Binti Yunariyah
Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Pengetahuan Remaja Tentang Hipertensi Dengan Gaya Hidup Sehat Di MA Manbail Futuh Tuban Maynisa Salsabila; Binti Yunariyah; Roudlotul Jannah; Yasin Wahyurianto
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2418

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang dapat terjadi sejak usia remaja dan berhubungan erat dengan gaya hidup. Kurangnya pengetahuan remaja tentang hipertensi dapat menyebabkan rendahnya kesadaran dalam menerapkan perilaku hidup sehat sehingga meningkatkan risiko hipertensi sejak dini. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan remaja tentang hipertensi dengan gaya hidup sehat di MA Manbail Futuh Tuban. Metode: Penelitian ini menggunakan desain analitik korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian terdiri dari 178 siswa kelas XI, dengan jumlah sampel sebanyak 123 responden yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner pengetahuan tentang hipertensi dan gaya hidup sehat. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 123 responden, hampir setengahnya memiliki tingkat pengetahuan kategori cukup sebanyak 50 siswa (41%), sedangkan sebagian besar memiliki gaya hidup sehat kategori buruk sebanyak 86 siswa (70%). Berdasarkan hasil uji statistik Chi-Square, diperoleh nilai p-value = 0,001 dengan taraf signifikansi < 0,05. Oleh karena itu, H₀ ditolak dan Hₐ diterima, sehingga terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan remaja tentang hipertensi dengan gaya hidup sehat di MA Manbail Futuh Tuban. Simpulan: Pengetahuan yang baik tentang hipertensi berperan dalam meningkatkan kesadaran remaja untuk menerapkan gaya hidup sehat. Semakin baik pengetahuan yang dimiliki remaja mengenai hipertensi, semakin besar kecenderungan mereka untuk menerapkan perilaku hidup sehat sebagai upaya pencegahan hipertensi sejak dini.
Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Dalam Pencegahan Bayi Berat Badan Lahir Rendah Di Wilayah Kerja Puskesmas Wire Putri Nabila Dhea Deswitasari1; Wahyuningsih Triana Nugraheni; Wahyu Tri Ningsih; Binti Yunariyah
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2419

Abstract

Tingginya angka morbiditas dan mortalitas neonatal salah satunya dipicu oleh kejadian BBLR. Kasus BBLR di Kabupaten Tuban terpusat di Kecamatan Semanding sebagai wilayah dengan prevalensi tertinggi, di mana tercatat 74 kasus pada 2024 dan naik menjadi 77 kasus pada 2025. Untuk mengantisipasi masalah ini, pemahaman ibu hamil terkait potensi risiko, konsekuensi medis, dan tindakan pencegahan BBLR perlu ditingkatkan secara optimal. Pengetahuan yang baik diharapkan mampu mendorong ibu hamil menerapkan perilaku sehat selama kehamilan. Penelitian ini dilakukan untuk mengukur sejauh mana pemahaman ibu hamil terkait upaya pencegahan kejadian BBLR di wilayah kerja Puskesmas Wire. Studi ini menerapkan pendekatan deskriptif dengan meneliti populasi yang mencakup seluruh ibu hamil trimester I dan II di wilayah kerja Puskesmas Wire, yaitu sebanyak 49 orang. Melalui teknik purposive sampling, sebanyak 49 responden ditetapkan sebagai sampel. Data dihimpun dengan instrumen kuesioner, lalu diolah menggunakan analisis deskriptif untuk menyajikan distribusi frekuensi serta persentase. Berdasarkan hasil penelitian, sebagian besar responden memahami tindakan pencegahan BBLR dengan sangat baik. Kelompok yang memiliki tingkat pengetahuan tinggi ini didominasi oleh individu berusia 20-35 tahun (70,5%), lulusan jenjang SMA (72,0%), serta status aktif bekerja (94,4%). Sebaliknya, responden yang memiliki pengetahuan minim relatif kecil, dimana kelompok ini ditemui pada usia 20-35 tahun (6,8%), berlatar belakang pendidikan SD dan SMP (11,8%), serta tidak memiliki pekerjaan (9,7%). Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar ibu hamil telah memiliki edukasi yang memadai terkait pencegahan BBLR. Pengetahuan yang baik diharapkan dapat mendukung upaya pencegahan BBLR melalui pemenuhan gizi yang adekuat, konsumsi tablet Fe secara teratur, serta pemeriksaan kehamilan secara rutin dan berkesinambungan
Pengetahuan Dan Perilaku Penderita TB Paru Tentang Pencegahan Penularan TB Paru Di Wilayah Kerja Puskesmas Tuban M. Rafli Adiaksa Risma Putra; Binti Yunariyah; Roudlotul Jannah; Wahyu Tri Ningsih
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2424

