Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

MEMBANGUN SPIRAL PENGASUHAN BERBASIS KONSEP KAPABILITAS SPIRITUAL MELALUI PEMBENTUKAN TENAGA PENYULUH PENGASUHAN KADER POSYANDU DESA CILELES KABUPATEN SUMEDANG JAWA BARAT Wibowo, Hery; Nurwati, Nunung; Yunita, Desi; Firsanty, Farah Putri; Amanatin, Elsa Lutmilarita; Lesmana, Aditya Candra; Gunawan, Wahyu; Sekarningrum, Bintarsih; Nugraha, Ardi Maulana
Sawala : Jurnal pengabdian Masyarakat Pembangunan Sosial, Desa dan Masyarakat Vol 7, No 1 (2026): Sawala : Jurnal pengabdian Masyarakat Pembangunan Sosial, Desa dan Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/sawala.v7i1.67955

Abstract

ABSTRAKKrisis keluarga sebagai bagian dari krisis multidimensional bangsa menuntut pendekatan pengasuhan yang lebih mendalam dan transformatif. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan membangun spiral pengasuhan berbasis kapabilitas spiritual melalui pembentukan tenaga penyuluh pengasuhan dari kader Posyandu di Desa Cileles, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Desa Cileles, sebagai wilayah perdesaan yang bersinggungan langsung dengan kampus Universitas Padjadjaran, dipilih sebagai lokus intervensi karena potensi strategisnya dan kebutuhan akan penguatan kapasitas sosial non-fisik. Program ini mengintegrasikan konsep kapabilitas spiritual sebagai fondasi pengasuhan, dengan materi berbasis pandangan alam Islam dan konsep yang dikembangkan penulis yaitu kapabilitas spiritual yang meliputi penguatan kompetensi berbasis ruh, aql, nafs dan qalb. Melalui pelatihan intensif, kader Posyandu dibekali kompetensi sebagai penyuluh pengasuhan yang mampu mendampingi orang tua dalam memahami peran mendidik anak secara holistik, meliputi aspek fisik, psikis, dan spiritual. Intervensi ini tidak hanya memperkuat fungsi Posyandu sebagai wadah pemberdayaan masyarakat, tetapi juga membentuk ekosistem pengasuhan yang berkelanjutan dan berakar pada nilai-nilai lokal. Program pelatihan di lapangan telah dilaksanakan sebanyak tujuh pertemuan dalam kurun waktu sekitar tujuh bulan. Peserta merupakan perwakilan kader posyandu dari lebih dari 12 Rukun Warga Desa Cileles, yang ditargetkan dapat memberikan penyuluhan pengasuhan pada ragam agenda posyandu. Selain pelatihan langsung di lapangan, program ini juga menyediak video pembelajaran dan bahan artikel singkat pendukung, untuk menguatkan pemahaman peserta. Kata kunci: kapabilitas spiritual, pengasuhan anak, kader Posyandu, pemberdayaan desa, pendidikan ruhani                                                                          ABSTRACTThe family crisis, as a facet of the nation’s broader multidimensional crisis, demands a deeper and more transformative approach to parenting. This community engagement program aims to develop a spiral model of parenting grounded in spiritual capability by training parenting facilitators from Posyandu cadres in Cileles Village, Sumedang Regency, West Java. Cileles, a rural area adjacent to Universitas Padjadjaran’s northern campus, was selected as the intervention site due to its strategic potential and the urgent need to strengthen non-physical social capacities. The program integrates the concept of spiritual capability as the foundation of parenting, drawing upon an Islamic worldview and a framework developed by the authors that encompasses the strengthening of competencies rooted in ruh (spirit), aql (intellect), nafs (self), and qalb (heart). Through intensive training, Posyandu cadres were equipped to serve as parenting facilitators capable of guiding parents in understanding their educational role holisticallyaddressing physical, psychological, and spiritual dimensions. This intervention not only enhances the function of Posyandu as a community empowerment platform but also cultivates a sustainable parenting ecosystem anchored in local values. The field training was conducted over seven sessions across approximately seven months. Participants included Posyandu representatives from more than 12 neighborhood units (Rukun Warga) in Cileles Village, with the goal of enabling them to deliver parenting education through various Posyandu activities. In addition to in-person training, the program provided recorded video lessons and concise supporting articles to reinforce participants’ understanding.  Keyword: spiritual capabilities, childcare, Posyandu cadres, village empowerment, spiritual education
PERILAKU COMPULSIVE BUYING PADA REMAJA DI KOTA BANDUNG DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI EKONOMI Arifianti, Ria; Putri Firsanty, Farah
JURNAL LENTERA BISNIS Vol. 15 No. 1 (2026): JURNAL LENTERA BISNIS, JANUARI 2026
Publisher : POLITEKNIK LP3I JAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34127/jrlab.v15i1.2093

