Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

PROSESI PERNIKAHAN ADAT DI KELURAHAN CIKORO’ KECAMATAN TOMPOBULU KABUPATEN GOWA Hajar, St. Hajar; lidiawati, Nur; M, M. Dahlan
Jurnal Adabiyah Vol 18 No 1 (2018): June (Humanities)
Publisher : Faculty of Adab and Humanities - Alauddin State Islamic University of Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jad.v17i118i1a4

Abstract

This study aimed to describe the tradition wedding procession of the Cikoro community and to analyzed the symbolic meaning behind the process. The purpose of this study is achieved by answering the following three issues: 1. How is the wedding procession in the sub-district of Cikoro Tompobulu district Gowa regency? 2. How is the symbolic meaning contained in Wedding Tradition in Kelurahan Cikoro' Tompobulu district of Gowa regency? and 3. How are the Islamic cultural values contained in it?This study found a unique wedding procession and distinct from the wedding procession in general in South Sulawesi. In a community wedding ceremony in the village Cikoro generally consists of several stages of activity. Pre-marital stages, marriage stages, and stages after marriage. The activity is a sequential sequence that should not be mutually exchanged. Key words: Traditional wedding procession, Cikoro, symbolic meaning.   Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pernikahan adat masyarakat Cikoro’ dan menganalisis makna simbolis di balik proses tersebut. Tujuan penelitian ini tercapai dengan menjawab tiga masalah berikut: 1. Bagaiman prosesi pernikahan di kelurahan Cikoro’ kecamatan Tompobulu kabupaten Gowa? 2. Bagaimana makna simbolik yang terkandung dalam Adat Pernikahan di Kelurahan  Cikoro’ kecamata Tompobulu  kabupaten  Gowa? dan  3. Bagaimana  nilai-nilai budaya  Islam yang terkandung didalamnya?Penelitian ini menemukan adanya prosesi adat pernikahan yang khas dan berbeda dari prosesi pernikahan pada umumnya di Sulawesi Selatan. Dalam upacara pernikahan masyarakat di kelurahan Cikoro’ pada umumnya terdiri atas beberapa tahap kegiatan. Tahapan pra nikah, tahapan nikah, dan tahapan setelah nikah. Kegiatan tersebut merupakan rangkaian yang berurutan yang tidak boleh saling tukar-menukar. Kata kunci: prosesi pernikahan, adat, tahapan nikah
Sejarah Perkembangan dan Kemunduran 3 Kerajaan Islam di Abad Modern (1700-1800an) Kartini, Kartini; M, M. Dahlan; Rahmawati, Rahmawati
Indo-MathEdu Intellectuals Journal Vol. 5 No. 4 (2024): Indo-MathEdu Intellectuals Journal
Publisher : Lembaga Intelektual Muda (LIM) Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54373/imeij.v5i4.1515

Abstract

This article aims to find out the history of the development of the three great Islamic kingdoms in the Middle Ages. This article uses a qualitative approach with the literature study method. This method is intended to examine various sources relevant to the focus of this research. The main sources of research data are scientific books and articles published in various scientific journals and indexed on the google scholar database. Data analysis is carried out qualitatively consisting of data reduction, data presentation, and conclusion drawing. Research findings show that three important Islamic empires were created in the late 15th and early 16th centuries: the Ottoman Empire in Turkey, the Mughal Empire in India, and the Safavid Empire in Persia. The three important Kingdoms seem to focus their sights more on the democratic tradition of Islam and build an absolute empire. Almost every aspect of general life was carried out with systematic and bureaucratic precision and various kingdoms developed an elaborate administration. These three great kingdoms seemed to revive the glory of Islam after the collapse of the Abbasids. However, the progress made during the three great kingdoms is different from the progress made during the classical Islamic period
Ekspresi Tazkiyah al-Nafs dalam Pappaseng Susmihara, Susmihara; Nuraeni, Nuraeni; M, M. Dahlan; Yani, Ahmad
PUSAKA Vol 10 No 2 (2022): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v10i2.860

