Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Kadar Protein, Lemak, dan Tekstur Kue Semprit Formulasi Tepung Kacang Kedelai (Glycine max) dan Tepung Daun Katuk (Sauropus androgynus (L.) Merr.) Putri, Adelia Andini; Handarsari, Erma; Fitriyanti, Addina Rizky; Sulistyaningrum, Hersanti
Prosiding Seminar Nasional Unimus Vol 7 (2024): Transformasi Teknologi Menuju Indonesia Sehat dan Pencapaian Sustainable Development G
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tepung kacang kedelai dikenal sebagai sumber protein nabati yang tinggi, sementara daun katukmengandung protein asparagin dan triptofan yang dipercaya dapat meningkatkan produksi ASI padaibu menyusui. Salah satu inovasi pangan yang dapat mendukung ibu menyusui adalah kue semprityang dimodifikasi dengan menambahkan tepung kacang kedelai dan tepung daun katuk. Tujuanpenelitian ini yaitu menganalisis pengaruh formulasi tepung kacang kedelai dan tepung daun katukterhadap kadar protein, kadar lemak, dan tekstur kue semprit. Penelitian ini menggunakaneksperimen dengan desain Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari empat formulasi.Formulasi tepung terigu, tepung kacang kedelai, dan tepung daun katuk yaitu F0 (100%:0%:0%),F1(75%:10%:15%),F2 (70%:20%:10%), F3 (65%:30%,5%), dengan enam kali pengulangan. Ujikadar protein menggunakan metode Kjeldahl, kadar lemak menggunakan metode Soxhlet, dananalisis tekstur menggunakan Texture Analyzer CT3 Brookfield. Analisis data menggunakan ujiOne Way ANOVA dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan kadar protein kuesemprit 6,79-11,79%, kadar lemak 8,27-23,70%, dan tekstur 1,34-2,48 gf. Formulasi tepung kacangkedelai dan daun katuk memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap kadar protein, kadarlemak, dan tekstur (p<0,001). Formulasi terbaik menurut metode Bayes adalah F3 dengan kadarprotein 11,79%, kadar Lemak 23,70%, dan tekstur 1,67 gf.Kata kunci: daun katuk, kedelai, kue semprit, lemak, protein, tekstur
POLA PEMBERIAN MP-ASI, PENGETAHUAN GIZI IBU DAN TINGKAT EKONOMI KELUARGA DENGAN KEJADIAN STUNTING BADUTA USIA 6-24 BULAN Sunarto, Sunarto; Nur Aini, Fatimah Sahri; Fitriyanti, Addina Rizky
Jurnal LINK Vol 20 No 1 (2024): MEI 2024
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/link.v20i1.10663

Abstract

Ambang batas stunting untuk negara berkembang adalah di bawah 20% sedangkan prevalensi stunting Indonesia 24,4%, Jawa Tengah 20,9% dan Kota Semarang 21,3%. Pemberian MP ASI yang kurang tepat, pengetahuan yang kurang, dan tingkat ekonomi yang rendah berisiko berisiko terhadap kejadian stunting. Tujuan penelitian untuk mengetahui risiko pola pemberian MP-ASI, pengetahuan gizi ibu dan tingkat ekonomi keluarga dengan kejadian stunting baduta usia 6-24 bulan di wilayah kerja Puskesmas Bandarharjo Semarang. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional dan Instrumen yang digunakan meliputi kuesioner pola pemberian MP-ASI, pengetahuan gizi ibu dan tingkat ekonomi keluarga dengan uji chi square dan Regresi logistic Ganda. Hasil penelitian Balita di bawah 2 tahun (Baduta) yang menerima pola pemberian MPASI kurang tepat memiliki risiko 4,2 kali untuk menderita stunting dibandingkan dengan Baduta yang menerima pola pemberian MPASI secara tepat, dan risiko tersebut secara statistic signifikan. Ibu Baduta yang tergolong berpengetahuan kurang memiliki risiko 1,1 kali untuk mempunyai Baduta stunting dibandingkan dengan ibu Baduta yang berpengetahuan baik, namun risiko tersebut secara statistic tidak signifikan. Keluarga Baduta dengan tingkat ekonomi rendah memiliki resiko 3,2 kali untuk mempunyai Baduta stunting dibandingkan dengan keluarga Baduta dengan tingkat ekonomi tinggi, dan risiko tersebut secara statistic signifikan.
Prediction of insulin resistance in late adolescent based on anthropometric index Fitriyanti, Addina Rizky; Sulchan, Muhammad; Tjahjono, Kusmiyati; Sunarto, Sunarto
Jurnal Gizi dan Pangan Vol. 14 No. 2 (2019)
Publisher : The Food and Nutrition Society of Indonesia in collaboration with the Department of Community Nutrition, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.728 KB) | DOI: 10.25182/jgp.2019.14.2.53-60

