Farendina Suarantika
Prodi Farmasi, Fakultas Farmasi dan Sains, Universitas Islam Bandung, Indonesia

Published : 16 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Studi Literatur : Aktivitas Antioksidan pada Daun Mint (Mentha piperita L.) Siti Nazwa Alysia Jingga Folananskya; Farendina Suarantika; Hanifa Rahma
Bandung Conference Series: Pharmacy 571 - 578
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.25213

Abstract

Abstract. Mentha piperita L. leaves contain various bioactive compounds, including monoterpenes, flavonoids, and phenolic compounds, which exhibit promising natural antioxidant activity. This study aimed to review the antioxidant activity of Mentha piperita L. leaves using the 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH) assay through a literature review approach. Literature published between 2010 and 2025 was selected based on predefined inclusion criteria. The reviewed data included extraction methods, extraction solvents, bioactive compounds, and IC₅₀ values. The findings indicated that the antioxidant activity of M. piperita was influenced by extraction methods, solvent polarity, and bioactive compound composition. Hydrodistillation generally produced essential oils rich in monoterpenes, whereas maceration using polar solvents was more effective in extracting phenolic and flavonoid compounds. The reported IC₅₀ values ranged from 2.99 mg/mL to >800 µg/mL, indicating that extraction methods, chemical composition, and environmental factors contributed to differences in antioxidant activity. Overall, Mentha piperita L. leaves have considerable potential as a natural source of antioxidants. Abstrak. Daun mint (Mentha piperita L.) merupakan tanaman herbal yang mengandung berbagai senyawa bioaktif, seperti monoterpen, flavonoid, dan senyawa fenolik yang berpotensi sebagai antioksidan alami. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji aktivitas antioksidan daun Mentha piperita L. menggunakan metode 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH) melalui pendekatan literature review. Penelusuran literatur dilakukan terhadap artikel penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2010–2025 sesuai kriteria inklusi. Data yang dikaji meliputi metode ekstraksi, jenis pelarut, senyawa bioaktif, dan nilai IC₅₀. Hasil kajian menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan daun M. piperita dipengaruhi oleh metode ekstraksi, kepolaran pelarut, serta komposisi senyawa bioaktif. Hidrodistilasi umumnya menghasilkan minyak atsiri yang kaya senyawa monoterpen, sedangkan maserasi dengan pelarut polar lebih efektif mengekstraksi senyawa fenolik dan flavonoid. Nilai IC₅₀ yang dilaporkan bervariasi, yaitu berkisar antara 2,99 mg/mL hingga >800 µg/mL, yang menunjukkan adanya pengaruh metode ekstraksi, komposisi kimia, dan faktor lingkungan terhadap aktivitas antioksidan. Secara keseluruhan, daun Mentha piperita L. berpotensi dikembangkan sebagai sumber antioksidan alami.
Validasi Metode KCKT Bahan Kimia Obat (BKO) pada Jamu Antidiabetes Syira Nasifa Ramadhiani; Farendina Suarantika; Hilda Aprilia
Bandung Conference Series: Pharmacy 663 - 674
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.25358

