Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Pembuatan Biofoam dari Pati Singkong dengan Tambahan Serat Selulosa dari Jerami Padi sebagai Filler Muspira, Nazira; Fachraniah, Fachraniah; Syafruddin, Syafruddin
Jurnal Teknologi Vol 24, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/teknologi.v24i1.5093

Abstract

Biodegradable foam made from starch is an alternative packaging to replace styrofoam, but foam made from starch is very fragile, sensitive to water. Additional treatment is required to increase strength, flexibility and resistance to water for commercial application. The addition of rice straw cellulose as a filler to improve the properties of the resulting biofoam. Rice straw that has been fermented using MA-11 is then washed and sieved using a 100 mesh sieve to produce cellulose. The process of making biodegradable foam uses the extrusion method. The variables used were the ratio of cassava starch and rice straw, namely 40:60, 45:55, 50:50, 55:45, 60:40 % w/w with variations in cooking time, namely 30 minutes, 40 minutes, 50 minutes, 60 minutes, 70 minutes. The results of biodegradable foam testing from cassava starch and rice straw obtained values of tensile strength, compressive strength, water absorption, and biodegradability. The tensile strength and compressive strength tests for all biofoam samples did not meet SNI standards. The results of the water absorption test that met the SNI standards were sample 45:55 minutes 30 with a value of 26.72%, and the results of the biodegradation test met the SNI standards, namely the sample 60:40 in 30 minutes with a value of 82.27% with a biodegradation time of 7 day.
Pengaruh Jenis Aktivator terhadap Karakteristik Karbon Aktif Berbahan Ampas Tebu Zazira, Annisa Zia; Fachraniah, Fachraniah; Ridwan, Ridwan
Jurnal Teknologi Vol 24, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/teknologi.v24i1.4973

Abstract

A study was done to determine the effect of activator type on the properties of activated carbon generated from sugarcane bagasse. The goal of this research is to examine the effect of activator type and activation period on the quality of activated carbon derived from sugarcane bagasse. This study's procedure began with the manufacture of activated carbon from sugarcane bagasse. The dried sugarcane bagasse was heated until it produced charcoal. In 150 cc of each activator solution, 10 g of charcoal were dissolved. It was then heated and left for the set activation time treatment. Three experiments on the properties of activated carbon were performed, namely moisture content, ash content, and iodine adsorption capacity (I2) for activation times of 6 hours, 9 hours, 12 hours, 15 hours, and 18 hours. According to the findings of this study, the kind of activator had little effect on the moisture and ash content of activated carbon, but it had a considerable effect on the iodine adsorption capacity of activated carbon. Furthermore, the activation duration influences the moisture level, ash content, and iodine adsorption capacity of activated carbon. The moisture material, ash content, and iodine adsorption ability (I2 ) of activated carbon (AC) from sugarcane bagasse satisfied the criteria of the Indonesian National Standard (SNI) in this study. Bilimbi (Averrhoa bilimbi L.) was the most effective activator in this investigation, with an engagement time of 6 hours.
Pemanfaatan Selulosa Bakteri sebagai Bahan Baku Pembuatan Kertas Ramah Lingkungan Swara, Debbie Paras; Harunsyah, Harunsyah; Fachraniah, Fachraniah
Jurnal Teknologi Vol 24, No 2 (2024): Oktober 2024
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/teknologi.v24i2.5616

Abstract

The use of of cellulose from wood is growing every year in Indonesia. Continuous environmental harm results from this. In this study, paper was made using bacterial cellulose activator, tapioca flour, and coconut water as basic materials to make it more environmentally friendly. In this study, the impact of bacterial cellulose mass and tapioca flour mass on the final paper was examined. The amounts of 100, 125, 150, 175, and 200 g of bacterial cellulose and 5, 10, 15, 20, and 25 g of tapioca flour were the variables employed in this study. Additionally, the finished paper is tested for gramage, tensile strength, water content, functional group (FTIR), and a SEM test. According to the grammage test results, combinations of 100 g of bacterial cellulose and 25 g of tapioca flour had a higher grammage value than the others, 75 g/m2. The mass variation of 100 g bacterial cellulose with a mass of 25 g tapioca flour had the highest value in the tensile strength test, with a value of 0.808803 Mpa. In contrast, the mass variation of 100 g bacterial cellulose with a mass of 25 g tapioca flour had the greatest value in the water content test with a value of 5.91%.
PELATIHAN PEMBUATAN PUPUK NPK MAJEMUK DARI PUPUK TUNGGAL UREA: 46%, SP 36: 36% DAN KCL: 60% BAGI PETANI PADI DI DESA ALUE LIM KEC. BLANG MANGAT KOTA LHOKSEUMAWE Zaini, Halim; Sami, Muhamma; Fachraniah, Fachraniah; Nahar, Nahar; Ariefin, Ariefin
Jurnal Vokasi Vol 6, No 3 (2022): November
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/vokasi.v6i3.3299

