Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search
Journal : JURNAL CITRA KEPERAWATAN

GAMBARAN PENGETAHUAN PEKERJA SEKS KOMERSILA TENTANG PENCEGAHAN PENULARAN HIV/AIDS DILOKALISASI PEMBATUAN WILAYAH KERJA PUSKESMAS GUNTUNG PAYUNG KOTA BANJARBARU ikhsan, muhammad; Rachmadi, Agus; Mariana, Evi Risa
JURNAL CITRA KEPERAWATAN Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.51 KB)

Abstract

HIV/AIDS merupakan salah satu penyakit yang mengancam hidup manusia. Saat ini tidak ada negara yang terbebas dari HIV/AIDS. Derajat kesakitan dan kematian yang disebabkan oleh HIV dan dampak global dari infeksi HIV terhadap sumber daya penyedia kesehatan dan ekonomi sudah meluas dan terus berkembang. Untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan Pekerja Seks Komersial (PSK) tentang pencegahan penularan  penyakit (HIV/AIDS) di lokalisasi Pembatuan wilayah kerja Puskesmas Guntung Payung.Penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Populasi penelitian ini adalah para pekerja seks komersial di lokalisasi pembatuan wilayah kerja puskesmas Guntung Payung Banjarbaru tahun 2016, sampel dalam penelitian ini berjumlah 47 responden yang diambil dengan teknik accidental sampling.Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden dari 47, didapatkan 46 (97,87%) responden mengetahui dengan baik tentang pengetahuan dasar HIV/AIDS, sebanyak 37 responden (78,17%) mengetahui dengan baik tentang penularan HIV/AIDS, untuk pengetahuan tentang tanda dan gejala pengetahuan responden cukup dengan hasil sebanyak responden 19 responden (40,42%), dan untuk pengetahuan tentang pencegahan penularan sebanyak 25 responden (53,19%) mengetahui dengan baik. Kepada pihak Dinas Kesehatan maupun Puskesmas Guntung Payung diharapkan agar terus melakukan promosi kesehatan, penyuluhan, dan pendidikan kesehatan, khususnya tentang pengetahuan tanda dan gejala HIV/AIDS
STUDI KASUS PERSONAL HYGIENE PADA ANAK DENGAN PEDIKULOSIS CAPITIS DAN DAMPAKNYA TERHADAP KESEHATAN DI SDN HANDIL PURAI 2 KECAMATAN BERUNTUNG BARU KABUPATEN BANJAR nurlaila, siti; Ilmi, Bahrul; Mariana, Evi Risa
JURNAL CITRA KEPERAWATAN Vol 4, No 2 (2016): JURNAL CITRA KEPERAWATAN
Publisher : Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.902 KB)

Abstract

Penyebab kutu di kepala yaitu personal hygiene yang kurang, khususnya pada rambut yang jarang mendapatkan perawatan apalagi terhadap anak-anak yang sering mandi disungai. Rambut yang menjadi sarang pedikulosis capitis akan mudah kotor dan lengket seperti rambut gimbal. Rambut menjadi seperti lengket dan kotor, karena kutu kepala selalu mengeluarkan air liurnya. Penyebaran kutu juga sangat cepat lewat peralatan yang dipakai bergantian dan dari teman-teman bermain. Dampak kutu kepala terhadap kesehatan adalah dapat menyebabkan koreng pada kepala, penyakit pediculosis capatis, dan akan mengganggu waktu istirahat serta mengurangi konsentrasi dan kurang percaya diri dan pada anak-anak dapat menyebabkan anemia. Tujuan dari penelitian ini adalah Gambaran Kasus Personal Hygiene pada Anak dengan Pedikulosis Capitis dan Dampaknya Terhadap Kesehatan Di SDN Handil Purai 2 Kecamatan Baruntung Baru Kabupaten Banjar. Hasil penelitian menggunakan rancangan deskriptif kualitatif, dengan pendekatan studi kasus. Teknik sampling yang digunakan pada penelitian ini adalah total sampling dengan jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 14 orang. Data disajikan dengan tabel distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan personal hygien yang jelek mengakibatkan pedikulosis capitis dan pedikulosis capitis memiliki dampak bagi kesehatan. Kepada Pihak sekolah SDN Handil purai 2 dapat memberikan penyuluhan tentang kebersihan diri dan penyuluhan kesehatan tentang bahaya atau dampak pedikulosis capitis
FAKTOR – FAKTOR RESIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN KEJANG PADA BALITA DEMAM DI RUANG ANAK RSUD BANJARBARU TAHUN 2013 Mahdalena, Mahdalena; Mariana, Evi Risa; Maulani, Firman
JURNAL CITRA KEPERAWATAN Vol 2, No 2 (2014): JURNAL CITRA KEPERAWATAN
Publisher : Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.966 KB)

