KECVARA PRITASARI, OCTAVERINA
Unknown Affiliation

Published : 50 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Perbandingan Hasil Jadi Efek Luka Mata dengan Menggunakan Lateks Cair dan Lem Bulu Mata Pada Tata Rias Karakter Hantu ARIVA PUTRI, DILA; KECVARA PRITASARI, OCTAVERINA
Jurnal Tata Rias Vol. 9 No. 1 (2020)
Publisher : Program Studi Pendidikan Tata Rias

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/jtr.v9n1.32396

Abstract

Tata rias karakter adalah tata rias yang merubah karakter wajah seseorang menjadi karakter wajah tertentu yang dibutuhkan untuk keperluan sebuah pementasan atau film, mendukung karakter tokoh yang akan diperankan dalam sandiwara, seni peran, halloween make up, dan sejenisnya. Perias pada umumnya menggunakan lateks cair untuk membuat efek khusus (karakter) karena sifatnya yang lentur, mudah dibentuk, elastis, melekat dan praktis. Lem bulu mata juga memiliki sifat lentur, elastis, dan melekat, maka kosmetik ini dapat digunakan dalam pembuatan efek khusus tata rias karakter. Penelitian ini bertujuan: 1) Mengetahui hasil jadi rias karakter hantu efek luka mata menggunakan bahan lateks cair. 2) Mengetahui hasil jadi rias karakter hantu efek luka mata menggunakan bahan lem bulu mata. 3) Mengetahui perbandingan hasil jadi efek luka mata rias karakter hantu antara menggunakan bahan lateks cair dan lem bulu mata. 4) Mengetahui respon panelis terhadap hasil tata rias karakter hantu efek luka mata antara penggunaan bahan lateks cair dan lem bulu mata. Jenis penelitian ini adalah eksperimen. Pengumpulan data menggunakan metode observasi dan angket dengan jumlah observer sebanyak 30 orang. Penelitian ini menggunakan analisis data uji statistik independent sample t test dengan bantuan SPSS 21.0. Penelitian ini mendapatkan hasil sebagai berikut : 1) Hasil efek luka mata melalui penggunaan lateks cair dengan rincian aspek proses pengaplikasian 3,2, kesesuaian hasil dengan objek asli 3,23, daya tahan 3,3, efisiensi waktu 3,33, tingkat kesukaan observer 3,2. 2) Hasil jadi efek luka mata menggunakan lem bulu mata dengan rincian aspek proses pengaplikasian 3,43, kesesuaian dengan objek asli 3,57, daya tahan 3,6, efisiensi waktu 3,37, tingkat kesukaan observer 3,7. 3) Perbandingan hasil dari efek luka melalui penggunaan lateks cair dan lem bulu mata sebanyak 5 aspek pada lateks cair tergolong dalam kategori baik dengan keseluruhan nilai rata-rata 3,25 dan pada lem bulu mata tergolong dalam kategori sangat baik dengan keseluruhan nilai rata-rata 3,53. 4) Respon panelis terhadap penggunaan kosmetik lateks cair dan lem bulu mata pada 7 aspek (bentuk, warna, elastisitas, tekstur, daya tahan, kelenturan dan daya rekat). Presentase hasil setuju dengan penggunaan lateks cair secara keseluruhan mendapat nilai 75% sehingga termasuk dalam kategori baik. Sedangkan hasil setuju dengan penggunaan lem bulu mata secara keseluruhan mendapat nilai 85% sehingga termasuk dalam kategori sangat baik. Kata kunci: Tata rias karakter, lateks cair, lem bulu mata, efek luka
KAJIAN TATA RIAS TARI GANDRUNG BANYUWANGI AGE SELINTA, FABE; Kecvara Pritasari, Octaverina
Jurnal Tata Rias Vol. 9 No. 2 (2020)
Publisher : Program Studi Pendidikan Tata Rias