Abstract

Tulisan ini mengkaji tentang pappaseng Bugis yang merupakan ekspresi dari tazkiyah al-nafs dalam tasawuf yang mengandung nilai-nilai kebajikan. Pappaseng sebagai sebuah genre puisi dalam sastra Bugis secara subtansi memiliki relevansi dengan nilai-nilai Islam. Penelitian diawali dengan pemerolehan teks pappaseng yang dilakukan melalui sumber pustaka kemudian dipadukan dengan sumbersumber lisan. Analisis yang diterapkan menggunakan pendekatan antropologi agama yang bermaksud untuk mengungkap nilai-nilai kebajikan kehidupan yang terkandung dalam teks-teks pappaseng. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa, narasi pappaseng yang berkembang dalam masyarakat Bugis memiliki keselarasan dengan nilai-nilai Islam yang mencakup tiga aspek yaitu „tawakkal‟ yang di dalam pappaseng Bugis disebut pesona (pasrah kepada Tuhan); ukhuwah dalam pappaseng Bugis disebut assimellereng (persaudaraan); dan; shiddiq dalam pappaseng Bugis disebut lempu (jujur).
Akulturasi Islam dan Budaya Lokal dalam Adat Pernikahan Masyarakat Bugis di Sinjai Yani, Ahmad; M, M. Dahlan; HR, Sumarlin Rengko; Akramullah, Ahmad Habib
PUSAKA Vol 12 No 1 (2024): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v12i1.1472

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses akulturasi antara Islam dan budaya lokal terjadi dalam upacara pernikahan masyarakat Bugis di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam fenomena kompleks ini dengan fokus pada peran sistem pangadereng (adat) dan unsur sara’ (syariat) dalam upacara pernikahan. Metode penelitian yang diterapkan adalah penelitian lapangan dengan pendekatan historis dan antropologi agama. Pendekatan ini dipilih untuk memungkinkan pemahaman yang holistik tentang dinamika budaya dan agama dalam konteks pernikahan Bugis di Sinjai. Data untuk penelitian ini dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara dengan pemangku adat, tokoh agama, dan pihak pemerintah setempat, serta dokumentasi lapangan. Selain itu, data dari literatur-literatur yang relevan juga dijadikan sebagai sumber informasi tambahan untuk mendukung temuan penelitian. Temuan kajian ini menunjukkan karakteristik unik dari adat pernikahan dalam masyarakat Bugis Sinjai, yang tercermin dalam serangkaian tahapan seperti mammanu’manu’, madduta, mappettu ada, mappacci, tudang botting, dan marola.Proses ini secara nyata mencerminkan adanya akulturasi budaya lokal pernikahan Bugis dengan ajaran Islam di Sinjai, menciptakan suatu bentuk akulturasi kulturalspiritual yang khas. Hasil penelitian ini menunjukkan pentingnya pemahaman mendalam terhadap adat perkawinan masyarakat Islam Sinjai, terutama dalam konteks konsep pernikahan dan proses yang melibatkan upacara tersebut. Sebagai rekomendasi, disarankan agar masyarakat dan pemerintah setempat mengambil langkah-langkah strategis untuk mempertahankan dan menjaga keberlanjutan adat istiadat perkawinan yang masih eksis, sambil tetap memilah unsur-unsur budaya eksternal yang dapat diterima dan sesuai dengan ajaran Islam.
Sejarah Perkembangan dan Kemunduran 3 Kerajaan Islam di Abad Modern (1700-1800an) Kartini, Kartini; M, M. Dahlan; Rahmawati, Rahmawati
Indo-MathEdu Intellectuals Journal Vol. 5 No. 4 (2024): Indo-MathEdu Intellectuals Journal
Publisher : Lembaga Intelektual Muda (LIM) Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54373/imeij.v5i4.1515

Abstract

This article aims to find out the history of the development of the three great Islamic kingdoms in the Middle Ages. This article uses a qualitative approach with the literature study method. This method is intended to examine various sources relevant to the focus of this research. The main sources of research data are scientific books and articles published in various scientific journals and indexed on the google scholar database. Data analysis is carried out qualitatively consisting of data reduction, data presentation, and conclusion drawing. Research findings show that three important Islamic empires were created in the late 15th and early 16th centuries: the Ottoman Empire in Turkey, the Mughal Empire in India, and the Safavid Empire in Persia. The three important Kingdoms seem to focus their sights more on the democratic tradition of Islam and build an absolute empire. Almost every aspect of general life was carried out with systematic and bureaucratic precision and various kingdoms developed an elaborate administration. These three great kingdoms seemed to revive the glory of Islam after the collapse of the Abbasids. However, the progress made during the three great kingdoms is different from the progress made during the classical Islamic period
Parewa Sara: Otoritas Pra dan Pasca Peristiwa Rumpa'na Tana Bone 1824-1931 Tanal, Ana Nurwina; M, M. Dahlan; Santalia, Indo
El-Fata: Journal of Sharia Economics and Islamic Education Vol. 2 No. 2: OKTOBER 2023
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Cokroaminoto Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61169/el-fata.v2i2.70

