Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Hubungan Pengetahuan dan Motivasi Bidan dengan Pelaksanaan 1000 Hari Pertama Kehidupan di Wilayah Kerja Puskesmas Jatinangor dan Puskesmas Cisempur Nafillah, Nafillah; Astuti, Sri; Didah, Didah; Rinawan, Fedri Ruluwedrata; Sari, Puspa
Jurnal Kesehatan Vokasional Vol 5, No 4 (2020): November
Publisher : Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkesvo.45918

Abstract

Background : Indonesia one of the developing countries that still has nutritional problems in pregnant women, nursing mothers and infants aged zero to two years. The First Thousand Days of Life (1000 HPK) is a movement to improve nutrition with the aim of pregnant women, nursing mothers and infants aged zero to two years. Midwives are health workers involving 1000 HPK. The impact of not doing 1000 HPK by midwives in pregnant women and toddlers, one of which occurs anemia in the assessment, lack of chronic energy (KEK) in pregnant women and giving birth to stunting babies.Objective : To determine the relationship between knowledge and motivation of midwives with the implementation of 1000 HPK in the Jatinangor Health Center and Cisempur Health Center Work Areas.Methods : Quantitative with cross-sectional design. The sampling technique used total sampling with a large sample of 41 midwives. Data analysis using chi-square test. This research was conducted in the work area of Jatinangor Health Center and Cisempur Health Center in August 2018.Results : This study showed no significant relationship between knowledge and implementation of 1000 HPK (p> 0.05) and there was a significant relationship between motivation and implementation of 1000 HPK (p <0.05).Conclusion : There is no relationship between the knowledge of midwives and the implementation of 1000 HPK and there is a relationship between the motivation of midwives and the implementation of 1000 HPKKeywords : First 1000 Days of Life, Motivation of Midwives, Implementation of 1000 HPK, Knowledge.
PENCEGAHAN STUNTING BERBASIS PEMBERDAYAAN KELUARGA DI DESA PAKUTANDANG KEC. CIPARAY KAB. BANDUNG Didah, Didah
Sawala : Jurnal pengabdian Masyarakat Pembangunan Sosial, Desa dan Masyarakat Vol 5, No 1 (2024): Sawala : Jurnal pengabdian Masyarakat Pembangunan Sosial, Desa dan Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/sawala.v5i1.45838

Abstract

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama pada seribu Hari Pertama Kehidupan. Pemberdayaan keluarga adalah kemampuan keluarga sebagai dampak positif dan intervensi yang berpusat pada keluarga dan tindakan promosi kesehatan. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengedukasi kepada ibu hamil dan ibu yang memiliki Balita serta keluarga nya sebagai upaya penurunan stunting di Desa Pakutandang Kecamatan Ciparay Kabupaten Bandung. Dengan melakukan analisis situasi, edukasi serta melakukan kunjungan rumah dan pemberian makanan tambahan. Hasil pengabdian masyarakat yang dilakukan terjadi peningkatan pengetahuan setelah dilakukan intervensi kegiatan dengan melakukan edukasi serta kunjungan rumah
REFRESING KADER DETEKSI DINI & INTERVENSI STUNTING SEBAGAI UPAYA PENURUNAN PREVALENSI STUNTING DI DESA SAYANG KEC. JATINANGOR KAB. SUMEDANG Didah, Didah
DHARMAKARYA: Jurnal Aplikasi Ipteks untuk Masyarakat Vol 12, No 4 (2023): Desember, 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/dharmakarya.v12i4.37687

