Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Orientation Characteristics of Sasak Traditional House (Bale Tani) in Limbungan Hamlet, East Lombok Regency Dendi Sigit Wahyudi; Antariksa Antariksa; Sri Utami
Journal of Social Science Vol. 3 No. 4 (2022): Journal of Social Science
Publisher : Syntax Corporation Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46799/jss.v3i4.368

Abstract

Traditional settlements are very synonymous with the customs and cultural traditions of the people in each region. Traditional settlements essentially and generally have rules for the pattern and arrangement of houses in settlements that follow the rules of local culture and existing traditions, one of which is in terms of orientation in home settlements. The pattern of the house's orientation is also found in the settlements in Limbungan Hamlet, but the orientation of the Sasak tribe in this village has a very diverse characteristic. Limbungan hamlet is a settlement located on contoured soil conditions and in a very high hilly area. The settlement pattern in this hamlet is generally symmetrical, forming settlement groups that follow the contours of the settlement. The purpose of this research is to be able to know and be able to explain the characteristics of the orientation of the traditional house of the Sasak tribe (bale tani) in the Limbungan hamlet, which has a traditional house orientation direction based on the approach of customary rules and traditions of the indigenous people or local communities. The research methodology used is a descriptive analysis qualitative method approach by conducting a comparative analysis technique on the traditional settlement group of the Sasak Tribe. The results of research on these settlements can show that there is a basis that the emergence of the orientation of the Sasak tribe is related to the concept of house orientation facing east. The house's orientation is good, namely the direction facing east and west, and strongly against the direction facing south and north. The east direction of the traditional house considers the topographical conditions of the placement of the house. Houses in hilly topography will generally always be oriented towards the high ground and face east, especially Limbungan is always at the foot of Mount Rinjani
HIRARKI SPASIAL SUKU SASAK DI DUSUN LIMBUNGAN KABUPATEN LOMBOK TIMUR Dendi Sigit Wahyudi; Antariksa Antariksa; Sri Utami
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 5, No 3 (2022): Vol 5, No 3 (2022): Jurnal Arsitektur Zonasi Oktober 2022
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v5i3.49191

