Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Women's Representation in the 2018 United States Midterm Elections Yasinta Widya Prameswari; Agus Trihartono; Abubakar Eby Hara
Journal of Feminism and Gender Studies Vol 3 No 1 (2023): Journal of Feminism and Gender Studies
Publisher : Pusat Studi Gender Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jfgs.v3i1.30625

Abstract

United States politics is a difficult arena to reach for women due to the high levels of gender discrimination and sexism. A new history came up on their midterm election on Tuesday 6th November 2018. Due to the record number of women who passed and running for office, also the surge in activism was higher than previos years. The number of female legislator is 23.4% for the House of Representative and 25% for Senate. This record number is the highest one in United State politic history of women representation. The process of increasing women’s representation in 2018 midterm election to some extent influenced by the paradigm shifting of the women’s movement.
Respon Republik Lithuania terhadap Bayang-Bayang Ancaman Perang Generasi Kelima dari Rusia Mohammad Anwar Rudin; Bagus Sigit Sunarko; Agus Trihartono
Electronical Journal of Social and Political Sciences (E-SOSPOL) Vol 10 No 1 (2023): Peningkatan Kinerja dan Pelayanan
Publisher : University of Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/e-sospol.v10i1.36740

Abstract

Perang berkembang semakin canggih seiring dengan perkembangan zaman. Menurut beberapa ahli, saat ini peperangan memasuki generasi kelima. Dalam pertempuran modern tersebut, musuh menggunakan metode kinetik dan non-kinetik. Hal ini sejalan dengan fenomena di Republik Lituania, negara tersebut mengalami serangan-serangan dari Rusia dengan metode perang jenis kelima terbaru. Adapun untuk menanggulangi hal tersebut, negara Lithuania memiliki beberapa keterbatasan baik dalam hal militer maupun nonmiliter. Kemudian tujuan dari pembahasan ini adalah untuk menjelaskan bagaimana strategi Lithuania dalam menghadapi ancaman perang tipe kelima di wilayahnya. Dalam menganalisis fenomena di wilayah ini, peneliti akan menggunakan beberapa konsep dan teori, di antaranya, meliputi konsep peretas (hacker), kejahatan siber (cyber crime), keamanan siber (cyber security), keamanan nasional (national security), dan teori perang generasi kelima (fifth gradient war). Sedangkan metode penelitiannya, penulis menggunakan metode kuasi kualitatif. Peneliti memakai teknik studi literatur dan analisis data deskriptif. Adapun dari hasil penelitian tersebut, negara ini telah menciptakan kerangka keamanan di negaranya melalui kebijakan, kelembagaan, dan kerjasama. Maka dengan demikian, Republik Lituania berhasil membangun sistem pertahanan terhadap perang generasi kelima di wilayahnya.
Relawan (Volunteer) Asian Games 2018 Sebagai Aktor Diplomasi Publik Indonesia Kartika Indah Prayogi; Agus Trihartono
Power in International Relations Vol. 8 No. 1 (2023): PIR (Power in International Relations)
Publisher : Jurnal UPU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22303/pir.v8i1.4

Abstract

Asian Games 2018 telah sukses terselenggara di indonesia dengan melibatkan kontribusi banyak pihak. Agenda olahraga empat tahunan tersebut menjadi media yang tepat untuk meningkatkan citra positif indonesia dan mempromosikan pariwisata indonesia. Kedua pencapaian tersebut selaras dengan tujuan utama dari diplomasi publik indonesia. Praktik diplomasi publik melalui penyelenggaraan Asian Games 2018 melibatkan banyak aktor, salah satunya adalah para volunteer. Namun sayangnya masih sedikit kajian yang berfokus pada peran volunteer sebagai salah satu aktor diplomasi publik. Oleh karena itu, kajian ini memaparkan keterlibatan volunteer sebagai aktor diplomasi publik indonesia dalam Asian Games 2018. Peneliti menggunakan konsep soft power dan diplomasi publik melalui hubungan people-to-people dengan metode riset kuasi kualitatif. Hasil dari kajian ini dapat dijadikan tinjauan, kiranya volunteer dalam diplomasi publik perlu untuk dimasukkan dalam diskusi mendalam. Hal ini dikarenakan bahwa keterlibatan volunteer tidak hanya terbatas pada penyelenggaraan Asian Games 2018 saja. Lebih dari itu volunteer juga berperan sebagai aktor diplomasi publik Indonesia, dengan mengenalkan aspek-aspek budaya melalui hubungan people-to-people.
Industri Makanan Halal: Perbandingan Indonesia dan Malaysia Fatonah, Isti; Trihartono, Agus; Hara, Abubakar Eby
Global Focus Vol 3, No 2 (2023)
Publisher : Department of International Relations, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jgf.2023.003.02.3