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/jtr.v9n2.33474

Abstract

AbstrakTari gandrung merupakan tarian khas kota Banyuwangi yang dijadikan sebagai ikon kota, tari gandrung digunakan sebagai cikal bakal seni tari yang berkembang di Banyuwangi. Tari gandrung ada sejak zaman penjajahan Belanda sebagai bukti pembelaan masyarakat Banyuwangi terhadap penjajah. Kesenian tari gandrung semakin berkembang dan mengalami pembaharuan khususnya tata rias yang digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) perkembangan tata rias tari gandrung sejak tahun 1960 hingga 2019 dan 2) mengetahui aksesoris serta busana yang digunakan pada tari gandrung Banyuwangi. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yaitu wawancara semi struktur, observasi tersamar, dan dokumentasi. Hasil penelitian dapat diuraikan sebagai berikut: 1) pada tahun 1960 hingga 1970 menggunakan kosmetik sederhana dan berbahan alami, alas bedak atal berwarna kuning langsat, alis dari arang dan lipstik berwarna merah dari kertas kelobot. 2) tahun 1970 hingga 1980 adanya foundation merk Kelly, bedak tabur merk Viva, eyeliner dan eyeshadow terbuat dari endapan lampu minyak tanah. 3) tahun 1980 hingga 1990 eyeliner dan alis berbentuk pensil, adanya blushon warna merah merk Ratu Ayu dan Sariayu. 4) tahun 1990 hingga 2000 penggunaan eyeshadow warna merah, hitam, putih, dan emas sesuai warna khas Banyuwangi. Adanya teknik untuk mempertegas warna eyeshadow. 5) tahun 2005 hingga 2010 penggunaan bedak padat, warna eyeshadow menyesuaikan busana dan adanya bulu mata palsu. 6) tahun 2015 hingga 2019 adanya teknik conturing, teknik cut crease pada aplikasi eyeshadow dan penggunaan shimer, 3) aksesoris yang digunakan bernama omprog terbuat dari kulit berwarna emas dan memiliki ciri khas tokoh wayang Ontoseno, 4) komponen busana tari gandrung Banyuwangi terdiri dari ilat-ilat atas, otok, kelat bahu, ebok, samir, sabuk, selendang atau sampur, kipas, dan kaos kaki. Kata Kunci: Perkembangan Tari Gandrung, Gandrung BanyuwangiAbstractGandrung Dance is a typical dance city Banyuwangi as the icon of the city, Gandrung dance is used as the forerunner of the flourishing dance art in Banyuwangi. Gandrung Dance existed since the Dutch colonial era as evidence of the defence of Banyuwangi community against colonizers. Gandrung Dance Art is growing and undergoing renewal, especially the makeup used. The research aims to find out: 1) The development of the Gandrung dance makeup since the years 1960 to 2019, and 2)know accessories and clothing used in the dance Gandrung Banyuwangi. This type of research is a qualitative descriptive. Data collection techniques include semi-structural interviews, sketchy observations, and documentation. The results of the study can be described as follows: 1) from 1960 to 1970 using simple and natural-made cosmetics, a black-coloured, atal-yellow eyebrow, charcoal and red-colored lipstick from the paper Kelobot. 2) years 1970 to 1980 the existence of the foundation brand Kelly, powder brand Viva, eyeliner and eyeshadow made from the deposition of kerosene lamps. 3) years 1980 to 1990 eyeliner and eyebrow is made of pencil, there is a red color of the brand queen Ayu and Sariayu. 4) Year 1990 to 2000 use of eyeshadow color red, black, white, and gold according to the distinctive color of Banyuwangi. There is a technique to emphasize the color of eyeshadow. 5) years 2005 to 2010 use of solid powder, eyeshadow color adjusting the clothing and the presence of false eyelashes. 6) year 2015 to 2019 of the technique of conturing, cut return technique on eyeshadow application and the use of Shimer, 3) used accessories named Omprog is made of gold-colored leather and has the characteristic of a puppet character Ontoseno, 4) Banyuwangi Gandrung fashion components consist of the above Ilat-ylates, Otok, shoulder kelat, Ebok, Samir, belts, scarves or sampurs, fan and socks.Keywords: Progression of Gandrung Dance, Gandrung Banyuwangi
KAJIAN TATA RIAS TARI GANDRUNG BANYUWANGI AGE SELINTA, FABE; KECVARA PRITASARI, OCTAVERINA
Jurnal Tata Rias Vol. 9 No. 2 (2020)
Publisher : Program Studi Pendidikan Tata Rias

