Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Mapping Research Trends on Agricultural Resilience in Scholarly Publications (2012–2024) Loso Judijanto; Dyah Ayu Suryaningrum
West Science Agro Vol. 4 No. 02 (2026): West Science Agro
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/wsa.v4i02.2897

Abstract

Agricultural resilience has emerged as an increasingly important research domain in response to global challenges related to climate change, food security, environmental degradation, and sustainable agricultural development. This study aims to map the development, intellectual structure, collaboration patterns, and emerging themes of agricultural resilience research published between 2012 and 2024. A bibliometric approach was employed using scholarly publications indexed in Scopus as the primary data source. The collected bibliographic data were analyzed using VOSviewer to examine publication trends, co-authorship networks, institutional collaboration, country collaboration, citation structures, keyword co-occurrence, overlay visualization, and density mapping. The findings indicate that agricultural resilience research has experienced substantial growth and developed into a multidisciplinary field integrating environmental science, agricultural systems, sustainability studies, and technological innovation. Collaboration analysis identified the United States, China, and India as dominant contributors and central actors in global research networks, while institutional and author analyses revealed the existence of several interconnected scholarly communities. Citation analysis showed that the field is strongly influenced by foundational works on planetary boundaries, ecosystem resilience, climate-smart agriculture, biodiversity conservation, and sustainable development. Keyword mapping demonstrated that major themes include climate change, agriculture, food security, sustainable agriculture, crop resilience, and ecosystem management, with recent developments increasingly emphasizing precision agriculture, machine learning, physiological stress, and adaptive agricultural technologies.
Sosialisasi dan Pendampingan Pemanfaatan Media Sosial pada Produk Kelompok Wanita (KWT) Keselet Karya Mohammad Alwi Shahab; Sri Mulyawati; Dyah Ayu Suryaningrum; Lulu’ Ayu Faezatiy; Intan Permata Hadi
Jurnal Pengabdian West Science Vol 5 No 05 (2026): Jurnal Pengabdian West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jpmws.v5i05.3441

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Keselet Karya dalam memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi produk pertanian olahan. Rendahnya pengetahuan dan keterampilan anggota KWT dalam penggunaan platform digital menjadi hambatan utama dalam memperluas jangkauan pasar. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah penyuluhan partisipatif, sosialisasi, dan pendampingan intensif yang dilaksanakan secara bertahap. Materi sosialisasi mencakup pengenalan jenis-jenis media sosial yang relevan untuk promosi usaha, yakni Facebook, TikTok, dan Instagram, serta teknik pembuatan konten promosi yang efektif dan konsisten. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman peserta mengenai pentingnya konsistensi unggahan konten di media sosial guna mempertahankan kepercayaan konsumen. Peserta juga mampu memproduksi konten promosi secara mandiri, meliputi konten berbasis produk, kegiatan produksi, pengemasan, dan distribusi. Kegiatan pendampingan ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan usaha KWT Keselet Karya secara berkelanjutan melalui perluasan akses pasar digital.
Sosialisasi Bawang Putih Lokal Sembalun Menjadi Pasta Premium: Penguatan Produksi dan Pemasaran Digital KWT Segara Muncar Daeva Raisa; Dyah Ayu Suryaningrum; Muktazam Muktazam; Mutiara Mita Kasia; Luluk Lailatun Nurjannah
Jurnal Pengabdian West Science Vol 5 No 05 (2026): Jurnal Pengabdian West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jpmws.v5i05.3462

Abstract

Pengembangan produk olahan bawang putih lokal Sembalun masih menghadapi kendala pada aspek produksi, pengemasan, pelabelan, legalitas, dan pemasaran digital. Kegiatan pengabdian ini berfokus pada sosialisasi penguatan produksi dan pemasaran pasta bawang putih premium pada anggota KWT Segara Muncar, Desa Sajang, Kecamatan Sembalun. Tujuan kegiatan adalah meningkatkan pengetahuan anggota KWT mengenai fungsi alat produksi, teknik pengemasan, informasi label, serta strategi pemasaran berbasis 4P. Metode yang digunakan meliputi pendekatan partisipatif, sosialisasi, diskusi, demonstrasi alat, serta evaluasi pengetahuan melalui pre-test dan post-test. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman anggota KWT mengenai penggunaan food dehydrator, chopper, dan heat gun, pemilihan kemasan botol plastik, penggunaan segel, penyusunan label informatif, serta strategi pemasaran produk. Kegiatan ini menjadi dasar awal bagi penguatan kapasitas KWT dalam mengembangkan pasta bawang putih lokal yang lebih bermutu, menarik, dan berdaya saing.
Peningkatan Kapasitas KWT Segara Muncar Melalui Pelatihan Pengemasan dan Pelabelan Pasta Bawang Putih Sembalun Dyah Ayu Suryaningrum; Daeva Mubarika Raisa; Ega Anzani; M. Alwi Shahab; Beta Rida Pasaribu
Jurnal Pengabdian West Science Vol 5 No 05 (2026): Jurnal Pengabdian West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jpmws.v5i05.3465

Abstract

Kapasitas pengemasan dan pelabelan merupakan aspek penting dalam pengembangan produk pangan lokal, termasuk pasta bawang putih Sembalun yang diproduksi oleh KWT Segara Muncar. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan anggota KWT dalam pengemasan dan pelabelan produk. Kegiatan dilaksanakan di Desa Sajang, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, dengan melibatkan 18 anggota KWT. Pendekatan yang digunakan adalah partisipatif melalui koordinasi mitra, pre-test, penyampaian materi, diskusi, demonstrasi, praktik langsung, dan post-test. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan rata-rata capaian peserta dari 56,2% pada pre-test menjadi 92,6% pada post-test. Pelatihan juga menghasilkan perbaikan praktik pengemasan melalui penggunaan label yang lebih informatif dan segel plastik pada tutup kemasan. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pelatihan berbasis praktik dapat memperkuat kapasitas komunitas perempuan tani dalam mengembangkan produk pangan lokal yang lebih informatif, aman, dan bernilai tambah.
Collective Action in Indonesian Agricultural Marketing: What Do Farmers Gain? Dyah Ayu Suryaningrum; Baiq Yulfia E. Yanuartati; Ni Made Wirastika Sari
Locus Journal of Academic Literature Review Vol 5 No 5 (2026): Mei
Publisher : LOCUS MEDIA PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56128/ljoalr.v5i5.951

