Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Hubungan Motivasi Kerja dan Kinerja Karyawan: Tinjauan Sistematis terhadap Penelitian Organisasi dan Manajemen Lili Karmela Fitriani; Nita Anggreyani; Jubelina Amaral Pinto
Edunity Kajian Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. 5 No. 1 (2026): Edunity: Social and Educational Studies
Publisher : PT Publikasiku Academic Solution

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57096/edunity.v5i1.529

Abstract

Perilaku dan kinerja karyawan di dalam sebuah organisasi banyak ditentukan oleh seberapa besar motivasi kerja yang mereka miliki. Berbagai kajian di ranah manajemen dan perilaku organisasi memperlihatkan keterkaitan antara tingkat motivasi dengan produktivitas, mutu hasil kerja, rasa keterikatan pada organisasi, hingga tercapainya sasaran perusahaan. Meski begitu, hasil-hasil penelitian mengenai apa saja yang mendorong motivasi serta bagaimana pengaruhnya terhadap kinerja masih beragam dan belum seragam. Di samping itu, sejauh ini belum banyak upaya menyatukan temuan riset dari konteks organisasi di Indonesia maupun mancanegara ke dalam satu tinjauan yang utuh. Bertolak dari kesenjangan tersebut, artikel ini menyusun tinjauan sistematis atas sejumlah riset yang mengangkat keterkaitan motivasi kerja dengan kinerja karyawan dalam ranah manajemen dan organisasi. Pendekatan yang dipakai adalah Systematic Literature Review (SLR), dengan menelaah pustaka-pustaka relevan seputar motivasi kerja, pemicu-pemicunya, dan dampaknya bagi kinerja karyawan. Telaah ini mendapati bahwa motivasi kerja berkorelasi positif dengan kinerja karyawan, dan unsur-unsur seperti penghargaan, jenjang karier, kondisi lingkungan kerja, gaya kepemimpinan, serta keterlibatan karyawan terbukti mendorong naiknya motivasi. Sejumlah teori motivasi mulai dari Hierarki Kebutuhan Maslow, Dua Faktor Herzberg, Kebutuhan McClelland, Penetapan Tujuan, Keadilan, hingga Ekspektansi masih dipakai sebagai kerangka utama untuk menerangkan kaitan motivasi dan kinerja. Tinjauan ini melibatkan 25 artikel ilmiah terbitan 2015-2024. Temuannya menegaskan bahwa pengelolaan motivasi kerja yang tepat sasaran bisa menjadi strategi kunci bagi organisasi untuk mendongkrak kinerja karyawan sekaligus mencapai sasaran organisasi secara berkesinambungan.
Pengaruh Manajemen Konflik dan Negosiasi terhadap Komitmen Organisasi di Era Transformasi Digital: Tinjauan Literatur Sistematis Lili Karmela Fitriani; Imam Safei Muslim; Ginna Novarianti Dwi Putri Pramesti
Edunity Kajian Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. 5 No. 2 (2026): Edunity: Social and Educational Studies
Publisher : PT Publikasiku Academic Solution

