Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Analisis Kaidah Tafsir Al-Am, Al-Musytarak, Dan Al Khas Dalam Memahami Al Qur’an Auliya Yulanda; Fadlianor Rahman; Haikal Habibi; Akhmad Dasuki
Journal of Golden Generation Multidisciplinary Vol. 2 No. 3 (2026): Juni : Journal of Golden Generation Multidisciplinary
Publisher : PT. Lembaga Penerbit Penelitian Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65244/jggm.v2i3.728

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kaidah tafsir Al-‘Ām, Al-Khāṣ, dan Al-Musytarak dalam Al-Qur’an. Ketiga kaidah tersebut merupakan bagian penting dalam ilmu tafsir yang berperan dalam memahami makna lafaz Al-Qur’an secara tepat. Al-‘Ām menunjukkan makna yang bersifat umum, Al-Khāṣ menunjukkan makna yang bersifat khusus, sedangkan Al-Musytarak merupakan lafaz yang memiliki lebih dari satu makna sehingga memerlukan konteks dalam penafsirannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, yaitu dengan mengkaji berbagai literatur yang berkaitan dengan kaidah tafsir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman terhadap kaidah Al-‘Ām, Al-Khāṣ, dan Al-Musytarak sangat penting untuk menghindari kesalahan dalam penafsiran Al-Qur’an. Selain itu, penerapan kaidah-kaidah tersebut membantu dalam menentukan makna yang sesuai dengan konteks ayat. 
Mazhab Tafsir Falsafi: Kelahiran, Perkembangan, Sumber, Metode, Karakteristik, Tokoh, Dan Karyanya Fitri A; Muhammad Hafizh; Akhmad Dasuki
Journal of Golden Generation Multidisciplinary Vol. 2 No. 3 (2026): Juni : Journal of Golden Generation Multidisciplinary
Publisher : PT. Lembaga Penerbit Penelitian Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65244/jggm.v2i3.730

Abstract

Mazhab tafsir falsafi adalah corak penafsiran Al-Qur'an yang memadukan filsafat dan rasionalitas. Ia lahir dan berkembang seiring menguatnya tradisi rasional dalam peradaban Islam, terutama setelah penerjemahan karya-karya Yunani. Pertanyaan utama dalam kajian ini meliputi: bagaimana kelahiran dan perkembangannya, sumber serta metode yang digunakan, serta karakteristik dan tokoh pentingnya. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan kualitatif deskriptif dengan menganalisis literatur primer dan sekunder. Hasilnya menunjukkan bahwa tafsir falsafi bersumber pada Al-Qur'an, hadis, serta argumentasi logis dan metafisis. Metode yang dipakai adalah filosofis-analitis yang menekankan harmonisasi wahyu dan akal. Karakteristik utamanya terlihat pada penalaran spekulatif, pendekatan konseptual, serta upaya membuktikan kesesuaian antara iman dan rasio. Tokoh-tokoh penting mazhab ini antara lain Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Ghazali (dalam beberapa karyanya), dan Ibnu Rusyd. Karya-karya mereka seperti Tahafut al-Falasifah, Fusus al-Hikam, dan tafsir-tafsir bercorak isyari-filosofis menjadi identitas mazhab. Simpulannya, tafsir falsafi berkontribusi signifikan dalam memperkaya khazanah tafsir Islam, meskipun kajian ini terbatas pada analisis literatur tanpa penelitian lapangan.
Ijaz Al-Qashr Dalam Qs. Al-Baqarah Ayat 179: Keindahan Makna Dalam Ungkapan Yang Singkat Norsafwati; Iqlima Dhuha Anwar; Agna Azkia; Akhmad Dasuki
Journal of Golden Generation Multidisciplinary Vol. 2 No. 4 (2026): Agustus : Journal of Golden Generation Multidisciplinary
Publisher : PT. Lembaga Penerbit Penelitian Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65244/jggm.v2i4.751

