Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

INTERPRETASI RUPA BERENDO PADA RUMAH PANGGUNG MELAYU – REJANG DI KOTA BENGKULU Panji Anom Ramawangsa; Atik Prihatiningrum
NALARs Vol 22, No 1 (2023): NALARs Volume 22 Nomor 1 Januari 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.22.1.27-34

Abstract

ABSTRAK. Rumah menjadi kebutuhan primer sebagai tempat berlindung serta membina dalam keluarga. Mayoritas rumah panggung Melayu-Rejang di kota Bengkulu memiliki teras dengan nama lokal yaitu berendo. Berendo difungsikan sebagai tempat interaksi penghuni rumah dengan tetangga sekitar serta bersifat multifungsi untuk kegiatan lain yang dibutuhkan oleh pemilik rumah. Tujuan penelitian ini adalah menjadi pengembangan pendidikan budaya lokal di Bengkulu terutama pengetahuan arsitektur nusantara yang telah bertahan eksistensinya hingga sekarang. Metode yang digunakan adalah deskriptif analisis dengan cara observasi di kota Bengkulu. Pengumpulan data menggunakan alat Geographic Information System (GIS) untuk mendapatkan informasi yang akan dituangkan ke dalam bentuk peta. Hasil penelitian ini didapatkan yaitu jumlah berendo panggung kombinasi kayu dan beton tipe 1 sebanyak 15 unit rumah, berendo panggung kombinasi kayu dan beton tipe 1 sebanyak 47 unit rumah, berendo panggung kayu dengan tangga tengah sebanyak 21 unit, berendo panggung kombinasi kayu dan beton tipe 3 sebanyak 29 unit rumah, berendo panggung kombinasi kayu dan beton tipe 4 sebanyak 30 unit rumah, berendo panggung kayu sebanyak 18 unit rumah. Kesimpulan di dapat yaitu rupa bentuk berendo di rumah panggung Melayu-Rejang kota Bengkulu memiliki aneka ragam bentuk yang dipengaruhi oleh minat dan keinginan oleh pemilik rumah. Kata kunci: Bengkulu, berendo, Melayu – Rejang, vernakular ABSTRACT. The house is a primary need for shelter and fostering in the family. Most Malay-Rejang stilt houses in Bengkulu city have a terrace with a local name, namely Berendo. Berendo functioned as a place of interaction between residents of the house with neighbors and is multifunctional for other activities needed by the homeowner. This research aims to develop local cultural education in Bengkulu, especially knowledge of archipelago architecture, which has survived its existence until now. The method used is a descriptive analysis using observation in the city of Bengkulu, collecting data using Geographic Information System (GIS) tools to obtain information that will be poured into map form. The results of this study received the number of stage combinations of wood and concrete type 1 as many as 15 units of houses, stage combinations of wood and concrete type 1 as many as 47 units of houses, as many as 21 units of wooden stilts with a central staircase, stage combinations of wood and concrete type 3 as many as 29 units of houses, 30 units of wooden and concrete stilt combinations of type 4, 18 units of wooden stilts. The conclusion obtained is that the shape of the Berendo in the Malay-Rejang stilt house in Bengkulu city has various forms which are influenced by the interests and desires of the homeowner. Keywords: Bengkulu, berendo, Melayu – Rejang, vernacular
PEMETAAN RUTE WISATA PARTISIPATIF : SINERGI PENGUATAN KAPASITAS POKDARWIS DAN PROMOSI WISATA KELURAHAN KEMUMU, BENGKULU UTARA Panji Anom Ramawangsa; Atik Prihatiningrum
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6, No 4 (2023): Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v6i4.1179-1187