Abstract

The study aimed to evaluate the role of neck circumference for predicting insulin resistance in adolescent compared with waist circumference and waist hip ratio. A cross sectional study was conducted by measuring anthropometric parameters (neck circumference, waist circumference, hip circumference) and biochemical parameter (fasting plasma glucose, fasting insulin, and HOMA-IR) involving 80 late adolescents. Statistical analysis used in this study were Pearson and Spearman correlation, multivariate linear regression. Neck circumference positively correlated with fasting insulin and HOMA-IR in both gender, while neck circumference only positively correlated with fasting plasma glucose in men. In addition, multivariate linier regression showed that a higher regression coefficient of waist circumference associated with a higher risk of insulin resistance (fasting insulin (β=0.11; p<0.05), HOMA-IR (β=0.05; p<0.05)) compared to neck circumference and waist hip ratio. Neck circumference, waist circumference, and waist hip ratio is an anthropometry indicators that could be used to predict insulin resistance.  However, waist circumference is better than neck circumference and waist hip ratio for predicting insulin resistance in adolescent.
Aktivitas Antioksidan, Serat Kasar, dan Karakteristik Sensori Puding Okra Hijau (Abelmoschus esculantus L) dengan Jambu Biji Merah (Psidium guajava L) Ulfa, Zulfi Aulia; Fitriyanti, Addina Rizky; Sulistyaningrum, Hersanti; Handarsari, Erma
Nutri-Sains: Jurnal Gizi, Pangan dan Aplikasinya Vol. 7 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ns.2023.7.2.14821

Abstract

The purpose of this study was to determine the effect of adding red guava on antioxidant activity, crude fiber content and sensory characteristics of green okra pudding. This reseasrch was a true experimental study with a completely randomized design (CRD). Four comparative formulations (okra:guava) were used, P0 (100% : 0%; as control), P1 (75% : 25%), P2 (50% : 50%), P3 (25% : 75%). The research was conducted with six replications. The antioxidant activity was tested using DPPH assay; the crude fiber level was conducted with a gravimetric method; while the sensory characteristic was done by hedonic test. The data were analyzed using One Way Anova (Parametric) and Friedman (Non-Parametric). The results showed that green okra pudding with red guava had an effect on antioxidant activity (p<0.05), crude fiber content (p<0.05), hedonic quality (taste, color, texture, aroma) and hedonic taste scale, color and aroma were significant (p<0.05), while texture had no significant effect (p>0.05). The best treatment using the Bayes method is the P3 formulation with a ratio of 25% okra and 75% red guava. The highest antioxidant activity was 32.59% and the highest crude fiber content was 6.24%. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penambahan jambu biji merah terhadap aktivitas antioksidan, kadar serat kasar, dan karakteristik sensori puding okra hijau. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian true experimental, Rancangan Acak Lengkap (RAL), empat formulasi perbandingan antara okra dengan jambu biji, yaitu P0 (kontrol 100% : 0%), P1 (75% : 25%), P2 (50% : 50%), P3 (25% : 75%) dan enam kali ulangan. Analisis aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH, kadar serat kasar dengan metode gravimetri, dan karakteristik sensori dengan uji mutu hedonik. Analisis statistika menggunakan uji Anova (Parametrik) dan Friedman (Non Parametrik). Hasil penelitian menunjukkan bahwa puding okra hijau dengan jambu biji merah memiliki pengaruh terhadap aktivitas antioksidan (p<0,05), kadar serat kasar (p<0,05), mutu hedonik (rasa, warna, tekstur, aroma) dan skala hedonik rasa, warna dan aroma yang signifikan (p<0,05), sedangkan tekstur tidak ada pengaruh yang signifikan (p>0,05). Perlakuan terbaik menggunakan metode Bayes yaitu formulasi P3 dengan perbandingan 25% okra dan 75% jambu biji merah. Aktivitas antioksidan tertinggi 32,59% dan kadar serat kasar tertinggi 6,24%.
Proximate levels, physical characteristics, and sensory characteristics of mocaf brownies with the addition of snakehead fish (Channa striata) Fitriyanti, Addina Rizky; Handarsari, Erma; Sunarto, Sunarto; Asysyifa, Rayyana Nur Aurora; Setiyawan, Teddy Hari; Sulisyaningrum, Hersanti; Luqyana, Novia Salma; Aufanida, Arnia Azahro
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 13 ISSUE 2, 2025
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2025.13(2).78-87