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang bagaimana otoritas parewa sara’ pra dan pasca terjadinya rumpa’na tana Bone. Kajian ini dibagi menjadi 3 rumusan masalah: (1) Bagaimana sejarah parewa sara’ pra peristiwa rumpa’na tana Bone, (2) Bagaimana kontribusi parewa sara’ ketika berlangsungnya peristiwa rumpa’na tana Bone, (3) Bagaimana kedudukan parewa sara’ pasca peristiwa rumpa’na tana Bone. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan atau library research. Pendekatan yang digunakan yaitu: (1) Pendekatan Sejarah, (2) Pendekatan Budaya, (3) Pendekatan Etnografi. Sumber data ada dua macam yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder, sedangkan langkah-langkah penelitian yakni: (1) Heuristik (pengumpulan sumber), (2) Kritik Sumber, (3) Interpretasi, (4) dan Historiografi. Hasil penelitian ini berupaya mengungkap otoritas Parewa Sara’ pra dan pasca peristiwa Rumpa’na Tana Bone dalam kurun waktu 1824-1931. Pengungkapan pertama: struktur pemerintahan Kerajaan Bone sebelum dan setelah Islam sebagai agama resmi kerajaan. Kedua, peranan Parewa Sara’ yang memiliki otoritas dalam memandang peristiwa yang akan dihadapi Kerajaan Bone ketika berhadapan dengan Hindia Belanda. Pandangan ini terlihat setelah Hindia Belanda melakukan penyerangan guna menguasai pelabuhan yang ada di Bone. Pukulan mundur yang terus dilakukan Belanda membuat lasykar-lasykar Bone kewalahan sehingga peristiwa ini diistilahkan Rumpa’na Tana Bone. Dan ketiga, akibat kemenangan Belanda dalam perang yang telah berlangsung membuat sisyem pemerintahan Kerajaan Bone diambil alih oleh pihak Belanda dan Parewa Sara’ yang tadinya memiliki kedudukan dalam pemerintahan Kerajaan Bone sudah jarang dijumpai dalam pengungkapan perannya dalam pemerintahan.
THE HISTORY OF QIRA’AT SAB’AH IN BIMA (HISTORICAL STUDY) Mubaraq, Fitratul; M, M. Dahlan; Firdaus, Firdaus
Jurnal Diskursus Islam Vol 8 No 1 (2020): April
Publisher : Program Pascasarjana, UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v8i1.13135

Abstract

This article is about the development of Qirā’at Sab’ah in Bima (a historical study). The aim is: 1) To explain the the early history of  Qirā’at Sab’ah in Bima; 2) to explain the expansion process of Qirā’at Sab’ah in Bima; 3) to find the prominent figures involved in the spread of Qirā’at Sab’ah in Bima; 4) to explain the people’s response in learning Qirā’at Sab’ah in Bima. This article is using descriptive qualitiaitve method with a historical approach. The result shows that Qirā’at Sab’ah was started along with the beginning of Islam in Bima. Back then, Qirā’at Sab’ah was learned limited to particular people only. Only those who are concern to learn about it. The first and often recited was Imam Ashim narrated by Hafs. There are two process of Qirā’at Sab’ah spread. Firstly, prior to MTQ competition. Here, the Qirā’at Sab’ah appeared only a learning process between students and the teacher. Secondly, post MTQ competition. At this time, Qirā’at Sab’ah has begun learned by widspread of people who eventually will compete at the MTQ festival. As it stands, the number of people who learn Qirā’at Sab’ah is decreasing. As a part of MTQ competiton, Qirā’at Sab’ah is notorious among Bima people. The key figure of Qirā’at Sab’ah spread in Bima are TGH Husein, TGH Abubakar, TGH Yusuf, TGH Ramli, TGH Ridwan, TG Jubair, TGH Adnin and many more involved in the spread, especially the students of High School of Islamic Studies (PTIQ) and Bima students in Al-Azhar University of Cairo, Egypt. When first introduced, Qirā’at Sab’ah the people of Bima claimed it was an error in reciting Quran. But in time, people get used to it, especially when it began to present in MTQ.