Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Tradisi Nyadran Larungan Kepala Kerbau Dam Bagong Desa Ngantru Kecamatan Trenggalek Kabupaten Trenggalek (Kajian Folklor) Putri, Angella Mustika; Susilo, Yohan
Jurnal Online Baradha Vol. 19 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Culture is one of the works of the nation that must be preserved for generations. Culture and people have a relationship and the most important motive. Tradition is included in the real form of culture. RNDB is one of the rituals held once a year in the month of Sela. The buffalo head ritual is carried out with the intention and purpose of expressing gratitude to God who created the world, for providing welfare and safety to the people of Trenggalek Regency. The purpose of this study is to (1) describe the origin of RNDB, (2) describe the management during RNDB, (3) describe the form and meaning of uborampe in RNDB, (4) describe the use value of RNDB, (5) describe changes in RNDB in Trenggalek Regency. Theory is a concept that has to do with problem formulation is folklore theory. From this research using qualitative descriptive research methods to describe the atmosphere more clearly and objectively. The result of the study is to tell the beginning that has something to do with the beliefs of the surrounding community. And the changes that occur grow efforts to continue to preserve in the development of this era. traditions are distributed to the younger generation and regional administrators themselves as supporters must be responsive so that the culture in Trenggalek is always known. Keywords : Ritual prohibition, Folklore, Dam bagong ABSTRAK Kebudayaan merupakan salah satu hasil karya dari bangsa yang harus dilestarikan dengan cara turun-temurun. Kebudayaan dan manusia memiliki hubungan dan menjadi dorongan terpenting. RNDB merupakan salah satu ritual yang dilaksanakan satu tahun sekali di bulan Sela. Ritual melarung kepala kerbau dilakukan dengan maksud dan tujuan untuk ucapan rasa syukur terhadap Tuhan yang menciptakan dunia, karena telah memberikan kesejahteraan dan keselamatan terhadap masyarakat Trenggalek. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk (1) mendeskripsikan asal-usul RNDB, (2) mendeskripsikan tata laksana selama RNDB, (3) mendeskripsikan bentuk dan makna uborampe dalam RNDB, (4) mendeskripsikan nilai guna RNDB, (5) mendeskripsikan perubahan dalam RNDB di Kabupaten Trenggalek. Teori kan konsep yang ada hubungannya dengan rumusan masalah adalah teori folklor. Dari penelitian tersebut menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif untuk menggambarkan suasana yang lebih jelas. Hasil dari dhata tersebut diperoleh dari observasi, wawancara, dokumentasi. Hasil dari penelitian adalah menceritakan awal mula yang ada hubungannya dengan kepercayaan masyarakat sekitar. Bentuk dan makna yang terkandung dari kepercayaan berupa uborampe dan tata laksananya. Serta adanya perubahan yang terjadi menumbuhkan upaya untuk tetap melestarikan didalam perkembangan jaman ini. tradisi disalurkan kepada generasi muda dan pemerindah daerah sendiri sebagai pendukungnya harus tanggap supaya kebudayaan di Trenggalek selalu dikenal. Kata kunci : Ritual larungan, Folklor, Dam bagong
Tradisi Galungan Di Desa Nglewan Kecamatan Sambit Kabupaten Ponorogo (Kajian Folklor Setengah Lisan) Wafi, Rifqi Hibatul; Susilo, Yohan
Jurnal Online Baradha Vol. 19 No. 3 (2023): Vol 19 No 3 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/job.v19n3.p174-192