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/jtr.v9n2.33475

Abstract

AbstrakTari gandrung merupakan tarian khas kota Banyuwangi yang dijadikan sebagai ikon kota, tari gandrung digunakan sebagai cikal bakal seni tari yang berkembang di Banyuwangi. Tari gandrung ada sejak zaman penjajahan Belanda sebagai bukti pembelaan masyarakat Banyuwangi terhadap penjajah. Kesenian tari gandrung semakin berkembang dan mengalami pembaharuan khususnya tata rias yang digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) perkembangan tata rias tari gandrung sejak tahun 1960 hingga 2019 dan 2) mengetahui aksesoris serta busana yang digunakan pada tari gandrung Banyuwangi. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yaitu wawancara semi struktur, observasi tersamar, dan dokumentasi. Hasil penelitian dapat diuraikan sebagai berikut: 1) pada tahun 1960 hingga 1970 menggunakan kosmetik sederhana dan berbahan alami, alas bedak atal berwarna kuning langsat, alis dari arang dan lipstik berwarna merah dari kertas kelobot. 2) tahun 1970 hingga 1980 adanya foundation merk Kelly, bedak tabur merk Viva, eyeliner dan eyeshadow terbuat dari endapan lampu minyak tanah. 3) tahun 1980 hingga 1990 eyeliner dan alis berbentuk pensil, adanya blushon warna merah merk Ratu Ayu dan Sariayu. 4) tahun 1990 hingga 2000 penggunaan eyeshadow warna merah, hitam, putih, dan emas sesuai warna khas Banyuwangi. Adanya teknik untuk mempertegas warna eyeshadow. 5) tahun 2005 hingga 2010 penggunaan bedak padat, warna eyeshadow menyesuaikan busana dan adanya bulu mata palsu. 6) tahun 2015 hingga 2019 adanya teknik conturing, teknik cut crease pada aplikasi eyeshadow dan penggunaan shimer, 3) aksesoris yang digunakan bernama omprog terbuat dari kulit berwarna emas dan memiliki ciri khas tokoh wayang Ontoseno, 4) komponen busana tari gandrung Banyuwangi terdiri dari ilat-ilat atas, otok, kelat bahu, ebok, samir, sabuk, selendang atau sampur, kipas, dan kaos kaki. Kata Kunci: Perkembangan Tari Gandrung, Gandrung BanyuwangiAbstractGandrung Dance is a typical dance city Banyuwangi as the icon of the city, Gandrung dance is used as the forerunner of the flourishing dance art in Banyuwangi. Gandrung Dance existed since the Dutch colonial era as evidence of the defence of Banyuwangi community against colonizers. Gandrung Dance Art is growing and undergoing renewal, especially the makeup used. The research aims to find out: 1) The development of the Gandrung dance makeup since the years 1960 to 2019, and 2)know accessories and clothing used in the dance Gandrung Banyuwangi. This type of research is a qualitative descriptive. Data collection techniques include semi-structural interviews, sketchy observations, and documentation. The results of the study can be described as follows: 1) from 1960 to 1970 using simple and natural-made cosmetics, a black-coloured, atal-yellow eyebrow, charcoal and red-colored lipstick from the paper Kelobot. 2) years 1970 to 1980 the existence of the foundation brand Kelly, powder brand Viva, eyeliner and eyeshadow made from the deposition of kerosene lamps. 3) years 1980 to 1990 eyeliner and eyebrow is made of pencil, there is a red color of the brand queen Ayu and Sariayu. 4) Year 1990 to 2000 use of eyeshadow color red, black, white, and gold according to the distinctive color of Banyuwangi. There is a technique to emphasize the color of eyeshadow. 5) years 2005 to 2010 use of solid powder, eyeshadow color adjusting the clothing and the presence of false eyelashes. 6) year 2015 to 2019 of the technique of conturing, cut return technique on eyeshadow application and the use of Shimer, 3) used accessories named Omprog is made of gold-colored leather and has the characteristic of a puppet character Ontoseno, 4) Banyuwangi Gandrung fashion components consist of the above Ilat-ylates, Otok, shoulder kelat, Ebok, Samir, belts, scarves or sampurs, fan and socks.Keywords: Progression of Gandrung Dance, Gandrung Banyuwangi
PEMANFAATAN MEDIA SOSIAL SEBAGAI MEDIA PEMASARAN TERHADAP PRODUK NURAYYA SAMPO DANDRUFF TANPA KANDUNGAN SLS RIESTIAN R, BERLIANA; KECVARA PRITASARI, OCTAVERINA
Jurnal Tata Rias Vol. 9 No. 2 (2020)
Publisher : Program Studi Pendidikan Tata Rias