Abstract

Abstract: This Sasak tribe is a tribe located on the island of Lombok that has traditional buildings that are still occupied by the common people (to sama).One type of Sasak village that has traditional buildings is bale tani in Dusun Limbungan. One type of Sasak village that has two traditional buildings is bale tani in Dusun Limbungan. The purpose of this study is to determine the spatial hierarchy of Sasak tribe in Dusun Limbungan. The method used is a qualitative method of descriptive analysis. The results of the study can show that the spatial hierarchy can be made into two parts, namely the middle horizontal hierarchy (Dalem bale). While The Vertical horizontal is divided into the lower part (profane), the middle part (profane + sacral), and the upper part (profane). In a horizontal hierarchy which is divided into three parts front (sesangkok), middle (bale dalam) where the front (sesangkok) serves to receive guests or family who come to visit, while the middle (bale dalam) in which there is a bedroom where the bedroom function to store bodies that have not been buried and in bale dalam there pawon (kitchen) and semparu where semparu function where to store kitchen utensils. The function of horizontal and vertical spatial hierarchy of both traditional buildings shows the same results, but in terms of layout and spatial magnitude there are some differences. The spatial hierarchy that is influenced by the elements of belief that can be contained in the Sasak tribe can be in the form of knowledge that can be inherited from ancient times or hereditary.Keywords:  Spatial Hierarchy; Sasak Tribe; Lombok Traditional BuildingAbstrak: Suku Sasak merupakan Suku yang berada di Pulau Lombok yang memiliki bangunan tradisional yang masih di tempati oleh golongan rakyat biasa (to sama). Salah satu jenis perkampungan Suku Sasak yang terdapat bangunan tradisional yaitu bale tani di Dusun Limbungan.Salah satu jenis perkampungan Suku Sasak yang terdapat dua bangunan tradisional yaitu bale tani di Dusun Limbungan. Terdapat tujuan studi ini adalah untuk mengetahui hirarki spasial Suku Sasak di Dusun Limbungan. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif analisis deskriftif. Hasil studi dapat menunjukkan bahwa secara hirarki spasial dapat dijadikan jadi dua bagian yaitu hirarki horizontal bagian tengah (dalem bale). Sedangkan horizontal vertikal dibagi menjadi bagian bawah (profan), bagian tengah (profan + sakral), dan bagian atas (profan). Pada sebuah hirarki horizontal yang dibagi menjadi tiga bagian depan (sesangkok), tengah (bale dalam) yang dimana bagian depan (sesangkok) berfungsi untuk menerima tamu atau keluarga yang datang berkunjung, sedangkan bagian tengah (bale dalam) yang di dalamnya terdapat kamar tidur yang dimana fungsi kamar tidur untuk menyimpan mayat yang belum di kebumikan dan di bale dalam terdapat pawon (dapur) dan semparu yang dimana fungsi semparu tempat menyimpan peralatan dapur. Secara fungsi hirarki horizontal dan spasial vertikal dari kedua bangunan tradisional menunjukkan bentukan hasil yang sama, namun dari segi tata letak serta besaran spasialnya ada beberapa perbedaan. Adapun hirarki spasial yang dipengaruhi dengan adanya unsur kepercayaan yang dapat terkandung di dalam Suku Sasak dapat berupa pengetahuan yang dapat diwariskan dari zaman dahulu atau secara turun temurun.Kata Kunci: Hirarki Spasial; Suku Sasak; Bangunan Tradisional Lombok
Orientation Characteristics of Sasak Traditional House (Bale Tani) in Limbungan Hamlet, East Lombok Regency Dendi Sigit Wahyudi; Antariksa Antariksa; Sri Utami
Journal of Social Science Vol. 3 No. 4 (2022): Journal of Social Science
Publisher : Syntax Corporation Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.472 KB) | DOI: 10.46799/jss.v3i4.368

Abstract

Traditional settlements are very synonymous with the customs and cultural traditions of the people in each region. Traditional settlements essentially and generally have rules for the pattern and arrangement of houses in settlements that follow the rules of local culture and existing traditions, one of which is in terms of orientation in home settlements. The pattern of the house's orientation is also found in the settlements in Limbungan Hamlet, but the orientation of the Sasak tribe in this village has a very diverse characteristic. Limbungan hamlet is a settlement located on contoured soil conditions and in a very high hilly area. The settlement pattern in this hamlet is generally symmetrical, forming settlement groups that follow the contours of the settlement. The purpose of this research is to be able to know and be able to explain the characteristics of the orientation of the traditional house of the Sasak tribe (bale tani) in the Limbungan hamlet, which has a traditional house orientation direction based on the approach of customary rules and traditions of the indigenous people or local communities. The research methodology used is a descriptive analysis qualitative method approach by conducting a comparative analysis technique on the traditional settlement group of the Sasak Tribe. The results of research on these settlements can show that there is a basis that the emergence of the orientation of the Sasak tribe is related to the concept of house orientation facing east. The house's orientation is good, namely the direction facing east and west, and strongly against the direction facing south and north. The east direction of the traditional house considers the topographical conditions of the placement of the house. Houses in hilly topography will generally always be oriented towards the high ground and face east, especially Limbungan is always at the foot of Mount Rinjani
Pengembangan Desa Wisata di Desa Barabali, Kecamatan Batukliang, Kabupaten Lombok Tengah Sigit Wahyudi, Dendi; Marliani, Sonnya
RENATA: Jurnal Pengabdian Masyarakat Kita Semua Vol. 3 No. 1 (2025): Renata - April 2025
Publisher : PT Berkah Tematik Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61124/1.renata.136

