Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Integrasi Kearifan Lokal Batak Toba dalam Kebijakan Penanggulangan Bencana di Kabupaten Humbang Hasundutan 1. Herlina Panggabean; Dina Mariana Situmeang; Binsan Ripmal Simarangkir; Rini T. Simangunsong; Talenta Emma Renata Marbun; Benyamin Nababan
Journal of Innovative and Creativity (Joecy) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i2.12268

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk-bentuk kearifan lokal Batak Toba serta integrasinya dalam kebijakan penanggulangan bencana di Kabupaten Humbang Hasundutan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-eksploratif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi terhadap 22 informan yang terdiri dari tokoh adat, aparat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), kepala desa, masyarakat terdampak bencana, dan akademisi. Analisis data menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kearifan lokal Batak Toba seperti marsiadapari, Dalihan Na Tolu, pembacaan tanda-tanda alam, ritual adat, dan larangan membuka hutan adat memiliki peran strategis dalam memperkuat mitigasi, kesiapsiagaan, dan pemulihan bencana berbasis komunitas. Integrasi kearifan lokal dalam kebijakan formal penanggulangan bencana telah berjalan pada tingkat moderat, terutama melalui pelibatan tokoh adat dalam sosialisasi dan koordinasi mitigasi, namun masih menghadapi hambatan berupa minimnya dokumentasi pengetahuan lokal, lemahnya regulasi khusus, dan pergeseran budaya generasi muda. Penelitian ini menghasilkan model integrasi berbasis tiga pilar, yaitu pilar sosial, kebijakan, dan edukasi, yang dapat menjadi alternatif dalam membangun tata kelola penanggulangan bencana yang lebih adaptif, partisipatif, dan berkelanjutan di Kabupaten Humbang Hasundutan.
MODEL MANAJEMEN PENDIDIKAN BERBASIS IWEE (INTEGRATED WOMEN ECONOMIC EMPOWERMEN) UNTUK PEMBERDAYAAN EKONOMI PEREMPUAN DI PUNGUAN PAROMPUAN DISTRIK REGIONAL I DISTRIK XVI HUMBANG HABINSARAN Rosalinda Septiani Sitompul; Talenta Emma Renata Marbun; Niarita Bukti; David Yanto Daniel Mahulae; Risma Nurhaini Munte; Jupeng Sihombing; Palado Silitonga
ALAINA: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2026): ALAINA : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT
Publisher : Cendekia Citra Gemilang Scholar Foundation, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61798/alaina.v3i2.1060

Abstract

Program pengabdian kepada masyarakat ini berjudul “Model Manajemen Pendidikan Berbasis IWEE (Integrated Women Economic Empowerment) untuk Pemberdayaan Ekonomi Perempuan di Punguan Parompuan Distrik Regional I Distrik XVI Humbang Habinsaran”. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh kondisi perempuan jemaat yang mayoritas berprofesi sebagai petani cabai dan kerap mengalami kerugian ekonomi saat terjadi panen raya atau penurunan harga cabai, sehingga sebagian hasil panen tidak termanfaatkan secara optimal. Berangkat dari situasi tersebut, program ini menawarkan solusi melalui pengembangan model manajemen pendidikan berbasis IWEE yang mengintegrasikan pendidikan, pelatihan keterampilan, dan pendampingan usaha pengolahan cabai menjadi saus cabai bernilai jual lebih tinggi. Tujuan utama kegiatan adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan perempuan dalam memanfaatkan cabai sebagai produk olahan, memperkuat literasi keuangan dan manajemen usaha sederhana, serta mendorong terbentuknya kelompok usaha perempuan yang mandiri. Pendekatan IWEE digunakan untuk memastikan bahwa proses pemberdayaan tidak hanya berhenti pada pelatihan teknis, tetapi mencakup penguatan kapasitas, partisipasi aktif, dan pengembangan potensi ekonomi berbasis komunitas gerejawi. Metode pelaksanaan meliputi beberapa tahapan: analisis kebutuhan dan potensi perempuan petani cabai; sosialisasi konsep IWEE dan pentingnya nilai tambah komoditas; pelatihan teknis pembuatan saus cabai (seleksi bahan, proses pengolahan, pengemasan, dan standar kebersihan); pelatihan manajemen usaha dan literasi keuangan; serta pendampingan pembentukan kelompok usaha saus cabai. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test, observasi praktik, penilaian kualitas produk, dan refleksi kelompok mengenai rencana tindak lanjut. Hasil yang diharapkan dari program ini adalah meningkatnya pengetahuan dan keterampilan peserta dalam pengolahan cabai, lahirnya produk saus cabai yang layak konsumsi dan potensial dipasarkan, serta terbentuknya kelompok usaha perempuan yang mengelola produksi secara berkelanjutan. Selain itu, program ini diharapkan menjadi model manajemen pendidikan berbasis IWEE yang dapat direplikasi di komunitas perempuan gerejawi lainnya sebagai strategi pemberdayaan ekonomi yang berbasis potensi lokal, modal sosial, dan penguatan peran perempuan dalam keluarga dan masyarakat