Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

KESESUAIAN DAN DAYA DUKUNG EKOSISTEM MANGROVE UNTUK PENGEMBANGAN EKOWISATA DI TELUK AMBON, PROVINSI MALUKU Alimudi, Saiful; Nurlette, Hartono Nurlette; Fatsey, Alwi; Kaliky, Kamarudin
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 21, No 2 (2025): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijfst.21.2.107-114

Abstract

Kawasan eksosistem mangrove Desa Wariheru memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi area ekowisata. Melalui pengembangan tersebut, manfaat dari hutan mangrove tidak hanya dinikmati sebagai wisata alam, namun dapat memberikan alternatif khususnya masyarakat pesisir untuk meningkatkan pendapatan ekonomi. Kendati demikian, realisasi oleh stakeholder dan pemerintah belum mewujudkan harapan tersebut. Urgensi penelitian ini berfokus pada pemanfaatan teknologi sistem informasi geografis (SIG) untuk mengetahui potensi hutan mangrove sebagai kawasan ekowisata. Pendekatan SIG dapat dimanfaatkan sebagai acuan awal dalam pengambilan kebijakan terkait pengelolaan dan pengembangan kawsan ekosistem mangrove. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kesesuaian lahan dan daya dukung ekowisata mangrove desa Waiheru. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kauntitatif dengan pengumpulan data melalui observasi dan survey lapangan. Analisis kesesuaian lahan untuk ekowisata mangrove dilakukan secara spasial berdasarkan perkalian antara nilai skor dan bobot yang diperoleh dari masing-masing parameter, melalui pendekatan SIG. Analisis daya dukung ekowisata dihitung dengan persamaan Daya Dukung Kawasan (DDK). Hasil penelitian menunjukan informasi indkes kesesuain wilayah (IKW) desa Waiheru termasuk dalam kategori sesuai dengan luas 6,98 ha. Panjang area yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan tracking adalah 1.202 m dan daya dukung ekowisata mangrove adalah 192 orang/hari, dengan mempertimbangkan lamanya waktu kunjungan wisata setiap pengunjung (buka 8 jam/hari). Secara keseluruhan kawasan ekosistem mangrove Desa Waiheru dikategorikan cukup sesuai untuk dikembangan menjadi kawasan ekowisata dengan daya tampung dalam kategori baik dan tidak melebihi ambang batas maksimal yang diperbolehkan
Antibacterial activity in vitro investigation of eucheuma cottonii extract from aru islands against pathogenic bacteria Yunita, Melda; Warella, Juen Carla; Astuty, Eka; Ohiwal, Morgan; Alimudi, Saiful
JPBIO (Jurnal Pendidikan Biologi) Vol 9, No 1 (2024): April 2024
Publisher : STKIP Persada Khatulistiwa Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31932/jpbio.v9i1.3241

Abstract

Red algae Eucheuma cottonii is one of the potential marine biodiversity that provides added value in the pharmaceutical and cosmetic fields and is known to have antibacterial compounds. Research focusing on the potential of E. cottonii as an antibacterial is still limited, particularly when it comes to the Aru Islands. This study aimed to measure the antibacterial activity of E. cottonii against pathogenic bacteria including E. coli and S. aereus at several concentrations and to determine the best concentration for inhibiting these two pathogenic bacteria. The study was true experimental laboratory research with a post-test-only controlled group design. Antibacterial tests using the disc diffusion method and phytochemical tests were carried out. This study revealed that E. cottonii could be able to inhibit S. aureus ranging from 0.27±0.03 – 2.1±0.14 at a concentration of 50%-100%, and 0.17±0.05 – 0.45 ± 0.03 against E. coli at a concentration of 80-100%. Meanwhile, saponins and flavonoids were two bioactive compounds found through phytochemical testing. The study concluded that the n-hexane extract of E. cottonii was able to inhibit the growth of E. coli and S. aureus, even with a weak inhibition category. This study recommends that improvements are needed in the E. cottonii extraction process to maximize the antibacterial properties of E. cottonii.
SOSIALISASI PENTINGNYA MENJAGA EKOSISTEM MANGROVE KEPADA MASYARAKAT DISERTAI PENANAMAN MANGROVE Ohiwal, Morgan; Alimudi, Saiful; Marasabessy, Rendi; Rumatiga, Masdar; Nurlette, Hartono; Musaid, Hendra; Ratau, Asria; Yunita, Melda
Jurnal Abdimas Sangkabira Vol. 6 No. 1 (2025): Jurnal Abdimas Sangkabira, Desember 2025
Publisher : Program Studi Diploma III Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdimassangkabira.v6i1.2683