Abstract

Kelurahan Kemumu lekat dengan adat istiadat dan budaya Jawa karena sebagian besar masyarakat yang bermukim di Kelurahan Kemumu sejak 1935 berasal dari Banyumas dan sekitarnya. Berdasarkan observasi awal ditemukan beberapa permasalahan seperti belum adanya rute kegiatan wisata yang terintegrasi antar atraksi wisata, belum adanya pemetaan data potensi budaya dan sosial kehidupan masyarakat yang berpotensi menjadi atraksi wisata yang terintegrasi dengan atraksi wisata alam yang telah dikenal, perlu adanya pengoptimalan keterlibatan masyarakat terkait pengelolaan destinasi wisata serta beberapa produk dan kegiatan yang berpotensi atraksi wisata seperti tata kehidupan, cara bertani, produk lokal seperti produk anyaman bambu, dan produk kuliner lokal khas Banyumas seperti grontol, cenil, cimplung, gatot, tiwul yang hanya dapat dijumpai di Pasar Selasa Kemumu. Pemetaan potensi atraksi wisata dengan pendekatan partisipatif sangat perlu dilakukan secara partisipatif sehingga kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan dengan metode sosialisasi dan simulasi pengenalan pemetaan partisipatif serta pendampingan pemetaan rute wisata untuk peningkatan kapasitas pokdarwis di Kelurahan Kemumu. Hasil yang didapat dari kegiatan pemetaan rute wisata partisipatif adalah leaflet wisata dan peta kelurahan ukuran A1 untuk dipergunakan sebagai pihak terkait untuk mempromosikan wisata lokal.
PEMBUATAN KERIPIK DARI BATANG POHON PISANG DALAM UPAYA MENINGKATKAN EKONOMI MASYARAKAT DI DESA GINDOSULI dwi oktavallyan saputri; Rafli Bernaldi; Atik Prihatiningrum; Panji Anom Ramawangsa
Archipelago Vol 3, No 2 (2022): Edisi Desember 2022
Publisher : IAIN Ternate

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46339/arc.v3i2.857

Abstract

Pohon pisang menjadi suatu tanaman yang banyak tumbuh di wilayah Asia Tenggara termasuk Indonesia. Selain buahnya, bagian seperti bonggol, batang, dan daunnya juga memiliki banyak manfaat. Di Indonesia sendiri pemanfaatan batang pohon pisang masih jarang dilakukan dikarenakan keterbatasan pengetahuan pada pemanfaatan yang bisa didapatkan dari hasil pengolahan batang tersebut. Batang pohon pisang dapat diolah menjadi keripik yang lezat dan dapat menjadi peluang usaha bisnis. Program kegiatan KKN ini dilaksanakan di Desa Gindosuli, Kecamatan Bunga Mas, Kabupaten Bengkulu Selatan. Pelaksanakan kegiatan ini dilakukan dengan metode penyuluhan atau sosialisasi baik dengan membuat video tutorial maupun dengan mengumpulkan warga sekitar. Diharapkan dengan program pembuatan keripik dari batang pisang ini dapat meningkatkan minat masyarakat Desa Gindosuli, Kecamatan Bunga Mas, Kabupaten Bengkulu Selatan dalam pemanfaatan bagian dari pohon pisang ini.
Penerapan Konsep Co-Living Pada Perancangan Rumah Susun Sederhana di Kota Bengkulu Panji Anom Ramawangsa; Annelis Yovita Dwi Nabila; Debby Seftyarizki
Rachana Interior Vol. 2 No. 01 (2025): April
Publisher : UPN Veteran Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/rachanainterior.v2i01.32

Abstract

Tingginya Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) di Kota Bengkulu dan tidak memiliki pekerjaan tetap berdampak pada banyaknya Rumah Tidak Layak Huni akibat ketidakmampuan masyarakat dalam membayar biaya pembangunan atau perolehan rumah layak huni. Tujuan perancangan ini adalah dalam upaya mendukung program pemerintah dengan menyediakan hunian yang layak beserta fasilitas pendukungnya melalui penerapan konsep hunian co-living terhadap desain rumah susun sederhana dan dapat mengoptimalkan penggunaan lahan dan fungsi lahan. Lingkup bahasan dibatasi dalam lingkup disiplin arsitektur, menggunakan konsep co-living. Perancangan ini diawali dengan kajian menggunakan metode kualitatif deskriptif yang mengidentifikasi isu dan pengumpulan data sebagai dasar melakukan pengolahan data dan analisis yang akan menghasilkan konsep dasar perancangan dan diimplementasikan dalam pengembangan desain. Konsep co-Living memberikan solusi inovatif untuk memenuhi kebutuhan hunian secara fungsional, terjangkau, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Rancangan ini mengusung hunian yang sifatnya privasi sekaligus menciptakan kebersamaan sehingga tercipta hunian yang aman, nyaman, berkualitas dan terjangkau, termasuk dalam pembentukan kembali interaksi sosial antar penghuni dan kegiatan komunal.