Arlina Prima Putri
Prodi Farmasi, Fakultas Farmasi dan Sains, Universitas Islam Bandung, Indonesia

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Optimasi Isolasi Albumin dari Belut (Monopterus Albus) Menggunakan Metode Heating Shock Aqilah Adelingga Wijaya; Bertha Rusdi; Arlina Prima Putri
Bandung Conference Series: Pharmacy 95 - 104
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24540

Abstract

Abstract. The swamp eel (Monopterus albus) is a potential source of albumin that can be developed as a raw material for albumin isolation. This study aimed to optimize the isolation of albumin from swamp eel using the heat-shock method with variations in temperature and heating time. Optimization was carried out using Response Surface Methodology (RSM) where temperature and time served as variables and albumin yield as the response variable. The results showed that temperature had a significant effect on albumin yield (p<0.05), whereas heating time and the interaction between temperature and time had no significant effect (p>0.05). The optimum condition for albumin isolation was predicted to be at a temperature of 80°C and a heating time of 75 minutes, resulting in an albumin yield 0,4546 %. SDS-PAGE analysis showed the presence of a protein band in the 60–72 kDa range, which was presumed to be albumin based on its molecular weight of approximately 66–67 kDa. Therefore, temperature was identified as the most influential factor affecting albumin isolation using the heat-shock method. Abstrak. Belut (Monopterus albus) merupakan salah satu sumber albumin yang berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku isolasi albumin. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimasi isolasi albumin dari belut menggunakan metode heat shock dengan variasi suhu dan waktu pemanasan. Optimasi dilakukan menggunakan Response Surface Methodology (RSM) dengan suhu dan waktu sebagai variabel serta rendemen albumin sebagai respons. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu berpengaruh signifikan terhadap rendemen albumin (p < 0,05), sedangkan waktu dan interaksi suhu-waktu tidak berpengaruh signifikan (p > 0,05). Kondisi optimum isolasi albumin diprediksi pada suhu 80 °C dan waktu 75 menit dengan rendemen sebesar 0,4546%. Hasil identifikasi menggunakan SDS-PAGE menunjukkan adanya pita protein pada kisaran 60–72 kDa yang diduga merupakan albumin, sesuai dengan rentang berat molekul albumin sekitar 66–67 kDa. Dengan demikian, suhu merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam proses isolasi albumin menggunakan metode heat shock.
Studi Literatur: Potensi Daun Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) pada Penyembuhan Luka Rifda Maulvi Haq; Arlina Prima Putri; Bambang Tri Laksono
Bandung Conference Series: Pharmacy 139 - 146
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24587