Abstract

Hasil survey langsung di lapangan, permasalahan yang dihadapi para petani padi di desa Alue Lim pada setiap musim tanam  antara lain tentang kelangkaan pupuk kimia seperti pupuk NPK majemuk dan harga yang mahal, penyediaan air, pengadaan bibit, hama tanaman . Sesuai dengan kesepakatan bersama antara pelaksana dan para peserta salah satu permasalahan yang ada yang dapat diberikan solusinya adalah dengan alternatif pengadaan pupuk NPK majemuk. Untuk memberikan jalan keluar dari permasalahan tersebut, melalui kegiatan PKM Desa Binaan ini diprioritaskan tentang pembuatan pupuk NPK majemuk. Tujuan utama dilaksanakan program ini untuk menambah wawasan dan keterampilan para petani dalam hal pembuatan pupuk NPK majemuk dari pupuk tunggal secara mandiri.Metode yang digunakan pada pelatihan ini terdiri dari metode persuasif, diskusi, ceramah, demontrasi dan praktek langsung menggunakan bahan baku pupuk tunggal terdiri dari pupuk urea, SP-36 dan KCl. Hasil dari program pengabdian ini  yaitu produk berupa pupuk NPK majemuk yang  dapat dimanfaatkan ketika terjadinya kelangkaan pupuk di musim tanam padi.
Pembuatan Karbon Aktif Dari Limbah Kulit Jeruk Manis (Citrus sinensis L) Sebagai Adsorben Ion Besi (Fe2+) Dalam Air Sumur Maulida, Hikmah; Elwina, Elwina; Fachraniah, Fachraniah
Jurnal Riset, Inovasi, Teknologi & Terapan Vol 2, No 1 (2023): Desember
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/ristera.v2i1.4970

Abstract

This research aims to utilize sweet orange peel waste as an adsorbent of Fe2+ in the form of activated carbon by reviewing the adsorbate characteristics based on absorption capacity of I2, moisture content and ash content, the effect of H2SO4 and KOH activators on adsorption capacity and removal efficiency of Fe2+ ion and adsorption kinetics of Fe2+ ion in well water samples. The fixed variable is the weight of the adsorbent, which is temperature of 315 ° C, 50 grams, particle size of 10 ± 32 mesh, volume of adsorbate 10 liters and flow rate of 4 liters / minute. The independent variable is H2SO4 and KOH activator and the adsorption time is 0; 10; 20; 30; 60; 90; 120; 150; 180; 210 and 240 minutes. The results showed that charcoal with H2SO4 activation met SNI 06-3730-1995 standards, while charcoal with KOH activation did not meet SNI standards. The equilibrium adsorption capacity (qe) for charcoal with H2SO4 activation of 0.284 mg/g occurred at 120 minutes, for charcoal with KOH activation of 0.587 mg/g occurred at 240 minutes. The highest removal efficiency of Fe2+ ions for activated charcoal H2SO4 was 91.35% and KOH 68.39%. Adsorption kinetics fulfills the second order pseudo kinetics model, which is H2SO4 activation charcoal with R2 is 0.998 and KOH with R2 is 0.9956.
Teknologi Cold Press Pembuatan VCO serta Pelatihan Nata De Coco dan Deodorant pada UMKM dan Kelompok PKK Elwina; Safitri, Nelly; Fachraniah, Fachraniah
Jurnal Malikussaleh Mengabdi Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Malikussaleh Mengabdi, Oktober 2025
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jmm.v4i02.24801

