Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search
Journal : Bandung Conference Series : Medical Science

Scoping Review: Perbandingan antara Intermittent Fasting dengan Ketogenic Diet terhadap Penurunan Berat Badan pada Orang Dewasa dengan Obesitas Safira Pinandita Kusumah; Yoyoh Yusroh; R. Rizky Suganda Prawiradilaga
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.309

Abstract

Abstract. In the worldwide, obesity cases have increased drastically in the last 10 years, so it is a nutritional problem that needs considerable attention. In recent years there are several diet programs that are carried out by many people in the world, including the intermittent fasting (IF) and ketogenic diet (KD). The aim of this study was to compare IF with KD to weight loss in obese adults. This study adopts the method of scoping review, and the samples used are international scientific articles that have passed the screening and feasibility testing stages. The results in this study were taken from 3 different databases, Pubmed, Ovid, and Proquest according to the inclusion and exclusion criteria taken from 2011–2021. Among the 36.799 articles in the preliminary search, 4 articles were obtained for qualitative analysis. The results showed that the percentage of weight loss from the 2 IF studies had a range of 2.9-8.5%, while the 2 KD studies had a range of 3.9-10%. From this, the percentage of KD weight loss is higher than that of IF. This may be due to the lower daily calories and more time on the KD diet compared to the IF diet. Abstrak. Di seluruh dunia, obesitas mengalami peningkatan kasus secara drastis dalam 10 tahun terakhir, sehingga termasuk ke dalam masalah gizi yang perlu mendapatkan perhatian secara serius. Beberapa tahun terakhir terdapat beberapa program diet yang banyak dilakukan oleh masyarakat, diantaranya intermittent fasting (IF) dan ketogenic diet (KD). Tujuan penelitian ini untuk membandingkan IF dengan KD terhadap penurunan berat badan pada orang dewasa dengan obesitas. Penelitian ini menggunakan metode scoping review dan sampel yang digunakan merupakan artikel ilmiah internasional yang sudah melewati fase skrining dan uji kelayakan. Hasil dari penelitian ini diambil dari 3 database yang berbeda, yaitu Pubmed, Ovid, dan Proquest sesuai kriteria inklusi dan eksklusi yang diambil dari tahun 2011–2021. Dari 36.799 artikel yang diperoleh pada pencarian awal, didapatkan 4 artikel yang dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa persentase penurunan berat badan dari 2 penelitian IF yaitu 2,9-8,5%, sedangkan 2 penelitian KD 3,9-10%. Berdasarkan data tersebut terlihat bahwa persentase penurunan berat badan KD lebih tinggi dibandingkan dengan IF. Hal tersebut mungkin disebabkan karena rendahnya asupan kalori harian pada diet KD dan waktu yang dibutuhkan pada diet KD lebih lama dibandingkan diet IF.
Scoping Riview: Efektivitas Diet Mediterania dalam Menurunkan Tekanan Darah pada Lansia Hipertensi Robby Nurdiansyah; R.Rizky Suganda
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.333