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/jtr.v9n2.33580

Abstract

Abstrak Media sosial sudah menjadi hal pokok dalam penyampaian informasi, memperkenalkan produk dan adanya media sosial dapat digunakan sebagai sarana pemasaran produk kepada masyarakat khususnya konsumen. Nurayya Salon & Spa Muslimah memanfaatkan media sosial sebagai sarana pemasaran online untuk mempengarui daya beli konsumen. Sampo merupakan produk kecantikan yang dipergunakan oleh seluruh lapisan masyarakat, sampo memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan juga kebersihan rambut. Nurayya memproduksi sebuah sampo yang diberi nama Nurayya Sampo Dandruff Tanpa Kandungan SLS (Sodium Lauryl Sulphate). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Intensitas akses media sosial sebagai alat pemasaran produk pada Nurayya Shampo Dandruff (2) Media sosial apa saja yang digunakan oleh Nurayya sebagai alat pemasaran produk (3) Peran media sosial bagi Nurayya untuk mempromosikan produk Nurayya Sampo Dandruff. Penelitian ini merupakan analisis kualitatif dengan pengambilan data melalui wawancara kepada pemilik dari Nurayya. Hasil penelitian menunjukan bahwa media sosial adalah sesuatu yang pokok dalam melaksanakan promosi dalam media pemasaran. Media pemasaran yang digunakan dalam pemasaran produk adalah Instagram, Whatsapp, Facebook dan Fanspage dengan adanya konten dapat menarik konsumen agar melakukan pembelian terhadap apa yang kita tampilkan. Kata Kunci: Media Sosial, Media Pemasaran, Nurayya Sampo Dandruff. Abstract Social media has become the main thing in the delivery of information, introducing products and the presence of social media can be used as a means of marketing products to the public, especially consumers. Nurayya Salon & Spa Muslimah utilizes social media as an online marketing tool to influence consumer purchasing power. Shampoo is a beauty product that is used by all walks of life, shampoo has an important role in maintaining health as well as hair hygiene. Nurayya produces a shampoo called Nurayya Sampo Dandruff without the content of SLS (Sodium Lauryl Sulphate). This study aims to determine (1) Intensity of social media access as a product marketing tool in Nurayya Shampoo Dandruff (2) What social media is used by Nurayya as a product marketing tool (3) The role of social media for Nurayya to promote Nurayya Sampo Dandruff products. This research is a qualitative analysis by taking data through interviews with the owner of Nurayya. The results showed that social media is an important thing in promoting media marketing. The marketing media used in product marketing are Instagram, Whatsapp, Facebook and Fanspage with the content that can attract consumers to make purchases of what we display .Keywords: Social Media, Makteting Media, Nurayya Shampo Dandruff
Sosialisasi Tata Rias Pengantin Kresnayana kepada Masyarakat Blitar DEVI NURSAPUTRI, ERVITA; KECVARA PRITASARI, OCTAVERINA
Jurnal Tata Rias Vol. 9 No. 2 (2020)
Publisher : Program Studi Pendidikan Tata Rias