Abstract

Program Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa atau PMM adalah kegiatan pengabdian masyarakat di mana mahasiswa turun langsung ke lapangan untuk mengidentifikasi, memecahkan masalah, dan mengembangkan potensi masyarakat melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tujuannya adalah meningkatkan kepedulian mahasiswa dan memberikan solusi konkret bagi mitra masyarakat, serta memberikan pengalaman lapangan yang berharga bagi mahasiswa. Program ini bertujuan untuk memberikan solusi atas permasalahan yang dihadapi oleh mitra sasaran, khususnya dalam sektor ekonomi produktif dan sosial. Mitra utama dalam program ini adalah dua mitra yang berasal dari desa dibawah binaan Politeknik Negeri Lhokseumawe yaitu UMKM VCO COCOK yang bergerak dalam produksi minyak VCO dan kelompok PKK Desa Jambo TImu yang berpotensi mengolah limbah air kelapa menjadi produk bernilai ekonomi dan peningkatan ketrampilan di bidang pembuatan deodorant spray. UMKM VCO COCOK, yang dikelola oleh ibu Zainah Rahmiati, sebelumnya telah mengalami sejumlah kendala dalam proses produksi dan pemasaran. Produksi yang masih dilakukan secara manual menghasilkan rendemen rendah dan kualitas yang kurang stabil, sementara pemasaran yang terbatas hanya mengandalkan metode konvensional menyebabkan penjualan yang stagnan. Di sisi lain, Kelompok PKK Desa Jambo Timu, meskipun memiliki potensi besar dengan sumber daya kelapa yang melimpah, belum dapat mengembangkan kegiatan ekonomi produktif yang dapat meningkatkan kesejahteraan anggotanya. Program ini bertujuan untuk mengatasi masalah tersebut melalui penerapan teknologi modern, khususnya teknologi cold press untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi VCO, serta pelatihan pembuatan produk baru berbasis VCO seperti deodorant alami dan nata de coco. Dengan adanya pelatihan dan branding produk, diharapkan dapat meningkatkan jangkauan pasar dan mendongkrak pendapatan mitra sasaran.
Pelatihan Pembuatan Pupuk Kalium Cair Dari Sabut Kelapa Untuk Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman Hortikultura di Desa Mesjid Punteut Kecamatan Blang Mangat Kota Lhokseumawe Zaini, Halim; Fachraniah, Fachraniah; Zaimahwati, Zaimahwati; Yunus, M.
Jurnal Vokasi Vol 2, No 1 (2018): April
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (757.358 KB) | DOI: 10.30811/vokasi.v2i1.672

Abstract

Penggunaan pupuk kimia dalam bidang pertanian dan perkebunan untuk peningkatan kesuburan tanah, kesuburan tanaman, dan pendapatan petani perlu pengkajian ulang. Pupuk kimia selain bermanfaat juga berdampak negatif dalam jangka lama, dimana pupuk kimia dapat merusak tekstur dan struktur tanah. Oleh karena itu, pemikiran kembali ke pertanian secara alamiah dengan memanfaatkan unsur hara yang tersedia dialam guna menjaga kesuburan tanah, menekan atau menghemat biaya produksi, menjadi suatu langkah yang peting. Tujuan dari kegiatan penerapan ipteks ini adalah; 1). Memberikan pelatihan dan keterampilan kepada para petani untuk membuat pupuk kalium cair dan 2). Penggunaan pupuk kalium cair untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman hortikultura seperti kelapa sawit, pinang, kelapa dan coklat. Metode kegiatan melalui pendekatan teoritis, diskusi,demontrasi dan aplikatif. Pada pelaksanaannya, karena keterbatasan dana, maka peserta dibagi dalam 2 kelompok kerja. Masing kelompok terdiri dari 3 orang dimana pembuatan pupuk kalium cair berbahan baku sabut cacah dan berbahan baku tanpa cacah. Kesimpulan kegiatan:1).Kegiatan penerapan ipteks berlangsung terarah, terukur dan sesuai dengan target. Setelah mengikuti kegiatan pembuatan pupuk kalium cair terjadi peningkatan kemampuan peserta rata-rata diatas 83% dan 2). Setelah mengikuti kegiatan ini peserta berkampuan membuat pupuk kalium cair secara mandiri dan dapat menggunakannya untuk bagi usaha pertanian dan perkebunan yang mereka usahakan. Dengan tersedianya pupuk kalium cair dapat memberikan peningkatan produksi pertanian serta berdampak positip bagi pendapatan mereka.Kata Kunci: pupuk kimia, pupuk kalium cair, pertanian, pendapatan