Abstract

Abstrak Pemberdayaan masyarakat melalui kader kesehatan sangat penting dalam menurunkan prevalensi stunting karena kader berperan penting dalam penggerak posyandu. Peran kader di setiap wilayah desa nya sangat berpengaruh karena kader haruslah mampu berperan aktif dalam upaya penurunan prevalensi stunting. Kader menjadi salah satu ujung tombak pelayanan kesehatan di komunitas di ranah promotif dan preventif, yang fungsinya adalah sebagai wadah untuk mendekatkan pelayanan kesehatan dasar. Adapun tujuan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan kader tentang deteksi dini dan intervensi stunting sebagai upaya pengentasan prevalensi stunting di Desa Sayang Kecamatan jatinangor Kabupaten Sumedang. Sasaran kegiatan ini adalah kader yang berada di desa sayang dengan jumlah peserta sebanyak 26 orang. Kegiatan refresing kader menggunakan metode ceramah tanya jawab online di lanjutkan dengan sesi tanya jawab serta diskusi. Hasil PKM ini di dapat kan peningkatan pengetahuan yang signifikan sebelum dan setelah di berikan intervensi. Sebelum mengikuti kelas refreshing pengetahuan kader sebagian besar masih dalam kategori kurang yaitu sebesar 58% dan setelah dilakukan kelas refreshing kader pengetahuan kader meningkat menjadi kategori baik yaitu sebesar 77%. Hal ini membuktikan bahwa kelas refreshing kader berpengaruh terhadap peningkatan  pengetahuan kader. Diharapkan kader dapat melakukan deteksi dini dan intervensi pengentasan     stunting di wilayah nya sehingga prevalensi stunting akan menurun. Kata Kunci: Pengetahuan, Kader, Stunting
Relationship between Predisposing Factors and the Incidence of Contraceptive Dropout in West Java Muaebah, Shiva; Susanti, Ari Indra; Didah, Didah; Gumilang, Lani; Martini, Neneng; Rosmawati, Dean
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 11, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/gmhc.v11i1.9848

Abstract

The incidence of contraceptive dropout in West Java is still high. Analyzing the reasons would help to improve programs. This study explores the relationship between predisposing factors and the incidence of contraceptive dropout in West Java. The research was cross-sectional and conducted from August to December 2021, and the dataset came from Program Performance and Accountability Survey (Survei Kinerja dan Akuntabilitas Program, SKAP) 2019. The sample in the study were women of childbearing age 15–49 years with married status both ever and currently using contraception—a total of 338 samples with simple random sampling. This study used univariate, bivariate, and multiple logistic regression to analyze the discontinuation of contraception. A study has shown a relationship (p<0.05) between parity, education level, level of knowledge, and the incidence of contraceptive dropout. Furthermore, age and employment status did not affect them. In conclusion, a relationship exists between predisposing factors such as education, parity, knowledge, and contraceptive dropout. There is a need to emphasize the health promotion of contraception, especially for women of childbearing age with marital status, low education, fewer children than two, and inadequate knowledge level. In addition, contraceptive service standards should be implemented to prevent the incidence of contraceptive dropout.
PENINGKATAN PENGETAHUAN MAHASISWA KEBIDANAN DAN BIDAN TENTANG KESEJAHTERAAN JANIN, GERAKAN JANIN DAN PERDARAHAN PASCASALIN Adnani, Qorinah Estiningtyas Sakilah; Sari, Ade Zayu Cempaka; Nurani, Adinda Meisya Hasna; Susanti, Ari Indra; Nirmala, Sefita Aryuti; Bestari, Astuti Dyah; Sari, Puspa; Didah, Didah; Gumilang, Lani; Mandiri, Ariyati; Handayani, Dini Saraswati; Martini, Neneng; Pramatirta, Akhmad Yogi
GEMAKES: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2024): GEMAKES: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes RI Jakarta I

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36082/gemakes.v4i2.1482

Abstract

Pemantauan kesejahteraan janin penting dilakukan selama kehamilan yang bertujuan untuk melihat setiap tahap perkembangan janin. Salah satu parameter untuk menilai kesejahteraan janin melalui gerakan janin. Selain resiko lahir mati penurunan gerakan janin juga berhubungan dengan kejadian prematur dan pertumbuhan janin terhambat. Selain itu, angka kematian ibu yang tinggi salah satunya disebabkan oleh perdarahan. Pencegahan perdarahan pasca salin dapat dilakukan dengan mengenali  tanda-tanda awal perdarahan pasca salin, dan untuk menggunakan farmakologis, mekanik dan metode bedah perdarahan pasca salin, sesuai dengan faktor penyebabnya. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan mahasiswa kebidanan dan bidan tentang kesejahteraan janin, gerakan janin, dan perdarahan pascasalin. Metode yang digunakan dengan melaksanakan simposium dan workshop. Hasil kegiatan simposium dan workshop dilaksanakan 1 hari diikuti oleh 113 peserta. Dari hasil evaluasi pengetahuan pretest dan posttest menunjukkan terdapat peningkatan rerata skor pengetahuan dari 100 peserta sebesar 24,07 dari rata-rata awal pada saat pretest 56,3 % meningkat menjadi 81% saat posttest dengan p-value=0,000.  Kegiatan serupa dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas calon bidan dan bidan ini, diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan maternal untuk masyarakat.
Faktor- Faktor yang Berhubungan dengan Resiko Depresi Postpartum pada Ibu Nifas di Kota Bandung Bestari, Astuti Dyah; Westriningrum, Luruh; Didah, Didah; Gumilang, Lani; Mandiri, Ariyati
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 2 (2025): Volume 7 Nomor 2 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i2.17747