Abstract

The phenomenon of shopping is an interesting topic from a social and economic perspective. Modern developments have given rise to different perceptions and goals of shopping. One such phenomenon is compulsive buying. This article aims to explain how compulsive buying is practiced by teenagers in Bandung. This paper aims to describe concrete examples and forms of adolescent shopping behavior in Bandung, which demonstrate repetitive behavior to gain certain social status and recognition in society. This study uses Solomon's theory of compulsive buying and James Coleman's theory of rational choice, which states that compulsive buyers are those who like to spend their money on things they don't need. Compulsive buyers will feel anxious if their desires are not fulfilled or if the desired item cannot be purchased. In economic sociology, compulsive buying, which is part of the economic process of consumption, can be analyzed using James Coleman's Rational Choice Theory on the phenomenon of compulsive buying among urban adolescents in Indonesia, offering an interesting perspective: behavior that seems irrational (wasteful/impulsive) is actually a rational and planned action to achieve certain social goals. This descriptive research aims to create a systematic, factual, and accurate description or picture of compulsive buying among adolescents in Bandung City. Based on the analysis, James Coleman believes that compulsive buying among Bandung teenagers is a strategic investment for survival in a city ecosystem that prioritizes the aesthetics of creativity. They exchange their pocket money for validation as contemporary or urban youth. They seek access to creative social circles and a sense of security from the stigma of being out of date in exchange for social recognition within certain friendship circles.
MOTIVASI BELANJA ULITARIAN PADA SUPERMARKET KOTA BANDUNG (ANALISIS SOSIOLOGI-EKONOMI) Ria Arifianti; Farah Putri Firsanty
JURNAL LENTERA BISNIS Vol. 15 No. 2 (2026): JURNAL LENTERA BISNIS, Mei 2026
Publisher : POLITEKNIK LP3I JAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34127/jrlab.v15i2.2381

Abstract

This study aims to analyze utilitarian shopping motivation among supermarket consumers in Bandung City from a socio-economic perspective using James Coleman's Rational Choice Theory. A descriptive qualitative approach was employed. Primary data were collected through in-depth interviews with supermarket consumers selected using snowball sampling. The findings reveal that utilitarian shopping motivation is reflected in two main dimensions: efficiency and achievement. In terms of efficiency, consumers utilize supermarkets and digital shopping applications to save time, effort, and product-search costs. Regarding achievement, consumers seek to fulfill their needs accurately, obtain more economical prices, and complete shopping tasks effectively. The results indicate that utilitarian shopping behavior represents a form of rational action based on cost-benefit calculations. The modern retail structure, characterized by promotional programs, product completeness, and digital services, influences consumer decision-making, while the accumulation of individual rational choices contributes to strengthening the dominance of supermarkets and the digital retail ecosystem in Bandung. Therefore, utilitarian shopping motivation reflects not only consumption behavior but also the dynamic relationship between actors, resources, and urban economic structures.
Makna Upacara Adat “Naik Garudo” Pada Tradisi Pernikahan Di Kecamatan Mersam, Kabupaten Batanghari, Kota Jambi Nurwati, Nunung; Firsanty, Farah Putri; Amanatin, Elsa Lutmilarita; Yunita, Desi; Lesmana, Aditya Candra
Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 10, No 2 (2026): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Science, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsg.v10i2.66534

