Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Program Pencegahan Cedera Dan Penguatan Neuromuskular Bagi Atlet Remaja Putri Klub Bvb (Bina Voli Banyumas): Model Pengabdian Berbasis Injury-Prevention Coaching: - Anung Probo Ismoko Anung Probo Ismoko; Yudha Febrianta; Danny Ontario Rusmono; Amri Ikhsanul Amal; Dea Amanda Dwi Kristi Fadila; Yulia Widya Ningsih
Journal of Social Empowerment Vol. 11 No. 01 (2026): Journal of Social Empowerment
Publisher : LPPM STKIP PGRI Pacitan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21137/jse.2026.11.1.1

Abstract

Cedera ekstremitas bawah pada atlet bola voli remaja putri sering terkait dengan pola mendarat berisiko, kontrol neuromuskular yang kurang, dan minimnya program pencegahan terstruktur. Kegiatan pengabdian ini merancang dan mengimplementasikan program pencegahan cedera berbasis neuromuskular (neuromuscular injury-prevention training) untuk 24 atlet remaja putri Klub BVB (Bina Voli Banyumas). Program memadukan edukasi, latihan penguatan stabilitas panggul lutut pergelangan, balance proprioception, landing mechanics, dan plyometric progression dengan pemantauan sederhana menggunakan lembar observasi kualitas gerak dan refleksi peserta. Intervensi mengadaptasi komponen yang secara luas terbukti mengurangi risiko cedera pada atlet muda ke konteks bola voli remaja. Hasil formatif menunjukkan peningkatan kualitas pendaratan (lebih soft), kepatuhan terhadap pemanasan terstruktur, dan literasi pencegahan cedera menurut observasi pelatih fasilitator dan umpan balik atlet. Kegiatan menghasilkan pelatihan pemanasan statis dan dinamis untuk pencegahan cedera olahraga, praktik dan edukasi pelatihan bagi atlet penguatan neuromuscular ekstremitas bawah. Program ini melengkapi coaching clinic teknik yang telah berjalan, memperkuat budaya latihan aman efektif, serta membuka ruang pendampingan berkelanjutan.
Post-Traumatic Growth Pada Mahasiswa Penyintas Kekerasan Fisik dan Emosional Dari Orang Tua Di Masa Kecil Elfa Naila Aghnarizqa; Rr. Setyawati; Ugung Dwi Ario Wibowo; Danny Ontario Rusmono
Jurnal Psikologi Perseptual Vol. 10 No. 2 (2025): Jurnal Psikologi Perseptual
Publisher : Fakultas of Psychology, Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/perseptual.v10i2.15591

Abstract

This study aims to describe post-traumatic growth in university students who experienced physical and emotional abuse by their parents during childhood. The research employed a qualitative approach with a phenomenological method. Four early adult participants were selected through purposive and snowball sampling techniques. Data were collected using in-depth interviews and documentation, then analyzed using content analysis. The four participants demonstrated that the concrete psychological impacts they experienced included fear, low self-esteem, social withdrawal, and difficulty trusting others. However, through a process of self-reflection and social support, the survivors were able to transform their past wounds into newfound strength. The findings revealed that all participants experienced positive changes, including increased appreciation of life, closer interpersonal relationships, enhanced personal strength, openness to new opportunities, and spiritual development. These changes were influenced by self-reflection, the meaning constructed from past experiences, and social support. The findings indicate that despite the deep psychological impact of childhood abuse, individuals still possess the capacity to grow into more resilient psychological beings. This study contributes to the understanding of post-traumatic growth dynamics and provides a foundation for psychological interventions for survivors of childhood abuse. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan post-traumatic growth pada mahasiswa penyintas kekerasan fisik dan emosional dari orang tua di masa kecil. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Partisipan terdiri dari empat individu dewasa awal yang dipilih melalui teknik purposive sampling dan snowball sampling. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan dokumentasi. Data dianalisis dengan teknik analisis isi. Keempat partisipan memperlihatkan bahwa dampak psikologis konkrit yang dialami para partisipan meliputi rasa takut, rendah diri, penarikan diri sosial, dan kesulitan mempercayai orang lain. Namun, seiring proses refleksi dan dukungan sosial, para penyintas mampu mengubah luka masa lalu menjadi kekuatan baru. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa seluruh partisipan mengalami perubahan positif berupa peningkatan penghargaan terhadap hidup, relasi interpersonal yang lebih erat, penguatan kekuatan dalam diri, keterbukaan terhadap peluang baru, serta perkembangan spiritualitas. Proses pertumbuhan ini dipengaruhi oleh refleksi diri, makna yang dibentuk dari pengalaman masa lalu, serta dukungan sosial. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun pengalaman kekerasan pada masa kecil memberikan dampak psikologis yang mendalam, individu tetap memiliki kapasitas untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih tangguh secara psikologis. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman mengenai dinamika pertumbuhan pascatrauma dan dapat menjadi dasar intervensi psikologis bagi penyintas kekerasan masa kecil.
Psychological Well Being pada Penderita Obesitas dengan Penggunaan Media Sosial Berlebihan: Implikasi dalam Konteks Pendidikan Kesehatan: Penelitian Yoza Okta Saputra; Danny Ontario Rusmono; Ahmad Fauzan Iswahyudi
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 3 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 3 (Januari 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i3.4922