Abstract

ABSTRACT The postpartum period starts after the birth of the placenta until 6 weeks postpartum. Every postpartum mother will experience psychological adaptations starting from the phases of taking in, taking hold to letting go. Postpartum mothers who fail to adapt to physiological and psychological changes tend to experience emotional problems during the postpartum period. Postpartum depression is a mood disorder that affects the mother after childbirth. The incidence of postpartum depression in 2023 will reach 11% -30% in Indonesia. The prevalence of depression in 2023 in West Java will reach 113,568 residents or around 3.3% with ages ≥15 years. Early detection of postpartum depression, especially in postpartum mothers who have risk factors, is one of the best prevention efforts. Screening can be done using the Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) which consists of 10 questions. This study aims to determine the factors associated with the risk of postpartum depression in postpartum mothers in Bandung City. The research uses a quantitative analytical approach with a cross sectional design. The respondents in this study were 74 postpartum mothers who gave birth at the UPTD Community Health Center in Bandung City. Bivariate analysis was carried out using the Spearman Rho and Contingency Coefficient tests. The results of the analysis show a relationship between psychological factors (history of depression), obstetric and pediatric factors (type of delivery, pregnancy complications, premature birth), sociodemographic factors (education, economic status) and marital status (domestic violence and unplanned pregnancy) on risk of postpartum depression (p value <0.05). Physical factors (body mass index), obstetric and pediatric factors (parity), sociodemographic factors (age and occupation) and marital status factors (marital status) showed no relationship with the risk of postpartum depression (p value >0.05). Screening using EPDS is one effort that can be done to detect the risk of postpartum depression. Apart from that, it is necessary to pay attention to the risk factors for postpartum depression early so that the incident can be prevented or treated before it becomes serious. Keywords: Depression, Edinburgh Postnatal Depression Scale, Postpartum ABSTRAK Masa nifas dimulai setelah lahirnya plasenta sampai dengan 6 minggu pascasalin. Setiap ibu nifas akan mengalami adaptasi psikologis mulai dari fase taking in, taking hold hingga letting go. Ibu nifas yang tidak berhasil melakukan adaptasi terhadap perubahan fisiologis dan psikologis cenderung akan mengalami masalah emosional selama masa nifas. Depresi postpartum adalah gangguan suasana hati yang memengaruhi ibu sesudah persalinan. Angka kejadian depresi postpartum tahun 2023 mencapai 11%-30% di Indonesia. Prevalensi depresi tahun 2023 di Jawa Barat mencapai 113.568 penduduk atau sekitar 3,3% dengan usia ≥15 tahun. Deteksi dini terjadinya depresi postpartum khususnya pada ibu nifas yang memiliki faktor resiko menjadi salah satu upaya pencegahan terbaik. Skrining dapat dilakukan menggunakan Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) yang terdiri dari 10 pertanyaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan risiko depresi postpartum pada ibu nifas di Kota Bandung. Penelitian menggunakan pendekatan analitik kuantitatif dengan desain cross sectional. Responden dalam penelitian ini adalah ibu nifas yang bersalin di UPTD Puskesmas Kota Bandung sebanyak 74 orang. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji Spearman Rho dan Contingency Coefficient. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan antara faktor psikologis (riwayat depresi), faktor kebidanan dan pediatrik (jenis persalinan, komplikasi kehamilan, kelahiran prematur), faktor sosiodemografi (pendidikan, status ekonomi) dan status pernikahan (kekerasan dalam rumah tangga dan kehamilan tidak direncanakan) terhadap risiko depresi postpartum (p value <0,05). Pada faktor fisik (indeks massa tubuh), faktor kebidanan dan pediatrik (paritas), faktor sosiodemografi (usia dan pekerjaan) dan faktor status pernikahan (status perkawinan) menunjukkan tidak adanya hubungannya dengan risiko depresi postpartum (p value >0,05). Skrining menggunakan EPDS merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mendeteksi resiko terjadinya depresi postpartum. Selain itu, perlu diperhatikan faktor-faktor resiko terjadinya depresi postpartum sejak dini agar kejadian dapat dicegah atau ditangani sebelum menjadi parah. Kata Kunci: Depresi, Edinburgh Postnatal Depression Scale, Postpartum
PENGETAHUAN KADER TENTANG GIZI BALITA DAN PENGUKURAN ANTROPOMETRI Didah, Didah; Martini, Neneng; Dyah Bestari, Astuti; Mandiri, Ariyati
DHARMAKARYA: Jurnal Aplikasi Ipteks untuk Masyarakat Vol 13, No 3 (2024): September : 2024
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/dharmakarya.v13i3.43159