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/jtr.v9n2.33730

Abstract

AbstrakPengantin Kresnayana merupakan salah satu tata rias pengantin tradisional yang ada di Indonesia tepatnya di Kota Blitar, Jawa Timur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) keterlaksanaan sosialisasi tata rias pengantin Kresnayana kepada masyarakat Blitar khususnya di Desa Ngadri, 2) aktivitas peserta sosialisasi tata rias pengantin Kresnayana, 3) pengetahuan peserta setelah dilakukan sosialisasi tata rias pengantin Kresnayana, dan 4) respon peserta setelah dilakukan sosialisasi tata rias pengantin Kresnayana. Jenis penelitian ini adalah pre-eksperimental dengan desain penelitian the one-shot case study design. Subjek pada penelitian ini adalah masyarakat Desa Ngadri Kabupaten Blitar. Metode pengumpulan data menggunakan observasi, tes dan angket. Teknik analisis data yang digunakan yaitu rumus presentase dan rata-rata. Hasil penelitian dapat ditunjukkan sebagai berikut: 1) keterlaksanaan sosialisasi termasuk kategori sangat baik dengan rata-rata skor nilai 3,58 , 2) aktivitas peserta sosialisasi termasuk dalam kategori sangat baik dengan rata-rata skor nilai 3,62 , 3) pengetahuan peserta setelah dilakukan sosialisasi secara keseluruhan yaitu 94,25 yang berarti sangat baik, 4) respon peserta mencapai kriteria sangat baik dengan perolehan nilai sebesar 98,25%.Kata Kunci: Tata Rias Pengantin Kresnayana, Blitar.AbstractKresnayanas bride is one of the traditional bridal make-up in Indonesia, precisely in Blitar City, East Java. This study aims to determine: 1) implementation of the Kresnayana bridal make-up socialization to the Blitar community, especially in Ngadri Village, 2) activities of participant for the Kresnayana bridal make-up, 3) participants knowledge after socialization of the Kresnayana bridal make-up, and 4) participants response after Kresnayana bridal makeup has been socialized. This type of research is a pre-experimental study with the research design "one-shot case study design". The subjects of this study were Ngadri villager in Blitar Regency. Data collection methods use observation, tests and questionnaires. Analysis of the data used is the average formula and percentage. The results of the study can be shown as follows: 1) the implementation of socialization is in very good category with average score of 3.58, 2) the activities of the participants is in very good category with average score of 3.62, 3) the participants knowledge after socialization is 94.25 which means very good, and 4) the participants responses reached very good criteria with the acquisition of a value of 98.25%.Keywords: Kresnayana Bridal Makeup, Blitar.
Kemampuan Merias Wajah Panggung Penari Mayang Rontek Melalui Pelatihan di Sanggar Candra Siswa Mojokerto FENI AMANDA, RIMA; KECVARA PRITASARI, OCTAVERINA
Jurnal Tata Rias Vol. 9 No. 2 (2020)
Publisher : Program Studi Pendidikan Tata Rias

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/jtr.v9n2.33737

Abstract

PENGARUH PROPORSI TEPUNG BIJI JAGUNG ( Zea Mays) DAN KULIT BUAH MANGGIS (Garcinia Mangostana) TERHADAP HASIL LULUR BUBUK TRADISIONAL ZATALINI SHABRINA, FILDZAH; KECVARA PRITASARI, OCTAVERINA
Jurnal Tata Rias Vol. 9 No. 2 (2020)
Publisher : Program Studi Pendidikan Tata Rias