Abstract

Abstract. Hypertension is one of the non-communicable diseases and is often found in the community, besides that it is a major risk of premature death. and changing one risk factor for hypertension is one that can be used as an effort to prevent hypertension, especially changing diet, one of which is by using the Mediterranean diet method. Based on this phenomenon, the problems in this study are: 1) Is the mediterranean diet effective in lowering blood pressure in elderly patients with hypertension? The research was conducted using the scoping review method and the sample used was an international scientific article that met the criteria (appropriate). The results of this study came from 4 databases, namely Springer Link, Science Direct, OVID, and Pubmed with 8,610 search results and 5 articles that matched (qualified) articles. The results of this scoping review show that the Mediterranean diet can reduce blood pressure in the elderly, which is characterized by the effect of the Mediterranean diet on the expression of genes associated with hypertension. So it can be concluded from this study that there is an effect of the Mediterranean diet on reducing blood pressure in the elderly. Abstrak. Hipertensi merupakan salah satu dari penyakit yang tidak menular dan sering ditemukan di masyarakat, selain itu merupakan risiko utama terjadi kematian dini. Menghindari dan mengubah faktor risiko hipertensi adalah salah satu cara yang dapat digunakan sebagai upaya preventif pada hipertensi, terutama mengubah pola makan, salah satunya dengan menggunakan metode diet mediterania. Berdasarkan fenomena tersebut maka permasalahan dalam penelitian ini adalah: 1) Apakah diet mediterania efektif dalam menurunkan tekanan darah pada pasien lansia penderita hipertensi? Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode scoping review dan sampel yang digunakan merupakan artikel ilmiah internasional yang memenuhi kriteria kelayakan (eligible). Hasil penelitian ini berasal dari 4 database, yaitu Springer Link, Science Direct, OVID, dan Pubmed dengan didapatkan hasil pencarian awal terdapat 8.610 dan artikel yang memenuhi kelayakan (eligible) ada 5 artikel. Hasil scoping review ini menunjukkan bahwa diet mediterania dapat menurunkan tekanan darah pada lansia, yang ditandai dengan efek diet mediterania terhadap ekspresi gen yang berhubungan dengan hipertensi. Sehingga dapat ditarik simpulan penelitian ini bahwa terdapat pengaruh diet mediterania terhadap penurunan tekanan darah pada lansia.
Hubungan Kebiasaan Mengonsumsi Makanan Pedas dengan Indeks Massa Tubuh pada Wanita Dewasa di Kota Tasikmalaya pada Tahun 2021 Aulia Nurfajriani Suseno; Rizky Suganda Prawiradilaga Suseno; Panca Bagja Mohamad
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.540

Abstract

Abstract. Many people enjoy spicy food that consumed comes from chili. Chili contains capsaicin which is considered give a pleasant or euphoric taste when consumed. Indonesian people usually eat sambal as spicy food. However, consuming spicy foods with calories some people seem consume large amounts and add complementary foods to reduce the spiciness (rice, juice, sweet drinks, etc.). The addition of calorie intake is risk of increasing body weight. The purpose of this study was to determine association between the spicy food consuming habit and body mass index (BMI) in adult women in Tasikmalaya City in 2021. This type of research is analytic observational study with cross-sectional. The number of samples is 96 adult women aged 20-45 years and the sampling technique used is random sampling. All participants were given spicy dietary habit questionnaire to obtain the primary data. The Kruskal-Wallis H test was used to analyze. The results showed that the pattern of interest spicy food was moderately interested category, interested/very interested, and not interested/very not interested respectively, namely 52.1%, 34.4%, and 13.5%. The frequency of the habit of eating spicy food was 43.8% for often (>4x/week), 42.7% for rarely/never (<4x/week), and 13.5% for very often (≥1x/day). The frequency of eating spicy snacks, 65.6% for rarely/never (<4x/week), 29.2% for frequent (>4x/week), and 5.2% for very often (≥1x/day). The preference for spicy food in category interested/very interested is obtained who have obesity. There were no significant relationship between the interested/very interested in spicy food (p=0.313), the habit of consuming spicy food (p=0.323), and the habit of consuming spicy snacks (p=0.724) with BMI. Abstrak. Banyak orang menikmati makanan pedas yang dikonsumsi berasal dari cabai. Cabai mengandung capsaicin yang dianggap memberi rasa menyenangkan atau euphoric saat dikonsumsi. Masyarakat Indonesia biasa mengonsumsi sambal sebagai makanan pedas. Akan tetapi, dalam mengonsumsi makanan pedas yang berkalori, sebagian orang terlihat mengonsumsi dalam jumlah yang banyak dan menambah makanan pendamping lain untuk mengurangi kepedasannya (nasi, jus, minuman manis, dsb.). Penambahan asupan kalori ini berisiko terhadap peningkatan berat badan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan kebiasaan mengonsumsi makanan pedas dengan indeks massa tubuh (IMT) pada wanita dewasa di Kota Tasikmalaya pada Tahun 2021. Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Jumlah sampel adalah 96 wanita dewasa dengan usia 20-45 tahun dan teknik pengambilan sampel menggunakan random sampling. Data yang didapatkan adalah data primer menggunakan instrumen kuesioner. Uji analisis yang digunakan adalah Uji Kruskal-Wallis H. Hasil penelitian didapatkan pola kesukaan terhadap makanan pedas dengan kategori sedang-sedang saja, suka/sangat suka, dan tidak/kurang suka secara berurutan yaitu 52.1%, 34.4%, dan 13.5%. Frekuensi pola kebiasaan makan makanan pedas adalah 43.8% untuk kategori sering (>4x/minggu), 42.7% untuk jarang/tidak pernah (<4x/minggu), dan 13.5% untuk sering sekali (≥1x/hari). Untuk frekuensi kebiasaan makan cemilan pedas, 65.6% untuk kategori jarang/tidak pernah (<4x/minggu), 29.2% untuk sering (>4x/minggu) dan 5.2% untuk sering sekali (≥1x/hari). Kesukaan terhadap makanan pedas dengan kategori suka/ sangat suka didapat yang memiliki status gizi obesitas. Tidak ada hubungan signifikan antara kesukaan/keminatan makanan pedas (p=0.313), kebiasaan mengonsumsi makanan pedas (p=0.323), dan kebiasaan mengonsumsi cemilan pedas (p=0.724) dengan IMT.
Hubungan antara Aktivitas Fisik dengan Indeks Massa Tubuh pada Pegawai Bank saat Pandemi Covid-19 di Kota Bandung Arlin Rian Nadira; Rizky Suganda Prawiradilaga; Nurul Annisa Abdullah
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.1816