Abstract

Kerusakan mangrove secara umum terjadi di seluruh kawasan pesisir Indonesia termasuk di Maluku, khususnya di kawasan mangrove di Desa Waiheru Kecamatan Teluk Ambon Baguala Kota Ambon. Penyebab kerusakan mangorbe antara lain ialah alih fungsi lahan menjadi pemukiman, daerah ekowisata, penebangan liar, sedimentasi, dan pencemaran lingkungan. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga kawasan mangrove dan merehabilitasi kawasan mangrove yang rusak. Kegiatan ini dilakukan pada 27 November 2021. Kegiatan yang dilakukan meliputi sosialisasi, penanaman 800 anakan mangrove, dan evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan 576 tanaman (72%) hidup, tanaman yang merana sebanyak 160 tanaman (20%), dan tanaman yang mati sebanyak 64 (8%). Dapat disimpulkan sosialisasi yang disertai dengan penanaman mangrove berhasil mengedukasi masyarakat di sekitar kawasan mangrove dalam memahami pentingnya menjaga ekosistem mangrove dan perlunya merehabilitasi kawasan mangrove yang rusak. Diharapkan kegiatan ini dapat dilakukan secara berkelanjutan dalam upaya menjaga kelestarian kawasan mangrove.
Abundance and Growth of Mole Crab on The Sandy Beach of Tial Village, Central Maluku Hartono Nurlette; Saiful Alimudi; Nunun Ainun Putri Sari Banun Kaliky
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 3 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.3.2025.60956

Abstract

Sandy beaches are environments that have various biota with remarkable diversity and economic and ecological benefits. One of the sandy beach biotas is the mole crab, which is evenly distributed in Indonesia with diverse types and different characteristics. This study aimed to determine the growth and abundance of mole crabs on sandy beaches in Tial State, Central Maluku. Traditionally, sampling was performed by sweeping the soles of the feet. The entire sample amounted to 49 species and was then analyzed to describe the area's growth and abundance of Mole crabs. The study results indicated that the treason length ranged from to 8-44 mm, with the most frequent being in the class interval of 26-31 mm. A strong relationship existed (R2 = 0.9043) between the group's length and weight addition. This means that an increase will follow every increase in the length of the weight of mole crabs. The growth pattern of the mole crabs was allometrically negative. Hippa marmorata's relative abundance is 98%, while Hippa celaeno is 2%. The dominance index (C=0.9600 > 0.5) indicated a dominant species, namely Hippa marmorata. Mole crabs in this area also had low diversity (H'=0.0996 < 1) and a small population uniformity index (e=0.1437 < 0.4). Keywords: dominance, diversity, evenness, mole crab, length-weight   Abstrak Pantai berpasir merupakan lingkungan yang memiliki berbagai biota dengan keanekaragaman yang luar biasa dan memiliki manfaat ekonomi dan ekologi. Salah satu biota pantai berpasir adalah mole crab yang tersebar merata di Indonesia dengan jenis yang beragam dan karakteristik yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan kelimpahan mole crab di pantai berpasir di Negeri Tial, Maluku Tengah. Pengambilan sampel dilakukan secara tradisional dengan menyapu telapak kaki. Keseluruhan sampel berjumlah 49 spesies dan kemudian dianalisis untuk menggambarkan pertumbuhan dan kelimpahan di daerah tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa panjang mole crab berkisar antara 8-44 mm, dengan yang paling banyak ditemukan pada interval kelas 26-31 mm. Terdapat hubungan yang kuat (R2 = 0,9043) antara pertambahan panjang dan berat kelompok. Artinya, setiap pertambahan panjang akan diikuti oleh pertambahan berat kepiting bakau. Pola pertumbuhan kepiting mole secara allometrik negatif. Kelimpahan relatif Hippa marmorata sebesar 98%, sedangkan Hippa celaeno sebesar 2%. Indeks dominansi (C=0.9600 > 0.5) menunjukkan adanya spesies yang dominan, yaitu Hippa marmorata. Mole crab di daerah ini juga memiliki keanekaragaman yang rendah (H'=0,0996 < 1) dan indeks keseragaman populasi yang kecil (e=0,1437 < 0,4). Kata kunci: dominansi, keanekaragaman, kemerataan, undur-undur, panjang-bobot