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Pola konsumsi snack merupakan bagian dari pola makan. Brownies merupakan makanan tinggi energi yang populer karena mempunyai rasa yang lezat dan manis. Brownies adalah sejenis kue coklat yang mempunyai tekstur padat, tidak berongga, dan tidak begitu empuk karena brownies tidak membutuhkan pengembang atau gluten. Oleh karena itu brownies dapat dibuat dari tepung mocaf. Namun kandungan protein dalam tepung mocaf rendah sehingga perlu ditambahkan sumber protein seperti ikan gabus (Channa striata) untuk meningkatkan nilai gizi.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kadar proksimat, karakteristik fisik, dan karakteristik sensori brownies mocaf dengan penambahan ikan gabus (Channa striata).Metode: Penelitian eksperimen yang menggunakan rancangan acak lengkap untuk mengkaji kadar proksimat, karakteristik fisik, dan karakteristik sensori. Konsentrasi daging ikan gabus terdiri dari 4 taraf perlakuan (0 g, 60 g, 80 g, dan 100 g). Analisis statistik menggunakan uji One-Way ANOVA dan Duncan Multiple Range Test (DMRT).Hasil: Brownies mocaf dengan penambahan ikan gabus mempunyai kadar air 39,2%-48,7%, kadar abu 1,4-1,5%, kadar protein 7,7-17,7%, kadar lemak 32,9-35,4%, dan kadar karbohidrat 9,4-22,2%. Analisis sifat fisik hardness, cohesiveness, gumminess elasticity, and adhesiveness masing-masing 3406,8-4228,4 g/mm, 0,4 g/mm, 1106,4-1560 g/mm, 6,6-8,7 g/mm, and 0,4-0,9 mj. Semakin banyak penambahan ikan gabus akan menurunkan nilai kesukaan brownies mocaf.Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan ikan gabus berpengaruh secara signifikan terhadap kadar air, kadar protein serta sifat sensoris warna, rasa, dan tekstur brownies mocaf. KATA KUNCI: brownies; ikan gabus; mocaf; pangan lokal; PMT-AS ABSTRACTBackground:  Snack consumption patterns are part of eating patterns. Brownies are a popular high-energy food because they have a delicious and sweet taste. They are a type of chocolate cake with a dense texture that is not hollow and is not very soft because brownies do not require a developer or gluten. Therefore, brownies can be made from mocap flour. However, the protein content in mocap flour is low, so it is necessary to add protein sources such as snakehead fish (Channa striata) to increase nutritional value.Objectives: This research aims to analyze the proximate levels, physical characteristics, and sensory characteristics of brownies by adding snakehead fish.Methods: Experimental research using a completely randomized design to examine proximate levels and physical and sensory characteristics. The concentration of snakehead fish consists of 4 treatment levels (0 g, 60 g, 80 g, and 100 g.). Statistical analysis using One-Way ANOVA and Duncan Multiple Range Test (DMRT).Results: Mocaf brownies with the addition of snakehead fish have a water content of 39.2%-48.7%, ash content of 1.4-1.5%, protein content of 7.7-17.7%, fat content of 32.9-35.4%, and carbohydrate content of 9.4-22.2%. Analysis of physical properties of hardness, cohesiveness, gumminess elasticity, and adhesive power were 3406.8-4228.4 g/mm, 0.4 g/mm, 1106.4-1560 g/mm, 6.6-8.7 g/mm, and 0.4-0.9 mj, respectively. The more snakehead fish added, the lower the preference value of mocaf brownies.Conclusions: The results showed that the addition of snakehead fish had a significant effect on water content, protein content, and sensory properties of color, taste, and texture of mocaf brownies. KEYWORD: brownies; channa striata; mocaf; mocal food; supplementary food for school children program Received: 16 Dec 2024; Revised: 20 Aug 2024; Accepted: 20 Jan 2025; Available online: 24 Mar 2025; Published: 30 Mar 2025.