Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Awhanul Buyut dalam Al-Qur’an Analisis Semiotika Roland Barthes Saparudin Arianur; Muhammad Rayya Akmal; Marwa Marwa; Desi Erawati; Saipulah Saipulah
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 5, No. 2 (2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v5i2.6309

Abstract

Penelitian ini mengkaji simbol Awhanul Buyut (rumah laba-laba) dalam QS. al-‘Ankabut ayat 41 melalui pendekatan semiotika Roland Barthes yang diintegrasikan dengan tafsir Al-Mishbah karya M. Quraish Shihab. Kajian ini bertujuan menyingkap struktur makna simbolik dalam ayat tersebut, yang menggambarkan rapuhnya kebergantungan manusia kepada selain Allah, serta relevansinya dengan realitas sosial dan sains modern. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif dengan analisis semiotik tiga lapis makna denotasi, konotasi, dan mitos untuk menelusuri pesan teologis, moral, dan ideologis yang terkandung dalam teks Al-Qur’an. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tingkat denotasi, Awhanul Buyut merepresentasikan struktur fisik yang lemah; pada tingkat konotasi, simbol ini menggambarkan kerapuhan sistem sosial dan spiritual manusia; sedangkan pada tingkat mitos, ia mengungkap ilusi keamanan modern yang dibangun atas dasar materialisme dan kebergantungan duniawi. Integrasi dengan tafsir Al-Mishbah serta pendekatan epistemologis Bayani, Burhani, dan Irfani memperlihatkan bahwa simbolisme Al-Qur’an tidak hanya mengandung makna teologis, tetapi juga refleksi kritis terhadap kondisi eksistensial manusia modern. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan relevansi semiotika Barthes dalam memperkaya pembacaan tafsir Al-Qur’an secara interdisipliner dan kontekstual.
Epistemologi Tafsir Ilmi: Analisis Sumber, Metode, dan Validitas Penafsiran Saintifik Al-Qur’an Saparudin Arianur; Muhammad Amin Badali; Intan Anggrini; Taufik Warman Mahfudz
Islamic Education Vol. 5 No. 2 (2026): April - Juni: Journal Islamic Education
Publisher : CV. Maryam Sejahtera

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.68352/education.v5i2.1497

Abstract

Artikel ini mengkaji fondasi epistemologis Tafsir Ilmi dengan fokus pada sumber, kerangka metodologis, dan kriteria validitasnya. Tafsir Ilmi merupakan tradisi penafsiran yang berupaya menjalin dialog antara teks Al-Qur’an dan temuan-temuan sains modern. Melalui pendekatan kualitatif berbasis kajian pustaka, penelitian ini menelusuri perkembangan historis genre tersebut sejak era Abbasiyah hingga periode kontemporer, landasan epistemologisnya yang berakar pada integrasi sumber naqliyah dan ʿaqliyah, serta tiga prinsip metodologis yang mengatur penerapannya, yaitu talwiq (penyesuaian), istinbath (derivasi), dan tawfiq (harmonisasi). Artikel ini selanjutnya mengevaluasi empat kriteria validitas penafsiran saintifik: ketepatan linguistik, konsistensi dengan prinsip aqidah Islam, verifikabilitas ilmiah, dan koherensi kontekstual. Temuan menunjukkan bahwa Tafsir Ilmi menempati posisi yang sah namun terbatas dalam tradisi keilmuan Islam, sepanjang mematuhi pengamanan metodologis yang ketat guna mencegah pemaksaan teori sains kontemporer ke dalam teks Al-Qur’an. Artikel diakhiri dengan usulan kerangka epistemologis integratif yang dibangun di atas empat pilar: primasi teks, hierarki epistemologis, kompetensi interdisipliner, dan kesadaran hermeneutis.
Karakteristik Sintaksis Al-Qur'an: Studi Analisis Huruf Athaf dan Jar pada QS. Az-Zumar: 71–73 dan QS. Thaha: 71 Saparudin Arianur; Nuriyatul Muzakiya; Ahmad Arifin Alfayad; Akhmad Dasuki
Islamologi : Jurnal Ilmiah Keagamaan Vol. 3 No. 1 (2026): Januari - Juni | Islamologi : Jurnal Ilmiah Keagamaan
Publisher : CV. Maryam Sejahtera

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.68352/islam.v3i1.401

Abstract

Kajian ini menelaah karakteristik sintaksis Al-Qur'an melalui analisis mendalam terhadap huruf athaf dan huruf jar pada QS. Az-Zumar: 71–73 dan QS. Thaha: 71. Dengan menggunakan pendekatan nahwu klasik yang bersumber dari tradisi linguistik Sibawaih, Ibn Jinni, Al-Jurjani, Az-Zamakhsyari, dan Ibn Hisyam, kajian ini menunjukkan bahwa setiap huruf dalam Al-Qur'an dipilih secara presisi absolut dan tidak dapat digantikan oleh huruf lain tanpa menggeser substansi makna secara fundamental. Huruf athaf seperti waw (و) dan fa (ف), serta huruf jar seperti fī (في) dan 'alā (على), masing-masing mengemban fungsi semantis yang distingtif dan konsisten. Temuan ini memperkuat argumen i'jāz lughawī Al-Qur'an, khususnya dimensi dawām al-ma'nā al-harfī — konsistensi makna huruf sebagai sistem linguistik yang sempurna dan tidak tertandingi.