Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Memahami Konsep Islamic Education Leadership Kyai Ageng Muhammad Besari Eva Maghfiroh; Parino
Kitabaca : Journal of Islamic Studies Vol. 2 No. 2 (2025): Desember
Publisher : International Consortium of Islamic Researchers (ICONIRs) CV. Branded Tech Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66930/kitabaca.v2i2.23

Abstract

Penelitian ini mengkaji konsep kepemimpinan pendidikan Islam melalui sosok Kyai Ageng Muhammad Besari (Syekh Hasan Besari) sebagai tokoh yang berperan signifikan dalam bidang agama, budaya, dan nasionalisme. Menggunakan pendekatan konseptual dengan metode studi manuskrip dan penelitian akademik, penelitian ini bertujuan memahami hubungan dialektis antara aspek religius-kultural dan religius-nasionalistik yang diwujudkan oleh Syekh Hasan Besari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kyai Ageng Muhammad Besari merupakan pemimpin Pondok Pesantren Tegalsari yang mencapai puncak kejayaan di bawah kepemimpinannya, menarik ribuan santri dari seluruh nusantara. Dalam aspek budaya, ia menerapkan pendekatan akulturatif yang apresiatif dan akomodatif terhadap budaya lokal, menggunakan pola 'pribumisasi' dan 'negosiasi' dalam mengintegrasikan agama dan budaya tanpa menghilangkan tradisi lokal yang tidak bertentangan dengan prinsip Islam. Penelitian ini menyimpulan bahwa nilai-nilai Islam Syekh Hasan Besari teraktualisasi dalam seluruh aspek kehidupan dengan pendekatan harmonis yang menghindari konfrontasi antara ajaran agama dengan budaya lokal atau identitas nasional. Warisannya menekankan pentingnya pemimpin agama dalam memupuk kohesi sosial dan mempromosikan pemahaman Islam yang inklusif, menghormati tradisi lokal, dan berkontribusi pada identitas nasional. Kata kunci: kepemimpinan pendidikan Islam, Kyai Ageng Muhammad Besari, akulturasi budaya, nasionalisme, Pondok Pesantren Tegalsari
Kepemimpinan Pengasuh Perempuan di Lingkungan Sosial Pesantren: Studi atas Kepemimpinan Pengasuh Perempuan PP Manbaul Khoiriyatil Islamiyah (MHI) Jember Eva Maghfiroh
EQUALITY: Journal of Gender, Child, and Humanity Studies Vol. 2 No. 2 (2024): Equality: Journal of Gender, Child, and Humanity
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Universitas Tarbiyatut Tholabah Lamongan, Jawa Timur Indoensia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58518/equality.v2i2.3056

Abstract

In line with the emancipation movement and gender equality movement which essentially seeks to demand equal rights for women in various areas of life, then step by step there has been a shift in the perception of women. They are no longer seen as weak figures who are always in the back line, but they can appear at the forefront as successful leaders in various sectors of life. The purpose of this study is to describe the leadership of Nyai Sayyidah in the social environment of Islamic boarding schools. Using a descriptive qualitative method. The results of the study show that the leadership of women in Islamic boarding schools is currently able to carry out ideal leadership patterns in leading in Islamic boarding schools and carrying out activities in the Islamic boarding school environment
Perempuan Dan Media Massa (Berkaca Dari Media Massa Tentang Perempuan Dalam Pola Pikir Kritis) Eva Maghfiroh
An-Nisa’ Journal of Gender Studies Vol. 2 No. 2 (2009): An-Nisa': Jurnal Kajian Perempuan Dan Keislaman
Publisher : Institute for Research and Community Service, Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, East Java, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/annisa.v2i2.410

Abstract

Keindahan perempuan dan kekaguman laki-laki terhadap perempuan adalah cerita klasik dalam sejarah umat manusia. Dua hal itu pula menjadi dominan dalam inspirasi banyak pekerja seni dari masa ke masa. Namun perempuan ketika menjadi simbol dalam seni-seni komersial, maka kekaguman terhadap perempuan menjadi sangat diskriminatif, tendensius, dan bahkan menjadi subordinasi dari simbol-simbol kekuatan laki laki. Lebih dari itu hadir kesan bahwa perempuan adalah simbol kelas sosial dan kehadirannnya hanya karena kerelaan yang dibutuhkan laki laki. Ironisnya, perempuan kerap mengeksploitasi diri mereka sendiri dan tereksploitasi oleh media massa sehingga runtuh harga diri mereka. Saat ini agaknya, media massa relatif bebas dari kontrol kekuasaan pemerintah, tetapi dalam kenyataan yang sebenarnya media massa tidak pernah bebas dari institusi yang memiliki budaya bisnis, dan industri pemilik modal yang berorientasi pada profit kemudian tenggelam dalam tekanan pasar yang mendewakan rating. Media massa yang telah tereduksi ke dalam kepentingan pasar memungkinkan perempuan dimanfaatkan sebagai sarana untuk mengejar keuntungan besar dalam meraih pangsa pasar, sarat dengan persaingan ketat. Sebagaimana dalam permainan dadu industri, perempuan pun ditampilkan secara tidak bermoral dan tidak memiliki nilai etika bersosial.
Pemberdayaan Masyarakat dalam Pemahaman dan Optimalisasi Lingkungan Sehat di Desa Salak Kecamatan Randuagung Kabupaten Lumajang Jawa Timur Eva Maghfiroh; Indra Hidayatullah; Parino Parino; Thorieq Moh Yusuf
Al-Khidmah Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2025): JANUARI-APRIL
Publisher : Institute for Research and Community Service (LPPM) of the Islamic University of Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56013/jak.v5i1.3844