Abstract

Abstract. Wound healing is a complex biological process involving hemostasis, inflammation, proliferation, and tissue remodeling. Impairment of these processes may result from excessive oxidative stress, prolonged inflammation, and bacterial infection, leading to delayed tissue regeneration. The development of natural-based therapies has received increasing attention because plants contain bioactive compounds with various pharmacological activities. Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) leaves have traditionally been used for wound treatment and contain secondary metabolites, including flavonoids, alkaloids, tannins, steroids, triterpenoids, and saponins, which have been associated with antioxidant, antibacterial, anti-inflammatory, and wound-healing activities. This study aims to review the potential of binahong leaves in wound healing based on scientific literature, particularly their pharmacological activities and development into topical formulations. A literature review was conducted by analyzing scientific articles obtained from relevant databases using predefined inclusion and exclusion criteria. The reviewed literature indicates that binahong leaves have potential to support wound healing through antioxidant, antibacterial, anti-inflammatory, and tissue regeneration activities. Recent studies have also demonstrated that binahong leaf extract may stimulate fibroblast proliferation and potentially interact with matrix metalloproteinases involved in extracellular matrix remodeling. Furthermore, topical formulations such as gels and patches have demonstrated potential to accelerate wound healing. Based on the reviewed literature, binahong leaves have promising potential as a natural therapeutic agent to support wound healing and may be further developed in topical dosage forms. Abstrak Penyembuhan luka merupakan proses biologis kompleks yang melibatkan fase hemostasis, inflamasi, proliferasi, dan remodeling jaringan. Gangguan pada proses tersebut dapat disebabkan oleh peningkatan stres oksidatif, inflamasi berkepanjangan, dan infeksi bakteri sehingga menyebabkan keterlambatan regenerasi jaringan. Pengembangan terapi berbasis bahan alam semakin mendapat perhatian karena tanaman mengandung senyawa bioaktif dengan berbagai aktivitas farmakologis. Daun binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) secara tradisional digunakan dalam pengobatan luka dan mengandung berbagai metabolit sekunder, antara lain flavonoid, alkaloid, tanin, steroid, triterpenoid, dan saponin yang berkaitan dengan aktivitas antioksidan, antibakteri, antiinflamasi, dan penyembuhan luka. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui potensi daun binahong dalam penyembuhan luka berdasarkan literatur ilmiah, khususnya aktivitas farmakologis dan pengembangannya dalam sediaan topikal. Kajian dilakukan dengan menganalisis artikel ilmiah yang diperoleh dari basis data yang relevan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditentukan. Hasil kajian menunjukkan bahwa daun binahong berpotensi mendukung penyembuhan luka melalui aktivitas antioksidan, antibakteri, antiinflamasi, dan regenerasi jaringan. Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa ekstrak daun binahong berpotensi meningkatkan proliferasi fibroblas dan berinteraksi dengan matrix metalloproteinases (MMPs) yang berperan dalam remodeling matriks ekstraseluler. Selain itu, pengembangan ekstrak daun binahong dalam sediaan topikal seperti gel dan patch menunjukkan potensi dalam mempercepat penyembuhan luka. Berdasarkan kajian literatur, daun binahong memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bahan alami yang mendukung penyembuhan luka dalam bentuk sediaan topikal.
Studi Literatur Daun Sirih Merah (Piper crocatum Ruiz & Pav) untuk Luka Muhtaj Farhan Maulana Akbar; Arlina Prima Putri; Bambang Tri Laksono
Bandung Conference Series: Pharmacy 467 - 474
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.25130

Abstract

Abstract. Wound healing is a complex biological process encompassing inflammatory, proliferative, and remodeling phases. Red betel (Piper crocatum) is rich in bioactive compounds for tissue repair. Objective: To analyze the in vivo efficacy of its topical formulations (ointment, cream, patch) on wound healing. Methods: Literature synthesis of five experimental rodent studies evaluating macroscopic and histopathological parameters. Results: Secondary metabolites (flavonoids, tannins, saponins, alkaloids) act synergistically as anti-inflammatory, antioxidant, and antibacterial agents (S. aureus, E. coli). Ointments (15%–45%) and cream (15%) suppressed acute inflammation, prevented pus, and accelerated wound closure by day 14. Combination transdermal patches (30%) enabled sustained release, significantly enhancing fibroblast proliferation (>50 cells/field) and dense collagen deposition. Conclusion: Red betel holds strong potential as a natural topical agent, where vehicle optimization is key to wound repair. Abstrak. Penyembuhan luka merupakan proses biologis kompleks yang mencakup fase inflamasi, proliferasi, dan remodeling. Daun sirih merah (Piper crocatum) kaya senyawa bioaktif berpotensi memacu pemulihan jaringan. Tujuan: Menganalisis efektivitas sediaan topikal ekstrak sirih merah (salep, krim, patch) terhadap penyembuhan luka secara in vivo. Metode: Sintesis data dari lima studi literatur eksperimental pada tikus Wistar dan mencit dengan pengamatan makroskopis dan histopatologi. Hasil: Metabolit sekunder (flavonoid, tanin, saponin, alkaloid) bekerja sinergis sebagai antiinflamasi, antioksidan, dan antibakteri (S. aureus, E. coli). Salep (15%–45%) dan krim (15%) efektif menekan inflamasi akut, mencegah pus, serta mempercepat penutupan luka pada hari ke-14. Patch transdermal (30%) memberikan pelepasan terukur (sustained release) yang memicu proliferasi fibroblas (>50 sel/lapang pandang) dan pembentukan kolagen padat. Kesimpulan: Sirih merah berprospek tinggi sebagai obat topikal alami. Optimasi bentuk sediaan menjadi kunci percepatan pemulihan luka.
Kemampuan Fotoproteksi Minyak Biji Raspberry dan Cellulose Nanocrystal Tiara Tri Andini; Arlina Prima Putri; Budi Prabowo Soewondo
Bandung Conference Series: Pharmacy 579 - 586
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.25257