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bentuk ijaz al-qashr dalam QS. Al-Baqarah ayat 179 serta mengungkap keindahan makna yang terkandung dalam ungkapan yang singkat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis studi pustaka (library research), dengan sumber data berupa Al-Qur’an, kitab tafsir, serta literatur yang berkaitan dengan ilmu balaghah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ayat tersebut mengandung bentuk ijaz al-qashr, yaitu penyampaian makna yang luas dalam lafaz yang singkat tanpa penghilangan unsur kalimat. Ungkapan “فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ” mencerminkan struktur bahasa yang ringkas namun sarat makna, yang mencakup pencegahan kejahatan, efek jera, serta perlindungan terhadap kehidupan manusia. Keindahan ayat ini tidak hanya terletak pada aspek kebahasaan, tetapi juga pada kandungan nilai sosial dan kemanusiaan yang mendalam.
Pendekatan Balāghah dalam Tafsir Al-Qur’an: Studi tentang Al-Isti‘arah dan Al-Tasybih Muhammad Fadhil Mubarok; Hidayat Azhar Al Ikhlash; Isma Suci; Akhmad Dasuki
Journal of Golden Generation Multidisciplinary Vol. 2 No. 4 (2026): Agustus : Journal of Golden Generation Multidisciplinary
Publisher : PT. Lembaga Penerbit Penelitian Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65244/jggm.v2i4.773

Abstract

Studi mengenai al-istiarah dan al-tasybih merupakan aspek penting dalam bidang balaghah yang memilikiperansignifikan dalam memahami keindahan dan kedalaman makna dari bahasa Al-Qur’an. Al-Isti‘arah dan Al-Tasybih menegaskan bahwa kedua bentuk bahasa ini lebih dari sekadar hiasan retoris, tetapi merupakan alat utama untuk menyampaikan pesan ilahi secara efisien, persuasif, dan menyentuh dimensi rasional maupun emosional pembaca. Al-tasybih sebagai perumpamaan yang jelas menghadirkan makna yang abstrak ke dalam bentuk yang konkret, sehingga mempermudah pemahamanmanusiaterhadap berbagai konsepakidah, etika,dan eskatologi. Sementaraitu,alisti‘arah bertindak sebagaimetafora yang implisit, memb erikankedalamanmaknamelaluipemadatan ungkapandankekuatanimajinatif, yang menghasilk an efek estetika dan teologis yang signifikan. Dengan menggunakan pendekatan analisis linguistik dan tafsir tematik, penelitian ini menunjukkan bahwa banyak ayat dalam Al-Qur’an mengaplikasikan kedua gaya bahasa tersebutuntuk menerangkan realita iman,kekufuran,petunjuk,kesesatan,serta interaksi manusia dengan Allah dan sesamanya. Pemahaman yang benar mengenai al-isti‘arah dan al-tasybih dapat menghindarkan dari kesalahan penafsiran literal terhadap ayat-ayat yang bersifat majazi. Dengan demikian, penguasaan konsep tersebut menjadi penting
PEMAHAMAN MUNASABAH SEBAGAI CABANG ULUMUL QUR’AN PASCA PROSES JAM’UL QUR’AN Krisna Mukti Ragil Pamungkas; Putri Mandarisma; Rusyda Assyifa Dewi; Salma Ananda Nuraini; Tri Abna Br Meliala; Akhmad Dasuki
Ar-Rasyid: Jurnal Publikasi Penelitian Ilmiah Vol. 1 No. 5 (2025): Ar-Rasyid: Jurnal Publikasi Penelitian Ilmiah (Bulan November 2025)
Publisher : PT. Saha Kreasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64788/ar-rasyid.v1i5.73

Abstract

Ulumul Qur’an is a field of knowledge that discusses the Qur’an, including its history such as how it was compiled, written, the reasons for its revelation, whether it is Makkiyah or Madaniyah, as well as abrogation Naskh-Mansukh. This field of knowledge also covers understanding Qira’ah al-Qur’ān, I’jaz Al-Qur’an, al- Munasabah, al-Muhkamat and al-Mutashabihat, translation, Tafsīr, Ta`wīl, and various methods of interpreting the Al-Qur’an. This article aims to discuss one branch of Ulumul Qur’an, namely Munasabah, systematically and describe it in terms of cause and effect relationships, specifications, explanations, reinforcement, comparison, or other aspects that connect one verse with another. Munasabah is one branch of Ulumul Qur’an that is very necessary for understanding the content or meaning contained in the Al- Qur’an. This research uses the literature study method, which is a technique for collecting data or information by reading articles, journals, and books to be reviewed. The importance of understanding the relationship between verses of the Al-Qur’an in religious life makes the author interested in analyzing Munasabah in order to be beneficial, especially in daily life. Therefore, understanding the role of Munasabah is very important for Muslims to gain a deep comprehension of the chronological meanings contained in the Al-Qur’an.
PERUMPAMAAN DALAM AL-QUR’AN (Amtsal) MENGUNGKAP MAKNA ABSTRAK MENJADI KONKRET Annisa Azizah; Laelatul Musdallifah; Maulida Apriliatama; Savita Eka Fitria; Talita Zahra Karima; Akhmad Dasuki
Ar-Rasyid: Jurnal Publikasi Penelitian Ilmiah Vol. 1 No. 6 (2025): Ar-Rasyid: Jurnal Publikasi Penelitian Ilmiah (Bulan Desember 2025)
Publisher : PT. Saha Kreasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64788/ar-rasyid.v1i6.158