Abstract

Abstract. Natural medicine is an Indonesian cultural heritage that has been used for generations as an alternative treatment for various diseases. One form of natural medicine that is widely consumed by the community is herbal medicine. This study aims to identify and determine the chemical content of glibenclamide in antidiabetic herbal medicine circulating in Bogor Regency using Thin Layer Chromatography and High Performance Liquid Chromatography methods, as well as to validate the High Performance Liquid Chromatography analysis method. A total of 8 antidiabetic herbal medicine samples were obtained from several herbal medicine shops in Bogor Regency. Qualitative analysis was carried out using Thin Layer Chromatography, while quantitative analysis was carried out using High Performance Liquid Chromatography. The results of Thin Layer Chromatography showed that sample G had Rf values of 0.44; 0.50; and 0.45 in three repetitions. The High Performance Liquid Chromatography method used has met all validation parameters, including linearity, accuracy, precision, selectivity, limit of detection, limit of quantitation, and system suitability, so it is declared valid for determining glibenclamide levels. Quantitative analysis results showed glibenclamide levels in sample G of 2,046%; 2,023%; and 2,072%, with an average concentration of 2,047%. Of the eight samples analyzed, one sample was identified as containing glibenclamide. Abstrak. Obat bahan alam merupakan warisan budaya Indonesia yang telah digunakan secara turun-temurun sebagai alternatif pengobatan berbagai penyakit. Salah satu bentuk obat bahan alam yang banyak dikonsumsi masyarakat adalah jamu. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menentukan kadar bahan kimia obat glibenklamid dalam jamu antidiabetes yang beredar di Kabupaten Bogor menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis dan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi, serta memvalidasi metode analisis Kromatografi Cair Kinerja Tinggi. Sebanyak 8 sampel jamu antidiabetes diperoleh dari beberapa toko jamu di Kabupaten Bogor. Analisis kualitatif dilakukan menggunakan Kromatografi Lapis Tipis, sedangkan analisis kuantitatif dilakukan menggunakan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi. Hasil Kromatografi Lapis Tipis menunjukkan bahwa sampel G memiliki nilai Rf sebesar 0,44; 0,50; dan 0,45 pada tiga kali pengulangan. Metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi yang digunakan telah memenuhi seluruh parameter validasi, meliputi linearitas, akurasi, presisi, selektivitas, batas deteksi, batas kuantitasi, dan kesesuaian sistem, sehingga dinyatakan valid untuk penetapan kadar glibenklamid. Hasil analisis kuantitatif menunjukkan kadar glibenklamid pada sampel G sebesar 2,046%; 2,023%; dan 2,072%, dengan kadar rata-rata 2,047%. Dari 8 sampel yang dianalisis, 1 sampel teridentifikasi mengandung glibenklamid.
Ekstraksi dan Identifikasi Enzim Bromelin dari Bonggol dan Mahkota Nanas Luthfi Maulana Firmasnyah; Farendina Suarantika; Taufik Muhammad Fakih
Bandung Conference Series: Pharmacy 685 - 692
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.25490

Abstract

Abstract. Bromelin enzyme is a protease enzyme contained in the pineapple plant (Ananas comosus (L.) Merr.) and has various benefits in the fields of food, pharmaceuticals, and biotechnology. Pineapple humps and crowns are agricultural waste that still has the potential to be a source of bromelin so that it can be used to increase the added value of organic waste. This study aims to extract bromelin enzymes from pineapple humps and crowns using the NaCl salt precipitation method followed by dialysis and qualitatively identify the protein content using the Lowry method. The results showed that the highest yield of hump extract was obtained at a concentration of NaCl of 35% of 0.577%, while the highest yield of crown extract was obtained at a concentration of NaCl of 30% of 0.054%. The qualitative test of the Lowry method showed positive results on the entire extract with NaCl concentrations of 30%, 35%, and 40%, which was characterized by a change in the color of the solution to blue after incubation for 30 minutes. These results confirm the presence of protein content in bromelin extract from pineapple humps and crowns. Based on the results of the study, both parts of the pineapple plant have the potential to be used as a source of bromelin enzymes and increase the added value of agricultural waste. Abstrak. Enzim bromelin merupakan enzim protease yang terkandung dalam tanaman nanas (Ananas comosus (L.) Merr.) dan memiliki berbagai manfaat di bidang pangan, farmasi, dan bioteknologi. Bonggol dan mahkota nanas merupakan limbah pertanian yang masih berpotensi sebagai sumber bromelin sehingga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan nilai tambah limbah organik. Penelitian ini bertujuan mengekstraksi enzim bromelin dari bonggol dan mahkota nanas menggunakan metode presipitasi garam NaCl yang dilanjutkan dengan dialisis serta mengidentifikasi kandungan protein secara kualitatif menggunakan metode Lowry. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen tertinggi ekstrak bonggol diperoleh pada konsentrasi NaCl 35% sebesar 0,577%, sedangkan rendemen tertinggi ekstrak mahkota diperoleh pada konsentrasi NaCl 30% sebesar 0,054%. Uji kualitatif metode Lowry menunjukkan hasil positif pada seluruh ekstrak dengan konsentrasi NaCl 30%, 35%, dan 40% yang ditandai dengan perubahan warna larutan menjadi biru setelah inkubasi selama 30 menit. Hasil tersebut mengonfirmasi adanya kandungan protein pada ekstrak bromelin dari bonggol dan mahkota nanas. Berdasarkan hasil penelitian, kedua bagian tanaman nanas berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber enzim bromelin dan meningkatkan nilai tambah limbah pertanian.
Systematic Literature Review Aktivitas Antioksidan Daun Kersen (Muntingia calabura L.) Menggunakan Metode DPPH Nasywa Tinezia Iqnita; Farendina Suarantika; Vinda Maharani Patricia
Bandung Conference Series: Pharmacy 869 - 876
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.25956