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan membandingkan industri makanan halal Indonesia dan Malaysia. Industri makanan halal di kedua negara akan dibandingkan menggunakan tiga indikator yaitu sertifikasi halal, regulasi halal, serta strategi nation branding. Ketiga indikator ini akan di analisa menggunakan konsep good governance dan nation branding. Hasilnya, dalam sertifikasi halal, Indonesia dan Malaysia merupakan salah satu yang terbaik di dunia. Dalam hal regulasi halal, Malaysia memiliki regulasi yang sudah jelas sehingga memudahkan pihak luar yang ingin mendaftarkan kehalalalan produk mereka. Sementara itu, regulasi halal Indonesia masih kurang jelas. Dalam hal nation branding, Malaysia sudah mulai mengukuhkan posisinya di kancah dunia melalui branding ‘global halal hub’. Sementara Indonesia juga ingin mengikuti langkah branding yang sama. Indonesia dan Malaysia sama – sama negara mayoritas muslim. Dan ada indikasi justru hal ini malah memperlambat pertumbuhan industri halal.
STRATEGI WASHOKU DALAM GASTRODIPLOMASI JEPANG DI MASA PANDEMI COVID-19 Hanika, Waradhiya Puji; Trihartono, Agus; Albayumi, Fuat
Spektrum Vol 21, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/spektrum.v21i2.11673

Abstract

Gastrodiplomasi Washoku berhasil membuat makanan tradisional Jepang semakin populer di luar negeri dan berpengaruh pada perkembangan industri pariwisata Jepang. Namun pandemi COVID-19 membuat gastrodiplomasi Washoku mengalami hambatan. Meskipun begitu minat masyarakat internasional terhadap Japanese Food dan permintaan produk makanan dietary Washoku Jepang mengalami peningkatan yang stabil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi Jepang dalam mempromosikan Washoku sebagai bagian dari diplomasi Jepang di masa pandemi COVID-19. Metode penelitian yang digunakan yakni metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan ata sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi gastrodiplomasi yang dilakukan oleh Jepang untuk Washoku pada masa pandemi menggunakan strategi yang sejalan dengan kerangka soft power Jepang yakni Cool Japan. Adapun strategi khusus yang digunakan untuk memperkenalkan Washoku ada lima yakni strategi festival makanan dan edukasi, strategi media, strategi dengan menggunakan opini pemimpin dan strategi pemasaran produk.Kata Kunci: Washoku, Gastrodiplomasi, Jepang
Sekuritisasi Tradisi Night Hunting (Bomena): Respon terhadap Ancaman Human Security di Bhutan Agustiansyah, Muhammad Feizal; Trihartono, Agus; Sunarko, Bagus Sigit
Electronical Journal of Social and Political Sciences (E-SOSPOL) Vol 11 No 2 (2024): Social Security in Disruptive Era
Publisher : University of Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/e-sospol.v11i2.46926

Abstract

Tradition is an aspect of culture that is preserved and passed down from generation to generation. Tradition is also known as a concept that defines the identity and uniqueness of a society, as well as being a source of security. Tradition is something that is praised, glorified, and associated with something good in a particular custom or area and is considered sacred. However, in Bhutan there is a tradition called the Bomena tradition. This tradition is also a cycle of sexual exploitation that society cannot break. Various protection efforts have been carried out by the Bhutanese Government, NGOS, and even local community organizations, but this tradition is still carried out today. By using the Buzan concept of human security and securitization, this research wants to analyze the process of securitization of the Bomena tradition, which initially became a tradition in society until it became a dangerous traditional practice that became a threat to human security in Bhutan. Keywords: Bomena Tradition, Tradition, Bhutanese Government, Women, Human Security, Securitization
Indonesia’s Food Security and Food Sovereignty Under Agricultural Trade Liberalization Indriastuti, Suyani; Hara, Abubakar Eby; Patriadi, Himawan Bayu; Trihartono, Agus; Sunarko, Bagus Sigit
Global Strategis Vol. 18 No. 2 (2024): Global Strategis
Publisher : Department of International Relations, Faculty of Social and Political Science, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.18.2.2024.431-456