Abstract

This community service aims to examine community empowerment in understanding and optimizing a healthy environment in Salak Village, Randuagung District, Lumajang Regency, East Java. This study uses a participatory action research method with FGD techniques for collecting data through interviews and observations. The results of the study indicate that the people of Salak Village do not yet have sufficient understanding of the importance of a healthy environment and do not yet have the ability to optimize their surrounding environment. However, with community empowerment through training and mentoring, the community can have sufficient knowledge, skills, and awareness to optimize a healthy environment and improve their quality of life. This study recommends that community empowerment must be carried out sustainably and involve all relevant stakeholders.
Pendampingan Pencak Silat sebagai Media Dakwah dalam Mengimplementasikan Nilai Amar Makruf Nahi Munkar di Kalangan Anak Migran di Kuala Lumpur Muhammad Iqbal Nasihin Alfarizy; Eva Maghfiroh; Satuyar Mufid; Akhmad Afnan Fajarudin
Al-Khidmah Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2026): JANUARI-APRIL
Publisher : Institute for Research and Community Service (LPPM) of the Islamic University of Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56013/jak.v6i1.5405

Abstract

The phenomenon of Indonesian labor migration to Malaysia has been ongoing for a long time and has had significant social impacts, particularly for migrant children. They often experience limited access to education, identity issues, and weak moral and religious development. In this context, a more creative and contextual approach to Islamic propagation is needed. Mentoring through pencak silat is a relevant alternative because, in addition to being a martial art, pencak silat also contains values ​​of discipline, respect, and spirituality that align with Islamic teachings, particularly the values ​​of enjoining good and forbidding evil. This activity aims to determine the effectiveness of pencak silat mentoring as a means of propagation in instilling the values ​​of enjoining good and forbidding evil in Indonesian migrant children in Kuala Lumpur. Furthermore, it examines how silat activities can strengthen their character, morals, and Islamic cultural identity in a multicultural environment. The method used is a service learning approach, a learning model that combines social service with a process of educational reflection. Data were obtained through observations during training activities, interviews with participants and mentors, and documentation of activities. Through this method, the process of internalizing values ​​can be directly observed in children's behavior, attitudes, and interactions. The results show that pencak silat is effective as a means of transformative da'wah (Islamic outreach). The values ​​of amar makruf (promoting good and doing good) are evident in increased positive behavior, cooperation, and honesty, while the values ​​of nahi munkar (forbidding evil) are reflected in children's ability to control themselves and avoid negative behavior. This approach not only conveys da'wah but also fosters Islamic character that is applicable in everyday life.
Optimalisasi Buku Penghubung Sebagai Alat Kontrol Kedisiplinan Siswa Ni’mah Lailatul Mas’adah; Eva Maghfiroh; Mohammad Khosim
EDUSHOPIA : Journal of Progressive Pedagogy Vol. 3 No. 2 (2026): EDUSHOPIA: JOURNAL OF PROGRESSIVE PEDAGOGY
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam STAI Sayid Mohammad Alawi Al Maliki

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64431/edushopia.v3i2.467

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan penggunaan buku penghubung sebagai alat kontrol kedisiplinan siswa di SD Islam Al-Muhajir. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diuji melalui triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa optimalisasi buku penghubung berperan penting dalam meningkatkan kedisiplinan siswa melalui lima fungsi utama: perencanaan, motivasi, pengawasan, pengontrolan, dan penilaian. Buku penghubung tidak hanya menjadi media komunikasi, tetapi juga instrumen pembinaan karakter yang melibatkan kolaborasi guru dan orang tua. Meskipun terdapat kendala seperti kurangnya perhatian orang tua, pembinaan rutin melalui buku penghubung tetap efektif dalam membentuk perilaku disiplin siswa secara berkelanjutan.
DEMOKRATISASI HUKUM DAN MEDIA MASSA MELALUI HUKUM PROGRESIF MELEBARKAN CELAH BAGI PERGERAKAN PEREMPUAN DAN POLITIK MINORITAS: The Democratization Of Law And Mass Media Through Progressive Laws Widens The Gap For Women's Movements And Minority Politics Eva Maghfiroh
Fenomena Vol 18 No 1 (2019): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v18i1.21

Abstract

Meledaknya pemberitaan kasus video pribadi artis pada pertengahan tahun ini —yang kemudian memancing reaksi kuat baik dari masyarakat sipil maupun pemerintah— setidaknya telah memperlihatkan bagaimana hukum positif yang berbicara moral, dan pengangkatan isu dalam media massa yang tidak proporsional. Kedua hal tersebut tentu melahirkan kecurigaan terhadap pelaksanaan demokrasi di Indonesia karena telah memperlihatkan gejala terjadinya diskriminasi politik; yang dapat berimplikasi pada terkucilkannya perjuangan politik perempuan. Pemberlakuan hukum yang mengedepankan progresivitas dibutuhkan sebagai solusi alternatif bagi permasalahan ini; melalui pengupayaan netralitas hukum dan media massa —yang dengan demikian membuka jalan lebar bagi pembudayaan demokrasi dan kesetaraan gender. The explosion of coverage of the artist's video case in the middle of this year —which then provoked a strong reaction from both civil society and the government— has at least shown how favorable laws speak of morals and the disproportionate lifting of issues in the mass media. Both of these things certainly raise suspicion against the implementation of democracy in Indonesia because it has shown symptoms of political discrimination, which can have implications for the exclusion of women's political struggle. The enactment of laws that promote progressivity is needed as an alternative solution to this problem; through the pursuit of legal neutrality and mass media —thus paving the way for the cultivation of democracy and gender equality.