Abstract

Pengetahuan kader posyandu tentang gizi balita dan pengukuran antropometri sangat penting dalam upaya deteksi dini masalah gizi dan pencegahan stunting. Masih tingginya kasus malnutrisi pada kelompok risiko terutama bayi dan balita salah satu dipengaruhi oleh faktor pengukuran untuk indikator pertumbuhan maupun perkembangan. Keterbatasan pengetahuan dan keterampilan kader, Ibu balita dan pihak-pihak berkepentingan dalam pemantauan tumbuh kembang, cukup berpengaruh terhadap keputusan status gizi anak balita. Tujuan melakukan kegiatan ini adalah untuk memperoleh gambaran dan mengidentifikasi pengetahuan serta kemampuan kader tentang gizi Balita dan kemampuan kader dalam melakukan pengukuran antropometri. Metode pelaksanaan kegiatan pengabdian ini adalah ceramah tanya jawab interactive dan role play kepada kader yang dilaksanakan dalam bentuk praktik pelayanan  kebidanan  berkelanjutan dalam  pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan KIA. Sampel yang digunakan  total sampling yaitu seluruh kader yang berada di wilayah Desa Gunungmanik yang berjumlah 58 orang. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu berupa lembar kuesioner yang dibagikan sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat untuk mengetahui gambaran pengetahuan kader terhadap gizi balita. Kesimpulannya adalah perlunya pelatihan rutin dan pendampingan kepada kader posyandu untuk meningkatkan kompetensi dalam pengukuran antropometri serta pemahaman terkait gizi balita. Dengan demikian, kader dapat berperan lebih efektif dalam mendukung upaya perbaikan gizi balita di masyarakat.Knowledge of posyandu cadres about toddler nutrition and anthropometric measurements is crucial for the early detection of nutritional problems and the prevention of stunting. However, wasting and underweight rates have shown an increase, albeit not progressively. The high prevalence of malnutrition in at-risk groups, particularly infants and young children, is influenced partly by measurement limitations for growth and development indicators. Limited knowledge and skills among health cadres, mothers of young children, and other stakeholders in growth monitoring significantly impact the determination of children’s nutritional status. The implementation method for this community service activity is interactive lecture and discussion and role play for cadres. These activities are conducted in the form of continuous midwifery service practice in empowering the community to improve maternal and child health. The sample included all health cadres in Gunungmanik Village, totaling 58 individuals. Data collection was carried out using questionnaires administered before and after health education sessions. Univariate analysis was used to assess the cadre's knowledge on child nutrition. The conclusion is the need for regular training and mentoring for posyandu cadres to enhance their competence in anthropometric measurements and understanding of toddler nutrition. This will enable cadres to play a more effective role in supporting efforts to improve toddler nutrition in the community.
OPTIMALISASI SKRINING PENYAKIT TIDAK MENULAR DI POSBINDU SEBAGAI UPAYA DETEKSI DINI DAN PENCEGAHAN KOMPLIKASI didah, didah
Sawala : Jurnal pengabdian Masyarakat Pembangunan Sosial, Desa dan Masyarakat Vol 6, No 1 (2025): Sawala : Jurnal pengabdian Masyarakat Pembangunan Sosial, Desa dan Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/sawala.v6i1.59131