Abstract

Agricultural trade liberalisation affects food security and food sovereignty in Indonesia. This article aims to analyse the extent to which agricultural trade liberalisation impacts food security and food sovereignty, as well as examine the dilemmas faced by the Indonesian government related to agricultural liberalisation, food security, and food sovereignty. This research applies qualitative process-tracing case studies using primary data from interviews and secondary data by analysing documents, news, or statistical data provided by institutions such as Indonesian National Statistics, the Food and Agricultural Organization (FAO), and other institutions. This research found that agriculture is a comparative advantage of Indonesia. It supports the achievement of a surplus balance of trade in the global agricultural markets. However, it is challenging and dilemmatic in the context of food commodities. In the short term, agricultural liberalisation might support the achievement of food security as it provides availability of food and food access both physically and economically. However, at the same time, agricultural liberalisation also threatens food sovereignty as it raises dependence on food imports. In the long run, dependency on food imports could endanger food security if there is a change in the political economy of the global market system.Keywords: Liberalisation of Agriculture, Food Security, Food Sovereignty Liberalisasi pertanian mempengaruhi ketahanan pangan dan kedaulatan pangan di Indonesia. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana dampak liberalisasi pertanian terhadap ketahanan pangan dan kedaulatan pangan serta dilema yang dihadapi pemerintah Indonesia terkait liberalisasi pertanian, ketahanan pangan, dan kedaulatan pangan. Penelitian ini menerapkan metode kualitatif process-tracing analisis dengan menggunakan data primer yang diperoleh melalui interview dan data sekunder dikumpulkan dengan metode “desk research” termasuk menganalisis dokumen, berita, atau data statistik yang disediakan oleh lembaga-lembaga seperti Statistik Nasional Indonesia, Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), dan lembaga lainnya. Penelitian ini menemukan bahwa pertanian merupakan keunggulan komparatif bagi Indonesia yang mendukung pencapaian surplus neraca perdagangan komoditas pertanian di pasar global. Namun, dalam konteks komoditas pangan, permasalahan bersifat kompleks dan dilematis. Dalam jangka pendek, liberalisasi pertanian dapat mendukung pencapaian ketahanan pangan karena menyediakan ketersediaan pangan yang dapat diakses oleh masyarakat dengan harga yang terjangkau. Namun, pada saat yang sama, liberalisasi pertanian juga mengancam kedaulatan pangan karena meningkatkan ketergantungan pada impor pangan. Dalam jangka panjang, ketergantungan impor pangan dapat membahayakan ketahanan pangan jika terjadi perubahan struktur ekonomi politik pada sistem pasar global.Kata-kata Kunci: Liberalisasi Pertanian, Ketahanan Pangan, Kedaulatan Pangan
Diplomasi ‘Wolf Warrior’: Respons Kebijakan Luar Negeri Cina pada Masa Pandemi COVID-19 Ramanda, Vichy Fitri; Trihartono, Agus; Susilo, Djoko
Global Focus Vol. 4 No. 02 (2024)
Publisher : Department of International Relations, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jgf.2024.004.02.3

Abstract

Diplomasi agresif dan asertif ‘wolf warrior’ yang dilakukan oleh diplomat Cina pada masa pandemi COVID-19 mendapatkan perhatian internasional. Diplomat sebagai representasi sebuah negara melakukan tindakan yang agresif dan menimbulkan pertanyaan dari berbagai pihak. Studi ini berupaya untuk menjelaskan faktor-faktor yang memengaruhi tindakan agresif diplomat ‘wolf warrior’ Cina. Artikel ini menggunakan metode kualitatif yang menggunakan teori untuk memandang konseptual fenomena diplomasi wolf warrior yang dilakukan oleh Cina. Dengan menggunakan teori realisme neoklasik, artikel ini menguraikan faktor-faktor yang memengaruhi munculnya diplomasi wolf warrior sebagai respons Cina. Realisme neoklasik menggabungkan faktor eksternal dan internal dalam analisis politik luar negeri. Studi ini menunjukkan bahwa kemunculan diplomasi wolf warrior dipengaruhi oleh tekanan internasional akibat COVID-19 sebagai faktor eksternal serta pengaruh dari citra pemimpin dan budaya strategis sebagai faktor internal. Kata Kunci: Cina, COVID-19, diplomasi wolf warrior, kebijakan luar negeri, realisme neoklasik
Navigating Digital Frontiers: Estonia’s e-Residency through the Lens of the Eclectic Paradigm Luhur, Ken Budi; Trihartono, Agus; Hara, Abubakar Eby
Global Strategis Vol. 19 No. 1 (2025): Global Strategis
Publisher : Department of International Relations, Faculty of Social and Political Science, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.19.1.2025.121-142

