Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Ibrah Eksistensial: Menggali Makna Penciptaan Lalat dan Rayap dalam Al-Qur-an Akhmad Dasuki; Rian Hidayat; Mahda Mahda
Jurnal Studi Islam Indonesia (JSII) Vol. 4 No. 1 (2026): Jurnal Studi Islam Indonesia (JSII)
Publisher : Publication and Inovasi Research

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61930/jsii.v4i1.1570

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji ayat-ayat tentang lalat dalam QS. Al-Hajj [22]:73 dan rayap dalam QS. Saba [34]:14 melalui pendekatan tafsir saintifik dengan tetap berpijak pada kerangka tafsir tematik. Fokus utama penelitian adalah mengungkap makna teologis dan simbolis kedua ayat, serta keterkaitannya dengan temuan ilmiah dalam bidang biologi dan ekologi serangga. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan analisis tematik, yaitu menghimpun ayat-ayat terkait, menelaahnya berdasarkan penafsiran para ulama khususnya dalam Tafsir Al-Misbah kemudian mengaitkannya secara proporsional dengan data ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lalat dalam Al-Qur’an berfungsi sebagai perumpamaan untuk menegaskan kelemahan makhluk selain Allah sekaligus mengandung kritik terhadap kesombongan manusia, di samping memiliki kompleksitas biologis seperti sistem antibakteri alami. Sementara itu, rayap berperan sebagai simbol pengungkapan kebenaran yang menegaskan keterbatasan pengetahuan makhluk, serta memiliki fungsi ekologis penting sebagai pengurai dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Penelitian ini menegaskan bahwa pendekatan tafsir saintifik dapat memperkaya pemahaman ayat tanpa menggeser makna teologisnya, selama tetap berada dalam koridor metodologis yang proporsional. Dengan demikian, lalat dan rayap tidak hanya merepresentasikan simbol teologis, tetapi juga menunjukkan keterhubungan antara wahyu dan realitas ilmiah secara lebih kontekstual.
Representasi Ilmiah dan Moral Anjing dalam Al-Qur’an: Analisis Tafsir Saintifik QS. Al-Kahfi: 18 dan QS. Al-A‘raf: 176 Helda Pauziah; Serlyana Yuriska; Akhmad Dasuki
JURNAL ILMIAH NUSANTARA Vol. 3 No. 3 (2026): Jurnal Ilmiah Nusantara Mei 2026
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jinu.v3i3.10127

Abstract

This study is motivated by the tendency of previous research on dogs in the Qur’an to focus primarily on legal aspects and negative perceptions, thus not fully exploring their broader representational dimensions; therefore, this study aims to analyze the scientific and moral representations of dogs in QS. Al-Kahf [18]: 18 and QS. Al-A‘raf [7]: 176 through a scientific exegesis approach. This research employs a qualitative library-based method with a descriptive-analytical approach, integrating classical and contemporary interpretations with modern scientific findings, particularly in animal biology. The findings reveal that dogs are represented in a complex manner through two main dimensions: as loyal and protective creatures in QS. Al-Kahf [18]: 18, and as a moral symbol for humans who follow their desires in QS. Al-A‘raf [7]: 176; furthermore, the Qur’anic description of dogs panting aligns with the biological mechanism of thermoregulation. In conclusion, the representation of dogs in the Qur’an is integrative, encompassing both biological and ethical dimensions, and opens a dialogical space between revelation and science in a contextual framework.
PARADOKS PUJIAN DALAM BINGKAI CELAAN: ANALISIS STILISTIKA TA’KID AL-MADH PADA DESKRIPSI JANNAH DALAM QS. AL-WAQIAH DAN AN-NABA Helga Juliya; Rasyid Hidayatullah; Akhmad Dasuki
JURNAL ILMIAH NUSANTARA Vol. 3 No. 4 (2026): Jurnal Ilmiah Nusantara Juli 2026
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jinu.v3i4.10165