Abstract

TB Paru merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia. Di wilayah kerja Puskesmas Tuban tahun 2026 terdapat 59 penderita TB Paru. Permasalahan kesehatan ini masih dipengaruhi oleh kurangnya pengetahuan tentang pencegahan penularan sehingga masih ditemukan perilaku yang tidak sehat. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran pengetahuan dan perilaku penderita TB Paru tentang pencegahan penularan TB Paru. Desain penelitian menggunakan metode deskriptif untuk mendeskripsikan pengetahuan dan perilaku penderita TB Paru tentang pencegahan penularan TB Paru. Populasi penelitian adalah seluruh penderita TB Paru di wilayah kerja Puskesmas Tuban sebanyak 59 orang. Namun, 1 orang meninggal dunia sehingga jumlah responden yang yang diteliti sebanyak 58 orang. Teknik sampling menggunakan total sampling dengan jumlah sampel 58 responden. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Data dianalisis menggunakan analisis univariat. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar (74,1%) penderita TB Paru berusia 20–59 tahun, sebagian besar (55,2%) berjenis kelamin perempuan, setengahnya (50,0%) berpendidikan dasar, dan sebagian besar (63,8%) bekerja. Sebagian besar (74,1%) penderita TB Paru memiliki pengetahuan baik tentang pencegahan penularan TB Paru. Namun, hampir setengahnya (41,4%) memiliki perilaku kurang dalam pencegahan penularan TB Paru. Penderita TB Paru di wilayah kerja Puskesmas Tuban memiliki pengetahuan yang baik tentang pencegahan penularan TB Paru, tetapi perilaku pencegahan penularannya masih kurang. Oleh karena itu, masih diperlukan edukasi dan pendampingan berkelanjutan agar penderita mampu menerapkan perilaku pencegahan dengan baik..
Pengetahuan Dan Sikap Remaja Putri Tentang Anemia Di SMA 1 Tambakboyo Femilia Putri Helwakan; Binti Yunariyah; Roudlotul Jannah; Titik Sumiatin
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2430

Abstract

Anemia yang dialami pada remaja putri menjadi salah satu isu kesehatan krusial karena berpotensi merusak daya konsentrasi belajar sekaligus memicu masalah kesehatan reproduksi dikemudian hari. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini dilakukan untuk memetakan tingkat pengetahuan dan sikap siswi kelas XI SMA Negeri 1 Tambakboyo dalam menjalankan langkah-langkah pencegahan anemia. Penelitian ini dirancang menggunakan teknik deskriptif kuantitatif berpendekatan cross-sectional. Penelitian ini mengikutsertakan seluruh populasi remaja putri kelas XI sebanyak 92 orang melalui metode total sampling. Proses pengumpulan data mengandalkan instrumen kuesioner, yang kemudian dianalisis secara deskriptif untuk memetakan distribusi frekuensi pengetahuan serta sikap para subjek penelitian. Berdasarkan temuan penelitian, sebagian besar remaja putri mencatatkan tingkat pengetahuan yang baik sekaligus menunjukkan kecenderungan terhadap sikap negatif, masing-masing diwakili oleh 49 responden (53,3%). Pengetahuan yang baik belum tentu membentuk sikap positif terhadap pencegahan Anemia pada Remaja Putri. Oleh sebab itu diperlukan pendidikan kesehatan tentang anemia lebih inovatif, dan berkelanjutan melalui keterlibatan sekolah serta pendidik sebaya untuk meningkatkan sikap tentang anemia.
Pengetahuan Remaja Tentang HIV/Aids Dengan Sikap Remaja Dalam Upaya Pencegahan HIV/Aids Di SMAN 2 Tuban Windi Asfitri; Binti Yunariyah; Roudlotul Jannah; Wahyu Tri Ningsih
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2434

Abstract

HIV/AIDS masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang terus meningkat, khususnya di kalangan remaja. Minimnya pemahaman tentang HIV/AIDS dapat berdampak langsung pada sikap remaja dalam melakukan tindakan pencegahan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan guna mengetahui hubungan pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS dengan sikap remaja dalam upaya pencegahan HIV/AIDS di SMAN 2 Tuban. Desain penelitian menggunakan analitik korelasional melalui pendekatan cross-sectional. Sebanyak 179 remaja dari keseluruhan populasi 324 remaja kelas X SMAN 2 Tuban yang ditetapkan sebagai sampel penelitian menggunakan metode consecutive sampling. Variabel independen adalah pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS dan variabel dependen adalah sikap remaja dalam upaya pencegahan HIV/AIDS. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan hampir seluruhnya memiliki pengetahuan baik tentang HIV/AIDS dan memiliki sikap positif dalam upaya pencegahan HIV/AIDS. Hasil uji Chi-Square diperoleh nilai p-value = 0,002 (α < 0,05), yang menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS dengan sikap remaja dalam upaya pencegahan HIV/AIDS. Pengetahuan yang baik mengenai HIV/AIDS berperan dalam membentuk sikap positif remaja terhadap upaya pencegahan HIV/AIDS. Remaja yang memahami cara penularan, faktor risiko, dampak, serta upaya pencegahan HIV/AIDS cenderung memiliki sikap yang lebih baik dalam menghindari perilaku berisiko. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semakin baik tingkat pengetahuan remaja, semakin positif pula sikap mereka dalam upaya pencegahan HIV/AIDS. Oleh karena itu, diperlukan peran aktif sekolah, keluarga, dan tenaga kesehatan dalam memberikan edukasi kesehatan reproduksi dan HIV/AIDS secara berkelanjutan.