Abstract

Ada beberapa faktor resiko yang berhubungan dengan kejadian kejang demam. Diantaranya; umur, jenis kelamin, suhu saat kejang, riwayat kejang dalam keluarga, dan lamanya demam.Menuruthasilstudi pendahuluan yang dilakukandi RSUD Banjarbaru di dapat hasil dari tahun 2010 – 2012 sebanyak 378 balita demam yang dirawat, diketahui sebanyak 287 orang mengalami kejang dengan angka kematian sebesar 5 %, yakni 2 – 5 orang. Dalam kasus tersebut belum diketahui faktor resiko apa yang paling berhubungan dengan kejadian kejang pada balita demam di ruang anak RSUD Banjarbaru.Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi gambaran faktor – factor resiko apa saja yang berhubungan dengan kejadian kejang demam di ruang Anak RSUD Banjarbaru tahun 2013. Jenis penelitian menggunakan desain deskriptif analitik. Pengambilan sampel menggunakan teknik accidental sampling sehingga di dapatkan jumlah sampel sebesar 38 orang.Cara pengumpulan data menggunakan lembar observasi dan wawancara yang di jawab orang tua responden. Teknik analisa data dengan secara Chi Square Test kemudian ditarik kesimpulan.Dari hasil penelitian, pasien cenderung kejang 21 orang (55,3%), berumur < 2 tahun sebanyak 24 orang (63,2%), berjenis kelamin laki – laki sebanyak 26 orang (68,4%), bersuhu tubuh ≥ 39 oC sebanyak 22 orang (57,9%), tidak ada riwayat kejang keluarga sebanyak 32 orang (84,2%), dan lamanya demam > 1 jam sebanyak 34 orang (89,5%). Hasil analisa hubungan menggunakan Chi-Square, dari faktor umur, jenis kelamin, suhu tubuh, dan riwayat kejang keluarga memiliki hubungan dengan kejadian kejang (ρ<α), sedangkan faktor lamanya demam tidak ada hubungan dengan kejadian kejang (ρ>α).Kesimpulan dalam penelitian ini menyarankan agar perawat dapat memberikan penyuluhan kepada orang tua balita tentang penanganan kejang demam karena pada balita sangat rentan untuk terjadi kejang demam. Kata kunci      : Faktor Resiko, Kejang Demam
PERSEPSI ORANG TUA TERHADAP TERAPI KOMPLEMENTER DALAM PENANGANAN DEMAM PADA BALITA DI DESA TABUDARAT HILIR KEC. LAS KAB. HST dina resmi, siti aulia; mariana, Evi risa; Ilmi, bahrul
JURNAL CITRA KEPERAWATAN Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.989 KB)