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/jtr.v9n2.33822

Abstract

Abstrak Bahan lulur tradisional dapat diperkaya dengan bahan tambahan yang mengandung senyawa fungsional dan memiliki manfaat sebagai anti oksidan yang tinggi. Selain itu sifat antioksidannya melibihi vitamin E dan vitamin C. Antioksidan bermanfaat untuk memperbaiki sel-sel kulit rusak oleh radikal bebas, melembabkan kulit dan mencerahkan kulit. Xanthone juga merangsang regenarisi (pemulihan) sel tubuh yang rusak dengan cepat, mengatasi sel kanker dengan mekanisme apoptosis (bunuh diri sel). Tujuan penelitian ini adalah unuk mengetahui pengaruh proporsi terhadap sifat fisik yang meliputi aroma, warna, tekstur, dan daya lekat pada hasil jadi lulur tradisional dan untuk mengetahui proporsi lulur tradisional yang terbaik. Metode penelitian eksperimen (True Eksperimental Research) metode ini dalam pemecahan masalahnya adalah dengan cara mengungkapkan hubungan sebab akibat dua variabel atau lebih melalui percobaan yang cermat. Hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut: 1) Terdapat pengaruh proporsi biji jagung dan kulit manggis terhadap sifat fisik lulur tradisional yang meliputi aroma, warna, tekstur dan daya lekat. Sifat fisik sediaan lulur X3 lebih baik dibandingkan dengan sediaan lulur X1, X2, dan X4, dikarenakan proporsi biji jagung lebih banyak. 2) Terdapat pengaruh proporsi biji jagung dan kulit manggis terhadap tingkat kesukaan panelis. Sediaan lulur X3 lebih disukai panelis dibandingkan dengan X1, X2, dan X4 dikarenakan proporsi biji jagung lebih banyak. Semakin banyak proporsi biji jagung maka sediaan lulur semakin disukai panelis. Kata Kunci: Biji Jagung, Kulit Buah Manggis, Lulur Bubuk Tradisional. Abstract Traditional body scrubs can be enriched with additives that contain functional compounds and have high antioxidant benefits. In addition, antioxidant properties exceed vitamin E and vitamin C. Antioxidants are useful for repairing skin cells damaged by free radicals, moisturizing the skin and brightening the skin. Xanthones also stimulate the regeneration (recovery) of damaged body cells quickly, overcome cancer cells by apoptotic mechanisms (cell suicide). The purpose of this study was to determine the effect of proportions on physical properties including aroma, color, texture, and adhesion to the results of traditional scrubs and to determine the best proportion of traditional scrubs. The experimental research method (True Experimental Research) this method in solving the problem is by expressing the causal relationship of two or more variables through careful experimentation. The results of the study are as follows: 1) There is an effect of the proportion of corn kernels and mangosteen peel on the physical properties of traditional scrubs which include aroma, color, texture and adhesion. The physical properties of X3 scrub preparations are better than X1, X2, and X4 scrub preparations, because the proportion of corn kernels is more. 2) There is an effect of the proportion of corn kernels and mangosteen peel on the level of panelists preference. The X3 scrub preparations are preferably panelists compared to X1, X2, and X4 because of the greater proportion of corn kernels. The more proportion of corn kernels, the more scrub preparations the panelists like. Keywords: Corn Kernels, Mangosteen Fruit Skin, Traditional Powder Scrubs.
PENGARUH PROPORSI TEPUNG BIJI JAGUNG ( Zea Mays) DAN KULIT BUAH MANGGIS (Garcinia Mangostana) TERHADAP HASIL LULUR BUBUK TRADISIONAL ZATALINI SHABRINA, FILDZAH; KECVARA PRITASARI, OCTAVERINA
Jurnal Tata Rias Vol. 9 No. 2 (2020)
Publisher : Program Studi Pendidikan Tata Rias

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/jtr.v9n2.33823

Abstract

Abstrak Bahan lulur tradisional dapat diperkaya dengan bahan tambahan yang mengandung senyawa fungsional dan memiliki manfaat sebagai anti oksidan yang tinggi. Selain itu sifat antioksidannya melibihi vitamin E dan vitamin C. Antioksidan bermanfaat untuk memperbaiki sel-sel kulit rusak oleh radikal bebas, melembabkan kulit dan mencerahkan kulit. Xanthone juga merangsang regenarisi (pemulihan) sel tubuh yang rusak dengan cepat, mengatasi sel kanker dengan mekanisme apoptosis (bunuh diri sel). Tujuan penelitian ini adalah unuk mengetahui pengaruh proporsi terhadap sifat fisik yang meliputi aroma, warna, tekstur, dan daya lekat pada hasil jadi lulur tradisional dan untuk mengetahui proporsi lulur tradisional yang terbaik. Metode penelitian eksperimen (True Eksperimental Research) metode ini dalam pemecahan masalahnya adalah dengan cara mengungkapkan hubungan sebab akibat dua variabel atau lebih melalui percobaan yang cermat. Hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut: 1) Terdapat pengaruh proporsi biji jagung dan kulit manggis terhadap sifat fisik lulur tradisional yang meliputi aroma, warna, tekstur dan daya lekat. Sifat fisik sediaan lulur X3 lebih baik dibandingkan dengan sediaan lulur X1, X2, dan X4, dikarenakan proporsi biji jagung lebih banyak. 2) Terdapat pengaruh proporsi biji jagung dan kulit manggis terhadap tingkat kesukaan panelis. Sediaan lulur X3 lebih disukai panelis dibandingkan dengan X1, X2, dan X4 dikarenakan proporsi biji jagung lebih banyak. Semakin banyak proporsi biji jagung maka sediaan lulur semakin disukai panelis. Kata Kunci: Biji Jagung, Kulit Buah Manggis, Lulur Bubuk Tradisional. Abstract Traditional body scrubs can be enriched with additives that contain functional compounds and have high antioxidant benefits. In addition, antioxidant properties exceed vitamin E and vitamin C. Antioxidants are useful for repairing skin cells damaged by free radicals, moisturizing the skin and brightening the skin. Xanthones also stimulate the regeneration (recovery) of damaged body cells quickly, overcome cancer cells by apoptotic mechanisms (cell suicide). The purpose of this study was to determine the effect of proportions on physical properties including aroma, color, texture, and adhesion to the results of traditional scrubs and to determine the best proportion of traditional scrubs. The experimental research method (True Experimental Research) this method in solving the problem is by expressing the causal relationship of two or more variables through careful experimentation. The results of the study are as follows: 1) There is an effect of the proportion of corn kernels and mangosteen peel on the physical properties of traditional scrubs which include aroma, color, texture and adhesion. The physical properties of X3 scrub preparations are better than X1, X2, and X4 scrub preparations, because the proportion of corn kernels is more. 2) There is an effect of the proportion of corn kernels and mangosteen peel on the level of panelists preference. The X3 scrub preparations are preferably panelists compared to X1, X2, and X4 because of the greater proportion of corn kernels. The more proportion of corn kernels, the more scrub preparations the panelists like. Keywords: Corn Kernels, Mangosteen Fruit Skin, Traditional Powder Scrubs.
PENGARUH PROPORSI TEPUNG BIJI JAGUNG ( Zea Mays) DAN KULIT BUAH MANGGIS (Garcinia Mangostana) TERHADAP HASIL LULUR BUBUK TRADISIONAL ZATALINI SHABRINA, FILDZAH; KECVARA PRITASARI, OCTAVERINA
Jurnal Tata Rias Vol. 9 No. 2 (2020)
Publisher : Program Studi Pendidikan Tata Rias