Abstract

Abstract. Low physical activity prompt unused energy to be stored as fat, thus it can affect a person's nutritional status as measured by Body Mass Index (BMI). Jobs with low physical activity for instance are bank workers, moreover, the current COVID-19 outbreak has limited a person’s daily activities. This study aims to see the relationship between physical activity and BMI of BCA Bank employee during the COVID-19 pandemic in Bandung city. Analysis of the relationship using the chi-square test with a cross-sectional approach. Self-report data collection using the Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ) to study physical activity patterns. The research subjects were 130 administrative employees of the BCA Bank employee during the COVID-19 pandemic in Bandung city, men and women aged 20 – 64 years old. The results showed that most of the employees (59.2%) has a low level of physical activity. The majority of BMI status of the employee is classified as in the normal category (61.5%). The results of the analysis show that there is no significant relationship (p=0,120) between physical activity and BMI of BCA Bank employee during the COVID-19 pandemic in Bandung city. Based on these results, there is no significant relationship between physical activity and BMI can be caused by the influence of other factors that affect BMI other than physical activity. Abstrak. Aktivitas fisik yang rendah menyebabkan energi yang tidak digunakan disimpan sebagai lemak, sehingga mampu memengaruhi status gizi seseorang yang diukur dengan Indeks Massa Tubuh (IMT). Pekerjaan dengan aktivitas fisik rendah salah satunya adalah pekerja bank, terlebih lagi, adanya wabah COVID-19 saat ini semakin membatasi aktivitas sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara aktivitas fisik dengan IMT pegawai Bank BCA Kota Bandung saat pandemi COVID-19 di Kota Bandung. Pengambilan data secara self-report menggunakan Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ) untuk mempelajari pola aktivitas fisik. Subjek penelitian merupakan pegawai administratif bank BCA Kota Bandung berjumlah 130 orang, pria maupun wanita berusia 20 – 64 tahun. Analisis hubungan menggunakan uji chi-square dengan pendekatan cross-sectional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar (59,2%) pegawai bank memiliki aktivitas fisik rendah. Mayoritas status IMT pegawai bank tergolong dalam kategori normal (61,5%). Hasil analisis menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna (p=0.120) antara aktivitas fisik dengan IMT pada pegawai bank saat pandemi COVID-19 di Kota Bandung. Berdasarkan hasil tersebut, tidak adanya hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dengan IMT dapat disebabkan oleh adanya pengaruh dari faktor lain yang mampu mempengaruhi IMT selain aktivitas fisik.
Hubungan Antara Obesitas dengan Penghargaan Diri (Self-Esteem) pada Orang Dewasa Annisa Salsabila Nurramadhani; Gemah Nuripah; Rizky Suganda Prawiradilaga
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.2255