Abstract

ABSTRACT The Galungan tradition in Nglewan Village is a semi-oral folklore that is still believed by the residents. The Galungan tradition has been carried out as a form of custom that has been carried out since ancient times until now. This tradition is carried out as a form of kenduri aimed at Gamelan. Galungan tradition is held twice a year by Nglewan Village community members, precisely on Wednesday Kliwon night Thursday Legi in Wuku Galungan. The purpose of this research is to find out (1) the origin of the Galungan Tradition, (2) the Galungan Tradition procession, and (3) efforts to preserve the Galungan Tradition. This research uses the theory of semi-oral folklor according to Danandjaja. The research design uses descriptive qualitative research methods. Techniques for collecting data are observation, interviews and documentation. Data validity in this research uses data source triangulation techniques and method triangulation. Data analysis techniques using data transcripts, data verification, data identification and codification, and data interpretation. The results of the research on the Galungan Tradition procession are deliberations, cleaning the place and Gamelan, preparing ubarampe, notifying invitations, wilujengan, prayers, Gamelan jamasan, and uyon-uyon adiluhung. While in the effort to preserve this Galungan Tradition there are various kinds of efforts, namely, efforts from the Government, efforts from the Community, and efforts from the School. Keywords: Half Oral Folklor, Tradition, Wuku Galungan, Gamelan ABSTRAK Tradisi Galungan di Desa Nglewan termasuk folklor setengah lisan yang masih dipercayai oleh para warga. Tradisi Galungan telah berjalan sebagai wujud kebiasaan yang sudah dilaksanakan sejak zaman dahulu hingga zaman sekarang. Tradisi ini dijalankan sebagai wujud kenduri yang ditujukan untuk Gamelan. Tradisi Galungan dilaksanakan warga masyarakat Desa Nglewan satu tahun dua kali, tepatnya dihari Rabu Kliwon malam Kamis Legi didalam Wuku Galungan. Tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui (1) awal mula Tradisi Galungan, (2) prosesi Tradisi Galungan, dan (3) upaya pelestarian Tradisi Galungan. Penelitian ini menggunakan teori folklor setengah lisan menurut Danandjaja. Rancangan penelitian dengan menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Teknik untuk mengumpulkan data yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Keabsahan data pada penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sumber data dan triangulasi metode. Teknik analisis data dengan menggunakan cara transkrip data, verifikasi data, identifikasi dan kodifikasi data, serta penafsiran data. Hasil penelitian pada prosesi Tradisi Galungan yaitu musyawarah, membersihkan tempat dan Gamelan, menyiapkan ubarampe, memberitahu undangan, wilujengan, doa, jamasan Gamelan, dan uyon-uyon adiluhung. Sedangkan dalam upaya pelestarian Tradisi Galungan ini ada berbagai macam upaya yaitu, upaya dari Pemerintah, upaya dari Masyarakat, dan upaya dari Sekolah. Kata Kunci: Folklor Setengah Lisan, Tradisi, Wuku Galungan, Gamelan
Tradisi Puter Kayun Di Desa Boyolangu Kecamatan Giri Kabupaten Banyuwangi (Kajian Folklor) Liana, Mega; Susilo, Yohan
Jurnal Online Baradha Vol. 19 No. 3 (2023): Vol 19 No 3 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/job.v19n3.p233-251

Abstract

ABSTRACT The puter kayun tradition in Boyolangu Village is a regional cultural form of Banyuwangi Regency which is a half-oral folklore. The purpose of this research is to explain its history, sequence of events, understanding and meaning, functions, changes, and how to preserve it. The method used in this research is descriptive qualitative, using observation, interview, documentation, recording, and data validation techniques. The tools used are a list of questions, mobile phones, and notebooks. The results of this study are that the puter kayun tradition has a relationship between Buyut Jakso and watudodol, Puter Kayun is a legacy of Boyolangu residents to remember the services of Buyut Jakso who had opened the road in Watudodol. The implementation of the puter kayun tradition is divided into four days from the seventh day to the tenth day of Eid. The ubarampe used are setaman flower, kupat, buffalo mask, singkal and garu, janur, gig, and tumpeng. Its meaning is to be an example for the community, especially Boyolangu village where this tradition developed, when they do work in society to create a sense of peace in their lives. The function of the puter kayun tradition for the people of Boyolangu is as village salvation and social culture. There are always changes in the puter kayun tradition every year, especially in the number of dokars used. The way to preserve the puter kayun tradition is by passing it on to the descendants of the Boyolangu people, improving the ubarampe tradition of puter kayun, and being supported by the Culture and Tourism Office of Banyuwangi Regency. Keywords: Folklore, Puter Kayun Tradition, Great-grandfather Jakso. ABSTRAK Tradisi puter kayun di Desa Boyolangu merupakan bentuk budaya daerah Kabupaten Banyuwangi yang merupakan cerita rakyat setengah lisan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan sejarahnya, urutan acara, pengertian dan makna, fungsi, perubahan, dan cara melestarikannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, dengan teknik observasi, wawacara, dokumentasi, pencatatan, dan validasi data. Alat yang digunakan adalah daftar pertanyaan, handphone, dan buku catatan. Hasil dari penelitian ini adalah tradisi puter kayun mempunyai hubungan antara Buyut Jakso dengan watudodol, Puter Kayun merupakan napak tilas warga Boyolangu untuk mengingat jasa Buyut Jakso yang telah membuka jalan di Watudodol. Pelaksanaan acara tradisi puter kayun dibagi menjadi empat hari dari hari ketujuh sampai hari kesepuluh lebaran. ubarampe yang digunakan adalah kembang setaman, kupat, topeng kerbau, singkal dan garu, janur, dokar, dan tumpeng. Maknanya yaitu menjadi contoh bagi masyarakat khususnya desa Boyolangu yang merupakan tempat berkembangnya tradisi ini, ketika mereka melakukan pekerjaan dalam masyarakat untuk mewujudkan rasa damai dalam hidup mereka. Fungsi tradisi puter kayun bagi masyarakat Boyolangu adalah sebagai selametan desa dan sosial budaya. Perubahan tradisi puter kayun setiap tahunnya selalu ada terutama pada jumlah dokar yang digunakan. Cara melestarikan tradisi puter kayun adalah dengan mewariskannya kepada keturunan masyarakat Boyolangu, memperbaiki ubarampe tradisi puter kayun, dan didukung oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi. Kata Kunci : Folklor, Tradisi Puter Kayun, Buyut Jakso.
Pengenalan Sastra Jawa Geguritan Kepada Mahasiswa Sastra Melayu di Universitas Islam Antarabangsa Malaysia Fitri, Rizky Malinda; Saputri, Dea Ananda; Larasati, Putri; Hertanto, Icha Maharani Putri; Randyany, Ellyana Dwi; Saputra, Mohamad Juniawan; Andriyanto, Octo Dendy; Wijoyanto, Danang; Sukarman, Sukarman; Darni, Darni; Susilo, Yohan; Zailan, Muhammad Danial Afham
ABISATYA : Journal of Community Engagement Vol. 3 No. 1 (2025): ABISATYA: Journal of Community Engagement
Publisher : Center for Community Service and Science and Technology Marketing - The Institute for Research and Community Service Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/abisatya.v3i1.38682