Abstract

Abstract. Excessive exposure to ultraviolet (UV) rays can cause various skin disorders, thereby driving the development of natural-ingredient-based sunscreens as a safer alternative. This literature review aims to analyzed the photoprotective potential of raspberry seed oil (Rubus idaeus L.), examine the characteristics and functions of cellulose nanocrystals (CNC), and evaluate the potential synergy between these two ingredients in sunscreen formulations. The study was conducted using a narrative literature review method, with data sources consisting of scientific articles obtained from PubMed, ScienceDirect, Scopus, and Google Scholar. The literature was selected based on its relevance to the research topic and then analyzed descriptively through the synthesis and comparison of previous research findings. The results of the study indicate that raspberry seed oil contains various bioactive compounds, such as unsaturated fatty acids, tocopherols, phytosterols, carotenoids, and phenolic compounds, which contribute to antioxidant activity and have the potential to provide photoprotective effects. On the other hand, CNC acts as a Pickering stabilizer capable of enhancing emulsion stability by inhibiting droplet coalescence and maintaining a homogeneous distribution of active ingredient. Based on the study’s findings, the combination of raspberry seed oil and CNC shows promise for the development of more stable and effective natural-ingredient-based sunscreen formulations, although scientific evidence regarding the integration of these two ingredients remains relatively limited. Abstrak. Paparan sinar ultraviolet (UV) secara berlebihan dapat menyebabkan berbagai gangguan pada kulit, sehingga mendorong pengembangan tabir surya berbasis bahan alam sebagai alternatif yang lebih aman. Studi literatur ini bertujuan untuk menganalisis potensi fotoproteksi minyak biji raspberry (Rubus idaeus L.), mengkaji karakteristik dan fungsi Cellulose Nanocrystal (CNC), serta mengevaluasi potensi sinergi kedua bahan tersebut dalam formulasi tabir surya. Kajian dilakukan menggunakan metode narrative literature review dengan sumber data berupa artikel ilmiah yang diperoleh dari PubMed, ScienceDirect, Scopus, dan Google Scholar. Literatur dipilih berdasarkan kesesuaian dengan topik penelitian, kemudian dianalisis secara deskriptif melalui proses sintesis dan perbandingan hasil penelitian terdahulu. Hasil kajian menunjukkan bahwa minyak biji raspberry mengandung berbagai senyawa bioaktif, seperti asam lemak tak jenuh, tokoferol, fitosterol, karotenoid, dan senyawa fenolik yang berkontribusi terhadap aktivitas antioksidan dan berpotensi memberikan efek fotoproteksi. Di sisi lain, CNC berperan sebagai pickering stabilizer yang mampu meningkatkan stabilitas emulsi dengan menghambat koalesensi droplet serta menjaga distribusi bahan aktif tetap homogen. Berdasarkan hasil kajian, kombinasi minyak biji raspberry dan CNC memiliki prospek yang menjanjikan dalam pengembangan formulasi tabir surya berbasis bahan alam yang lebih stabil dan efektif, meskipun bukti ilmiah mengenai integrasi kedua bahan tersebut masih relatif terbatas.
Studi Literatur: Potensi Ekstrak Daun Kelor sebagai Terapi Topikal Luka Bakar Amelia Agustin; Bambang Tri Laksono; Arlina Prima Putri
Bandung Conference Series: Pharmacy 645 - 654
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.25323