Abstract

Abstract. Muntingia calabura L. leaves contain various bioactive compounds, including flavonoids, phenolic compounds, tannins, and saponins, which have potential as natural antioxidants. This study aimed to review the antioxidant activity of Muntingia calabura L. leaves based on previous studies employing the 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH) assay. A Systematic Literature Review (SLR) was conducted using articles retrieved from PubMed and Google Scholar published between 2016 and 2026. Based on the inclusion criteria, ten original research articles were selected and analyzed descriptively the reviewed data included extraction methods, solvent types, antioxidant activity, mechanisms of action, and the bioactive compounds responsible for antioxidant activity. The findings showed that Muntingia calabura L. leaves exhibited moderate to very strong antioxidant activity based on DPPH IC₅₀ values. Variations in antioxidant activity were influenced by extraction methods, solvent types, and the bioactive compounds extracted. Flavonoids and phenolic compounds were identified as the major contributors to antioxidant activity through their ability to donate hydrogen atoms or electrons to neutralize free radicals. These findings suggest that Muntingia calabura L. leaves have considerable potential as a natural antioxidant source for the development of herbal medicines and pharmaceutical preparations. Abstrak. Daun kersen (Muntingia calabura L.) mengandung berbagai senyawa bioaktif, seperti flavonoid, senyawa fenolik, tanin, dan saponin yang berpotensi sebagai antioksidan alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aktivitas antioksidan daun kersen berdasarkan hasil penelitian yang menggunakan metode 2,2-difenil-1-pikrilhidrazil (DPPH). Penelitian dilakukan menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) melalui penelusuran artikel pada basis data PubMed dan Google Scholar,dengan rentang publikasi tahun 2016–2026. Berdasarkan kriteria inklusi, diperoleh sepuluh artikel yang dianalisis secara deskriptif data yang dikaji meliputi metode ekstraksi, jenis pelarut, aktivitas antioksidan, mekanisme kerja, dan senyawa bioaktif yang berperan. Hasil kajian menunjukkan bahwa daun kersen memiliki aktivitas antioksidan berkategori sedang hingga sangat kuat berdasarkan nilai IC₅₀ metode DPPH. Variasi aktivitas dipengaruhi oleh metode ekstraksi, jenis pelarut, serta kandungan senyawa bioaktif yang terekstraksi. Flavonoid dan senyawa fenolik merupakan komponen utama yang berperan sebagai antioksidan melalui mekanisme donor atom hidrogen atau elektron untuk menetralkan radikal bebas. Berdasarkan hasil kajian, daun kersen berpotensi dikembangkan sebagai sumber antioksidan alami untuk mendukung pengembangan obat herbal dan sediaan farmasi.
Validasi Metode KCKT dan Penetapan Kadar BKO Jamu dengan Khasiat Chikungunya Nanda Puspita Ayu; Farendina Suarantika; Hilda Aprilia Wisnuwardhani
Bandung Conference Series: Pharmacy 949 - 958
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.26226