Abstract

Penyakit Tidak Menular (PTM) merupakan masalah kesehatan global yang membutuhkan perhatian serius. Skrining PTM secara rutin dapat menjadi strategi efektif untuk mendeteksi dini penyakit dan mencegah komplikasi lebih lanjut. Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) sebagai sarana deteksi dini di tingkat masyarakat berperan penting dalam mengidentifikasi individu berisiko dan memberikan intervensi yang sesuai. kegiatan ini bertujuan untuk mengoptimalkan skrining PTM di Posbindu sebagai upaya deteksi dini dan pencegahan komplikasi. Kegiatan ini dilakukan di Posbindu Banjaran Wetan Kabupaten Bandung dengan melibatkan 34 peserta yang mengikuti pemeriksaan tekanan darah dan kadar glukosa darah sewaktu. Data dikumpulkan dan dianalisis untuk menentukan prevalensi hipertensi dan status glukosa darah. Hasil skrining menunjukkan prevalensi hipertensi yang signifikan, yaitu 59% peserta mengalami hipertensi. Sementara itu, 100% peserta memiliki kadar glukosa darah sewaktu yang normal. Prevalensi hipertensi yang tinggi mengindikasikan adanya risiko kesehatan yang perlu ditangani secara serius melalui intervensi gaya hidup sehat dan pengelolaan medis. Di sisi lain, hasil glukosa darah yang normal menunjukkan pentingnya pemantauan rutin, meskipun faktor risiko diabetes harus tetap diwaspadai, terutama pada individu yang memiliki riwayat keluarga atau pola hidup tidak sehat. Skrining PTM di Posbindu memberikan gambaran yang jelas tentang status kesehatan masyarakat dan menjadi alat yang efektif untuk deteksi dini hipertensi dan penyakit terkait.
Promotive Efforts through Health Education about Toilet Training based on Iposyandu Parents Hazairin, Ajeng Maulani; Susanti, Ari Indra; Didah, Didah
Media Karya Kesehatan Vol 8, No 1 (2025): Media Karya Kesehatan
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mkk.v8i1.45406

Abstract

According to WHO data in 2016, the incidence of skin irritation (diaper rash) was 25% out of 1,000,000 outpatient visits by infants. In Indonesia, the incidence of diaper rash based on data from the Ministry of Health’s Center for Data and Information in 2019 reached 7–35% of 23,604,923 children under the age of three, with 87,601 cases reported in Purwakarta Regency alone. This indicates that the prevalence of diaper rash remains high, primarily due to prolonged diaper use and parents’ lack of knowledge about signs of toilet training readiness, which often results in delays in its implementation. Delayed toilet training can negatively impact a child’s independence, making it important to provide health education for parents to help prevent long-term effects such as hindered self-reliance in children. This study aims to analyze the effect of health education on children's toilet training, delivered through the iPosyandu parent-based application, on mothers' knowledge and attitudes.The research employed a quantitative method using a one-group pretest-posttest design, involving 73 mothers of toddlers in Pasawahan Village, Purwakarta Regency. Samples meeting the inclusion criteria were selected using purposive sampling. Data were analyzed using the Wilcoxon signed-rank test and effect size value. The results showed significant differences in mothers’ knowledge and attitudes about children's toilet training before and after the health education intervention via the iPosyandu parent-based application (p < 0.05). Additionally, a strong influence was found between the educational intervention and improvements in both knowledge and attitudes (R ≥ 0.5). In conclusion, health education on children's toilet training delivered through the iPosyandu parent-based application significantly affects mothers’ knowledge and attitudes. Keywords: Attitude, health education, iPosyandu, knowledge, toilet training
PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN KB MELALUI SAFARI KB IUD BERBASIS GENDER didah, didah; Iriani, Oktarina Sri
Sawala : Jurnal pengabdian Masyarakat Pembangunan Sosial, Desa dan Masyarakat Vol 6, No 2 (2025): Sawala : Jurnal pengabdian Masyarakat Pembangunan Sosial, Desa dan Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/sawala.v6i2.61315

Abstract

Peningkatan pelayanan Keluarga Berencana safari Intra Uterin Device berbasis gender hadir sebagai inovasi pelayanan KB yang tidak hanya menyediakan akses kontrasepsi, tetapi juga mengintegrasikan pendekatan kesetaraan gender. Dalam pendekatan ini, perempuan dan laki-laki diberdayakan untuk berpartisipasi aktif dalam perencanaan Keluarga Berencana. Kegiatan ini dilaksanakan di Tempat Praktik Mandiri Bidan di Kota Bandung pada tanggal 8 Desember 2023 dengan target sasaran adalah Pasangan Usia Subur. Tahapan kegiatan meliputi tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan tahap evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa sebanyak 10 orang akseptor KB sudah terpasang dengan baik tanpada ada komplikasi serta 95% responden menyatakan puas dengan pelayanan KB yang diberikan, karakteristik responden mayoritas berada pada usia reproduksi yang aktif dan tingkat pendidikan yang cukup untuk memahami informasi tentang Keluarga Berencana Intra Uterin Deviceserta sikap pasangan mendukung dan hasil pemeriksaan penapisan skrining dalam batas normal. Kegiatan ini membuktikan bahwa pendekatan berbasis gender dapat efektif dalam meningkatkan kualitas pelayanan KB dan meningkatkan akses pelayanan KB bagi masyarakat. Oleh karena itu, kegiatan ini dapat dijadikan sebagai model untuk peningkatan kualitas pelayanan KB di wilayah lain.