Tasbih
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Digitalisasi Hadis: Perkembangan dan Dampaknya terhadap Pembelajaran Islam Masa Kini Muh. Noer Ghaffar Herman; Muh Arfan Rahman; Tasbih; Muh. Sabir Maidin
Al-Ubudiyah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam Vol 7 No 1 (2026): Education and Islamic Studies
Publisher : STAI DDI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55623/au.v7i1.588

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam bidang studi dan pembelajaran hadis. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan digitalisasi hadis serta dampaknya terhadap pembelajaran Islam pada masa kini. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) dengan mengumpulkan data dari buku, jurnal ilmiah, artikel, dan sumber digital yang relevan dengan kajian hadis dan teknologi pendidikan Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa digitalisasi hadis memberikan kemudahan akses bagi masyarakat dalam mempelajari hadis melalui aplikasi, website, dan media sosial yang menyediakan kitab-kitab hadis secara daring. Selain meningkatkan efektivitas dan efisiensi pembelajaran, digitalisasi hadis juga memperluas jangkauan dakwah dan pengkajian Islam di kalangan generasi muda. Namun, perkembangan tersebut juga menimbulkan tantangan, seperti penyebaran hadis yang tidak valid, rendahnya literasi digital keislaman, dan kurangnya kemampuan masyarakat dalam melakukan verifikasi sumber hadis. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang baik mengenai ilmu hadis serta pengawasan terhadap sumber-sumber digital agar pemanfaatan teknologi dapat mendukung pembelajaran Islam yang autentik dan berkualitas. Dengan demikian, digitalisasi hadis menjadi salah satu inovasi penting dalam pengembangan pendidikan Islam di era modern.
Refleksi Hadis: Hakikat Menuntut Ilmu Deby Aulia Yusfita; Masfirah Ramadhani Budiman; Tasbih
Al-Ubudiyah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam Vol 7 No 1 (2026): Education and Islamic Studies
Publisher : STAI DDI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55623/au.v7i1.589

Abstract

Perkembangan teknologi dan kemudahan akses informasi pada era modern telah membawa perubahan besar dalam proses menuntut ilmu. Pengetahuan kini dapat diperoleh secara cepat melalui media digital, internet, dan kecerdasan buatan. Namun, kondisi tersebut juga memunculkan budaya belajar instan yang cenderung mengabaikan proses pendalaman ilmu, pembentukan karakter, dan pencarian kebenaran secara berkelanjutan. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis dan merefleksikan hadis-hadis tentang hakikat menuntut ilmu dalam perspektif pendidikan Islam, khususnya dalam menghadapi tantangan kehidupan modern. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif melalui pengkajian kitab hadis, buku, jurnal ilmiah, dan berbagai sumber literatur yang relevan. Data dianalisis menggunakan teknik deskriptif untuk memahami kandungan hadis serta relevansinya dengan realitas pendidikan masa kini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam perspektif hadis, menuntut ilmu tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas memperoleh pengetahuan, tetapi juga sebagai proses pembentukan diri yang berlangsung sepanjang hayat. Ilmu dipandang memiliki dimensi intelektual, moral, spiritual, dan sosial yang saling berkaitan. Hadis-hadis Nabi saw. juga menegaskan bahwa ilmu yang bermanfaat memiliki kedudukan yang mulia karena dapat menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Akan tetapi, perkembangan budaya belajar pragmatis dan materialistik di era digital menyebabkan terjadinya pergeseran orientasi ilmu yang lebih menekankan hasil cepat dibandingkan proses pendalaman pemahaman. Oleh sebab itu, refleksi terhadap hadis tentang menuntut ilmu menjadi penting untuk membangun kembali paradigma pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan kualitas manusia dan kebermanfaatan sosial.
Kritik Sanad dan Matan: Upaya Menjaga Otentitas Hadits Nabi Royyan; A. Muhammad Zia Ulhaq; Tasbih; Muh. Sabir Maidin
Al-Ubudiyah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam Vol 7 No 1 (2026): Education and Islamic Studies
Publisher : STAI DDI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55623/au.v7i1.592