Abstract

Orang tua yang cemas akan menimbulkan beberapa tindakan yang berlebihan dalam penanganan demam secara medis. Orang tua juga tidak jarang membawa anaknya ke tukang pijat tradisional saat anaknya demam. Pijat tradisional adalah salah satu terapi komplementer yang sering digunakan untuk meredakan demam.Penelitian ini bertujuan mengetahui persepsi orang tua, jenis terapi komplementer dan terapi lainnya yang sering digunakan orang tua dalam penanganan demam di Desa Tabudarat Hilir Kec. LAS Kab. HST.  Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, dengan jenis penelitian deskriftif. Sampel penelitian ini adalah orang tua yang memiliki balita dengan jumlah 58 orang tua menggunakan teknik simple random sampling.Hasil penelitian terlihat bahwa seluruh orang tua menyatakan bahwa persepsi  terhadap terapi komplementer positif dan jenis terapi komplementer yang sering dilakukan adalah pijat tradisional sebanyak 58 orang (100%). Disamping terapi komplementer, orang tua juga menggunakan terapi lainnya dalam penanganan demam seperti membeli obat sendiri diwarung sebanyak 51 orang (87,9%).Peran orang tua sangat berpengaruh termasuk dalam penanganan demam yang dialami balitanya dengan tepat, menggunakan terapi komplementer yang berdampak baik untuk balita dan tidak menimbulkan resiko yang berbahaya
Efektivitas Kompres Cuka Terhadap Penurunan Suhu Tubuh Pada Balita Pasca Imunisasi Dasar Di Puskesmas Cempaka Kota Banjarbaru Evi Risa Mariana; Suroto Suroto
JURNAL CITRA KEPERAWATAN Vol 8 No 2 (2020): JURNAL CITRA KEPERAWATAN
Publisher : Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31964/jck.v8i2.136

Abstract

Kondisi demam pada balita tidak hanya karena adanya penyakit juga dialami setalah mendapatkan immunisasi dasar. Ada dua manajemen demam yaitu farmakologi dan non farmakologi. Salah satu tindakan non farmakologi terhadap penurunan panas adalah kompres sebagai metode pemeliharaan suhu tubuh dengan menggunakan cairan atau yang dapat menimbulkan hangat atau dingin pada bagian tubuh yang memerlukan. Untuk menurunkan suhu tubuh, dikenal juga obat demam tradisional dengan cuka yang harganya sangat terjangkau dan juga efektif meredakan demam. Obat ini meredakan demam dikarenakan kandungan asam di dalamnya dapat berfungsi untuk mengeluarkan panas dari dalam tubuh. Selain itu, obat demam tradisional ini mengandung banyak mineral yang dapat memenuhi kebutuhan mineral tubuh akibat demam. Jenis penelitian ini adalah adalah eksperimen semu (quasi experimental) dengan rancangan pre test – post test control group design. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis suhu tubuh balita pasca immunisasi setelah diberikan kompres cuka dan tanpa cuka serta menganalisis efektivitas kompres cuka sebagai bahan kompres dengan cara membandingkan suhu tubuh balita pasca immunisasi dengan suhu tubuh normal. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh balita yang mengalami demam pasca immunisasi dasar di Puskesmas Cempaka Kota Banjarbaru. Sampel diambil secara accidental sampling dalam waktu 2 bulan, yang dijadikan sebagai kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Analisis data dengan menggunakan Independent t-test dan Paired t-test dengan signifikansi α 0,05. Hasil Penelitian menunjukkan adanya perubahan suhu tubuh antara kelompok perlakuan/intervensi (kompres cuka) dengan kelompok kontrol (tanpa kompres cuka) menggunakan uji independent sample t test didapatkan nilai p<α=0,05 dengan tingkat kesalahan, α= 0,05. Jika nilai p<α=0,05 maka Ha diterima, berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara suhu tubuh pada balita yang dilakukan kompres cuka dengan yang tidak memakai cuka. Kesimpulan terdapat perbedaan yang signifikan antara suhu tubuh pada balita yang dilakukan kompres cuka dengan yang tidak memakai cuka. Saran bagi Puskesmas Cempaka Kota Banjarbaru khususnya poliklinik immunisasi dan kader posyandu dapat memberikan alternatif kompres cuka (metoden non farmakologi) untuk menurunkan suhu tubuh balita pasca immunisasi
The Effect Of Elderly Gymnastics On Blood Pressure In Hypertensive Elderly Salsabila, Noor; Sajidah, Ainun; Mariana, Evi Risa; Nurhayati, Nurhayati; Suroto, Suroto
JURNAL CITRA KEPERAWATAN Vol 12 No 2 (2024): JURNAL CITRA KEPERAWATAN Edisi : Desember
Publisher : Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31964/jck.v12i2.359