Abstract

Abstract. Obese people have a stigma that they are lazy and cannot control themselves which in turn can affect how they judge themselves and form their self-concept or also known as self-esteem. This study aims to analyze the relationship between obesity and self-esteem in the city of Bandung. This research design uses an observational analytic method with a cross-sectional approach. Obtained 63 adult respondents selected by purposive sampling method. Data were collected using the Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES) questionnaire which has 10 likert items with opposite ratings based on four categories of answers. Body mass index (BMI) in subjects was calculated by researchers using the WHO's BMI calculator. Bivariate analysis with Chi-Square test using IBM SPSS version 26. The results showed that the percentage of normal-high self-esteem category in individuals with a normal BMI was 74.3% and in individuals who had a BMI Obesity 60.7%. The results of the analysis showed that there was no significant difference (p-value = 0.250) between normal BMI and obesity in terms of self-esteem. Self-esteem is influenced by many things such as the environment, friends, family, and even globalization from foreign cultures. The conclusion obtained from this research is that there is no relationship between obesity and self-esteem in adults in the city of Bandung. Abstrak. Penderita obesitas memiliki stigma bahwa mereka adalah orang malas dan tidak bisa mengontrol diri yang berikutnya dapat berpengaruh pada bagaimana mereka menilai dirinya sendiri dan membentuk konsep dirinya atau disebut juga sebagai penghargaan diri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara obesitas dengan penghargaan diri di Kota Bandung. Rancangan penelitian ini menggunakan metode analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Didapatkan 63 responden orang dewasa terpilih dengan metode purposive sampling. Data diambil dengan menggunakan kuesioner Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES) yang memiliki 10 item likert dengan penilaian yang berkebalikan berdasarkan empat kategori jawaban. Indeks massa tubuh (IMT) pada subjek dihitung oleh peneliti menggunakan kalkulator IMT dari WHO. Analisis bivariat dengan uji Chi-Square menggunakan IBM SPSS versi 26. Hasil penelitian didapatkan persentase kategori penghargaan diri normal-tinggi pada individu yang memiliki IMT normal 74,3% dan pada individu yang memiliki IMT Obesitas 60,7%. Hasil analisis menunjukkan tidak terdapatperbedaan yang signifikan (p-value = 0,250) antara IMT normal dengan obesitas dalam hal penghargaan diri. Penghargaan diri dipengaruhi dari banyak hal seperti lingkungan, teman, keluarga, bahkan globalisasi dari budaya asing. Simpulan yang didapatkan dari penilitian ini adalah tidak terdapat hubungan antara obesitas dengan penghargaan diri pada orang dewasa di Kota Bandung.
Hubungan Pengetahuan dan Sikap terhadap Tindakan Mengenai Aktivitas Fisik pada Siswa SMA Negeri 1 Cikalong Wetan Dafa Abiyuhafizh; R. Rizky Suganda Prawiradilaga; Widhy Yudistira Nalapraya
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.5555

Abstract

Abstract Being physically inactive is the fourth-highest risk factor for death worldwide. According to the WHO, 85% to 90% of teenagers in Indonesia are not physically active. The KAP survey will be used in this study to identify the factors that lead to teenagers' lack of physical exercise. This study is an observational study with a cross-sectional approach. Samples were taken by purposive sampling of one hundred nine students of SHS 1 Cikalong Wetan with an age range of 16-18 years. KAP data is collected using google forms. Physical activity was measured using the WHO-issued PAQ-A questionnaire. The data analysis used is the Speraman correlation test. The findings of the correlation test revealed no association between knowledge and action (p-value = 0.536) and between knowledge and attitude (p-value = 0.312). The correlation between attitude and action was tested, and the results revealed that there was a relationship (p-value = 0), while it had a rather weak relationship strength (r = 0.399). The majority of students are knowledgeable about physical activity, but they struggle with attitudes and actions related to it. Researchers advise schools to organize an activity and implement policies that will improve time and motivation for physical activity. Abstrak. Ketidak-aktifan secara fisik adalah faktor risiko terbesar keempat untuk kematian secara global. Dilaporkan dari WHO, prevalensi remaja di Indonesia yang tidak aktif secara fisik sebanyak 85% - 90%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab ketidak-aktifan secara fisik pada remaja dengan menggunakan survei KAP. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan potong lintang. Sampel diambil secara purposive sampling sebanyak 109 siswa SMA Negeri 1 Cikalong Wetan dengan rentang umur 16 – 18 tahun. Data pengetahuan, sikap dan tindakan mengenai aktivias fisik diambil menggunakan google formulir. Aktivitas fisik diukur menggunkan kuesioner PAQ-A yang dikelluarkan WHO. Analisa data yang digunakan ialah uji korelasi Speraman. Hasil uji korelasi antara pengentahuan terhadap tindakan menunjukan tidak adanya hubungan (p = 0,536) dan antara pengetahuan dan sikap tidak terdapat adanya hubungan (p = 0,312). Hasil uji korelasi antara sikap dengan tindakan menunjukan terdapat adanya hubungan (p = 0) yang memiliki kekuatan hubungan yang cukup rendah(r = 0,399). Mayoritas siswa memiliki pengetahuan yang baik mengenai aktivitas fisik tetapi kurang baik dalam sikap dan tindakan terhadap aktivitas fisik. Peneliti menyarankan agar sekolah dapat mengadakan suatu acara dan membuat regulasi yang dapat meningkatkan motivasi serta waktu untuk melaksanaan aktivitas fisik.
Indeks Massa Tubuh dan Persentase Lemak Tubuh Berhubungan dengan Tingkat Aktivitas Fisik Namun Tidak dengan Kesiapan Melakukan Aktivitas Fisik pada Mahasiswa Fauzi Chandra Nugraha; Indri Budiarti; Rizky Suganda Prawiradilaga
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6646

