Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

The Relationship Between Work-life balance and Burnout Among Firefighters in DKI Jakarta Kawai Dhia Naurah; Marhisar Simatupang; Linus Kali Palindangan; Raden Yudhi Satria
Outline Journal of Education Vol. 5 No. 2 (2026)
Publisher : Outline Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61730/k1t7kn32

Abstract

Firefighters have high job demands, including 24-hour readiness, heavy workloads, and exposure to emergency situations that may increase the risk of burnout, particularly when these demands are not balanced by adequate work-life balance. This study aimed to examine the relationship between work-life balance and burnout among firefighters in Jakarta. This study employed a quantitative approach with a correlational research design involving 151 firefighters selected using a purposive sampling technique. The Work-life balance Scale consisted of 17 valid items with an Aiken's V validity coefficient of ≥ 0.70 and a reliability coefficient of 0.897, while the Burnout Scale consisted of 13 valid items with an Aiken's V validity coefficient of ≥ 0.70 and a reliability coefficient of 0.791. The normality test indicated that the data were normally distributed (p = 0.200 > 0.05), and the linearity test confirmed a linear relationship (p = 0.278 > 0.05). Therefore, the data were analyzed using the Pearson Product Moment correlation test. The results revealed a significant negative relationship between work-life balance and burnout (r = -0.774; p = 0.000 < 0.05). The negative correlation indicates that the higher the firefighters' work-life balance, the lower their level of burnout. Conversely, the lower the work-life balance, the higher the level of burnout. Therefore, H₀ was rejected and H₁ was accepted, indicating that work-life balance has a significant negative relationship with burnout among firefighters in Jakarta.
Hubungan Leader-Member Exchange (LMX) dengan Turnover Intention Karyawan di PT BTU Farida Aryani; Raden Yudhi Satria
Jiwara: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 1 No. 2 (2026): Agustus 2026 - Januari 2027
Publisher : Darul Faizin Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67755/jiwara.v1i2.257

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Leader-Member Exchange (LMX) dengan turnover intention karyawan di PT BTU. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional dan cross-sectional. Populasi penelitian terdiri atas karyawan level supervisor, staf, dan admin yang memiliki atasan langsung dan telah bekerja minimal satu bulan. Seluruh populasi sasaran sebanyak 77 karyawan digunakan sebagai sampel melalui teknik sampel jenuh. Pengumpulan data menggunakan skala LMX yang dikembangkan berdasarkan Liden dan Maslyn (1998) serta skala turnover intention berdasarkan Mobley et al. (1979). Analisis data dilakukan menggunakan korelasi Product Moment Pearson. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan negatif dan signifikan antara LMX dan turnover intention, dengan koefisien korelasi r = −0,405 dan signifikansi p = 0,000. Hubungan tersebut berada pada kategori sedang. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kualitas hubungan antara atasan dan bawahan yang dipersepsikan karyawan, semakin rendah turnover intention. Sebaliknya, rendahnya kualitas LMX berkaitan dengan meningkatnya kecenderungan karyawan untuk meninggalkan organisasi. Hasil penelitian dapat menjadi pertimbangan bagi PT BTU dalam meningkatkan kualitas hubungan atasan-bawahan sebagai bagian dari strategi mempertahankan karyawan.
Hubungan Antara Persepsi Dukungan Sosial Dengan Culture Shock Pada Taruna/Kadet Tingkat I Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Indonesia Pitriyanti Pitriyanti; Raden Yudhi Satria
Jiwara: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 1 No. 2 (2026): Agustus 2026 - Januari 2027
Publisher : Darul Faizin Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67755/jiwara.v1i2.260