Abstract

Hypertension in the elderly generally comes from changes in the condition of arterial blood vessels that become harder and less elastic. To prevent hypertension, one of them is doing elderly gymnastics. The purpose of this study was to analyse the effect of elderly gymnastics on blood pressure in hypertensive elderly at Panti Perlindungan dan Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia (PPRSLU) Budi Sejahtera Martapura. The research method uses Pre-Experimental research type with one group pretest and posttest design. Sampling using purposive sampling with a sample size of 11 respondents. Analysis using paired sample t-test statistical test with ɑ 0.05. The results showed that there was an effect of elderly gymnastics on systolic blood pressure with a p value of 0,029 (<0.05) and no effect of elderly gymnastics on diastolic blood pressure with a p value of 0,185 (>0.05). It can be concluded that there is an effect of elderly gymnastics on blood pressure in hypertensive elderly. It is hoped that hypertensive elderly people will always routinely participate in elderly gymnastics and maintain health patterns to avoid hypertension.
Identification of Families with Stunting in the Working Area of the Astambul Martapura Community Health Center, Banjar Regency fauziah, erna fauziah; Mariana, Evi Risa; Pratiwi, Niken; Hutagaol, Ruthmauli; Nurhadijah, Sitti; Fratama, Ferry Fadli
JURNAL CITRA KEPERAWATAN Vol 12 No 2 (2024): JURNAL CITRA KEPERAWATAN Edisi : Desember
Publisher : Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31964/jck.v12i2.366

Abstract

Stunting is a chronic nutritional problem and is an important problem in Indonesia. The emergence of the problem of stunting can have a fatal impact on children if it is not addressed. One of the main causes of stunting is a lack of nutritional intake in the first 1000 days of life or a lack of nutritional intake for a long time. This causes children to experience growth disorders, namely height that is not appropriate for their age, decreased productivity, health problems, and ultimately can cause generation loss in Indonesia. The impact of stunting is metabolic disorders in the body. The research results show that from the results of the questionnaire, it was found that the risk factors that cause stunting in families with stunting are: Nutritional Status, and the results of the questionnaire conducted using in-depth interviews show that visits to Posyandu are not routinely attended every month, the processing and presentation of children's food is less varied. , low in protein and low in nutritional value.
Literature Review Faktor yang Mempengaruhi Pneumonia Aspirasi pada Pasien Stroke dengan Disfagia patmah, Patmah; Mariana, Evi Risa; Purwati Ningsih, Endang Sri
JURNAL CITRA KEPERAWATAN Vol 10 No 2 (2022): JURNAL CITRA KEPERAWATAN Edisi : Desember
Publisher : Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31964/jck.v10i2.260