Abstract

Abstract. The incidence of obesity is increasing every year. This can be caused by excessive food intake and lack of physical activity. To do physical activity requires readiness to do so. Readiness to engage in physical activity can be affected by poor mobility and health. This study aimed to analyze the relationship between body mass index (BMI) and body fat percentage with the level and readiness of physical activity in FK UNISBA students. The research respondent collection technique uses probability sampling which is disproportionate purposive sampling. Respondents in this study met the inclusion criteria for 2019, 2020, 2021 FK UNISBA students, healthy conditions, willing to fill informed consent and exclusion criteria, having chronic diseases, and incomplete questionnaire data. The variables measured were height and weight to determine BMI, body fat percentage, level of physical activity based on IPAQ questionnaire, and readiness for physical activity based on the PAR-Q questionnaire. The test used in this study is Spearman's correlation test. Results showed significant relationship between BMI and the level of physical activity or between the percentage of body fat and the level of physical activity (both P <0.01, r=-0.204, r=-0.197). However, there was no significant relationship between BMI or body fat percentage and readiness for physical activity (P=0.12 and P=0.82). These results, it can be concluded that the higher the BMI and body fat percentage, the lower the level of physical activity. Students are expected to be able to maintain their weight at an optimal state and continue to increase physical activity. Abstrak. Kejadian obesitas meningkat setiap tahunnya. Hal ini bisa disebabkan asupan makanan yang berlebihan dan kurangnya aktivitas fisik. Untuk melakukan aktivitas fisik diperlukan kesiapan untuk melakukannya. Kesiapan untuk melakukan aktivitas fisik dapat dipengaruhi oleh mobilitas dan kesehatan yang buruk. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan indeks massa tubuh (IMT) dan persentase lemak tubuh dengan tingkat dan kesiapan aktivitas fisik pada mahasiswa FK UNISBA. Teknik pengambilan responden penelitian menggunakan probability sampling yang disproportionate purposive sampling. Responden pada penelitian ini memenuhi kriteria inklusi mahasiswa FK UNISBA 2019,2020,2021, kondisi sehat, bersedia mengisi Iinformed consent dan kriteria ekslusi memiliki penyakit kronis, data kuisioner tidak lengkap. Variabel yang diukur adalah tinggi badan dan berat badan untuk menentukan IMT, persentase lemak tubuh, tingkat aktivitas fisik berdasarkan kuesioner IPAQ, dan kesiapan aktivitas fisik berdasarkan kuesioner PAR-Q. Uji yang digunakan pada penelitian ini adalah uji korelasi Spearman’s. Hasil menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara IMT dengan tingkat aktivitas fisik ataupun antara persentase lemak tubuh dengan tingkat aktivitas fisik (keduanya P < 0.01, r=-0.204, r=-0.197). Namun, tidak terdapat hubungan yang bermakna antara IMT ataupun persentase lemak tubuh dengan kesiapan aktivitas fisik (P=0,12 dan P=0.82). Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi IMT dan persentase lemak tubuh maka semakin rendah tingkat aktivitas fisiknya. Mahasiswa diharapkan dapat menjaga berat badannya pada keadaan optimal dan terus meningkatkan aktivitas fisiknya.
Hubungan Self-Care Management dengan Kualitas Hidup Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 pada Masa Pandemi Covid-19 Tahun 2020-2021 di RS Abdoel Moeloek Bandar Lampung Muhammad Ramanda Pasha; Rizky Suganda Prawiradilaga; Nugraha Sutadipura
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.5978