Abstract

This study examines the concept of Amtsal in the Qur’an as a rhetorical method used to clarify abstract meanings through concrete and relatable analogies. Using a library research approach, this study analyzes various scholarly sources, including journal articles, books, and academic documents, to explore the definitions, classifications, and rhetorical functions of Qur’anic Amtsal. The findings indicate that Amtsal plays a significant role in divine communication, as it bridges human understanding with metaphysical concepts, moral values, and spiritual teachings by presenting vivid symbolic imagery. The three main forms of Amtsal amtsal musyarrahah, amtsal kaminah, and amtsal mursalah demonstrate the Qur’an’s linguistic flexibility in conveying messages with varying levels of clarity and depth. This study concludes that Amtsal serves as an effective linguistic and pedagogical device that enhances comprehension, reflection, and internalization of Qur’anic messages.
MAZHAB TAFSIR AL-KHAWARIJ: METODE, KARAKTERISTIK, TOKOH DAN KARYANYA Nadia Andini; Rizky Akbar Mubarakh Munthe; Agus Maulana; Akhmad Dasuki
Ar-Rasyid: Jurnal Publikasi Penelitian Ilmiah Vol. 2 No. 6 (2026): Ar-Rasyid: Jurnal Publikasi Penelitian Ilmiah (Juni 2026)
Publisher : PT. Saha Kreasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64788/ar-rasyid.v2i6.405

Abstract

Penafsiran Al-Qur'an sering kali tidak terlepas dari kepentingan politik dan teologis kelompok tertentu, sebagaimana terjadi pada aliran Khawarij yang muncul pasca Perang Shiffin. Artikel ini mengkaji secara komprehensif mazhab tafsir Al-Khawarij dengan fokus pada empat aspek utama, yaitu metode, sumber, karakteristik penafsiran, serta tokoh dan karya tafsirnya. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif deskriptif-analitis. Sumber data primer adalah kitab Al-Mufassirun Hayatuhum wa Manhajuhum karya Muhammad 'Ali Ayazi, sementara sumber sekunder berupa jurnal akademik, skripsi  dan buku-buku relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Khawarij terpecah menjadi tujuh sekte dengan tingkat ekstremitas berbeda, dan hanya al-Ibadhiyah yang masih bertahan hingga kini. Sumber penafsiran Khawarij terdiri atas Al-Qur'an yang dipahami secara tekstual dan Sunnah yang merujuk pada Musnad al-Rabi' bin Habib, dengan tidak menggunakan qiyas namun menerima ijma' internal. Metode penafsiran yang digunakan adalah penolakan terhadap takwil. Karakteristik penafsiran Khawarij meliputi literal-harfiah, dangkal, penggunaan hadis lemah dan Israiliyyat, pengabaian asbab al-nuzul, serta fanatisme ideologis. Kekurangan mendasar tafsir Khawarij terletak pada pendekatan literal yang dangkal, penolakan takwil, penggunaan riwayat lemah, pengabaian kaidah tafsir, serta orientasi ideologis-fanatik yang menjadikan tafsir sebagai alat legitimasi kelompok. Tafsir Khawarij bersifat eksklusif untuk golongan mereka, sehingga perbedaan perspektif antara Khawarij dan ulama Sunni menjadi sorotan utama. Kajian ini relevan untuk memahami akar ideologis gerakan kontemporer yang membawa mentalitas Khawarij.
Living Qur’an dalam Tradisi Batumbang di Kuburan Pada Masyarakat Desa Satiruk Kotawaringin Timur Nafi Nur Ramadhan; Akhmad Dasuki; Munirah Munirah
Kamaya: Jurnal Ilmu Agama Vol 8 No 4 (2025)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37329/kamaya.v8i4.4986