Abstract

Komplikasi penyakit stroke menjadi penyebab terbesar prevalensi kematian di suatu negara. Secara global sekitar 60% penderita stroke berisiko tinggi mengalami komplikasi seperti disfagia dan pneumonia aspirasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui lebih dalam lagi faktor yang mempengaruhi pneumonia aspirasi pada pasien stroke dengan disfagia melalui literatur. Dari pencarian literatur, terdapat 5 artikel yang memenuhi kriteria dari 3 database yaitu ScienceDirect, PubMed, dan Google Scholar. Protokol dan evaluasi literatur menggunakan JBI (Joanna Briggs Institute) Critical Appraisal Checklist. Berdasarkan dari 5 artikel, didapatkan hasil analisis yaitu 3 faktor yang mempengaruhi. Pertama, faktor komorbiditas; infark miokard, gagal jantung kongestif, penyakit pembuluh darah perifer dan aneurisma, stroke iskemik, demensia, penyakit paru obstruktif kronis, Diabetes dengan kerusakan organ, serta tumor padat metastatik. Kedua, faktor jenis stroke iskemik (infark serebral dan leukoaraiosis (materi putih), dan yang ketiga faktor pemasangan alat medis khususnya nasogastric tube dalam jangka waktu yang lama. Diharapkan dari hasil penelitian literatur ini dapat lebih meningkatkan caring, pengetahuan tentang stroke yang berhubungan dengan pneumonia aspirasi dan disfagia oleh perawat yang difasilitasi oleh institusi pelayanan dan dipersiapkan oleh institusi pendidikan serta dari keluarga sebagai support system pasien.
The Association Between Cortisol And Stress Levels In Hypertension Patients Kai, Meggy Wulandari; Mariana, Evi Risa; Utami, Naning Kisworo; Prayogi, Bisepta
JURNAL CITRA KEPERAWATAN Vol 12 No 1 (2024): JURNAL CITRA KEPERAWATAN Edisi : June
Publisher : Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31964/jck.v3i2.352

Abstract

Hypertension is one of the leading causes of morbidity around the world. Between 1990 and 2019, the number of people with hypertension doubled, rising from 650 million to 1.3 billion. Hypertension is defined as high blood pressure with a systolic pressure higher than 140 mmHg and a diastolic pressure higher than 90 mmHg on both measurements taken at a five-minute interval during a period of sufficient rest or calm. Stress is the leading cause of hypertension because it increases cortisol output by the adrenal glands, which leads to hypertension. This study is a literature review which includes completing a journal review applying comparative research methods. The results indicate that there is a link. Cortisol levels and stress levels are linked in hypertensive patients because when stressed, the body releases more stress hormones (adrenaline and cortisol), which activates the Renin Angiotensin Aldosterone System (RAAS), causing blood pressure increase..
Evaluation Of The Nutrition Intervention Program In Overcoming Stunting In Toddlers In The Area Of The Astambul Public Health Center, Banjar District, South Kalimantan fauziah, erna fauziah; Mariana, Evi Risa; Pratiwi, Niken; Hutagaol, Rutmauli
JURNAL CITRA KEPERAWATAN Vol 13 No 2 (2025): Jurnal Citra Keperawatan Edisi : Desember
Publisher : Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31964/jck.v13i2.407

Abstract

Nutritional issues in toddlers remain a public health challenge, impacting their growth, development, and immune system. Nutrition intervention programs through supplementary feeding (PMT) and growth monitoring have been implemented at the community health center (Puskesmas) and integrated health service posts (Posyandu). However, program effectiveness is largely determined by community acceptance, regular distribution, and the quality of health services. This study aims to evaluate the implementation of the nutrition intervention program for toddlers, including community knowledge, acceptance of assistance, perceived impacts, implementation challenges, and service quality. The study used a quantitative and qualitative approach (mixed methods) using questionnaires and in-depth interviews with mothers of toddlers receiving nutrition assistance. Data were analyzed thematically according to the categories of knowledge, acceptance, impacts, challenges, service quality, and community expectations. The results showed that the majority of respondents were aware of the nutrition intervention program and had received PMT assistance since 2024–2025. The program was assessed as having a positive impact in the form of weight gain, improved appetite, and decreased frequency of illness in toddlers. The quality of services provided by the community health center and integrated health service posts (Posyandu) was appreciated for being friendly and informative. Challenges emerged relatively minor, primarily related to the technical aspects of PMT distribution. Respondents hoped the program would continue with additional nutritious food variations. The nutrition intervention program has proven well-received by the community and has had a positive impact on toddler health. The program's success can be strengthened through diversification of support, ongoing monitoring, and increased participation of integrated health post (Posyandu) cadres in family support. Keywords:Nutrition intervention, toddlers, PMT, integrated health posts, public health