Abstract

The Estonian e-Residency program, launched in 2014, allows non-residents to access Estonia’s advanced digital infrastructure and services. It provides a secure digital identity to individuals worldwide, enabling them to start and manage a location-independent business online within the European Union without needing to physically reside in Estonia. This study explores the opportunities and challenges of e-Residency through qualitative methods and the Eclectic Paradigm model by John Dunning. While e-Residency does not grant physical residency, citizenship, or tax residency, is especially attractive to individuals seeking to leverage Estonia’s advanced digital infrastructure and favorable business environment. Key opportunities include leveraging Estonia’s advanced digital infrastructure and accessing the European Union market, significantly enhancing business efficiency and economic participation. However, the novelty of the e-Residency concept still faces challenges from the challenge of low global adoption, which requires optimization for broader relevance and impact. Lastly, this research underscores the need for strategic improvements to maximize the program’s potential and suggests further development to achieve its global aspirations. Keywords: e-Residency, Digital Identity, Estonia, Eclectic Paradigm Program e-Residency Estonia, yang diluncurkan pada tahun 2014, memungkinkan non-residen untuk mengakses infrastruktur dan layanan digital canggih Estonia. Program ini menyediakan identitas digital yang aman bagi individu di seluruh dunia, yang memungkinkan mereka untuk memulai dan mengelola bisnis daring yang tidak bergantung pada lokasi di Uni Eropa tanpa perlu bertempat tinggal secara fisik di Estonia. Studi ini mengeksplorasi peluang dan tantangan e-Residency melalui metode kualitatif dan model Paradigma Eklektik oleh John Dunning. Penelitian ini menemukan bahwa meskipun e-Residency tidak memberikan tempat tinggal fisik, kewarganegaraan, atau pajak tempat tinggal, tetapi sangat menarik bagi individu yang ingin memanfaatkan infrastruktur digital canggih Estonia dan lingkungan bisnis yang menguntungkan. Peluang utama termasuk memanfaatkan infrastruktur digital canggih Estonia dan mengakses pasar Uni Eropa, yang secara signifikan meningkatkan efisiensi bisnis dan partisipasi ekonomi. Namun, di sisi lain, kebaruan konsep e-Residency masih mengalami tantangan berupa adopsi global yang masih rendah sehingga memerlukan pengoptimalan untuk relevansi dan dampak yang lebih luas. Terakhir, penelitian ini menggarisbawahi perlunya peningkatan strategis untuk memaksimalkan potensi program dan menyarankan pengembangan lebih lanjut untuk mencapai aspirasi globalnya. Kata-kata Kunci: e-Residency, Identitas Digital, Estonia, Paradigma Eklektik
Diplomasi ‘Wolf Warrior’: Respons Kebijakan Luar Negeri Cina pada Masa Pandemi COVID-19 Ramanda, Vichy Fitri; Trihartono, Agus; Susilo, Djoko
Global Focus Vol. 4 No. 02 (2024)
Publisher : Department of International Relations, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jgf.2024.004.02.3

Abstract

Diplomasi agresif dan asertif ‘wolf warrior’ yang dilakukan oleh diplomat Cina pada masa pandemi COVID-19 mendapatkan perhatian internasional. Diplomat sebagai representasi sebuah negara melakukan tindakan yang agresif dan menimbulkan pertanyaan dari berbagai pihak. Studi ini berupaya untuk menjelaskan faktor-faktor yang memengaruhi tindakan agresif diplomat ‘wolf warrior’ Cina. Artikel ini menggunakan metode kualitatif yang menggunakan teori untuk memandang konseptual fenomena diplomasi wolf warrior yang dilakukan oleh Cina. Dengan menggunakan teori realisme neoklasik, artikel ini menguraikan faktor-faktor yang memengaruhi munculnya diplomasi wolf warrior sebagai respons Cina. Realisme neoklasik menggabungkan faktor eksternal dan internal dalam analisis politik luar negeri. Studi ini menunjukkan bahwa kemunculan diplomasi wolf warrior dipengaruhi oleh tekanan internasional akibat COVID-19 sebagai faktor eksternal serta pengaruh dari citra pemimpin dan budaya strategis sebagai faktor internal. Kata Kunci: Cina, COVID-19, diplomasi wolf warrior, kebijakan luar negeri, realisme neoklasik