Abstract

Abstract. Self-care is an action or behavior of a person that is carried out periodically and is rational. One of the self-care management is diabetes mellitus. Self-care in diabetes mellitus aims to treat and prevent complications by controlling blood sugar. This is especially important during the Covid 19 pandemic because a person becomes more easily infected, especially individuals with comorbid type 2 DM. The purpose of this study was to determine the relationship between self care management and the quality of life of type 2 DM patients at Abdoel Moeloek Hospital. The method used by this researcher uses a cross-sectional design method with consecutive sampling techniques and a favorable approach by asking questions and answers to respondents and respondents filling out the Diabetes Self-care Management Quisonare (DSMQ) and Diabetes Quality of Life (DQOL) questionnaires. Subjects in this study totaled 99 samples of patient medical records adjusted for the inclusion and exclusion criteria of the study. Processing of research data was carried out in a computerized manner including analysis using the Chi-square test. the researchers found that 46.5% of the respondents had sufficient self-care management, with a total of 41.4% of the patients' quality of life sufficient. The results of the chi square test obtained in this study were p = 0.23. This study shows that there is no relationship between self-care management and the quality of life of type 2 DM patients at Abdoel Moeloek Hospital Bandar Lampung. This is likely influenced by several factors such as level of education and system support. Abstrak. Self-care merupakan tindakan atau perilaku seseorang yang dilakukan secara berkala dan bersifat rasional, Salah satu manajemen self-care yaitu dalam penyakit diabetes mellitus. Self-caredalam diabetes mellitus bertujuan untuk mengendalikan serta mencegah terjadi komplikasi dengan melakukan kontrol gula darah. Hal ini merupakan hal yang penting terutama pada masa pandemi covid 19 karena seseorang menjadi lebih mudah terinfeksi terutama individu dengan komorbid DM tipe 2. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara manajemen self-care dengan kualitas hidup pasien DM tipe 2 di RSUD Abdoel Moeloek. Metode yang digunakan peneliti ini menggunakan design metode cross sectional dengan teknik consecutive sampling pendekatan favorable dengan cara tanya jawab kepada responden dan responden melakukan pengisian kuesioner Diabetes Self-care Management quisonare (DSMQ) dan Diabetes Quality of Life (DQOL). Subjek pada penelitian ini berjumlah 99 sampel rekam medis pasien yang disesuaikan dengan kriteria inklusi dan ekslusi penelitian. Pengolahan data penilitian dilakukan secara komputerisasi meliputi analisis dengan menggunakan Chi-square test. peneliti mendapatkan hasil sebanyak 46,5% responden memiliki manajemen self-care yang cukup, dengan total 41,4% kualitas hidup pasien yang cukup. Hasil uji chi square yang didapatkan pada penelitian ini sebesar p = 0,23. Penelitian ini menunjukkan tidak ada hubungan antara manajemen self-care dengan kualitas hidup pasien DM tipe 2 di RSUD Abdoel Moeloek Bandar Lampung. Hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti tingkat pendidikan dan sistem pendukung
Hubungan Pengetahuan dan Sikap terhadap Tindakan Mengenai Aktivitas Fisik pada Siswa SMA Negeri 1 Cikalong Wetan Dafa Abiyuhafizh; R. Rizky Suganda Prawiradilaga; Widhy Yudistira Nalapraya
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.5737

