Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

ANALISIS KAIDAH TAFSIR AL-AM, AL-MUSYTARAK, DAN AL KHAS DALAM MEMAHAMI AL QUR’AN Auliya Yulanda; Fadlianor Rahman; Haikal Habibi; Akhmad Dasuki
Journal of Golden Generation Multidisciplinary Vol. 2 No. 3 (2026): Juni : Journal of Golden Generation Multidisciplinary
Publisher : PT. Lembaga Penerbit Penelitian Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65244/jggm.v2i3.728

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kaidah tafsir Al-‘Ām, Al-Khāṣ, dan Al-Musytarak dalam Al-Qur’an. Ketiga kaidah tersebut merupakan bagian penting dalam ilmu tafsir yang berperan dalam memahami makna lafaz Al-Qur’an secara tepat. Al-‘Ām menunjukkan makna yang bersifat umum, Al-Khāṣ menunjukkan makna yang bersifat khusus, sedangkan Al-Musytarak merupakan lafaz yang memiliki lebih dari satu makna sehingga memerlukan konteks dalam penafsirannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, yaitu dengan mengkaji berbagai literatur yang berkaitan dengan kaidah tafsir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman terhadap kaidah Al-‘Ām, Al-Khāṣ, dan Al-Musytarak sangat penting untuk menghindari kesalahan dalam penafsiran Al-Qur’an. Selain itu, penerapan kaidah-kaidah tersebut membantu dalam menentukan makna yang sesuai dengan konteks ayat. 
MAZHAB TAFSIR FALSAFI: KELAHIRAN, PERKEMBANGAN, SUMBER, METODE, KARAKTERISTIK, TOKOH, DAN KARYANYA Fitri A; Muhammad Hafizh; Akhmad Dasuki
Journal of Golden Generation Multidisciplinary Vol. 2 No. 3 (2026): Juni : Journal of Golden Generation Multidisciplinary
Publisher : PT. Lembaga Penerbit Penelitian Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65244/jggm.v2i3.730

Abstract

Mazhab tafsir falsafi adalah corak penafsiran Al-Qur'an yang memadukan filsafat dan rasionalitas. Ia lahir dan berkembang seiring menguatnya tradisi rasional dalam peradaban Islam, terutama setelah penerjemahan karya-karya Yunani. Pertanyaan utama dalam kajian ini meliputi: bagaimana kelahiran dan perkembangannya, sumber serta metode yang digunakan, serta karakteristik dan tokoh pentingnya. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan kualitatif deskriptif dengan menganalisis literatur primer dan sekunder. Hasilnya menunjukkan bahwa tafsir falsafi bersumber pada Al-Qur'an, hadis, serta argumentasi logis dan metafisis. Metode yang dipakai adalah filosofis-analitis yang menekankan harmonisasi wahyu dan akal. Karakteristik utamanya terlihat pada penalaran spekulatif, pendekatan konseptual, serta upaya membuktikan kesesuaian antara iman dan rasio. Tokoh-tokoh penting mazhab ini antara lain Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Ghazali (dalam beberapa karyanya), dan Ibnu Rusyd. Karya-karya mereka seperti Tahafut al-Falasifah, Fusus al-Hikam, dan tafsir-tafsir bercorak isyari-filosofis menjadi identitas mazhab. Simpulannya, tafsir falsafi berkontribusi signifikan dalam memperkaya khazanah tafsir Islam, meskipun kajian ini terbatas pada analisis literatur tanpa penelitian lapangan.
IJAZ AL-QASHR DALAM QS. AL-BAQARAH AYAT 179: KEINDAHAN MAKNA DALAM UNGKAPAN YANG SINGKAT Norsafwati; Iqlima Dhuha Anwar; Agna Azkia; Akhmad Dasuki
Journal of Golden Generation Multidisciplinary Vol. 2 No. 3 (2026): Juni : Journal of Golden Generation Multidisciplinary
Publisher : PT. Lembaga Penerbit Penelitian Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65244/jggm.v2i3.751

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bentuk ijaz al-qashr dalam QS. Al-Baqarah ayat 179 serta mengungkap keindahan makna yang terkandung dalam ungkapan yang singkat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis studi pustaka (library research), dengan sumber data berupa Al-Qur’an, kitab tafsir, serta literatur yang berkaitan dengan ilmu balaghah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ayat tersebut mengandung bentuk ijaz al-qashr, yaitu penyampaian makna yang luas dalam lafaz yang singkat tanpa penghilangan unsur kalimat. Ungkapan “فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ” mencerminkan struktur bahasa yang ringkas namun sarat makna, yang mencakup pencegahan kejahatan, efek jera, serta perlindungan terhadap kehidupan manusia. Keindahan ayat ini tidak hanya terletak pada aspek kebahasaan, tetapi juga pada kandungan nilai sosial dan kemanusiaan yang mendalam.
Pendekatan Balāghah dalam Tafsir Al-Qur’an: Studi tentang Al-Isti‘arah dan Al-Tasybih Muhammad Fadhil Mubarok; Hidayat Azhar Al Ikhlash; Isma Suci; Akhmad Dasuki
Journal of Golden Generation Multidisciplinary Vol. 2 No. 3 (2026): Juni : Journal of Golden Generation Multidisciplinary
Publisher : PT. Lembaga Penerbit Penelitian Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65244/jggm.v2i3.773