Abstract

Desa wisata merupakan salah satu faktor yang bisa meningkatkan ekonomi pedesaan. Pengelolaan desa wisata memerlukan sumber daya manusia yang mumpuni. Karena itu, didalam desa memerlukan pelatihan untuk meningkatkan kapasitas di pedesaan. Dengan adanya pelatihan, pengelolaan desa wisata diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan dan keahlian yang cukup tinggi untuk dapat meningkatkan perkembangan desanya kedepan.Karena itulah, tim pengabdian Universitas Nusa Cendana menyelenggarakan pelatihan yang melibatkan adalah anggota Pokdarwis dan Masyarakat Desa Barabali, Kabupaten Lombok Tengah. Dengan menggunakan Metode yang digunakan adalah FGD dan melakukan studi banding ke Desa wisata Sintung Park, yang berada di Dasan Baru, kabupaten Lombok Tengah. Selama pelatihan dilakukan, peserta mendapatkan metode perencanaan dan pengembangan desa wisata. Pokdarwis dan masyarakat diajarkan juga untuk menyusun tim pengelola desa wisata. Berdasarkan dari evaluasi, peserta dapat menilai adanya manfaat dari segi pelatihan. Untuk selanjutnya, peserta pelatihan mengharapkan adanya pelatihan lanjutan untuk dapat mengembangkan desa wisata, khususnya di Desa Barabali
Limbungan Local Wisdom and Conservation of Vernacular Architecture East Lombok Sasak Wahyudi, Dendi Sigit; Wikantiyoso, Respati
Local Wisdom Jurnal Ilmiah Kajian Kearifan Lokal Vol. 13 No. 2 (2021): July 2021
Publisher : University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26905/lw.v13i2.5291

Abstract

Limbungan (Bale Tani) merupakan rumah tradisional vernakular sasak yang ada di kabupaten lombok timur. Dengan berkembangnya era moderenisasi, budaya lokal semakin tergeser ekstesitensinya. Penelitian dapat dilakukan dengan dokumentasi bale tani, untuk mengangkat nilai – nilai kearifan lokal yang terkandung dalam pembangunan rumah tradisional yang ada di Kabupaten lombok timur, dan dapat dipelajari bagi arsitek, pemerintah setempat dan masyarakat khususnya didaerah Pulau Lombok (Sasak). Penelitian ini bertujuan untuk memperkaya pengetahuan tentang rumah tradisional yang secara bijaksasna didesain oleh nenek moyang. Kabupaten lombok timur merupakan kabupaten yang penuh dengan rumah tradisional serta adat dan budaya yang sangat kental. Sehingga kajian ini dapat memberikan masukan dan dapat tercipta bangunan yang memperhatikan konsep ekologis serta kearifan lokal suku sasak.
REPRESENTASI NILAI KOSMOLOGI PADA WUJUD LOKAL BANGUNAN TRADISIONAL SUKU SASAK DUSUN LIMBUNGAN Wahyudi, Dendi Sigit
ALUR :Jurnal Arsitektur Vol 5 No 2 (2022): SEPTEMBER 2022
Publisher : Unika Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/alur.v5i2.1962