Abstract

In the modern era, lifestyle issues such as obesity are exacerbated by excessive social media use. Excessive social media use tends to decrease physical activity, disrupt sleep patterns, increase late-night eating habits, and encourage the consumption of unhealthy foods widely promoted online. Obesity and excessive social media use both significantly impact psychological well-being. This study aims to explore the psychological well-being of individuals with obesity who use social media excessively, a phenomenon that has not been widely studied simultaneously. The study used purposive sampling with data analysis through open coding, axial coding, and selective coding, and validity testing through triangulation and peer debriefing. The results showed low psychological well-being of participants, particularly in aspects of self-acceptance, personal growth, life purpose, and autonomy, reflected in low self-confidence, unclear life goals, and lack of independence in decision-making.
PSIKOEDUKASI UNTUK MENINGKATKAN PENGETAHUAN KESEHATAN MENTAL LANSIA DAN LATIHAN MENDENGAR CERITA LANSIA UNTUK MEMAHAMI CARA KONSULTASI DENGAN TEPAT PADA SEKSI PENGASUHAN DI PANTI WERDHA Yoza Okta Saputra; Danny Ontario Rusmono; Ahmad Fauzan Iswahyudi
Journal of Community Empowerment Vol 4, No 2 (2025): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v4i2.34154

Abstract

ABSTRAK                                                                            Permasalahan yang dihadapi di UPTD Pelayanan Sosial Lanjut Usia X, Sumatera Utara adalah kurangnya pemahaman pengasuh mengenai kesehatan mental lansia serta tidak optimalnya sesi konsultasi dalam membantu lansia mengatasi masalah kesehatan mental. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan pengasuh tentang kesehatan mental lansia melalui psikoedukasi dan melatih keterampilan mendengarkan cerita lansia untuk menjalankan konsultasi dengan tepat. Metode yang digunakan adalah experimental design dengan empat tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan, evaluasi serta monitoring. UPTD Pelayanan Sosial Lanjut Usia X, berfokus pada pelayanan dan rehabilitasi sosial bagi lanjut usia yang terlantar atau tidak mampu. Lembaga ini memiliki visi dan misi untuk mewujudkan lanjut usia yang sejahtera, dan bahagia melalui pemenuhan kebutuhan dasar, kesehatan, serta aktivitas sosial yang mendukung kualitas hidup mereka. Program kerja tersebut dilaksanakan oleh Seksi Pengasuhan yang kontak langsung dengan lansia. Oleh karena itu, partisipan dalam pengabdian ini adalah 10 orang yang berasal dari Seksi Pengasuhan (urusan pelayanan PPKS dan urusan analis pelayanan sosial). Instrumen yang digunakan berupa kuesioner pengetahuan kesehatan mental lansia. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan kesehatan mental secara signifikan, dari total skor benar 28 sebelum pengabdian menjadi 57 setelah pengabdian. Selain itu, lansia merasa lebih nyaman bercerita, tidak lagi takut dihakimi, dan merasakan adanya solusi nyata terhadap masalah yang dihadapi. Kegiatan ini berkontribusi positif pada peningkatan kualitas layanan panti werdha, membuat lansia lebih bersemangat mengikuti aktivitas sosial, serta memperkuat kompetensi pengasuh dalam mendampingi lansia. Kata kunci: Psikoedukasi; Kesehatan Mental Lansia; Latihan Mendengar Cerita; Konsultasi; Panti Werdha ABSTRACTThe problem faced by the Social Orphanage X, North Sumatra is the lack of caregivers’ understanding of elderly mental health, as well as the suboptimal consultation sessions that are supposed to help the elderly cope with mental health issues. This community service program aims to improve caregivers’ knowledge of elderly mental health through psychoeducation and to train their listening skills in order to conduct proper consultations. The method used is an experimental design consisting of four stages: preparation, implementation, evaluation, and monitoring. The Social Orphanage X focuses on providing social services and rehabilitation for neglected or underprivileged elderly individuals. The institution’s vision and mission are to realize elderly well-being and happiness by fulfilling their basic needs, ensuring health, and supporting social activities that enhance their quality of life. The program is carried out by the Caregiving Section, which directly interacts with the elderly. Therefore, the participants in this program consist of 10 individuals from the Caregiving Section (Elderly Welfare Service Unit and Social Service Analyst Unit). The instrument used was a questionnaire on elderly mental health knowledge. The results of the program indicated a significant improvement in mental health knowledge, with the total correct score increasing from 28 before the program to 57 after the program. In addition, the elderly felt more comfortable sharing their stories, were no longer afraid of being judged, and experienced real solutions to their problems. This activity contributed to improving the quality of services at the nursing home, encouraged the elderly to be more enthusiastic in participating in social activities, and strengthened the caregivers’ competencies in assisting the elderly. Keywords: Psychoeducation; Elderly Mental Health; Story Listening Exercise; Consultation; Social Orphanage
PENGUATAN KETAHANAN MENTAL PENGURUS RANTING AISYIYAH DALAM MENGHADAPI TANTANGAN PENGASUHAN REMAJA GENERASI Z Yoza Okta Saputra; Uswatun Hasanah; Danny Ontario Rusmono; Ahmad Fauzan Iswahyudi; Emil Padila; Nisa Afriana; Elma Amalia Kunaeza; Eka Safitri; Rafa Dwiandra Purmalastu; Andriyan Maajid
Journal of Community Empowerment Vol 5, No 3 (2026): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v5i3.40420