Abstract

Abstract. Burn injuries are a type of tissue damage that require appropriate treatment to accelerate the healing process. Moringa leaves (Moringa oleifera Lam.) contain various bioactive compounds that may contribute to tissue regeneration during wound healing. Moringa oleifera Lam. (moringa) leaf is widely reported to contain flavonoids, tannins, saponins, alkaloids, and phenolic compounds with antioxidant, antimicrobial, and anti-inflammatory activity that support tissue regeneration. This study aims to map and synthesize scientific evidence on the potential of moringa leaf extract in various pharmaceutical dosage forms for burn wound therapy. A narrative literature review method was used, tracing national and international journal articles published between 2016 and 2026. The results show that moringa leaf extract has been formulated into ointments, creams, gels/hydrogels, and biocellulose patches, with effective concentrations generally ranging from 2.5% to 15%, and that its healing activity is associated with increased VEGF expression, TGF-β1 modulation, collagen deposition, and suppression of the inflammatory phase. It is concluded that moringa leaf extract shows strong and consistent potential as a natural active ingredient for burn wound care and merits further clinical development. Abstrak. Luka bakar merupakan jenis kerusakan jaringan yang harus ditangani secara tepat guna mempercepat proses penyembuhan. Daun kelor (Moringa oleifera Lam.) mengandung beberapa senyawa bioaktif yang dapat mempengaruhi proses regenerasi jaringan pada luka. Daun kelor (Moringa oleifera Lam.) dilaporkan secara luas mengandung flavonoid, tanin, saponin, alkaloid, dan senyawa fenolik dengan aktivitas antioksidan, antimikroba, dan anti-inflamasi yang mendukung regenerasi jaringan. Penelitian ini bertujuan memetakan dan mensintesis bukti ilmiah mengenai potensi ekstrak daun kelor dalam berbagai bentuk sediaan farmasi untuk terapi luka bakar. Metode yang digunakan adalah studi literatur naratif dengan menelusuri artikel jurnal nasional dan internasional terbitan tahun 2016-2026. Hasil kajian menunjukkan bahwa ekstrak daun kelor telah diformulasikan ke dalam salep, krim, gel/hidrogel, dan patch bioselulosa, dengan konsentrasi efektif umumnya berkisar 2,5% hingga 15%, dan aktivitas penyembuhannya berkaitan dengan peningkatan ekspresi VEGF, modulasi TGF-β1, deposisi kolagen, serta penekanan fase inflamasi. Disimpulkan bahwa ekstrak daun kelor memiliki potensi yang kuat dan konsisten sebagai bahan aktif alami untuk perawatan luka bakar dan layak dikembangkan lebih lanjut secara klinis.
Kajian Literatur Aktivitas Antioksidan Emulsi Mengandung Minyak Biji Raspberry (Rubus idaeus L.) Elfitri Nurhaliza; Arlina Prima Putri; Hanifa Rahma
Bandung Conference Series: Pharmacy 693 - 700
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.25515