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/jtr.v9n2.33824

Abstract

Abstrak Bahan lulur tradisional dapat diperkaya dengan bahan tambahan yang mengandung senyawa fungsional dan memiliki manfaat sebagai anti oksidan yang tinggi. Selain itu sifat antioksidannya melibihi vitamin E dan vitamin C. Antioksidan bermanfaat untuk memperbaiki sel-sel kulit rusak oleh radikal bebas, melembabkan kulit dan mencerahkan kulit. Xanthone juga merangsang regenarisi (pemulihan) sel tubuh yang rusak dengan cepat, mengatasi sel kanker dengan mekanisme apoptosis (bunuh diri sel). Tujuan penelitian ini adalah unuk mengetahui pengaruh proporsi terhadap sifat fisik yang meliputi aroma, warna, tekstur, dan daya lekat pada hasil jadi lulur tradisional dan untuk mengetahui proporsi lulur tradisional yang terbaik. Metode penelitian eksperimen (True Eksperimental Research) metode ini dalam pemecahan masalahnya adalah dengan cara mengungkapkan hubungan sebab akibat dua variabel atau lebih melalui percobaan yang cermat. Hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut: 1) Terdapat pengaruh proporsi biji jagung dan kulit manggis terhadap sifat fisik lulur tradisional yang meliputi aroma, warna, tekstur dan daya lekat. Sifat fisik sediaan lulur X3 lebih baik dibandingkan dengan sediaan lulur X1, X2, dan X4, dikarenakan proporsi biji jagung lebih banyak. 2) Terdapat pengaruh proporsi biji jagung dan kulit manggis terhadap tingkat kesukaan panelis. Sediaan lulur X3 lebih disukai panelis dibandingkan dengan X1, X2, dan X4 dikarenakan proporsi biji jagung lebih banyak. Semakin banyak proporsi biji jagung maka sediaan lulur semakin disukai panelis. Kata Kunci: Biji Jagung, Kulit Buah Manggis, Lulur Bubuk Tradisional. Abstract Traditional body scrubs can be enriched with additives that contain functional compounds and have high antioxidant benefits. In addition, antioxidant properties exceed vitamin E and vitamin C. Antioxidants are useful for repairing skin cells damaged by free radicals, moisturizing the skin and brightening the skin. Xanthones also stimulate the regeneration (recovery) of damaged body cells quickly, overcome cancer cells by apoptotic mechanisms (cell suicide). The purpose of this study was to determine the effect of proportions on physical properties including aroma, color, texture, and adhesion to the results of traditional scrubs and to determine the best proportion of traditional scrubs. The experimental research method (True Experimental Research) this method in solving the problem is by expressing the causal relationship of two or more variables through careful experimentation. The results of the study are as follows: 1) There is an effect of the proportion of corn kernels and mangosteen peel on the physical properties of traditional scrubs which include aroma, color, texture and adhesion. The physical properties of X3 scrub preparations are better than X1, X2, and X4 scrub preparations, because the proportion of corn kernels is more. 2) There is an effect of the proportion of corn kernels and mangosteen peel on the level of panelists preference. The X3 scrub preparations are preferably panelists compared to X1, X2, and X4 because of the greater proportion of corn kernels. The more proportion of corn kernels, the more scrub preparations the panelists like. Keywords: Corn Kernels, Mangosteen Fruit Skin, Traditional Powder Scrubs.
PENGARUH PROPORSI EKSTRAK ANGKAK DENGAN HIDROGEN PEROKSIDA TERHADAP HASIL JADI PEWARNAAN RAMBUT FITRIANINGSIH, DINA; KECVARA PRITASARI, OCTAVERINA
Jurnal Tata Rias Vol. 9 No. 2 (2020)
Publisher : Program Studi Pendidikan Tata Rias