Abstract

Arsitektur Lombok (Suku Sasak) memiliki sebuah bangunan tradisional yang unik. Suku Sasak sendiri merupakan sebuah suku asli dan mayoritas penduduknya terdapat di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Dapat diartikan dari sebuah kitab Nagara Kartha Gama, budaya sasak masih mempunyai kemampuan untuk menjaga serta melestarikan tradisi yang masih lestari hingga saat ini dari bentukan bangunan rumah tradisionalnnya. Kajian ini sangat tertuju agar mengetahui bangunan rumah tradisional yang berfungsi untuk tempat keluarga berlindung baik secara fisik, jasmani maupun rohani maupun spiritual. Sehingga bangunan tradisional suku sasak yang dibangun dengan nilai estetika dan budaya. Dan terdapat pola – pola beserta bentuk bangunan dapat dipengaruhi oleh nilai kosmologi, seperti halnya masyarakat Suku Sasak yang sangat percaya pada Gunung Rinjani sebagai alam yang supranatural dan memiliki nilai yang sangat sakral. Orientasi rumah tradisional suku sasak menghadap kearah timur. Arah timur mengidentifikasi arah terbitnya matahari yang diartikan dapat menolak bala dan dapat mendatangkah berkah dan rezeki. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi nilai kosmologi pada wujud lokal serta menelususri representasi pandangan kosmologi masyarakat setempat. Data primer diperoleh dengan menggunakan observasi, sedangkan penelitiannya menggunakan penelitian etnografi agar dianalisis dengan melakukan interpresentasi melalui observasi. Hasil dan pembahasan diperoleh serta dikembangkan pada rekomendasi untuk mengetahui representasi nilai kosmologi masyarakat khususnya dalam wujud lokal pada bangunan rumah tradisional suku sasak. Namun keberagaman tersebut engandung nilai – nilai dan adanya maksud serta tujuan yang sama dengan menjadikan alam semesta seperti gunung dan arah timur sebagai orientasi yang paling utama. Keberserahan diri dari masyarakat Suku Sasak kepada alam semesta ini dapat menjadikan bangunan huniannya mampu bertahan dengan identitas yang asli hingga sekarang.
REPRESENTASI NILAI KOSMOLOGI PADA WUJUD LOKAL BANGUNAN TRADISIONAL SUKU SASAK DUSUN LIMBUNGAN Wahyudi, Dendi Sigit
ALUR :Jurnal Arsitektur Vol 5 No 2 (2022): SEPTEMBER 2022
Publisher : Unika Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1164.525 KB) | DOI: 10.54367/alur.v5i2.1962

Abstract

Arsitektur Lombok (Suku Sasak) memiliki sebuah bangunan tradisional yang unik. Suku Sasak sendiri merupakan sebuah suku asli dan mayoritas penduduknya terdapat di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Dapat diartikan dari sebuah kitab Nagara Kartha Gama, budaya sasak masih mempunyai kemampuan untuk menjaga serta melestarikan tradisi yang masih lestari hingga saat ini dari bentukan bangunan rumah tradisionalnnya. Kajian ini sangat tertuju agar mengetahui bangunan rumah tradisional yang berfungsi untuk tempat keluarga berlindung baik secara fisik, jasmani maupun rohani maupun spiritual. Sehingga bangunan tradisional suku sasak yang dibangun dengan nilai estetika dan budaya. Dan terdapat pola – pola beserta bentuk bangunan dapat dipengaruhi oleh nilai kosmologi, seperti halnya masyarakat Suku Sasak yang sangat percaya pada Gunung Rinjani sebagai alam yang supranatural dan memiliki nilai yang sangat sakral. Orientasi rumah tradisional suku sasak menghadap kearah timur. Arah timur mengidentifikasi arah terbitnya matahari yang diartikan dapat menolak bala dan dapat mendatangkah berkah dan rezeki. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi nilai kosmologi pada wujud lokal serta menelususri representasi pandangan kosmologi masyarakat setempat. Data primer diperoleh dengan menggunakan observasi, sedangkan penelitiannya menggunakan penelitian etnografi agar dianalisis dengan melakukan interpresentasi melalui observasi. Hasil dan pembahasan diperoleh serta dikembangkan pada rekomendasi untuk mengetahui representasi nilai kosmologi masyarakat khususnya dalam wujud lokal pada bangunan rumah tradisional suku sasak. Namun keberagaman tersebut engandung nilai – nilai dan adanya maksud serta tujuan yang sama dengan menjadikan alam semesta seperti gunung dan arah timur sebagai orientasi yang paling utama. Keberserahan diri dari masyarakat Suku Sasak kepada alam semesta ini dapat menjadikan bangunan huniannya mampu bertahan dengan identitas yang asli hingga sekarang.
Revealing Ecological Values in Traditional Sasak Bale Tani for Culturally-Rooted Design Innovation Sigit Wahyudi, Dendi
RUAS Vol. 23 No. 1 (2025)
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ruas.2025.023.01.11