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57096/edunity.v5i2.530

Abstract

Transformasi digital telah mengubah cara organisasi beroperasi, berkomunikasi, dan berkolaborasi, sekaligus meningkatkan potensi konflik akibat perubahan teknologi, pola kerja virtual, dan dinamika hubungan kerja yang semakin kompleks. Dalam kondisi tersebut, manajemen konflik dan negosiasi menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi tingkat komitmen organisasi karyawan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mensintesis pengaruh manajemen konflik dan negosiasi terhadap komitmen organisasi dalam konteks transformasi digital. Penelitian menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan mengacu pada pedoman PRISMA 2020. Data diperoleh dari artikel ilmiah yang terindeks pada Scopus, Web of Science, dan Google Scholar. Proses seleksi dilakukan melalui tahap identifikasi, penyaringan, penilaian kelayakan, dan sintesis terhadap 25 artikel yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen konflik yang berorientasi kolaboratif berkontribusi positif terhadap peningkatan komitmen organisasi melalui penguatan kepercayaan, komunikasi terbuka, dan persepsi keadilan. Selain itu, strategi negosiasi integratif terbukti lebih efektif dibandingkan negosiasi distributif dalam membangun hubungan kerja yang berkelanjutan dan meningkatkan keterikatan karyawan terhadap organisasi. Transformasi digital juga berperan sebagai faktor kontekstual yang memoderasi hubungan tersebut melalui kematangan digital organisasi, literasi digital karyawan, dan pola kerja virtual. Temuan ini memberikan implikasi bagi pengembangan teori perilaku organisasi serta menjadi acuan praktis bagi pimpinan dan praktisi sumber daya manusia dalam mendukung keberhasilan transformasi digital. Orisinalitas penelitian terletak pada integrasi manajemen konflik, negosiasi, komitmen organisasi, dan transformasi digital dalam satu kerangka konseptual yang komprehensif.
Struktur Organisasi dan Budaya Organisasi sebagai Faktor Penentu Efektivitas Organisasi Nadia Dwi Yulianti; Lili Karmela Fitriani; Salsa Wulandari Pratama
Edunity Kajian Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. 5 No. 1 (2026): Edunity: Social and Educational Studies
Publisher : PT Publikasiku Academic Solution

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perubahan lingkungan bisnis, digitalisasi, dan tuntutan pemangku kepentingan mendorong organisasi menata ulang cara kerja, kewenangan, dan nilai yang mengarahkan perilaku anggota. Literatur organisasi umumnya mengkaji struktur dan budaya secara terpisah, sehingga belum menjelaskan mengapa struktur serupa dapat menghasilkan efektivitas berbeda pada organisasi dengan karakter budaya berbeda. Artikel ini bertujuan menganalisis bagaimana struktur organisasi memengaruhi efektivitas, bagaimana budaya organisasi membentuk perilaku dan hasil organisasi, serta dalam kondisi apa keselarasan keduanya memperkuat efektivitas organisasi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui kajian pustaka naratif-terstruktur atas buku, artikel jurnal terindeks, dan tinjauan sistematis, terutama terbitan 2019-2025 ditambah literatur fondasional untuk teori kontingensi dan budaya, dipilih berdasarkan relevansi, kebaruan, dan kredibilitas penerbit. Hasil kajian menunjukkan struktur yang jelas tetapi adaptif memperbaiki koordinasi, kecepatan keputusan, dan efisiensi, sedangkan budaya yang mendukung pembelajaran, kolaborasi, dan keselamatan psikologis meningkatkan komitmen serta inovasi. Efektivitas tertinggi muncul ketika struktur selaras dengan budaya, strategi, teknologi, ukuran, dan ketidakpastian lingkungan; ketidaksesuaian memunculkan silo, konflik peran, dan keterlambatan keputusan. Pada sektor perbankan dan pendidikan, transformasi digital menuntut desentralisasi terarah, tim lintas fungsi, dan budaya belajar berkelanjutan. Penelitian ini menawarkan kerangka integratif yang menempatkan komunikasi, kepemimpinan, pembelajaran, dan inovasi sebagai mekanisme penghubung struktur-budaya dan efektivitas, sekaligus dasar diagnostik bagi pimpinan merancang dan mengevaluasi perubahan struktural dan budaya.
Transformasi Kelompok Kerja Menjadi Tim Kerja Berkinerja Tinggi di Sektor Swasta dan Publik: Kajian Literatur Sistematis (Systematic Literature Review) Pirman Setiawan; Lili Karmela Fitriani; Rizco Sumarlin
Edunity Kajian Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. 5 No. 2 (2026): Edunity: Social and Educational Studies
Publisher : PT Publikasiku Academic Solution