Abstract

Abstract. Raspberry seed oil (Rubus idaeus L.) is a natural ingredient with antioxidant potential that can be formulated into an emulsion system to support its use in pharmaceutical and cosmetic preparations. This article aims to examine the antioxidant activity of emulsions containing raspberry seed oil, with a focus on the Inhibitory Concentration 50 (IC₅₀) value, using a narrative-descriptive approach based on scientific articles from 2019–2026 obtained through Google Scholar, PubMed, and ScienceDirect. The literature analyzed includes studies on the antioxidant activity of raspberry seed oil as well as emulsion or nanoemulsion systems containing raspberry seed oil. The results of the study show that raspberry seed oil exhibits varying levels of antioxidant activity, both in its pure form and after being incorporated into emulsion systems. Differences in antioxidant activity and IC₅₀ values are influenced by oil concentration, formulation characteristics, formula composition, testing methods, sample preparation and testing conditions. The emulsion system may potentially affect the antioxidant activity of raspberry seed oil, but comparisons of IC₅₀ values across studies are still limited by differences in methods and experimental conditions. Therefore, standardization of testing methods is necessary to obtain more accurate comparisons of antioxidant activity. Abstrak. Minyak biji raspberry (Rubus idaeus L.) merupakan bahan alam yang berpotensi sebagai antioksidan dan dapat dikembangkan dalam sistem emulsi untuk mendukung penggunaannya dalam sediaan farmasi dan kosmetik. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji aktivitas antioksidan emulsi mengandung minyak biji raspberry dengan fokus pada nilai Inhibitory Concentration 50 (IC₅₀) serta faktor yang memengaruhi perbedaan aktivitas antioksidan. Kajian literatur dilakukan secara naratif-deskriptif terhadap artikel ilmiah tahun 2019–2026 yang diperoleh melalui Google Scholar, PubMed, dan ScienceDirect. Literatur yang dianalisis meliputi penelitian mengenai aktivitas antioksidan minyak biji raspberry serta sistem emulsi atau nanoemulsi yang mengandung minyak biji raspberry. Hasil kajian menunjukkan bahwa minyak biji raspberry memiliki aktivitas antioksidan yang bervariasi pada minyak maupun setelah dikembangkan dalam sistem emulsi. Perbedaan aktivitas antioksidan dan nilai IC₅₀ dipengaruhi oleh konsentrasi minyak, karakteristik sediaan, komposisi formula, metode pengujian, preparasi sampel, dan kondisi pengujian. Sistem emulsi berpotensi memengaruhi aktivitas antioksidan minyak biji raspberry, tetapi perbandingan nilai IC₅₀ antarpenelitian masih terbatas oleh perbedaan metode dan kondisi eksperimental. Oleh karena itu, standardisasi metode pengujian diperlukan untuk memperoleh perbandingan aktivitas antioksidan yang lebih akurat.
Profil Simplisia dan Ekstrak Kulit Nanas dari Daerah Subang dengan Metode Maserasi Ira Kartika; Arlina Prima Putri; Bambang Tri Laksono
Bandung Conference Series: Pharmacy 701 - 708
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.25582

Abstract

Abstract. Pineapple peel (Ananas comosus L.) is an agricultural waste product containing various secondary metabolites such as flavonoids, saponins, tannins, and polyphenols as well as the enzyme bromelain, all of which have potential as raw materials for traditional medicines. This study aimed to obtain a profile of pineapple peel extract from the Subang region using the maceration method. Pineapple peel simplisia (dried raw material) was extracted with ethanol, followed by extract characterization involving organoleptic assessment, specific gravity determination, and phytochemical screening. The characterization results indicated that the extract met physical quality standards and contained secondary metabolites specifically flavonoids, saponins, tannins, and polyphenols capable of providing antioxidant, anti-inflammatory, and wound-healing activities. The maceration method was selected for its ability to preserve the stability of thermolabile compounds and yield an extract with a high content of active compounds. Based on these findings, pineapple peel extract holds potential for further development as a raw material for pharmaceutical preparations or natural-based health products. Abstrak. Kulit nanas (Ananas comosus L.) merupakan limbah pertanian yang masih mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder, seperti flavonoid, saponin, tanin, polifenol, serta enzim bromelin yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku obat tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh profil ekstrak kulit nanas yang berasal dari daerah Subang melalui metode maserasi. Simplisia kulit nanas diekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol, kemudian dilakukan karakterisasi ekstrak meliputi pengamatan organoleptik, penetapan bobot jenis, dan skrining fitokimia. Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa ekstrak memiliki karakteristik fisik yang memenuhi persyaratan serta mengandung senyawa metabolit sekunder berupa flavonoid, saponin, tanin, dan polifenol yang berpotensi memberikan aktivitas antioksidan, antiinflamasi, dan penyembuhan luka. Metode maserasi dipilih karena mampu mempertahankan kestabilan senyawa yang bersifat termolabil serta menghasilkan ekstrak dengan kandungan senyawa aktif yang baik. Berdasarkan hasil penelitian, ekstrak kulit nanas memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai bahan baku sediaan farmasi maupun produk kesehatan berbasis bahan alam.
Studi Literatur Lipbalm Ekstrak Daun Mangga dan CNC Sebagai Fotoprotektor Muhammad Gilang Ramadhan; Arlina Prima Putri; Gita Cahya Eka Darma
Bandung Conference Series: Pharmacy 835 - 842
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.25830