Abstract

The practice of religious traditions and rituals in graveyards often causes controversy because some people consider them to be elements of shirk. However, these traditions remain alive, as seen in the batumbang ritual in Satiruk Village. This study aims to analyze how the Qur'an is brought to life and applied in local culture through the batumbang tradition`, as well as to understand the integration of Islamic teachings in local cultural practices. This study uses the living Qur'an theory and Emile Durkheim's Cultural Paradigm theory as its analytical framework. The method used is qualitative with a field research approach that includes observation, in-depth interviews, and document analysis. The results show that the batumbang tradition serves as an expression of the community's gratitude for the fulfillment of their vows by combining Islamic teachings, such as the recitation of Surah Al-Fatihah and Surah Yasin, with local cultural practices. In the context of Durkheim's Cultural Paradigm theory, this ritual reflects four main pillars, namely sacredness as seen in the ritual at the grave of a religious figure, role classification in the ritual, rites reflected in the recitation of Surah Yasin, and solidarity formed through togetherness in prayer and food sharing. The batumbang tradition also reflects the application of the living Qur'an, in which the teachings of the Qur'an are translated into social practices that strengthen social bonds and religious understanding among the local community. This study concludes that the batumbang tradition illustrates the synergy between Islamic teachings and local culture, which reinforce each other.
Peran Asbabun Nuzul Dalam Memetakan Teks Al-Makki Dan Al-Madani Sebagai Pendekatan Ulumul Qur'an Meiva Putri Evandra; Hapijah; Felycia Ade Irawati; Zahra Vica Amelia; Aulia Azizah; Akhmad Dasuki
GHIROH Vol 4 No 2 (2025)
Publisher : MGMP PAI SMP BINTAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61966/ghiroh.v4i2.97

Abstract

This article reexamines the operational definitions and classification criteria of Makki/Madani in Qur'anic studies through systematic analysis of traditional interpretations and modern scholarship. It identifies five main indicators: asbab al-nuzul as chronological reference, revelation order across the prophetic era, audience context and legal content, thematic profiling (tawhid, legal norms, community development), and rhetorical style. The findings reveal that while fundamental definitions remain constant, deviations in indicators create borderline cases where Madani verses appear in Makki surahs and vice versa. To address this inconsistency, the paper proposes a weighted decision framework prioritizing chronological evidence (asbab al-nuzul and revelation order), followed by internal historical signals (post-Hijrah references), then thematic and stylistic markers. This framework enhances research reproducibility, reduces classification bias, and supports consistent Makki-Madani annotation for educational purposes and digital humanities projects requiring systematic Qur'anic text analysis.
Analisis Komparatif Kitab Shafwah al-Tafāsīr dan Al-Wasīṭ: Telaah Sejarah, Sumber, Manhaj, Mazhab, dan Distingsi Corak Penafsiran Sholihudin Amin; Fitri A; Akhmad Dasuki
Jurnal Studi Ilmu Alquran dan Tafsir Vol. 2 No. 2 (2026): January
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/jsiat.v2i2.275

Abstract

Artikel ini mengkaji secara komparatif dua karya tafsir modern yang berpengaruh, yaitu Shafwah al-Tafāsīr karya Muḥammad ‘Alī ash-Ṣābūnī dan al-Tafsīr al-Wasīṭ karya Muḥammad Sayyid al-Ṭanṭāwī. Keduanya hadir sebagai respons atas kebutuhan umat Islam modern terhadap penafsiran Al-Qur’an yang sistematis, ringkas, dan kontekstual, namun dibangun di atas manhaj dan orientasi keilmuan yang berbeda. Penelitian ini menggunakan metode library research dengan pendekatan kualitatif-deskriptif dan analisis komparatif, dengan menelaah aspek sejarah penulisan, sumber penafsiran, manhaj metodologis, kecenderungan mazhab, serta distingsi corak penafsiran masing-masing mufassir. Hasil kajian menunjukkan bahwa Shafwah al-Tafāsīr bercorak tahlīlī dengan kecenderungan ijmālī dan fokus kuat pada ayat-ayat hukum (fiqhiyyah), serta berupaya merangkum otoritas tafsir klasik secara sistematis. Sementara itu, al-Wasīṭ menampilkan pendekatan adabī-ijtima‘ī dengan penekanan pada analisis kebahasaan, rasionalitas moderat, dan kontekstualisasi sosial yang mencerminkan tradisi intelektual al-Azhar. Studi ini menegaskan bahwa perbedaan manhaj kedua tafsir tersebut tidak bersifat kontradiktif, melainkan saling melengkapi dalam memperkaya khazanah metodologi tafsir kontemporer.