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/jtr.v9n2.33826

Abstract

Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh proporsi ekstrak angkak dengan hidrogen peroksida terhadap 1) Sifat fisik hasil pewarnaan rambut yang meliputi warna target, tekstur rambut, kilau rambut, kerataan warna dan kesukaan panelis. Jenis penelitian ini adalah eksperimen. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah jumlah proporsi ekstrak angkak dengan hydrogen peroksida yaitu X1 (27,5:12,5), X2 (25:15), X3 (22,5:17,5), dan X4 (20:20). Variabel terikat adalah sifat fisik yang meliputi warna target, tekstur rambut, kilau rambut, kerataan warna dan kesukaan panelis. Pengumpulan data dengan metode observasi yang dilakukan oleh 30 panelis. Data dianalisis dengan menggunakan anova tunggal dan dilanjutkan dengan uji duncan menggunakan program spss versi 16. Hasil penelitian ini terdapat pengaruh nyata yang signifikan terhadap sifat fisik pewarnaan rambut menggunakan ekstrak angak dengn hydrogen peroksida meliputi warna target, tekstur rambut, kilau rambut, kerataan warna dan kesukaan panelis. Berdasarkan hasil uji Duncan pewarnaan rambut terbaik diperoleh sampel X1 dengan kriteriawarna target yang sesuai yaitu merah, tekstur yang dihasilkan sangat halus, kilau rambut tampak becahaya saat terpapat cahaya lampu, kerataan warna yang merata ke seluruh rambut. Semakin banyak jumlah ekstrak angkak maka hasilnya akan semakin dengan warna target,tekstur rambut,kilau rambut,kerataan warna. Kata kunci: ekstrak angkak, hydrogen peroksida, pewarnaan rambut. Abstract The purpose of this study was to determine the effect of the proportion of red yeast rice extract with hydrogen peroxide to 1) The physical properties of the hair coloring results include the target color, hair texture, hair luster, color flatness and panelist preference. This type of research is experimental. The independent variable in this study is the proportion of red yeast rice extract with hydrogen peroxide, namely X1 (27.5: 12.5), X2 (25:15), X3 (22.5: 17.5), and X4 (20:20) . Dependent variables are physical properties which include target color, hair texture, hair luster, color flatness and panelist preferences. Data collection by observation method carried out by 30 panelists. Data analysis used by single anova and contiuned with duncan test using spss program version 16 The results of this study have a significant significant effect on the physical properties of hair coloring using figs extract with hydrogen peroxide including target color, hair texture, hair shine, flatness and panelist preferences. Based on the results of Duncans hair coloring test, the best X1 sample obtained with the appropriate target color criteria is red, the resulting texture is very smooth, the hair shine looks light when exposed to light, evenly distributed evenly throughout the hair. The more amount of Angkak extract, the results will be more with the target color, hair texture, hair luster, evenness of color. Keywords: Angkak extract, hydrogen peroxide, hair coloring.