Abstract

Smallholder farmers in Indonesia often face limited market access, weak bargaining power, high transaction costs, and reliance on middlemen. Collective action has been promoted as a strategy to address these constraints; nevertheless, the specific gains farmers receive from collective action in agricultural marketing remain dispersed across different studies. This article aims to review what Indonesian farmers gain from collective action in agricultural marketing. Using a narrative literature review, this study synthesizes Scopus-indexed publications on farmer groups, cooperatives, collective marketing, and related institutional arrangements in Indonesian agriculture. The findings show that collective action provides farmers with numerous advantages, including improved market access, stronger bargaining power, reduced dependence on middlemen, better knowledge sharing, and institutional strengthening. However, these gains are hindered by weak governance, limited managerial capacity, poor communication, elite domination, digital gaps, and insufficient institutional support. The review suggests that collective action should be strengthened not only as an organizational model, but also as a farmer-centered marketing strategy supported by good governance, digital access, direct market linkages, and inclusive participation.
Peluang Pengembangan Usaha Koperasi Merah Putih Berbasis Potensi Lokal Di Wilayah Perkotaan: Studi Kasus Kota Mataram Dyah Ayu Suryaningrum; M. Alwi Shahab; Farah Ainun Jamil; Sab’ul Masani; Ega Anzani
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 2 (2026): Maret - Juni
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i2.9224

Abstract

Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) merupakan program strategis pemerintah yang diarahkan untuk memperkuat kelembagaan ekonomi masyarakat di tingkat desa dan kelurahan. Dalam konteks wilayah urban, pengembangan KDKMP perlu disesuaikan dengan karakter sosial ekonomi dan potensi lokal masing-masing wilayah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi lokal, menganalisis peluang usaha, dan mengkaji arah pengembangan KDKMP di Kota Mataram. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan rancangan deskriptif-komparatif pada tiga kelurahan, yaitu Cakranegara Barat, Monjok Timur, dan Abian Tubuh Baru. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi lapangan, dan telaah dokumen, kemudian dianalisis melalui reduksi data, kategorisasi tematik, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga kelurahan memiliki karakter potensi lokal yang berbeda. Cakranegara Barat memiliki peluang usaha pada sektor perdagangan, distribusi barang, dan jasa transportasi; Monjok Timur lebih relevan diarahkan pada dukungan UMKM, jasa, perdagangan, dan pemasaran digital; sedangkan Abian Tubuh Baru memiliki peluang pada distribusi produk lokal, sembako, tahu-tempe, tenun, kuliner, dan potensi wisata. Temuan ini menegaskan bahwa pengembangan usaha KDKMP di wilayah urban tidak dapat menggunakan model seragam, tetapi perlu dirancang secara kontekstual berdasarkan potensi lokal. KDKMP juga perlu diposisikan sebagai penguat ekosistem usaha warga, bukan pesaing usaha lokal. Pengembangan KDKMP berbasis potensi lokal berkontribusi terhadap penguatan ekonomi inklusif, pembangunan urban berkelanjutan, dan kemitraan antar-pemangku kepentingan.
Analisis Rantai Pasok Pisang di Kecamatan Batukliang Utara Kabupaten Lombok Tengah Sri Mulyawati; Dyah Ayu Suryaningrum; Ade Rezkika Nasution
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 2 (2026): Maret - Juni
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i2.9992

Abstract

Buah pisang merupakan salah satu komoditas hortikultura yang mudah di jumpai di Indonesia, termasuk di Kecamatan Batukliang Utara Kabupaten Lombok Tengah. Produksi pisang di wilayah ini mencapai lebih dari 58.000 kuintal pada tahun 2023. Buah ini bisa dijual dalam bentuk segar maupun produk olahan seperti keripik pisang dan pisang sale. Petani dapat memilih untuk menjual buah pisang segar secara langsung kepada konsumen atau pengumpul yang biasanya membeli dalam jumlah besar. Namun, permasalahannya terletak pada panjangnya saluran distribusi yang memengaruhi margin pemasaran serta kualitas produk. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis rantai pasok pisang di Kecamatan Batukliang Utara, Kabupaten Lombok Tengah, yang merupakan salah satu sentra produksi pisang di Nusa Tenggara Barat.. Penelitian dilakukan secara deskriptif dengan melibatkan petani, pengumpul, pengecer, agroindustri, hingga konsumen. Penentuan sampel penelitian dilakukan dengan metode snowball sampling, yaitu sebanyak 43 orang. Hasil analisis menunjukkan adanya tiga pola saluran distribusi, yaitu saluran langsung (petani/agroindustri–konsumen), saluran satu (melalui pengecer), dan saluran dua (melalui pengumpul dan pengecer). Total margin pemasaran tertinggi terdapat pada saluran dua, yaitu Rp3.500/sisir untuk pisang segar, Rp18.000/kg untuk keripik pisang, dan Rp15.000/kg untuk pisang sale. Semakin panjang rantai pasok maka nilai tambah produk meningkat, namun kualitas cenderung menurun, sementara rantai pasok pendek menawarkan harga lebih murah dan kualitas lebih baik bagi konsumen.