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji metode kritik sanad dan kritik matan sebagai upaya ilmiah dalam menjaga otentitas hadits nabi muhammad saw., sekaligus menumbuhkan kesadaran masyarakat agar lebih kritis dan selektif dalam menerima serta menyebarkan hadits di era digital. Manfaat penelitian ini adalah memberikan pemahaman mendalam mengenai perinsip -perinsip ilmu hadits dan menjadi referensi bagi pelajar maupun mahasiswa yang yang mempelajari kritik hadits. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kepustakaan (library research), yaitu menelaah berbagai literatur primer dan sekunder berupa kitab hadits, buku ilmiah, dan jurnal akademik. Data dikumpulkan melalui studi dokumentasi dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kritik sanad berfokus pada penilaian kesinambungan rantai periwayatan (ittisal al-sanad) dan kredibilitas perawi melalui metode al-jarh wa al-ta’dil, sedangkan kritik matan menguji kesesuaian isi hadits dengan Al-Qur’an, hadits yang lebih kuat, akal sehat, fajta sejarah, serta perinsip maqasid al-syari’ah. Suatu hadits dinyatakan shahih apabila memenuhi kedua aspek tersebut secara bersamaan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kritik sanad dan matan dua metode yang saling melengkapi dan esensial dalam menjaga kemurnian ajaran islam , serta penguasaannya perlu disosialisasikan lebih luas kepada masyarakat, khususnya dalam menghadapi maraknya penyebaran informasi keagamaan yang tidak terverifikasi di media digital.
Metodologi Penyusunan Kitab-Kitab Hadis: Studi Komparatif Enam Kitab Hadis Utama dalam Tradisi Keilmuan Islam Anugrah Sekar Diva; Rifqa Fadhlina; Tasbih; Muh. Sabir Maidin
Al-Ubudiyah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam Vol 7 No 1 (2026): Education and Islamic Studies
Publisher : STAI DDI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55623/au.v7i1.593

Abstract

Kajian ini membahas metodologi penyusunan kitab-kitab hadis sebagai disiplin ilmiah dalam tradisi keilmuan Islam. Melalui pendekatan deskriptif-analitis dan kajian kepustakaan (library research), artikel ini menguraikan pengertian metodologi penyusunan kitab hadis, langkah-langkah metodologis mulai dari pengumpulan (tahammul), penulisan, kritik sanad, kritik matan, seleksi, klasifikasi, hingga sistematika penyusunan. Dibahas pula berbagai bentuk metode penyusunan seperti musnad, sunan, jami', mu'jam, mustadrak, mustakhraj, atraf, dan maudhui. Artikel ini juga menyajikan perbandingan karakter metodologis enam kitab hadis utama: Sahih al-Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abi Dawud, Jami' al-Tirmidzi, al-Muwatta', dan Musnad Ahmad. Hasil kajian menunjukkan bahwa setiap kitab hadis memiliki manhaj yang berbeda yang menentukan fungsi dan cara penggunaannya. Pemahaman metodologi ini penting agar pembaca dapat memanfaatkan kitab hadis secara tepat dan proporsional.
Teknik Periwayatan Hadis: Pengertian, Bentuk Periwayatan, Syarat, dan Metode Periwayatan Shiti Rahmah Hatta; Andi Nadila Khaerani; Tasbih; Muh. Sabir Maidin
Al-Ubudiyah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam Vol 7 No 1 (2026): Education and Islamic Studies
Publisher : STAI DDI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55623/au.v7i1.595