Abstract

Abstract. Herbal medicine is widely used by the Indonesian community; however, products illegally adulterated with medicinal chemical substances, such as paracetamol and dexamethasone, are still found on the market, posing potential health risks. This study aimed to detect the presence and determine the levels of paracetamol and dexamethasone in jamu marketed for the treatment of chikungunya in Indramayu Regency. This laboratory experimental study used six samples selected through purposive sampling. Qualitative analysis was performed using Thin-Layer Chromatography (TLC), while quantitative analysis was carried out using High-Performance Liquid Chromatography (HPLC). Method validation included system suitability, specificity, linearity, accuracy, precision, limit of detection (LOD), and limit of quantification (LOQ). TLC analysis showed that samples A, B, D, and F were positive for paracetamol, with Rf values of 0.40, 0.34, and 0.43, whereas dexamethasone was not detected. Method validation showed system suitability %RSD values of 0.731% for paracetamol and 0.68% for dexamethasone, coefficient of determination (R²) values of 0.993 and 0.996, and precision (%RSD) values of 0.76% and 0.729%, respectively. The accuracy parameter did not meet the acceptable range of 98–102%, and the LOD and LOQ parameters also failed to meet the validation criteria. Based on the findings, several jamu products marketed for the treatment of chikungunya were found to contain paracetamol and dexamethasone as medicinal chemical substances. Abstrak. Jamu merupakan obat tradisional yang banyak digunakan masyarakat, namun masih ditemukan produk yang secara ilegal mengandung bahan kimia obat, seperti parasetamol dan deksametason, yang berpotensi menimbulkan risiko kesehatan. Penelitian ini bertujuan mendeteksi keberadaan serta menetapkan kadar parasetamol dan deksametason pada jamu dengan klaim pengobatan chikungunya yang beredar di Kabupaten Indramayu. Penelitian eksperimental laboratorium ini menggunakan enam sampel yang dipilih secara purposive sampling. Analisis kualitatif dilakukan dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT), sedangkan analisis kuantitatif menggunakan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT). Validasi metode meliputi uji kesesuaian sistem, spesifisitas, linearitas, akurasi, presisi, batas deteksi (LOD), dan batas kuantifikasi (LOQ). Hasil KLT menunjukkan sampel A, B, D, dan F positif mengandung parasetamol dengan nilai Rf 0,40; 0,34; dan 0,43, sedangkan deksametason tidak terdeteksi. Hasil validasi menunjukkan nilai %RSD kesesuaian sistem sebesar 0,731% untuk parasetamol dan 0,68% untuk deksametason, nilai R² masing-masing 0,993 dan 0,996, serta nilai presisi (%RSD) 0,76% dan 0,729%. Parameter akurasi belum memenuhi rentang 98–102%, demikian pula LOD dan LOQ. Berdasarkan hasil penelitian, beberapa sampel jamu chikungunya terbukti mengandung parasetamol dan deksametason sebagai bahan kimia obat.
Verifikasi Metode Analisis Kadar Senyawa Metil Paraben dalam Krim Malam Pemutih Wajah Milla Putri Rizky Rahmadilla; Bertha Rusdi; Farendina Suarantika
Bandung Conference Series: Pharmacy 959 - 966
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.26264

Abstract

Abstract. Preservatives are substances used to inhibit the growth of microorganisms. The research problem addressed in this study concerns the results of method verification for determining methylparaben levels in facial whitening night creams using Preparative Thin-Layer Chromatography (TLC) and UV spectrophotometry, as well as whether the methylparaben content remains within the permissible limit of less than 0.4%. To assess the validity of the determination methods, the study involved first separating mixture components via Preparative TLC to eliminate interference from other compounds possessing similar chromophore groups. Based on the method verification results, UV spectrophotometry demonstrated good accuracy and precision (% Recovery = 104.307%, systematic error = 4.307%, and random error = 0.213%). Analysis of the five facial whitening night cream samples yielded average methylparaben levels of 0.169% for Brand A, 0.385% for Brand B, 0.318% for Brand C, 0.152% for Brand D, and 0.344% for Brand E. The levels in all five samples complied with the usage limits for methylparaben established by BPOM (< 0.4%). Abstrak. Bahan pengawet merupakan bahan yang digunakan dengan tujuan untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Rumusan masalah yang diangkat dalam penelitian ini yaitu bagaimanakah hasil dari verifikasi metode penetapan kadar Metil paraben dalam krim malam pemutih wajah secara KLT Preparatif dan Spektrofotometri UV serta apakah kadar Metil paraben dalam krim malam pemutih wajah masih dalam batas penggunaan yang diizinkan yaitu kurang dari 0,4%. Untuk melihat kevalidan metode penetapan kadar Metil paraben secara KLT Preparatif dan Spektrofotometri UV, penelitian dilakukan dengan pemisahan komponen campuran secara Kromatografi Lapis Tipis (KLT) Preparatif terlebih dahulu untuk mengeliminasi gangguan dari senyawa lain yang memiliki gugus kromofor mirip. Berdasarkan hasil verifikasi metode, spektrofotometri ultraviolet memberikan nilai akurasi dan presisi yang baik (% Recovery = 104,307%, kesalahan sistematik = 4,307%, dan kesalahan acak = 0,213%). Pada kelima sampel krim malam pemutih wajah yang dianalisis, diperoleh kadar rata-rata sampel merk A sebesar 0,169%, merk B 0,385%, merk C 0,318%, merk D 0,152%, dan merk E 0,344%. Kadar kelima sampel memenuhi syarat penggunaan metil paraben yang diperbolehkan oleh BPOM (< 0,4%).