Bagus Sigit Sunarko
Fakultas Ilmu Sosial Dan Politik Universitas Negeri Jember, Jln. Kalimantan 37 Jember

Published : 17 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Global Strategis

Indonesia’s Food Security and Food Sovereignty Under Agricultural Trade Liberalization Indriastuti, Suyani; Hara, Abubakar Eby; Patriadi, Himawan Bayu; Trihartono, Agus; Sunarko, Bagus Sigit
Global Strategis Vol. 18 No. 2 (2024): Global Strategis
Publisher : Department of International Relations, Faculty of Social and Political Science, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.18.2.2024.431-456

Abstract

Agricultural trade liberalisation affects food security and food sovereignty in Indonesia. This article aims to analyse the extent to which agricultural trade liberalisation impacts food security and food sovereignty, as well as examine the dilemmas faced by the Indonesian government related to agricultural liberalisation, food security, and food sovereignty. This research applies qualitative process-tracing case studies using primary data from interviews and secondary data by analysing documents, news, or statistical data provided by institutions such as Indonesian National Statistics, the Food and Agricultural Organization (FAO), and other institutions. This research found that agriculture is a comparative advantage of Indonesia. It supports the achievement of a surplus balance of trade in the global agricultural markets. However, it is challenging and dilemmatic in the context of food commodities. In the short term, agricultural liberalisation might support the achievement of food security as it provides availability of food and food access both physically and economically. However, at the same time, agricultural liberalisation also threatens food sovereignty as it raises dependence on food imports. In the long run, dependency on food imports could endanger food security if there is a change in the political economy of the global market system.Keywords: Liberalisation of Agriculture, Food Security, Food Sovereignty Liberalisasi pertanian mempengaruhi ketahanan pangan dan kedaulatan pangan di Indonesia. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana dampak liberalisasi pertanian terhadap ketahanan pangan dan kedaulatan pangan serta dilema yang dihadapi pemerintah Indonesia terkait liberalisasi pertanian, ketahanan pangan, dan kedaulatan pangan. Penelitian ini menerapkan metode kualitatif process-tracing analisis dengan menggunakan data primer yang diperoleh melalui interview dan data sekunder dikumpulkan dengan metode “desk research” termasuk menganalisis dokumen, berita, atau data statistik yang disediakan oleh lembaga-lembaga seperti Statistik Nasional Indonesia, Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), dan lembaga lainnya. Penelitian ini menemukan bahwa pertanian merupakan keunggulan komparatif bagi Indonesia yang mendukung pencapaian surplus neraca perdagangan komoditas pertanian di pasar global. Namun, dalam konteks komoditas pangan, permasalahan bersifat kompleks dan dilematis. Dalam jangka pendek, liberalisasi pertanian dapat mendukung pencapaian ketahanan pangan karena menyediakan ketersediaan pangan yang dapat diakses oleh masyarakat dengan harga yang terjangkau. Namun, pada saat yang sama, liberalisasi pertanian juga mengancam kedaulatan pangan karena meningkatkan ketergantungan pada impor pangan. Dalam jangka panjang, ketergantungan impor pangan dapat membahayakan ketahanan pangan jika terjadi perubahan struktur ekonomi politik pada sistem pasar global.Kata-kata Kunci: Liberalisasi Pertanian, Ketahanan Pangan, Kedaulatan Pangan
Fourth-Generation Warfare and Issues of National Security: Is Indonesia Ready? Sunarko, Bagus Sigit
Global Strategis Vol. 20 No. 1 (2026): Global Strategis
Publisher : Department of International Relations, Faculty of Social and Political Science, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.20.1.2026.1-22

Abstract

This article aims to assess Indonesia’s readiness to face security threats related to Fourth-Generation Warfare (4GW). The idea of 4GW refers to conflicts that involve non-state actors, blend political and military goals, and blur the line between soldiers and civilians. These types of conflicts often appear in rebellions, terrorism, and separatist movements that exploit a country’s internal weaknesses. In Indonesia, 4GW threats can be seen in separatist movements, terrorist networks, and anti-Pancasila groups that have challenged national stability since the early years of independence. This study finds that Indonesia’s long experience in dealing with rebellions, together with its “total defense” system, known as the Universal People’s Security and Defense System (Sishankamrata), gives the country a strong foundation to respond to asymmetric threats. The security structure, which integrates the military, police, and civilian participation, also strengthens Indonesia’s ability to manage internal conflict. These findings show that Indonesia’s hybrid defense model remains relevant for responding to the nature of 4GW threats today.Keywords: Fourth-Generation Warfare, Indonesia’s National Security, Separatist Movement, Sishankamrata, Terrorism Artikel ini bertujuan untuk menilai kesiapan Indonesia dalam menghadapi ancaman keamanan Perang Generasi Keempat (4GW). Konsep 4GW mengacu pada berbagai konflik yang melibatkan aktor non-negara, menggabungkan tujuan politik dan militer, serta menampilkan ketidakjelasan batas antara tentara dan warga sipil. Konflik semacam ini sering muncul dalam bentuk pemberontakan, terorisme, dan gerakan separatis yang mengeksploitasi kelemahan internal suatu negara. Di Indonesia, ancaman 4GW dapat dilihat dalam gerakan separatis, jaringan teroris, dan kelompok anti-Pancasila yang telah mengganggu stabilitas nasional sejak awal kemerdekaan. Studi ini menemukan bahwa pengalaman panjang Indonesia dalam menghadapi pemberontakan, bersama dengan sistem "pertahanan semesta" yang dikenal sebagai Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata), memberikan landasan yang kuat bagi negara untuk merespons ancaman-ancaman yang berasal dari kekuatan yang bersifat asimetris. Struktur keamanan yang mengintegrasikan partisipasi militer, kepolisian, dan masyarakat sipil juga memperkuat kemampuan Indonesia dalam mengelola konflik internal. Temuan ini menunjukkan bahwa model pertahanan hibrida Indonesia tetap relevan untuk merespons sifat ancaman yang berasal dari 4GW saat ini. Kata-kata Kunci: Perang Generasi Keempat, Keamanan Nasional Indonesia, Gerakan Separatis, Sishankamrata, Terorisme