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami teknik periwayatan hadis yang meliputi pengertian periwayatan hadis, bentuk-bentuk periwayatan, syarat-syarat periwayatan, serta metode periwayatan hadis. Kajian ini penting dilakukan karena hadis merupakan sumber ajaran Islam kedua setelah Al-Qur’an yang keasliannya harus dijaga melalui sistem periwayatan yang ketat dan terstruktur. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan deskriptif kualitatif melalui pengkajian berbagai literatur yang berkaitan dengan ilmu hadis dan periwayatan hadis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa periwayatan hadis adalah proses penerimaan dan penyampaian hadis dengan menyebutkan sanad secara jelas melalui tahammul dan ada’, serta menjaga keakuratan hadis melalui hafalan, penulisan, dan pengamalan. Bentuk periwayatan hadis terdiri atas periwayatan bil lafadz dan bil makna. Selain itu, periwayatan hadis mensyaratkan perawi yang beragama Islam, adil, dhabith, serta sanad yang bersambung dan terbebas dari cacat. Metode periwayatan hadis meliputi sama’, qira’ah, ijazah, munawalah, mukatabah, i’lam, wasiat, dan wijadah. Kesimpulannya, teknik periwayatan hadis menunjukkan adanya sistem transmisi ilmiah yang teratur dalam menjaga keotentikan hadis sebagai pedoman ajaran Islam.
Hadis-Hadis tentang Perlindungan Hak Asasi Manusia Muhammad Yasin; Abustani Ilyas; Tasbih
Al-fiqh Vol. 4 No. 1 (2026): Al-fiqh : Journal of Islamic Studies
Publisher : CV Global Research Publication

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59996/al-fiqh.v4i1.946

Abstract

Human rights are fundamental rights inherent to every individual that must be respected without discrimination. This study aims to explore the concept of human rights protection within the Hadith of Prophet Muhammad SAW and its relevance to contemporary society. Employing a qualitative approach through library research, primary data were sourced from the Sahih Muslim and other pertinent hadith literatures, which were then analyzed using descriptive-analytical content analysis. The results indicate that the Hadith comprehensively regulates the protection of the right to life, legal justice, security, and honor, as well as social and economic rights for vulnerable groups. These principles align with modern human rights concepts regarding justice and equality; however, they differ in their epistemological foundations, where Islam places revelation as the primary source and emphasizes a balance between rights, obligations, and moral responsibility. The implementation of these Hadith-based values remains highly relevant as an ethical framework for public policy and law enforcement to address modern global challenges, such as social inequality and the abuse of power.
Hadis Tematik Politik Pemerintahan Yoan Febriawan; Abustani Ilyas; Tasbih
Aksioreligia Vol. 4 No. 1 (2026): Aksioreligia : Jurnal Studi Keislaman
Publisher : CV Global Research Publication

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59996/aksioreligia.v4i1.943

Abstract

This study examines the concept of governmental politics from the perspective of the hadiths of prophet muhammad (pbuh) by employing a thematic hadith approach and analyzing the relevance and implementation of its political values within contemporary state governance. As the second primary source of islamic teachings after the qur’an, the prophetic hadith provides normative and ethical foundations concerning leadership, authority, justice, trustworthiness (amanah), consultation (shūrā), and the responsibilities of rulers toward their citizens. Through the thematic hadith approach, this study systematically compiles and analyzes hadiths related to governmental politics, thereby generating a comprehensive and holistic understanding of the subject. The findings reveal that governmental politics in islam is not perceived as a means of pursuing power, but rather as a trust that must be exercised in accordance with the principles of justice, integrity, and public welfare (maṣlaḥah). These values demonstrate strong relevance to contemporary governance practices, particularly in addressing issues such as corruption, abuse of power, weak bureaucratic integrity, and legal injustice. The implementation of the prophetic values contained in the hadiths can be realized through the strengthening of political ethics, the promotion of good governance, the enhancement of public participation, and exemplary leadership. Therefore, the thematic study of hadith makes a significant contribution to the formulation of a contextual and applicable islamic political ethics framework aimed at fostering a just, transparent, and welfare-oriented government.