Abstract

Pembelajaran sastra sangat penting untuk dipelajari oleh mahasiswa khususnya jurusan sastra. Setiap sastra memiliki unsur keunikan yang membuat sastra tersebut memiliki perbedaan dengan sastra lainnya. Geguritan dan gurindam merupakan bentuk dari Sastra Jawa dan Sastra Melayu. Geguritan dan gurindam merupakan sastra yang berwujud puisi. Oleh karena itu mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa membuat kelas Sastra Jawa geguritan sebagai bentuk pengabdian masyarakat. Sasaran kegiatan ini yaitu mahasiswa jurusan Sastra Melayu Universitas Islam Antarbangsa Malaysia sejumlah 50 orang. Kegiatan ini bertujuan 1) memperkenalkan Sastra Jawa geguritan kepada mahasiswa Jurusan Sastra Melayu Universitas Islam Antarbangsa Malaysia, 2) Membedah perbedaan Sastra Jawa geguritan dan Sastra Melayu gurindam di Universitas Islam Antarbangsa Malaysia, 3) pertukaran ilmu antara mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Unesa dengan mahasiswa Jurusan Sastra Melayu Universitas Islam Antarbangsa Malaysia 4) memperkaya ilmu pengetahuan pada bidang sastra. Metode yang digunakan pada kegiatan ini yaitu Empowerment Based Collaboration (EBC). Tahapan kegiatan perencanaan dan pengoordinasian dengan pihak terlibat, fasilitasi dialog yang setara, identifikasi kebutuhan dan potensi, pembuatan rencana aksi bersama. Hasil dari kegiatan pengabdian ini ditemukan persamaan dan perbedaan pada geguritan dan gurindam. Persamaan dari geguritan dan gurindam yaitu sama-sama bentuk dari puisi, memiliki dua jenis dan tema yang bebas. Perbedaan gurindam dan guritan tertelak pada bahasa dan pola penulisan.
Pelatihan dan Pendampingan Pembelajaran Aksara Jawa bagi Guru-guru SD Desa Sarongan Banyuwangi Susilo, Yohan; Hasan, Latif Nur; Sukarman, Sukarman; Darni, Darni; Listiyapinto, Ravi Zam-zam
ABISATYA : Journal of Community Engagement Vol. 3 No. 2 (2025): ABISATYA: Journal of Community Engagement
Publisher : Center for Community Service and Science and Technology Marketing - The Institute for Research and Community Service Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This community service program aims to enhance the competence of elementary school teachers in teaching Javanese script through training and mentoring activities in Sarongan Village, Banyuwangi. The program was motivated by the limited mastery of Javanese script among teachers, the lack of effective teaching methods, and the declining interest of students in learning traditional scripts. The implementation consisted of two main stages: (1) theoretical and practical sessions delivered face-to-face, covering Javanese script writing and teaching techniques, and (2) mentoring sessions conducted online to guide teachers in applying the knowledge directly in their classrooms. The methods used included lectures, drills, assignments, discussions, and performance-based assessments. The results showed that teachers’ understanding and teaching skills improved significantly, with 70% of participants being able to conduct Javanese script lessons according to proper writing rules. Participants’ responses indicated high satisfaction and increased motivation to integrate Javanese script into their teaching practices. The program not only strengthened the teachers’ capacity but also contributed to the preservation of local cultural heritage in formal education. The output of this program included a training video, media publications, an article, and an Intellectual Property Rights (IPR) registration. These results highlight the importance of continuous capacity building for teachers in remote areas to ensure sustainable cultural education and community empowerment.