Abstract

Abstract Being physically inactive is the fourth-highest risk factor for death worldwide. According to the WHO, 85% to 90% of teenagers in Indonesia are not physically active. The KAP survey will be used in this study to identify the factors that lead to teenagers' lack of physical exercise. This study is an observational study with a cross-sectional approach. Samples were taken by purposive sampling of one hundred nine students of SHS 1 Cikalong Wetan with an age range of 16-18 years. KAP data is collected using google forms. Physical activity was measured using the WHO-issued PAQ-A questionnaire. The data analysis used is the Speraman correlation test. The findings of the correlation test revealed no association between knowledge and action (p-value = 0.536) and between knowledge and attitude (p-value = 0.312). The correlation between attitude and action was tested, and the results revealed that there was a relationship (p-value = 0), while it had a rather weak relationship strength (r = 0.399). The majority of students are knowledgeable about physical activity, but they struggle with attitudes and actions related to it. Researchers advise schools to organize an activity and implement policies that will improve time and motivation for physical activity. Abstrak. Ketidak-aktifan secara fisik adalah faktor risiko terbesar keempat untuk kematian secara global. Dilaporkan dari WHO, prevalensi remaja di Indonesia yang tidak aktif secara fisik sebanyak 85% - 90%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab ketidak-aktifan secara fisik pada remaja dengan menggunakan survei KAP. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan potong lintang. Sampel diambil secara purposive sampling sebanyak 109 siswa SMA Negeri 1 Cikalong Wetan dengan rentang umur 16 – 18 tahun. Data pengetahuan, sikap dan tindakan mengenai aktivias fisik diambil menggunakan google formulir. Aktivitas fisik diukur menggunkan kuesioner PAQ-A yang dikelluarkan WHO. Analisa data yang digunakan ialah uji korelasi Speraman. Hasil uji korelasi antara pengentahuan terhadap tindakan menunjukan tidak adanya hubungan (p = 0,536) dan antara pengetahuan dan sikap tidak terdapat adanya hubungan (p = 0,312). Hasil uji korelasi antara sikap dengan tindakan menunjukan terdapat adanya hubungan (p = 0) yang memiliki kekuatan hubungan yang cukup rendah(r = 0,399). Mayoritas siswa memiliki pengetahuan yang baik mengenai aktivitas fisik tetapi kurang baik dalam sikap dan tindakan terhadap aktivitas fisik. Peneliti menyarankan agar sekolah dapat mengadakan suatu acara dan membuat regulasi yang dapat meningkatkan motivasi serta waktu untuk melaksanaan aktivitas fisik.
Hubungan Status Gizi dengan Tingkat Kebugaran Berdasarkan 6 Minute Walk Test M. Azhari Hakim; Rizky Suganda Prawiradilaga; Sadiah Achmad
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.11254

Abstract

Abstract. Physical fitness is a person's ability to carry out their daily activities efficiently without producing significant fatigue. Physical fitness is important for medical students to carry out their daily activities that have a busy schedule. This study aims to determine the relationship between nutritional status with fitness level. This study used observational analytic quantitative research with a cross-sectional design. The subjects in this study were active students of the Faculty of Medicine, Islamic University of Bandung in the academic year 2022-2023 as many as 87 people aged 20 to 29 years. Nutritional status data were obtained from anthropometric measurements in the form of body mass indeks and measuring fitness levels using the six minute walk test. Statistical tests used the Spearman correlation test. The results showed that there was a statistically significant relationship between body mass index and fitness level (p=0.013). This result may be due to many other factors that can affect fitness levels such as adequate rest, smoking status, health status, and so on. Abstrak. Kebugaran jasmani ialah kemampuan seseorang dalam melaksanakan aktivitas hariannya dengan efisien tanpa menghasilkan kelelahan yang berarti. Kebugaran jasmani penting bagi mahasiswa kedokteran untuk menjalankan aktivitas hariannya yang memiliki jadwal yang padat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status gizi dengan tingkat kebugaran. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif analitik observasional dengan desain cross-sectional. Subjek pada penelitian ini mahasiswa aktif Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung tahun ajaran 2022-2023 sebanyak 87 orang berusia 20 sampai 29 tahun. Data status gizi diperoleh dari pengukuran antropometri berupa indeks massa tubuh dan pengukuran tingkat kebugaran menggunakan six minute walk test. Uji statistik menggunakan uji spearman correlation. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara indeks massa tubuh dengan tingkat kebugaran (p=0.013). Hasil ini dapat disebabkan karena banyak faktor lain yang dapat mempengaruhi tingkat kebugaran seperti kecukupan istirahat, status merokok, status kesehatan, dan sebagainya.