Abstract

This study examines the stylistic phenomenon of ta’kīd al-madh bimā yusyibihu adz-dzamm in the description of Jannah within QS. Al-Wāqi‘ah [56]: 25–26 and QS. An-Naba’ [78]: 24–25. The research aims to reveal the rhetorical structure, semantic function, and stylistic implications of paradoxical praise expressed through seemingly negative constructions. This study employs a qualitative library research method with a descriptive-analytical approach based on stylistics and Arabic rhetoric (balaghah), particularly ‘ilm al-badī‘. The primary data consist of Qur’anic verses containing negation and exception structures, while secondary data are drawn from classical and contemporary tafsir, stylistic studies, and balaghah literature. The findings demonstrate that the pattern of negation (nafy) followed by exception (istitsnā’) functions as a rhetorical strategy to intensify the praise of Paradise by emphasizing the absence of negative elements. This structure creates emotional engagement, reflective meaning, and aesthetic depth within the Qur’anic discourse. Furthermore, the integration of stylistic and balaghah approaches provides a more comprehensive understanding of the Qur’an’s linguistic beauty and semantic complexity, especially in interpreting eschatological verses related to Jannah.
Reinterpretation of the Meaning of Qaulan Karĭman: : An Analysis of Q.S. Al-Isra’ (17): 23 Using the Maʿna cum Maghzā Approach Dina Awalia; Umi Masruroh; Jainah; Muhammad Valentino Saputra; Rusdeana; Nismah Sa’adah; Akhmad Dasuki
REVELATIA Jurnal Ilmu al-Qur`an dan Tafsir Vol. 7 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/revelatia.v7i1.22877

Abstract

The development of digital communication technology has transformed interactions between children and parents, raising the question of how Islamic ethical principles, particularly the concept of qaulan karĭman can be reinterpreted and applied in the context of digital communication. This study examines the meaning of qaulan karĭman in QS. Al-Isra' verse 23 using the maʿna cum maghzā approach, emphasizing understanding of the verse based on its historical meaning (maʿna) and its moral and social significance (maghzā). A qualitative hermeneutic method was employed, with primary data from the Qur'an and classical and contemporary tafsir, and secondary data from literature on digital communication and family ethics. The analysis reveals that qaulan karĭman refers not only to gentle, polite, and respectful speech but also to moral and social objectives, including maintaining parents' dignity, honor, and emotional well-being. The findings indicate that these principles can be applied in digital communication through text messages, chats, or social media, with attention to word choice, timing, emotional expression, and supportive messages. Challenges in digital communication, such as tonal misinterpretation without verbal cues, risks of conflict from delayed messages, and cultural gaps between generations are also discussed. In conclusion, the reinterpretation of qaulan karĭman provides a framework for ethical, harmonious, and empathetic digital communication, affirming that qur’anic values remain relevant and applicable in modern contexts.
HADIS DAN KEADILAN SOSIAL: MEMAHAMI NILAI KEADILAN DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI Rizal; Risko Ari Saputra; Akhmad Dasuki
Journal of Golden Generation Religious Vol. 2 No. 2 (2026): Journal of Golden Generation Religious
Publisher : PT. Lembaga Penerbit Penelitian Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65244/jggr.v2i2.631

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hadis tentang larangan berbuat zalim dalam kerangka keadilan sosial melalui pendekatan interdisiplin yang meliputi perspektif sosiologi, filsafat, dan maqāṣid al-syarī‘ah. Desain penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research), di mana sumber data utama berupa hadis dalam Shahih Muslim beserta syarahnya, serta didukung oleh literatur ilmiah dari bidang sosiologi, filsafat, dan ushul fikih. Mekanisme pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran, seleksi, dan analisis kritis terhadap sumber-sumber yang relevan, kemudian diolah dengan teknik analisis deskriptif-analitis untuk menemukan keterkaitan makna hadis dengan konsep keadilan sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa larangan berbuat zalim dalam hadis memiliki dimensi luas, mencakup aspek moral, sosial, dan normatif, yang berfungsi menjaga keseimbangan kehidupan manusia. Pembahasan mengungkap bahwa keadilan sosial tidak hanya dipahami sebagai prinsip etis, tetapi juga sebagai sistem yang menopang keteraturan masyarakat, menjamin distribusi hak secara proporsional, serta mewujudkan kemaslahatan melalui perlindungan jiwa dan harta. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi tiga perspektif keilmuan dalam membaca hadis secara tematik sehingga menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif dan kontekstual. Implikasi penelitian ini bagi dunia pendidikan adalah memberikan kerangka analisis yang lebih luas dalam studi hadis, khususnya dalam mengaitkan teks keagamaan dengan realitas sosial, sehingga dapat dijadikan referensi bagi penelitian lanjutan yang mengembangkan pendekatan interdisiplin dalam kajian keislaman.
Epistemologi Tafsir bi al-Ra'yi: Sumber, Metode, dan Karakteristik dalam Tradisi Tafsir Islam Evi Aulia; Sholihudin Amin; Akhmad Dasuki
Journal of Golden Generation Religious Vol. 2 No. 2 (2026): Journal of Golden Generation Religious
Publisher : PT. Lembaga Penerbit Penelitian Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65244/jggr.v2i2.660

