Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PENGARUH LAMA WAKTU THAWING TERHADAP KUALITAS SEMEN KERBAU LUMPUR (Bubalus bubalis): THE EFFECT OF THAWING TIME ON THE QUALITY OF MUD BUFFALO SEMEN (Bubalus bubalis) Windi Yolanda; Rini Elisia; Maiyontoni; Refika Komala
Tropical Animal Science Vol. 8 No. 1 (2026): TROPICAL ANIMAL SCIENCE
Publisher : Universitas Boyolali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36596/tas.v8i1.2159

Abstract

Artificial insemination (AI) in buffaloes in Indonesia still faces challenges, one of which is the low quality of frozen semen due to improper thawing processes. Buffalo semen has physiological advantages, but it is also more susceptible to damage during thawing and cryopreservation processes. Previous studies have shown that thawing time affects sperm motility. This study aims to determine the effect of thawing time on buffalo semen quality in order to improve AI success rates. This study used 20 straws of frozen buffalo semen with an experimental research method and data analysis using RAK, consisting of 4 treatments (P1: 30 seconds, P2: 60 seconds, P3: 90 seconds, P4: 120 seconds) and 5 replicates. The observation parameters were PTM (Post Thawing Motility), viability, abnormality, MPU (Membrane Plasma Integrity), and TAU (Acrosome Cap Integrity). The results showed that the mean values of PTM, viability, abnormality, MPU, and TAU of the four treatments were not significantly different (P>0.05). These results indicate that thawing frozen buffalo semen for up to 120 seconds (2 minutes) at a temperature of 370? can still maintain the viability, abnormalities, MPU count, and TAU count of buffalo sperm before insemination. There is a tendency for the PTM and MPU counts in the 120-second thawing treatment to be higher than in the other treatments. Based on the research results, it can be concluded that thawing for 30 seconds, 60 seconds, 90 seconds, and 120 seconds did not produce significant differences in PTM, viability, abnormalities, MPU, and TAU of frozen buffalo semen, so thawing up to 120 seconds can still be done.
Pengaruh Penambahan Asam Jawa (Tamarindus indica L) Terhadap Kualitas Kimia Dan Organoleptik Dendeng Daging Ayam Afkir Erfani Rezzy; Refika Komala; Rini Elisia; Maiyontoni
JAGO TOLIS : Jurnal Agrokompleks Tolis Vol 6 No 3 (2026): Juni - September
Publisher : Universitas Madako Tolitoli

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56630/jago.v6i3.1586

Abstract

Dendeng merupakan makanan olahan daging yang dibuat dengan penambahan bumbu sehingga memiliki cita rasa khas dan daya simpan lebih lama. Dendeng umumnya menggunakan daging sapi, selain daging sapi daging ayam afkir juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan dendeng karena memiliki kandungan protein yang cukup tinggi. Penambahan asam jawa pada pembuatan dendeng digunakan untuk memperbaiki kualitas produk karena asam jawa mengandung asam organik, vitamin C, dan antioksidan alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan asam jawa terhadap kualitas kimia dan organoleptik dendeng daging ayam afkir. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan yaitu P0 (0%), P1 (7%), P2 (10%), P3 (13%), dan P4 (16%) penambahan asam jawa. Parameter yang diamati meliputi kadar protein, vitamin C, kadar air, serta uji organoleptik berupa aroma, warna, tekstur, dan rasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan asam jawa berpengaruh terhadap kualitas dendeng daging ayam afkir. Kadar protein mengalami penurunan dari 24,57% pada P0 menjadi 24,29% pada P4 karena pengaruh asam terhadap protein daging. Kadar vitamin C meningkat dari 0,01% menjadi 1,12% karena asam jawa mengandung vitamin C alami atau asam organik. Kadar air mengalami perubahan pada setiap perlakuan karena asam jawa mempengaruhi kemampuan daging dalam mengikat air. Pada uji organoleptik, penambahan asam jawa tidak mengubah aroma dendeng karena asam jawa hanya identik pada rasa asam dari pada baunya, serta pada warna yang dihasilkan berbeda di setiap perlakuannya, tekstur lebih empuk, dan rasa yang di hasilkan lebih asam. Perlakuan terbaik terdapat pada P3 (13%) pada (warna, rasa dan tekstur)  dan perlakuan terbaik pada P4 (16%) pada (rasa). Dari hasil penelitian ini dapat di simpulkan bahwa penambahan asam jawa pada dendeng daging ayam afkir berpengaruh nyata terhadap kualitas kimia seperti protein, vitamin C, dan kadar air. Pada kualitas organoleptik berpengaruh nyata pada warna, tekstur dan rasa, serta tidak berpengaruh pada aroma.
Pengaruh Konsentrasi Pemberian POC (Pupuk Organik Cair) Urin Kambing Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Rumput Odot (Pennisetum purpureum cv. Moot) Yhihan Sahira; Maiyontoni; Malikil Kudus Susalam; Kiki Amelia
JAGO TOLIS : Jurnal Agrokompleks Tolis Vol 6 No 3 (2026): Juni - September
Publisher : Universitas Madako Tolitoli

