Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Efek Posisi Tubuh Setelah Berlatih Terhadap Masa Pemulihan Pramono, Bayu Agung; Sifaq, Aghus; Bulqini, Arif
Journal of Sport and Exercise Science Vol. 1 No. 1 (2018): March
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/jses.v1n1.p25-29

Abstract

Latihan fisik memiliki konsekwensi yang cukup besar terhadap perubahan sistem anatomi dan fisiologi tubuh seorang atlet. Perubahan yang paling besar dan langsung terjadi adalah pada perubahan ritme denyut nadi sebelum, saat dan setelah melaksanakan aktifititas fisik olahraga. denyut nadi pemulihan adalah salah satu contoh perubahan yang sangat jelas setelah melakukan aktifitas fisik olahraga. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui perubahan denyut nadi pemulihan dengan proses penghitungan yang berbeda yaitu berdiri, duduk dan tidur. 12 lelaki dewasa umur kurang lebih 19 tahun mengikuti penelitian ini, mereka dibagi menjadi tiga kelompok pengukuran denyut nadi. Seluruh sampel akan melakukan prosedur tes naik turun tanggan menggunakan protokol YMCA step test. Setelah melakukan protokol tes semua sampel akan dihitung denyut nadi pemulihan setelah 3 menit istirahat. Dari hasil penelitian didapat prosentase penurunan denyut nadi pemulihan setelah istirahat 3 menit adalah dengan pengukuran posisi berdiri sebesar 28.9%, posisi duduk 31.7% dan pada posisi tidur 34.4%. kesimpulan pada penelitian ini adalah posisi tubuh saat pengukuran denyut nadi memiliki kontribusi yang berbeda-beda dimana proses pemulihan dengan tidur terlentang memiliki prosentase tertinggi dalam menurunkan denyut nadi.
EVALUATION AND OPTIMIZATION OF NATURAL LIGHTING ON THE SECOND FLOOR OF THE LAMPUNG HAPKIDO MARTIAL ARTS ROOM AT BTC (BAGOES TRAINING CENTER) GYM SEPUTIH RAMAN : EVALUASI DAN OPTIMALISASI PENCAHAYAAN ALAMI PADA LANTAI DUA RUANG BELADIRI HAPKIDO LAMPUNG DI BTC (BAGOES TRAINING CENTER) GYM SEPUTIH RAMAN Kirana, Berlian Chandra; Kirani, Tiara Chandra; Siregar, Sefrani I G; Suaif, Ahmad; Wismanadi, Himawan; Sifaq, Aghus
SOSIOEDUKASI Vol 14 No 4 (2025): SOSIOEDUKASI : JURNAL ILMIAH ILMU PENDIDIKAN DAN SOSIAL
Publisher : Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universaitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/sosioedukasi.v14i4.6712

Abstract

The light source that comes from sunlight entering directly into the room, especially in the morning and afternoon, is called natural lighting. SNI 03-2396-2001 states that ideal natural lighting during the day, from 08:00 to 16:00 WIB, should provide evenly distributed light throughout the room without causing glare. The standard illumination for martial arts training rooms ranges from 300 lux (minimum), 350 lux (medium), and 500 lux (maximum). The aim of the research is to evaluate and optimize natural lighting in sports spaces, particularly the Hapkido room on the second floor of the BTC (Bagoes Training Center) Gym in Seputih Raman, Lampung. The quality, orientation of window openings, and the distribution of light entering the building through windows are important factors in utilizing natural lighting. With larger window sizes, there is a need to control the amount of light entering the room. A quantitative method is used in this research. Data is collected through observation, literature review, light intensity measurements in the field, and simulations of current conditions using DIALux Evo. Data analysis uses mathematical formulas. The results show that lighting at BTC (Bagoes Training Center) Gym lacks light intensity and does not meet the standard. As a result, athletes feel less comfortable during training. At BTC Gym, lighting intensity has been adjusted to meet the lighting standards through several changes, such as lowering glass reflectance, altering window sizes, changing the type of window glass, and reducing sun shading. The lighting level has been improved, and the room now meets the SNI 03-2396-2001 standard. The Daylight Factor should be between 2% and 5%, with TUU between 0.5 and 0.8, and TUS between 0.3 and 0.5. A Daylight Factor above 10% can cause glare, uneven light distribution, and excessive heating, which requires design modifications to ensure optimal natural lighting.
PENINGKATAN KOMPETENSI AKTIVITAS FISIK PENYANDANG DISABILITAS RUNGU KABUPATEN TUBAN MELALUI PELATIHAN INCALCY-DETY Ashadi, Kunjung; Setijono, Hari; Ainin, Ima Kurrotun; Sifaq, Aghus; Wiriawan, Oce; Wibowo, Sapto; Wijono, Wijono; Utami, Tri Setyo; Jatmiko, Tutur
ABISATYA : Journal of Community Engagement Vol. 2 No. 2 (2024): ABISATYA: Journal of Community Engagement
Publisher : Center for Community Service and Science and Technology Marketing - The Institute for Research and Community Service Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/abisatya.v2i2.32672

Abstract

Terbatasnya kegiatan edukasi tentang pentingnya aktivitas fisik membuat para penyandang disabilitas rungu di Kabupaten Tuban belum memiliki pemahaman yang cukup untuk meningkatkan kompetensi fisik melalui kegiatan olahraga dalam rangka mencapai kualitas hidup yang lebih baik. Masalah tersebut dikarenakan terbatasnya pihak yang memberikan perhatian tentang pola hidup sehat bagi para penyandang disabilitas, baik pemerintah, organisasi, masyarakat, atau pihak keluarga mereka. Hal tersebut menimbulkan dampak yang cukup besar pada kualitas hidup, motivasi, kesehatan, dan kesadaran terhadap pentingnya aktivitas fisik bagi penyandang disabilitas. Kegiatan pelatihan INCALCY-DETY ini diikuti oleh 36 orang yang terdiri dari guru sekolah luar biasa, guru olahraga sekolah inklusif, dan perwakilan NPCI (National Paralympic Comittee of Indonesia) Kabupaten Tuban. Metode yang dilakukan dalam pelatihan ini yaitu berupa penyampaian materi INCALCY-DETY secara lisan serta kegiatan praktek rangkaian gerakan latihan secara langsung. Bahan yang digunakan pada kegiatan ini merupakan materi berbentuk powerpoint untuk sesi penyampaian materi serta video tutorial yang dapat membantu para penyandang disabilitas untuk melakukan olahraga secara mandiri. Setelah mengikuti rangkaian kegiatan pelatihan, para peserta menyatakan jika mereka merasa senang serta mendapatkan ilmu dari materi tersebut sehingga memotivasi mereka untuk melakukan kegiatan olahraga dengan lebih baik lagi.