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57096/edunity.v5i2.535

Abstract

Perubahan lingkungan bisnis yang dinamis menuntut organisasi di sektor swasta maupun publik untuk mengubah paradigma pengelolaan sumber daya manusia, dari basis kerja individual-kelompok menuju kerja tim yang bersinergi positif. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan fondasi perilaku kelompok, menganalisis faktor penentu efektivitas tim kerja, serta membandingkan dinamika implementasinya di sektor swasta dan sektor publik menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR). Berdasarkan protokol PRISMA, sebanyak 15 jurnal bereputasi dari basis data Scopus, ScienceDirect, dan Google Scholar dari rentang waktu 2018–2026 dipilih dan diekstraksi secara sistematis. Hasil penelaahan menunjukkan bahwa kelompok kerja (work groups) di sektor publik sering kali mandek akibat kekakuan hierarki, konflik peran, dan tekanan konformitas, dengan salah satu studi kasus melaporkan hingga 70% satuan tugas lintas dinas gagal mencapai target akibat konflik peran. Sebaliknya, sektor swasta lebih adaptif dalam mentransformasikan kelompok menjadi tim kerja (work teams) yang efektif melalui pembentukan iklim kepercayaan psikologis (psychological safety) yang terbukti meningkatkan kapasitas inovasi tim hingga 45%, mitigasi kemalasan sosial (social loafing), serta pemanfaatan konflik tugas yang konstruktif. Penelitian ini merumuskan implikasi teoretis berupa penguatan Team Effectiveness Model dengan dimensi komparatif sektor, serta implikasi manajerial berupa rekomendasi restrukturisasi sistem insentif dan pembatasan ukuran tim antara 5–9 orang bagi tata kelola tim lintas fungsi di kedua sektor.
Mengelola Perubahan dan Manajemen Stres dalam Organisasi: Sebuah Kajian Literatur dalam Perspektif Perilaku Dan Budaya Organisasi Nia Aghniyatul Ilmi; Muhammad Naufal Harits; Eka Febrian Nugraha; Lili Karmela Fitriani
Jurnal Ekonomi, Teknologi dan Bisnis Vol. 5 No. 4 (2026): Jurnal Ekonomi, Teknologi dan Bisnis
Publisher : Al-Makki Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57185/42n4sb79

Abstract

Perubahan organisasi merupakan fenomena yang tidak dapat dihindari akibat dinamika lingkungan bisnis yang terus berkembang, mulai dari perkembangan teknologi, pergeseran pasar, hingga tuntutan daya saing. Di sisi lain, proses perubahan kerap memunculkan tekanan psikologis atau stres kerja yang, apabila tidak dikelola dengan tepat, dapat menurunkan kinerja dan kesejahteraan karyawan. Penelitian ini bertujuan mengkaji secara konseptual keterkaitan antara manajemen perubahan dan manajemen stres dalam organisasi melalui pendekatan tinjauan literatur (literature review). Metode yang digunakan adalah deskriptif-kualitatif dengan menelaah berbagai sumber pustaka relevan, meliputi teori perubahan model Kurt Lewin, model delapan langkah John Kotter, serta konsep manajemen stres pada level individu dan organisasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa keberhasilan implementasi perubahan sangat dipengaruhi oleh kemampuan pemimpin dalam mengomunikasikan visi secara jelas, melibatkan karyawan dalam proses perubahan, serta menyediakan pelatihan dan dukungan manajerial yang konsisten. Selain itu, stres kerja yang timbul akibat proses perubahan dapat diminimalkan melalui kombinasi strategi individu, seperti olahraga, manajemen waktu, dan istirahat yang cukup, dengan strategi organisasi, seperti penciptaan lingkungan kerja yang sehat, dukungan sosial, program kesejahteraan, dan fleksibilitas kerja. Kajian ini menyimpulkan bahwa organisasi yang mampu mengintegrasikan manajemen perubahan dengan manajemen stres secara simultan akan lebih siap membangun budaya organisasi yang adaptif, resilien, dan berkelanjutan.