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan mengungkap makna simbolik dan interaksi sosial dalam prosesi pernikahan adat Naik Garudo di Kecamatan Mersam, Kabupaten Batanghari, Jambi. Prosesi ini ditandai dengan arak-arakan pengantin di atas replika burung garuda, yang sarat dengan simbol kekuatan, kesucian, dan kehormatan. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan metode wawancara, observasi partisipatif, serta dokumentasi. Informan dipilih melalui purposive dan snowball sampling, meliputi pemangku adat, keluarga pengantin, dan masyarakat yang terlibat langsung. Validasi data dilakukan dengan triangulasi sumber, metode, dan waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prosesi Naik Garudo memiliki makna simbolik yang kompleks. Simbol garuda, pakaian adat, mahkota, hingga lantunan salawat dipahami sebagai sarana komunikasi sosial yang menegaskan transformasi status pengantin, memperkuat solidaritas, serta menjaga legitimasi budaya. Analisis dengan teori interaksionisme simbolik Mead menjelaskan bahwa makna simbol lahir dan dimodifikasi melalui interaksi sosial. Konsep ritual dan simbol Turner menegaskan fungsi prosesi sebagai rite of passage, sedangkan konsep identitas sosial Tajfel & Turner memperlihatkan peran tradisi ini dalam membangun identitas kolektif masyarakat Mersam. Kesimpulannya, prosesi Naik Garudo tidak hanya merupakan ritual adat, tetapi juga arena reproduksi nilai budaya dan pembentukan identitas sosial. Penelitian ini merekomendasikan perlunya pelestarian tradisi melalui dukungan masyarakat dan kebijakan kebudayaan agar tetap relevan di tengah modernisasi.Kata Kunci: Budaya, Identitas, Ritual, Sosial ABSTRACT This study explores the symbolic meaning and social interaction in the traditional wedding procession Naik Garudo in Mersam District, Batanghari Regency, Jambi. The procession, where the bride and groom are paraded on a Garuda replica, symbolizes strength, purity, and honor. A qualitative descriptive approach was applied through in-depth interviews, participatory observation, and documentation. Informants were chosen via purposive and snowball sampling, involving customary leaders, families, and community members. Data validity was ensured through source, method, and time triangulation. Findings indicate that Naik Garudo holds layered symbolic meanings. The Garuda, traditional attire, crown, and chanting of salawat are social symbols reflecting the couple’s transition of status, communal solidarity, and cultural legitimacy. Through Mead’s symbolic interactionism, these meanings emerge and evolve within social interaction. Turner’s ritual and symbol concept situates the procession as a rite of passage, while Tajfel and Turner’s social identity concept shows its role in reinforcing Mersam’s collective identity. In conclusion, Naik Garudo is not merely a wedding tradition but an arena where cultural values are reproduced and social identity is shaped. The study highlights the importance of preserving this tradition through community engagement and cultural policies to ensure its continuity and relevance in the context of modernization.Keywords: Culture, Identity, Ritual, Social
Penguatan Perencanaan Karir Mahasiswa Sosiologi Melalui Modeling Alumni Berbasis Teori Bandura Siti Khalifa Nurrisvi Zauza; Wahyu Gunawan; Farah Putri Firsanty
ABDI: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 8 No 2 (2026): Abdi: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/abdi.v8i2.1925

Abstract

Proses belajar merupakan tahapan penting yang harus dilalui setiap individu untuk mencapai kemampuan yang diharapkan. Pada konteks perguruan tinggi mahasiswa dituntut untuk mampu menguasai tidak hanya teori tetapi juga secara praktik. Sayangnya, mahasiswa sosiologi S1 Universitas Padjadjaran menghadapi kesenjangan antara kemampuan teoritis dan praktis akibat minimnya keterlibatan dalam pembelajaran berbasis pengalaman nyata, yang berdampak pada rendahnya kesiapan dan menimbulkan kebingungan dalam perencanaan karir. Program pemberdayaan dengan menggunakan Teori Belajar Sosial Albert Bandura dengan menghadirkan alumni sebagai figur teladan yang relevan, melalui pendekatan partisipatif dan metode sosialisasi, persentasi, tanya jawab, praktik serta demonstrasi langsung dalam kegiatan Sociology Connect yang dilaksanakan secara daring pada September 2025. Kegiatan ini berbeda dari studi sebelumnya yang cenderung menerapkan teknik modeling dalam fokus konseling, dan internalisasi karakter siswa, program Sociology Connect merancang intervensi pemberdayaan terstruktur berbasis alumni dengan latar belakang keilmuan yang sama. Sedangkan, pendekatan pemberdayaan yang digunakan adalah partisipatif, dimana mahasiswa turut dilibatkan dari perencanaan hingga evaluasi. Pada evaluasi dilakukan menggunakan one group pretest-posttest dengan instrumen kuesioner skala Likert yang dikembangkan berdasarkan indikator Teori Belajar Sosial Albert Bandura, yang mencakup tiga aspek yaitu pengenalan, pengetahuan, dan modeling, kepada 10 mahasiswa sosiologi semester akhir. Hasil menunjukan peningkatan rata-rata pada keseluruhan aspek, yaitu pengenalan (2,90 menjadi 4,20), penngetahuan (3,10 menjadi 3,90), dan modeling (2,85 menjadi 4,20). Peningkatan terbesar pada aspek modeling menandakan keberhasilan mahasiswa dalam menjadikan alumni sebagai role model dan menginternalisasikan nilai-nilai profesional untuk modal perencanaan karir.Temuan ini, menegaskan bahwa pemberdayaan berbasis modeling efektif meningkatkan kesiapan karir mahasiswa.