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56630/jago.v6i3.1721

Abstract

Rumput odot (Pennisetum purpureum cv. Mott) merupakan hijauan pakan yang memiliki produktivitas tinggi dan berpotensi mendukung kebutuhan pakan ternak ruminansia. Pertumbuhan dan produksi rumput odot dipengaruhi oleh ketersediaan unsur hara, sehingga diperlukan pemupukan yang efektif dan ramah lingkungan. Pupuk organik cair (POC) urin kambing merupakan salah satu sumber bahan organik yang berpotensi menyediakan unsur hara bagi tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian beberapa tingkat POC urin kambing terhadap pertumbuhan dan produksi rumput odot serta menentukan konsentrasi terbaik. Penelitian dilaksanakan di lahan percobaan Agroindustri Universitas Negeri Padang Kampus Sijunjung pada Januari sampai Maret 2026. Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas lima perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan yang diberikan yaitu P0 (tanpa POC), P1 (500 mL), P2 (600 mL), P3 (700 mL), dan P4 (800 mL) POC urin kambing yang diencerkan hingga volume larutan 2.000 mL. Aplikasi dilakukan pada tanaman dalam polybag berukuran 7 kg pada umur 14, 21, 28, dan 35 hari setelah tanam dengan metode penyiraman pada pangkal tanaman. Parameter pengamatan meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, panjang daun, dan berat segar. Data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Duncan taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian POC urin kambing memberikan respons terbaik pada perlakuan P3 dengan konsentrasi 700 mL POC/2.000 mL larutan, menghasilkan tinggi tanaman 91,25 cm, jumlah daun 11 helai, dan berat segar 439 g. Peningkatan volume POC hingga 800 mL tidak meningkatkan pertumbuhan dan produksi rumput odot. Berdasarkan hasil penelitian, konsentrasi 700 mL POC urin kambing/2.000 mL larutan merupakan perlakuan terbaik dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi rumput odot.
Identifikasi Mortalitas Anak Pra-Sapih Pemeliharaan Sapi di UPTD Ternak Ruminansia Air Runding, Pasaman Barat Fitri Annisa; Maiyontoni
JAGO TOLIS : Jurnal Agrokompleks Tolis Vol 6 No 3 (2026): Juni - September
Publisher : Universitas Madako Tolitoli

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56630/jago.v6i3.1773

Abstract

Mortalitas pedet pra-sapih merupakan salah satu permasalahan dalam pemeliharaan sapi potong yang dapat menghambat peningkatan populasi dan produktivitas ternak. Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat mortalitas pedet pra-sapih serta faktor yang berkaitan dengan mortalitas di UPTD Ternak Ruminansia Air Runding, Kabupaten Pasaman Barat. Penelitian menggunakan metode survei dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Data diperoleh dari recording kelahiran dan kematian pedet periode 2021–2025, observasi, serta wawancara. Analisis hubungan bangsa sapi dan metode perkawinan dengan status mortalitas menggunakan Chi-Square dan Fisher's Exact Test. Mortalitas pedet selama 2021–2025 berkisar 6,1–10,4%, tertinggi pada 2023 sebesar 10,4% dan terendah pada 2025 sebesar 6,1%. Total kematian mencapai 53 ekor, terdiri atas malnutrisi (20 ekor), cacingan (16 ekor), cuaca (9 ekor), dan serangan binatang (8 ekor). Berdasarkan bangsa sapi, kematian tercatat pada 1 dari 13 induk Bali (7,7%), 6 dari 11 induk Pesisir (54,5%), dan 3 dari 6 induk Simmental (50,0%). Fisher's Exact Test menunjukkan hubungan signifikan antara bangsa sapi dan status mortalitas (p = 0,031), sedangkan metode perkawinan tidak menunjukkan hubungan signifikan (p = 0,694). Hasil ini menunjukkan adanya hubungan antara bangsa sapi dan status mortalitas pada populasi penelitian, tanpa menunjukkan hubungan sebab-akibat. Peningkatan manajemen nutrisi, kesehatan, sanitasi, perlindungan cuaca, dan pengamanan pedet diperlukan untuk mendukung penurunan mortalitas pra-sapih.