Komang Aditya Yudistira
Aesculapius Medical Journal Vol 5 No 2 (2025): June
Publisher : Fakultas Ilmu Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/amj.5.2.2025.122-126

Abstract

Dextrocardia is a rare congenital condition in which the heart is positioned on the right side of the thorax, with an estimated incidence of one in 10,000 individuals. Recognizing acute coronary syndrome (ACS) in patients with dextrocardia and situs inversus is challenging due to the anatomical reversal of internal organs. We report a case of a 67-year-old woman presenting with substernal chest pain radiating to the back for 12 hours, accompanied by shortness of breath. The patient had no history of hypertension or diabetes mellitus. Physical examination revealed elevated blood pressure, while other findings were unremarkable. The electrocardiogram (ECG) demonstrated marked right axis deviation with T-wave inversion in leads V1–V4. Chest radiography showed an inverted cardiac silhouette and a right-sided gastric air bubble. In patients without a known diagnosis of dextrocardia, the recognition of ACS can be challenging because clinical and ECG findings may appear reversed. In patients with confirmed or suspected dextrocardia, performing a right-sided ECG and reversed limb lead are essential to accurately identify ischemic changes and avoid misdiagnosis of acute coronary syndrome.
Hubungan Derajat Hipertensi terhadap Kejadian Penyakit Jantung Koroner Di BRSUD Tabanan Ni Kadek Nadia Ayu Agustini; Komang Aditya Yudistira; I Putu Gede Eka Ariawan Suyasa; Ni Putu Diah Witari
Aesculapius Medical Journal Vol 5 No 2 (2025): June
Publisher : Fakultas Ilmu Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/amj.5.2.2025.127-132

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko yang dapat dimodifikasi dari penyakit jantung koroner (PJK). Hipertensi dapat menyebabkan terjadinya aterosklerosis yang dapat menyebabkan stenosis pada pembuluh darah koroner. Menurut Joint National Committee VII (JNC VII) hipertensi terdiri dari 2 derajat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan derajat hipertensi terhadap kejadian PJK dengan rancangan studi cross sectional Teknik pengambilan sampel menggunakan consecutive sampling dengan memenuhi kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Data yang dikumpulkan akan dianalisis dengan uji Chi Square. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara derajat hipertensi dengan kejadian PJK (p = 0,000) dan hipertensi derajat 2 berisiko 4,68 kali menderita PJK dibandingkan hipertensi derajat 1. Kata kunci: penyakit jantung koroner, hipertensi, aterosklerosis
Pelatihan Bantuan Hidup Dasar dan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga bagi Komunitas Lari Island's Wolfpack di Denpasar Komang Aditya Yudistira; Ni Made Puspa Dewi Astawa
Warmadewa Minesterium Medical Journal Vol. 4 No. 2 (2025): Mei 2025
Publisher : Warmadewa University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/wmmj.4.2.2025.176-181

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Island’s Wolfpack Bali adalah komunitas lari yang terdiri dari pelari pemula hingga berpengalaman. Aktivitas fisik yang intens dalam komunitas ini meningkatkan risiko kejadian darurat medis, seperti serangan jantung, cedera olahraga, dan dehidrasi. Namun, tingkat pengetahuan anggota komunitas mengenai Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan pertolongan pertama masih rendah. Oleh karena itu, pelatihan BHD dan pertolongan pertama pada cedera olahraga menjadi penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan anggota komunitas dalam menghadapi situasi darurat. Metode: Kegiatan ini dilaksanakan dalam bentuk penyuluhan dan pelatihan kepada anggota komunitas lari Island’s Wolfpack Bali. Materi yang diberikan mencakup teori dan praktik terkait BHD, penggunaan Automated External Defibrillator (AED), serta pertolongan pertama pada cedera olahraga. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta. Hasil: Kegiatan ini diikuti oleh 30 peserta. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman peserta mengenai BHD dan pertolongan pertama, dengan peningkatan rata-rata nilai post-test sebesar 30% dibandingkan pre-test. Selain itu, peserta menunjukkan antusiasme tinggi dalam sesi praktik, yang mencerminkan kesiapan mereka dalam menerapkan keterampilan yang diperoleh. Kesimpulan: Pelatihan BHD dan pertolongan pertama terbukti meningkatkan pengetahuan dan keterampilan anggota komunitas lari Island’s Wolfpack Bali dalam menghadapi kejadian darurat medis. Kegiatan serupa diharapkan dapat dilakukan secara berkala untuk meningkatkan keselamatan dalam komunitas olahraga. Kata Kunci: Bantuan Hidup Dasar, Pertolongan Pertama, Cedera Olahraga, Pelari, Komunitas ABSTRACT Background: Island’s Wolfpack Bali is a running community consisting of runners ranging from beginners to experienced athletes. The intense physical activity within this community increases the risk of medical emergencies such as heart attacks, sports injuries, and dehydration. However, the level of knowledge among community members regarding Basic Life Support (BLS) and first aid is still low. Therefore, BLS and first aid training for sports injuries is important to improve the preparedness of community members in handling emergency situations. Methods: This activity was conducted in the form of outreach and training for members of the Island’s Wolfpack Bali running community. The material provided included theory and practice related to BLS, the use of Automated External Defibrillators (AED), and first aid for sports injuries. Evaluation was carried out through pre-tests and post-tests to measure participants’ knowledge improvement. Results: The activity was attended by 30 participants. Evaluation results showed a significant increase in participants’ understanding of BLS and first aid, with an average post-test score improvement of 30% compared to the pre-test. Additionally, participants demonstrated high enthusiasm during the practical sessions, reflecting their readiness to apply the skills acquired. Conclusion: BLS and first aid training has been proven to enhance the knowledge and skills of members of the Island’s Wolfpack Bali running community in responding to medical emergencies. Similar activities are expected to be conducted regularly to improve safety within the sports community. Keywords: Basic Life Support, First Aid, Sports Injuries, Runners, Community
Hubungan Hipertensi dengan Kejadian Sindrom Koroner Akut: Studi Kasus–Kontrol MADE BAGUS MANIK SATRIA MAHOTTAMA; KADEK SURYA ATMAJA; SRI MASYENI; SAKTIVI HARKITASARI; ADITYA YUDISTIRA
Hang Tuah Medical Journal Vol 23 No 2 (2026): Hang Tuah Medical Journal
Publisher : Universitas Hang Tuah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30649/htmj.v23i2.896

