Ekasriadi, Ida Ayu Agung
Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, Denpasar, Indonesia

Published : 13 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

MEMBANGUN KOMPETENSI LITERASI MULTIMODAL: STRATEGI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BERBASIS TRI HITA KARANA DAN PENDIDIKAN KARAKTER DI ERA DIGITAL Sidi Artajaya, Gede Sidi Artajaya; yupi, Putu Ayu Mertasari Pinatih; Ekasriadi, Ida Ayu Agung
Stilistika : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni Vol. 14 No. 1 (2025): Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah Universitas PGRI Mahadewa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59672/stilistika.v14i1.5620

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah mendorong munculnya teks multimodal yang tidak lagi hanya mengandalkan bahasa verbal, melainkan juga mencakup unsur visual, audio, dan interaktif. Kondisi ini menuntut adanya penguatan literasi multimodal dalam pembelajaran Bahasa Indonesia agar peserta didik mampu memahami, menginterpretasi, sekaligus memproduksi teks sesuai tuntutan abad ke-21. Di sisi lain, pendidikan karakter berbasis nilai kearifan lokal menjadi semakin penting agar peserta didik tidak terjebak pada perilaku digital yang pragmatis dan lepas dari akar budaya. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji konsep literasi multimodal, integrasi nilai Tri Hita Karana, serta relevansinya dalam membentuk pendidikan karakter peserta didik di era digital. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi pustaka (library research). Data diperoleh dari literatur primer dan sekunder berupa artikel jurnal nasional maupun internasional, buku, serta dokumen kebijakan pendidikan yang relevan, terbit dalam rentang waktu 2015–2025. Analisis dilakukan dengan teknik analisis isi tematik yang dibantu perangkat lunak NVivo 12 Plus, dengan tahap reduksi, kategorisasi, interpretasi, dan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa literasi multimodal dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis, kolaboratif, dan kreatif peserta didik dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Integrasi nilai Tri Hita Karana memberikan dimensi baru yang menghubungkan kemampuan digital dengan nilai spiritual (Parahyangan), sosial (Pawongan), dan ekologis (Palemahan). Pembelajaran multimodal yang berlandaskan kearifan lokal terbukti relevan untuk memperkuat pendidikan karakter sehingga peserta didik tidak hanya cakap digital, tetapi juga beretika, berbudaya, dan bertanggung jawab
Konflik Ideologi Adat, Agama dan Kapitalisme dalam Cerpen Bahagia: Kajian Ekokritik Idiologis Ni Nengah Hediani; Ida Ayu Agung Ekasriadi; I Wayan Gunartha
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 2 (2026): Penulis pada Edisi ini Terdiri dari Tiga (3) Negara: Indonesia, Taiwan dan Jor
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/0qpwab96

Abstract

Penelitian ini mengkaji konflik ideologi adat, agama, dan kapitalisme dalam cerpen “Bahagia” dengan menggunakan pendekatan ekokritik ideologis. Penelitian ini bertujuan mengungkap bagaimana pertarungan ideologi membentuk relasi manusia dengan alam serta memicu krisis ekologis dalam teks sastra. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif melalui analisis teks sastra dengan memadukan teori ideologi sastra, teori hegemoni Antonio Gramsci, dan ekokritik ideologis. Data diperoleh melalui pembacaan mendalam (close reading) terhadap cerpen “Bahagia” yang dipublikasikan di harian Republika pada 19 Januari 2020, dengan fokus pada kata, kalimat, dialog, dan bagian naratif yang merepresentasikan nilai ideologis dan relasi ekologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ideologi adat dan agama berfungsi sebagai sistem etika ekologis yang memposisikan alam sebagai entitas sakral dan bernilai intrinsik, sedangkan ideologi kapitalisme tampil dominan dengan mengonstruksi alam sebagai komoditas ekonomi. Dominasi kapitalisme bekerja melalui mekanisme hegemoni yang mendelegitimasi nilai adat dan agama melalui stigmatisasi, normalisasi logika pasar, dan persetujuan sosial. Akibatnya, krisis ekologis direpresentasikan sebagai konsekuensi ideologis, bukan sekadar fenomena alamiah. Penelitian ini menegaskan bahwa sastra berperan sebagai arena kritik ideologis dan ekologis.
STRENGTHENING AI-BASED CRITICAL LITERACY IN LITERATURE LEARNING UNDER THE MERDEKA CURRICULUM Ni Komang Sabina Sanji Putri; Ida Ayu Agung Ekasriadi
JURNAL KONFIKS Vol 13 No 2 (2026): KONFIKS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/tt4n9b68

Abstract

Literature learning in the era of digital transformation requires the strengthening of students’ critical literacy so they can interpret, evaluate, and construct meaning reflectively, not merely understand texts literally. The emergence of artificial intelligence (AI) offers opportunities to enrich literature learning, yet creates risks of dependence on instant answers when not pedagogically guided. This study examined the effectiveness of an AI-based literature learning model in improving students’ critical literacy and described their responses to AI integration under the Merdeka Curriculum. The study employed a quantitative approach with a nonequivalent control group quasi-experimental design. The population consisted of 360 eleventh-grade students at public senior high school in Kediri City, Indonesia. A total of 120 students were selected through purposive sampling and divided into an experimental group and a control group, each consisting of 60 students. The instruments included a critical literacy test consisting of 20 essay questions, a student response questionnaire, and an observation sheet. The treatment was implemented over six weeks through 12 learning sessions. Data were analyzed using descriptive statistics, paired sample t-test, independent sample t-test, gain score, and Cohen’s d. The results showed that the experimental group increased from 56.4 to 84.7, while the control group increased from 55.9 to 67.2. The independent sample t-test on gain scores indicated a significant difference, with t=12.47, p=0.000, and Cohen’s d=1.82. Student responses were positive, with 86.7% stating that AI supported critical thinking. These findings indicate that AI-based literature learning is effective and relevant for strengthening critical literacy in Merdeka Curriculum.