Abstract

Masa awal pendidikan di lingkungan kedinasan berasrama dengan sistem semi-militer menuntut taruna/kadet tingkat I untuk menyesuaikan diri dengan rutinitas baru, disiplin, aturan ketat, kehidupan komunal, serta keberagaman latar belakang sosial budaya. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan culture shock. Persepsi dukungan sosial dari keluarga, teman, dan orang penting lainnya dipandang sebagai sumber daya psikososial yang dapat membantu taruna/kadet menghadapi tuntutan adaptasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persepsi dukungan sosial dan culture shock pada taruna/kadet tingkat I Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Indonesia. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif non-eksperimental dengan desain korelasional. Partisipan berjumlah 229 taruna/kadet tingkat I yang dipilih melalui teknik simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan skala persepsi dukungan sosial dengan 18 item (α=0,952) dan skala culture shock dengan 20 item (α=0,858). Analisis dilakukan menggunakan korelasi Pearson Product Moment dan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara persepsi dukungan sosial dan culture shock (r=−0,486; Sig.=0,000). Nilai koefisien determinasi R²=0,236 menunjukkan bahwa persepsi dukungan sosial menjelaskan 23,6% variasi culture shock dalam model penelitian. Semakin tinggi persepsi dukungan sosial, semakin rendah tingkat culture shock yang dialami taruna/kadet tingkat I.
THE ECOLOGICAL MODEL OF JUSTICE FOR MENTAL HEALTH IN THE WORKPLACE: A HOLISTIC, STRUCTURAL, FAIR, AND DIGNIFIED APPROACH Linus K. Palindangan; Marhisar Simatupang; Yulisa Susanti; Yudhi Satria R. A; Aquila Raffi Maari
International Review of Practical Innovation, Technology and Green Energy (IRPITAGE) Vol. 6 No. 2 (2026): July-October 2026
Publisher : RADJA PUBLIKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article formulates an Ecological Justice Model for mental health at work based on materials presented during a university community service webinar with partner organizations on 3 July 2026. The conceptual study uses a narrative synthesis of literature on workplace mental health, psychosocial risks, organizational justice, and relevant policy. The model maps problems across five levels: symptoms, immediate causes, organizational practices, structural roots, and philosophical assumptions. Each level is linked to corresponding intervention strategies. It assigns responsibilities to individuals, organizations, government, and society, guided by justice, human dignity, participation, transparency, sustainability, and the common good. The synthesis indicates that individual support should be connected with changes in job design, organizational governance, and worker protection. The model offers a framework for mapping risks and coordinating action across stakeholders. Because the community service activity collected no pre- and post-event evaluation data, the model's effectiveness cannot yet be established empirically and requires further testing.
Gambaran Intensi Judi Online pada Karyawan PT. X Unik Setiyani; Siti Masitoh; Raden Yudhi Satria
Jiwara: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 1 No. 2 (2026): Agustus 2026 - Januari 2027
Publisher : Darul Faizin Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67755/jiwara.v1i2.284

Abstract

Intensi judi online merupakan niat, kesiapan, atau kecenderungan individu untuk terlibat dalam aktivitas perjudian berbasis internet. Penelitian ini bertujuan menggambarkan intensi judi online pada karyawan PT. X. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan responden sebanyak 150 karyawan PT. X. Teknik pengambilan sampel yang dilaporkan dalam skripsi adalah purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan Skala Intensi Judi Online yang disusun berdasarkan kerangka Theory of Planned Behavior. Setelah uji coba, lima dari 12 item dieliminasi dan tujuh item dipertahankan dengan koefisien reliabilitas Cronbach's alpha sebesar 0,850. Analisis dilakukan melalui statistik deskriptif, kategorisasi skor, serta tabulasi silang berdasarkan jenis kelamin, usia, pendidikan terakhir, dan divisi kerja. Hasil menunjukkan skor intensi judi online memiliki nilai minimum 7, maksimum 35, dan rata-rata 28,98. Sebanyak 132 responden (88,0%) berada pada kategori intensi tinggi dan 18 responden (12,0%) pada kategori rendah. Proporsi kategori tinggi relatif serupa pada laki-laki (87,9%) dan perempuan (88,2%), serta ditemukan pada seluruh kelompok usia, pendidikan, dan divisi. Temuan ini menunjukkan bahwa intensi judi online merupakan fenomena yang menonjol pada responden penelitian dan dapat dijadikan dasar bagi upaya pencegahan di lingkungan kerja sebelum kecenderungan tersebut berkembang menjadi perilaku aktual, melalui edukasi risiko dan penguatan lingkungan kerja yang sehat.