Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Pemanfaatan Cymbopogon Citratus sebagai Bahan Aktif Spray Anti Nyamuk Herbal Eni Komsatun; Nur Ihda Farikhatin Nisa; Achmad Aminudin; Umi Kulsum
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (JPKM) Vol. 4 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : Perkumpulan Cendekia Muda Kreatif Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61116/jpkm.v4i2.905

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, terutama di wilayah pedesaan dengan kondisi lingkungan yang mendukung perkembangbiakan nyamuk. Upaya pencegahan DBD di tingkat rumah tangga masih menghadapi berbagai kendala, antara lain keterbatasan pengetahuan masyarakat serta ketergantungan pada produk antinyamuk berbahan kimia. Di Desa Tambakromo, tanaman serai (Cymbopogon citratus) tersedia melimpah, namun pemanfaatannya sebagai bahan aktif antinyamuk herbal masih belum optimal. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan masyarakat dalam pencegahan DBD, mendorong pemanfaatan tanaman herbal lokal, serta memperkuat kemandirian masyarakat dalam menghasilkan produk antinyamuk yang aman dan aplikatif. Permasalahan utama yang diangkat dalam kegiatan ini meliputi rendahnya pemahaman masyarakat mengenai DBD dan mekanisme penularannya, serta terbatasnya keterampilan dalam mengolah tanaman herbal menjadi produk fungsional. Metode pelaksanaan dilakukan secara bertahap, meliputi sosialisasi mengenai DBD, pelatihan pembuatan spray antinyamuk herbal dengan prosedur sederhana, serta uji coba penggunaan produk dalam kehidupan sehari-hari. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta terkait DBD, meningkatnya kemampuan masyarakat dalam memproduksi spray antinyamuk herbal secara mandiri, serta mulai diterapkannya produk tersebut di lingkungan rumah tangga. Produk yang dihasilkan mudah diaplikasikan, relatif aman digunakan, dan berdasarkan uji coba sederhana menunjukkan efektivitas selama 2-3 jam dengan kebutuhan aplikasi ulang secara berkala. Secara keseluruhan, kegiatan ini berkontribusi dalam upaya pencegahan DBD berbasis potensi lokal serta berpotensi untuk dikembangkan secara berkelanjutan guna mendukung kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan setempat.