Abstract

ABSTRAKPola pengasuhan memiliki peran penting dalam mendukung perkembangan remaja. Namun, karakteristik Generasi Z yang tumbuh dalam lingkungan digital menjadi tantangan bagi ibu dalam menjalankan pengasuhan. Selain menghadapi tuntutan pengasuhan, ibu juga menjalankan berbagai peran lain, seperti mengelola rumah tangga, bekerja, dan memenuhi tanggung jawab sosial. Akumulasi tuntutan tersebut berpotensi menimbulkan tekanan psikologis yang berdampak pada kesehatan mental dan kualitas pengasuhan. Oleh karena itu, pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan ibu mengenai pengasuhan yang adaptif bagi remaja Generasi Z serta memperkuat kapasitas ibu dalam membangun dukungan sosial. Kegiatan dilaksanakan pada 30 ibu partisipan yang memiliki anak berusia remaja. Kegiatan menggunakan metode psikoedukasi dan pelatihan peer support group. Evaluasi dilakukan menggunakan kuesioner pengetahuan melalui pengukuran pretest dan posttest. Hasil menunjukkan peningkatan sebesar 7.23 poin. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara skor pretest dan posttest (W = 0; p < 0,001) dengan effect size r = 0,87, yang menunjukkan efek besar. Semua partisipan berada pada kategori rendah sebelum kegiatan, sedangkan setelah kegiatan 80% peserta berada pada kategori tinggi dan 20% pada kategori sedang. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kegiatan psikoedukasi dan pelatihan peer support group dapat mendukung peningkatan pengetahuan ibu mengenai pengasuhan remaja Generasi Z. Kegiatan ini memiliki implikasi bagi penguatan kapasitas ibu dalam menerapkan pengasuhan yang adaptif dan memanfaatkan dukungan sebaya sebagai sumber penyemangat dalam menghadapi tuntutan pengasuhan.Kata kunci: Ketahanan Mental;Pengasuhan; Remaja; Generasi Z. ABSTRACTParenting plays an important role in supporting adolescent development. However, the characteristics of Generation Z, who have grown up in a digital environment, present challenges for mothers in providing effective parenting. In addition to parenting demands, mothers often undertake various other roles, such as managing household responsibilities, working, and fulfilling social obligations. The accumulation of these demands may contribute to psychological stress, which can affect mothers’ mental health and the quality of parenting. Therefore, this community engagement program aimed to improve mothers’ knowledge of adaptive parenting for Generation Z adolescents and strengthen their capacity to build social support. The program involved 30 mothers who had adolescent children. The activities employed parenting psychoeducation and peer support group training. Evaluation was conducted using a parenting knowledge questionnaire administered through pretest and posttest measurements. The results showed an increase of 7.23 points in participants’ knowledge scores. The Wilcoxon signed-rank test indicated a significant difference between pretest and posttest scores (W = 0, p < 0.001), with an effect size of r = 0.87, indicating a large effect. All participants were classified in the low-knowledge category before the program, whereas after the program, 80% of participants were classified in the high-knowledge category and 20% in the moderate-knowledge category. These findings indicate that parenting psychoeducation and peer support group training can support improvements in mothers’ knowledge regarding parenting Generation Z adolescents. The program has implications for strengthening mothers’ capacity to implement adaptive parenting practices and utilize peer support as a source of encouragement in dealing with parenting demands.Keywords: Mental Resilience; Parentings; Adolescents; Generation Z.