Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Efek Penambahan Admixture terhadap Kuat Tekan Beton SCC pada Umur 7 Hari Dengan Metode Wet Curing Nasruddin; Sampebulu, Victor; Mushar, Pratiwi
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 9 No. 1 (2020): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.v9i1.94

Abstract

Penggunaan material beton sebagai bahan konstruksi bangunan semakin meningkat kebutuhannya. Hal ini menyebabkan perlunya inovasi dan teknologi dalam perkembangan bahan beton. Akibat semakin berkurang dan mahalnya tenaga kerja menyebabkan perlunya campuran beton yang dapat memadat sendiri sehingga tidak memerlukan tenaga kerja yang banyak untuk mengerjakannya dibarengi dengan kualitas beton yang tinggi. Pada tahun 1988, beton kinerja tinggi ditemukan dengan sebutan beton SCC (Self Compacting Concrete). Beton ini memanfaatkan pengaturan ukuran agregat, porsi agregat dan admixture superplastiziser untuk mendapatkan kekentalan khusus memungkinkan beton dapat mengalir sendiri tanpa bantuan alat pemadat. Jenis penelitian ini adalah eksperimental yang dilakukan di laboratorium. Tujuan penelitian adalah mendapatkan nilai kuat tekan beton SCC dengan bahan tambah superplastiziser yang diuji melalui destructive test dengan menggunakan Universal Testing Machine (UTM). Variabel penelitian: variasi umur 7 hari, metode perawatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kuat tekan beton SCC didapatkan nilai lebih tinggi dari beton normal.
Bottom Ash: Pengganti Agregat Halus dalam Pembuatan Beton Hardiana; Junus, Nasruddin; Mushar, Pratiwi
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 8 No. 3 (2019): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.8.2.109

Abstract

Penggunaan batubara sebagai sumber energi pada PLTU menghasilkan limbah padat berupa bottom ash dan fly ash dari hasil pembakaran. Pemanfaatan limbah bottom ash khususnya yang dihasikan oleh PLTU Jeneponto masih belum optimal. Besarnya jumlah limbah dapat mencemari lingkungan sekitar, jika limbah tersebut langsung dibuang ke lingkungan lambat laun akan membentuk gas metana yang sewaktu-waktu dapat terbakar atau meledak dengan sendirinya, selain berbahaya bagi lingkungan limbah hasil pembakaran batubara membutuhkan fasilitas pembuangan yang relatif mahal. Tujuan pembahasan adalah membandingkan kuat tekan antara beton normal dengan beton yang menggunakan bottom ash sebagai agregat halus. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental yakni uji laboratorium dengan menganalisis hubungan sebab akibat antara satu sama lain dan membandingkan hasilnya. Masing-masing benda uji dirawat dengan metode dry curing dan wet curing, jumlah benda uji beton sebanyak 48 buah, dengan variasi umur beton 3 hari,7 hari, 14 hari dan 28 hari. Hasil penelitian ini menyatakan limbah bottom ash dapat difungsikan sebagai pengganti agregat halus. Nilai hasil pengujian pada umur 28 hari menunjukan hasil rata-rata kuat tekan beton normal dry curing lebih tinggi 13,28% dari beton bottom ash yang dirawat dengan metode dry curing. Pada metode wet curing, nilai kuat tekan beton normal lebih tinggi 40.17% dari beton bottom ash.
Kuat Tekan Beton antara Metode Destructive Test dan Non-Destructive Test pada Beton Ringan Berbahan Fly Ash atau Slag Sampebulu, Victor; Nasruddin; Mushar, Pratiwi
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 7 No. 2 (2018): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.7.2.107

Abstract

Metode pengujian kuat tekan beton yang dianggap tingkat keandalannya paling tinggi adalah pengujian merusak (destructive test) dengan menggunakan alat compressive testing machine. Pengujian ini membutuhkan biaya yang cukup tinggi dan memerlukan waktu pengerjaan yang lebih lama. Namun terkadang pengujian untuk mengetahui kuat tekan beton tidak selalu bisa dilakukan di laboratorium dengan alat compressive testing machine, tapi harus dilakukan langsung di lapangan. Untuk kondisi seperti ini dan dalam rangka pengawasan mutu beton dilapangan dibutuhkan alat pengujian untuk mengukur atau mengetahui kuat tekan beton keras dengan cepat dan praktis serta tidak merusak. Pengujian ini dikenal dengan istilah uji tidak merusak (non-destructive test). Tujuan pembahasan ini adalah untuk mengetahui perbandingan nilai kuat tekan beton antara beton normal dengan beton ringan (fly ash) dengan variabel yang sama (variasi umur dan perawatan) dan dengan cara destructive test dan non-destructive test. Metode penelitian yang dipergunakan adalah eksperimental, menganalisis data hasil uji dengan metode komparatif serta secara kuantitatif. Hasil dari dari pembahasan adalah didapatkannya “nilai kuat tekan beton ringan” untuk Compressive Testing Mechine (UTM) dimana nilai hasil pengukurannya bisa dibandingkan dengan nilai kuat tekan beton normal yang diuji oleh alat yang sama.