Abstract

Abstract. Ultraviolet (UV) radiation is one of the main environmental factors causing lip damage, including dryness, chapping, premature aging, and inflammation. Therefore, the development of lip balm containing natural photoprotective agents has become an important strategy to maintain lip health. This study aimed to review the potential of mango leaf (Mangifera indica L.) extract and cellulose nanocrystals (CNC) as photoprotective agents in lip balm formulations. This study employed a literature review method by analyzing scientific articles published between 2020 and 2025 from databases including Google Scholar, PubMed, ScienceDirect, SpringerLink, and MDPI. The reviewed literature indicates that mango leaf extract contains mangiferin, flavonoids, phenolic compounds, and tannins, which exhibit strong antioxidant activity and can reduce oxidative stress induced by UV radiation. Meanwhile, CNC improves the physical characteristics of lip balm formulations by enhancing stability, film-forming ability, and moisture retention while supporting photoprotection through light-scattering mechanisms. The combination of mango leaf extract and CNC demonstrates promising potential to produce lip balm formulations with improved photoprotective performance, good physical stability, and enhanced safety. Further experimental studies are required to determine the optimum formulation and evaluate its effectiveness through in vitro and in vivo testing. Abstrak. Radiasi ultraviolet (UV) merupakan salah satu faktor lingkungan yang dapat menyebabkan kerusakan pada bibir, seperti kekeringan, pecah-pecah, penuaan dini, dan inflamasi. Oleh karena itu, pengembangan lip balm yang mengandung bahan aktif fotoprotektor alami menjadi salah satu upaya untuk menjaga kesehatan bibir. Artikel ini bertujuan mengkaji potensi ekstrak daun mangga (Mangifera indica L.) dan Cellulose Nanocrystals (CNC) sebagai fotoprotektor dalam formulasi lip balm. Penelitian dilakukan menggunakan metode studi literatur dengan menelaah artikel ilmiah yang diterbitkan pada tahun 2020–2025 melalui basis data Google Scholar, PubMed, ScienceDirect, SpringerLink, dan MDPI. Hasil kajian menunjukkan bahwa ekstrak daun mangga mengandung mangiferin, flavonoid, senyawa fenolik, dan tanin yang memiliki aktivitas antioksidan tinggi sehingga mampu mengurangi stres oksidatif akibat paparan sinar UV. Sementara itu, CNC berperan meningkatkan karakteristik fisik formulasi melalui pembentukan lapisan pelindung, peningkatan stabilitas, dan kemampuan mempertahankan kelembapan, serta mendukung aktivitas fotoproteksi melalui mekanisme hamburan cahaya. Kombinasi ekstrak daun mangga dan CNC berpotensi menghasilkan formulasi lip balm yang memiliki efektivitas fotoproteksi lebih baik, stabil secara fisik, dan aman digunakan. Namun, penelitian eksperimental lebih lanjut masih diperlukan untuk menentukan formulasi optimum serta mengevaluasi efektivitasnya melalui pengujian in vitro dan in vivo.