Abstract

Artikel ini mengkaji epistemologi tafsir bi al-ra'yi dalam tradisi penafsiran Al-Qur'an. Penelitian ini bertujuan menjelaskan genealogi historis, sumber-sumber epistemologis, prosedur metodologis, dan karakteristik tafsir rasional dalam tradisi tafsir Islam. Menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka (library research) dengan metode analisis historis-intelektual dan epistemologis, penelitian ini menganalisis literatur klasik dan kontemporer bidang Ulumul Qur'an. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tafsir bi al-ra'yi bukan sekadar penafsiran berbasis pendapat pribadi, melainkan proses intelektual terstruktur yang berpijak pada tiga sumber epistemologis utama: akal ('aql), bahasa Arab (lughat al-'Arab), dan prinsip metodologi hukum Islam (usul al-fiqh). Secara metodologis, penafsiran ini mengikuti prosedur sistematis: pembacaan teks, analisis linguistik, elaborasi rasional, dan validasi normatif melalui kaidah syar'i. Tujuh karakteristik utama tafsir bi al-ra'yi berhasil dirumuskan: rasional-argumentatif, berbasis linguistik, bersifat istinbati, terbuka terhadap konteks, tidak bebas nilai, integratif antara naql dan 'aql, serta bersifat ijtihadi. Secara historis, metode ini berkembang bertahap dari era sahabat hingga periode klasik dan modern. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa tafsir bi al-ra'yi terbagi menjadi dua kategori: al-ra'yi al-mahmud (terpuji) yang mengikuti kaidah ilmiah, dan al-ra'yi al-madhmum (tercela) yang didasarkan pada opini tanpa landasan keilmuan memadai.
Mazhab Tafsir Syiah, Kelahiran dan Perkembangan, Sumber, Metode dan Karakteritik Tafsir, Tokoh-Tokoh Tafsir Syi’ah dan Karyanya Muhammad Ramdani; Muhammad Jiddan Alamsyah; Agung; Akhmad Dasuki
Journal of Golden Generation Religious Vol. 2 No. 2 (2026): Journal of Golden Generation Religious
Publisher : PT. Lembaga Penerbit Penelitian Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65244/jggr.v2i2.674

Abstract

Artikel ini mengkaji mazhab tafsir Syiah dengan menyoroti kelahiran dan perkembangannya, sumber-sumber penafsiran, metode serta karakteristiknya, dan tokoh-tokoh utama beserta karya-karyanya. Kajian ini penting karena penelitian tentang tradisi tafsir Syiah di Indonesia masih relatif terbatas, padahal tradisi ini memiliki posisi penting dalam sejarah intelektual Islam dan terus berkembang hingga masa modern. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan melalui penelaahan terhadap kitab tafsir, karya ulama, dan artikel ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tafsir Syiah lahir dari pengakuan terhadap otoritas Ahlul Bait dan doktrin imamah, lalu berkembang dari corak riwayat yang cenderung apologetik menuju bentuk penafsiran yang lebih rasional, linguistik, filosofis, dan dialogis. Sumber tafsir Syiah mencakup Al-Qur’an, riwayat Nabi dan imam Ahlul Bait, hadis internal Syiah, akal, serta ta’wil. Tokoh-tokoh seperti al-‘Ayyasyi, al-Qummi, al-Tusi, al-Tabarsi, dan Muhammad Husayn Tabataba’i menunjukkan dinamika tersebut. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tafsir Syiah merupakan tradisi intelektual yang dinamis, berlapis, dan terus beradaptasi dalam ruang akademik serta dialog antar mazhab.
Analisis Pinjaman Online dalam Mazhab Tafsir Reformatif fiqih: Kajian Riba Islam Kontemporer Muhammad Raihannur; Siti Sa’adatul Rizkyah; Akhmad Dasuki
Journal of Golden Generation Multidisciplinary Vol. 2 No. 2 (2026): April : Journal of Golden Generation Multidisciplinary
Publisher : PT. Lembaga Penerbit Penelitian Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65244/jggm.v2i2.580