Abstract

Abstract Background: Acute Coronary Syndrome (ACS) is a major cardiovascular emergency associated with substantial morbidity and mortality. Hypertension is considered an important risk factor, yet local evidence remains essential. Objective: evaluate the relationship between hypertension and ACS occurrence in two referral hospitals in Bali, Indonesia. Methods: A hospital-based case–control study using medical record data was conducted at Karangasem and Tabanan District Hospitals. A total of 176 subjects were included: 88 ACS cases and 88 non-ACS controls. Purposive sampling with age- and sex-matching was applied. Bivariate analysis employed Chi-square test, reporting OR with 95% CI. Results: Most participants were aged >45 years (96.6%) and male (65.9%). Among cases, the most frequent ACS subtype was unstable angina (43.2%), followed by NSTEMI (34.1%) and STEMI (22.7%). The most common presenting symptoms were dyspnea (84.1%) and typical chest pain (79.5%). Hypertension was present in 39.8% of cases and 18.2% of controls. Hypertension was significantly related to ACS (p=0.002 OR of 2.97; 95% CI: 1.491–5.923).Conclusion: Hypertension is significantly related to ACS occurrence and increases the odds of ACS by nearly threefold.
Skrining Hipertensi dan Edukasi Gerakan DASH Diet Untuk Tatalaksana dan Pencegahan Hipertensi pada Lansia di Desa Blahbatuh Gianyar Komang Aditya Yudistira; Anak Agung Ngurah Rai Kusuma Putra; Anak Agung Gede Ananta Wijaya Sahadewa
Warmadewa Minesterium Medical Journal Vol. 5 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Warmadewa University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/wmmj.5.2.2026.141-146

Abstract

Hipertensi merupakan masalah kesehatan yang sering ditemukan pada kelompok lanjut usia (lansia) dan menjadi faktor risiko utama penyakit kardiovaskular, seperti penyakit jantung koroner, gagal jantung, dan stroke. Peningkatan usia menyebabkan perubahan fisiologis pada sistem kardiovaskular yang berkontribusi terhadap peningkatan tekanan darah. Namun demikian, banyak lansia tidak menyadari kondisi hipertensinya karena penyakit ini sering tidak menimbulkan gejala. Rendahnya literasi kesehatan serta kurangnya pemahaman mengenai pola makan sehat, khususnya pembatasan asupan garam dan penerapan pola makan seimbang, menjadi tantangan dalam pengendalian hipertensi di masyarakat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan deteksi dini hipertensi pada lansia serta meningkatkan pengetahuan dan kesadaran mengenai penerapan Dietary Approaches to Stop Hypertension (DASH Diet) sebagai strategi nonfarmakologis dalam pencegahan dan pengendalian hipertensi. Pendekatan pemecahan masalah dilakukan melalui strategi promotif dan preventif berbasis komunitas berupa skrining tekanan darah, edukasi faktor risiko dan komplikasi hipertensi, serta penyuluhan penerapan DASH Diet yang praktis dan sesuai dengan kebiasaan masyarakat lokal. Evaluasi dilakukan menggunakan metode pre-test dan post-test untuk menilai peningkatan pengetahuan peserta. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa sebagian lansia memiliki tekanan darah di atas normal dan belum mengetahui kondisi tersebut sebelumnya. Selain itu, terjadi peningkatan pengetahuan peserta mengenai hipertensi dan pola makan sehat setelah edukasi diberikan. Program skrining hipertensi dan edukasi DASH Diet efektif meningkatkan kesadaran kesehatan serta pengetahuan lansia mengenai pengendalian tekanan darah sehingga kegiatan serupa perlu dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai upaya promotif dan preventif dalam menurunkan risiko penyakit kardiovaskular di masyarakat.