Abstract

The Sasak tribe maintains traditional architectural practices that remain vibrant today, particularly embodied in the Bale Tani structure, which exemplifies local wisdom. Despite the richness of this indigenous knowledge, modern rural development often overlooks its ecological potential, resulting in spatial designs that are culturally disconnected and environmentally unsustainable. This study addresses this gap by examining the ecological principles embedded in the spatial planning of Bale Tani buildings to apply these insights to culturally grounded innovations in sustainable architecture. Employing a qualitative method involving literature review, field observation, and spatial analysis, this research offers a novel contribution by systematically mapping ecological parameters within vernacular Sasak architecture, an area still underrepresented in current architectural discourse. The findings reveal how traditional Sasak layouts promote ecological sustainability, social harmony, and climate-responsive agricultural architecture. These insights underscore the urgency of integrating local architectural wisdom into contemporary rural housing strategies to mitigate environmental degradation and preserve cultural heritage in the face of rapid modernization.
Strategi Adaptasi Elemen Arsitektur Tradisional Jawa untuk Efisiensi Energi Hunian Tropis Modern: Sebuah Systematic Literature Review Zai Dzar Al Farisa; Clara Sarti Widiwati; Dendi Sigit Wahyudi
WASTU: Jurnal Wacana Sains & Teknologi Vol. 7 No. 2 (2026): April
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Merdeka Surabaya.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55173/h3t5j273

Abstract

Lonjakan konsumsi energi untuk pendinginan di kota-kota besar Pulau Jawa menuntut strategi desain pasif yang efektif guna menekan ketergantungan pada pendingin udara mekanis. Penelitian ini bertujuan menyintesis elemen kunci arsitektur tradisional Jawa menjadi model desain terukur yang aplikatif bagi hunian tropis modern. Metode penelitian menggunakan tinjauan literatur sistematis (Systematic Literature Review) berbasis protokol PRISMA dan pemetaan bukti. Data disintesis secara kualitatif dan kuantitatif untuk merumuskan parameter teknis elemen vernakular paling berpengaruh. Hasil mengidentifikasi bahwa integrasi atap berongga, ventilasi atap, dan orientasi bangunan tepat meningkatkan kecepatan udara dalam ruang sebesar 0,5 m/s serta menurunkan suhu hingga 5°C secara alami. Sistem sambungan kayu tradisional berpotensi untuk konstruksi modular tahan gempa, sementara konsep natah diadaptasi menjadi void vertikal di lahan perkotaan padat. Studi ini memberikan kerangka teknis komprehensif dalam mencapai efisiensi energi. Implikasinya adalah perlunya pengakuan kinerja termal sebagai nilai resmi dalam kebijakan konservasi warisan budaya demi pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
Bantuan Teknis Perencanaan dan Perancangan Arsitektur Gereja Katolik Efisien Berbasis Sumber Daya Lokal Efraim Desprinto Lalu; Dendi Sigit Wahyudi; Serafiani Turkaemly Eka Putri; Sefriyani Lea Zudi; Yoan Maureen D. D. Odrada
Jurnal Dremi (Demi Pengabdi Masyarakat) Vol 3 No 2 (2026): Jurnal Demi Pengabdian Masyarakat
Publisher : PT. Penerbit Riset Sadwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The community service program aims to provide technical assistance in the preparation of architectural planning and design document for a Catholic church that is efficient and based on local resource utilization. The activity was conducted at Santa Maria Mater Dei, Amfoang Timur District, Kupang Regency, which faces challenges related to limited building capacity and the deterioration of physical conditions due to aging structures. In addition, the lack of architectural expertise and limited construction funding have become major constraints in developing adequate and representative worship facilities. The implementation method consisted of several stages, including field surveys, identification of technical reuirements and congregation need, development of architectural design concepts, creation of design models or prototypes, and participatory discussions with parish authorities and the local community. The approach applied was participatory and contextual, efficiency without compromising spatial quality and comport. The outputs of this progras include architectural planning and design documents three dimensional design visualizations, and technical recommendations to support the construction phase. The program is expected to produce a chrusch design that is functional, aesthetic, and sustainable, while accommodating the needs of the congregation in the long term. Furthermore, community involvement in the planning process is anticipated to strengthen the sense of ownership and support the social and economic sustainability of the development.