Abstract

Studi mengenai al-istiarah dan al-tasybih merupakan aspek penting dalam bidang balaghah yang memilikiperansignifikan dalam memahami keindahan dan kedalaman makna dari bahasa Al-Qur’an. Al-Isti‘arah dan Al-Tasybih menegaskan bahwa kedua bentuk bahasa ini lebih dari sekadar hiasan retoris, tetapi merupakan alat utama untuk menyampaikan pesan ilahi secara efisien, persuasif, dan menyentuh dimensi rasional maupun emosional pembaca. Al-tasybih sebagai perumpamaan yang jelas menghadirkan makna yang abstrak ke dalam bentuk yang konkret, sehingga mempermudah pemahamanmanusiaterhadap berbagai konsepakidah, etika,dan eskatologi. Sementaraitu,alisti‘arah bertindak sebagaimetafora yang implisit, memb erikankedalamanmaknamelaluipemadatan ungkapandankekuatanimajinatif, yang menghasilk an efek estetika dan teologis yang signifikan. Dengan menggunakan pendekatan analisis linguistik dan tafsir tematik, penelitian ini menunjukkan bahwa banyak ayat dalam Al-Qur’an mengaplikasikan kedua gaya bahasa tersebutuntuk menerangkan realita iman,kekufuran,petunjuk,kesesatan,serta interaksi manusia dengan Allah dan sesamanya. Pemahaman yang benar mengenai al-isti‘arah dan al-tasybih dapat menghindarkan dari kesalahan penafsiran literal terhadap ayat-ayat yang bersifat majazi. Dengan demikian, penguasaan konsep tersebut menjadi penting
MAZHAB TAFSIR AL-KHAWARIJ: METODE, KARAKTERISTIK, TOKOH DAN KARYANYA Nadia Andini; Rizky Akbar Mubarakh Munthe; Agus Maulana; Akhmad Dasuki
Ar-Rasyid: Jurnal Publikasi Penelitian Ilmiah Vol. 2 No. 6 (2026): Ar-Rasyid: Jurnal Publikasi Penelitian Ilmiah (Juni 2026)
Publisher : PT. Saha Kreasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64788/ar-rasyid.v2i6.405

Abstract

Penafsiran Al-Qur'an sering kali tidak terlepas dari kepentingan politik dan teologis kelompok tertentu, sebagaimana terjadi pada aliran Khawarij yang muncul pasca Perang Shiffin. Artikel ini mengkaji secara komprehensif mazhab tafsir Al-Khawarij dengan fokus pada empat aspek utama, yaitu metode, sumber, karakteristik penafsiran, serta tokoh dan karya tafsirnya. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif deskriptif-analitis. Sumber data primer adalah kitab Al-Mufassirun Hayatuhum wa Manhajuhum karya Muhammad 'Ali Ayazi, sementara sumber sekunder berupa jurnal akademik, skripsi  dan buku-buku relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Khawarij terpecah menjadi tujuh sekte dengan tingkat ekstremitas berbeda, dan hanya al-Ibadhiyah yang masih bertahan hingga kini. Sumber penafsiran Khawarij terdiri atas Al-Qur'an yang dipahami secara tekstual dan Sunnah yang merujuk pada Musnad al-Rabi' bin Habib, dengan tidak menggunakan qiyas namun menerima ijma' internal. Metode penafsiran yang digunakan adalah penolakan terhadap takwil. Karakteristik penafsiran Khawarij meliputi literal-harfiah, dangkal, penggunaan hadis lemah dan Israiliyyat, pengabaian asbab al-nuzul, serta fanatisme ideologis. Kekurangan mendasar tafsir Khawarij terletak pada pendekatan literal yang dangkal, penolakan takwil, penggunaan riwayat lemah, pengabaian kaidah tafsir, serta orientasi ideologis-fanatik yang menjadikan tafsir sebagai alat legitimasi kelompok. Tafsir Khawarij bersifat eksklusif untuk golongan mereka, sehingga perbedaan perspektif antara Khawarij dan ulama Sunni menjadi sorotan utama. Kajian ini relevan untuk memahami akar ideologis gerakan kontemporer yang membawa mentalitas Khawarij.