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya praktik pinjaman online sebagai bagian dari keuangan digital kontemporer yang menimbulkan hukum dalam Islam, terutama terkait riba, keadilan akad, dan perlindungan terhadap pihak pemberi pinjaman. Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana hukum pinjaman online dalam Islam kontemporer dan bagaimana tafsir serta fikih memandang syarat-syarat yang harus dipenuhi agar praktik tersebut tidak bergeser dari boleh menjadi haram. Penelitian ini bertujuan menganalisis status hukum pinjaman online serta menjelaskan batas-batas fikih muamalah yang menentukan kebolehannya. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif berbasis perpustakaan penelitian dengan sumber data berupa jurnal ilmiah, buku, fatwa, dan pendapat ulama tahun 2020–2025. Pendekatan teori yang digunakan adalah mazhab tafsir fikih reformatif untuk membaca ulang konsep riba dalam konteks transaksi digital modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pinjaman online pada dasarnya boleh sebagai bentuk muamalah, tetapi menjadi haram apabila mengandung riba, gharar, tadlis, dharar, zhulm, biaya tersembunyi, dan pengumpulan yang eksploitatif. Oleh karena itu, kebolehan pinjaman online bersifat bersyarat, yakni mensyaratkan akad yang jelas, transparansi biaya, proporsionalitas, dan perlindungan terhadap martabat peminjaman dalam transaksi digital modern.
PERKEMBANGAN MAZHAB TAFSIR: ANALISIS SUMBER, METODE, KARAKTERISTIK, DAN TOKOH-TOKOH MUFASIR PADA PERIODE FORMATIF DAN AFIRMATIF Rizal; Nor Aisyah; Akhmad Dasuki
Journal of Golden Generation Multidisciplinary Vol. 2 No. 2 (2026): April : Journal of Golden Generation Multidisciplinary
Publisher : PT. Lembaga Penerbit Penelitian Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65244/jggm.v2i2.701

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika perkembangan mazhab tafsir dengan fokus pada periode formatif dan afirmatif. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka (library research). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada periode formatif, penafsiran didominasi oleh metode bi al-ma’tsur yang bersifat riwayati dan global (ijmali), dengan Imam ath-Thabari sebagai tokoh kunci yang melakukan kodifikasi sistematis. Sebaliknya, periode afirmatif menandai era spesialisasi dan penggunaan rasio (bi al-ra’yi) secara intensif melalui metode tahlili (analitik). Pada masa ini, tafsir berfungsi sebagai alat afirmasi ideologi dan mazhab mufasirnya, seperti terlihat dalam corak linguistik al-Zamakhsyari dan corak teologis-ilmiah Fakhruddin al-Razi. Transformasi ini mencerminkan adaptasi intelektual umat Islam dalam merespons tantangan zaman serta kebutuhan sosiopolitik yang semakin kompleks.
Mazhab Tafsir Ilmi dalam Tradisi Penafsiran Al-Qur’an: Kajian atas Perkembangan, Metode, dan Tokoh-Tokohnya Hilmia Dwi Putri; Shilvana Anggun Zaskia; Akhmad Dasuki
Journal of Golden Generation Multidisciplinary Vol. 2 No. 3 (2026): Juni : Journal of Golden Generation Multidisciplinary
Publisher : PT. Lembaga Penerbit Penelitian Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65244/jggm.v2i3.705

Abstract

Kajian tentang mazhab tafsir ilmi penting dikembangkan karena menunjukkan hubungan antara Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan dalam tradisi penafsiran Islam. Penelitian ini berangkat dari pertanyaan mengenai bagaimana kelahiran dan perkembangan mazhab tafsir ilmi, apa sumber dan metode yang digunakannya, siapa tokoh-tokohnya, serta mengapa corak ini penting dikaji dalam studi Al-Qur’an kontemporer. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan perkembangan historis tafsir ilmi, menganalisis sumber dan metodenya, mengidentifikasi tokoh-tokoh utama beserta karya-karyanya, serta menegaskan urgensinya dalam kajian tafsir modern. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Data dikumpulkan melalui telaah literatur dari jurnal, buku, dan karya tafsir yang relevan, lalu dianalisis secara deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tafsir ilmi merupakan corak penafsiran yang memadukan wahyu, akal, dan ilmu pengetahuan untuk memahami ayat-ayat kauniyah. Kesimpulannya, mazhab tafsir ilmi memiliki posisi penting dalam studi Al-Qur’an kontemporer selama digunakan secara proporsional, kritis, dan tetap berpijak pada kaidah tafsir.