Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Pusat Informasi Wisata (PIW) Pendakian Gunung Semeru dengan Pemanfaatan Bahan Alami Ahmad Farid Ardiansyah; Edi Hari Purwono; Bambang Yatnawijaya
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 4 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dasar diangkatnya judul ini adalah salah satu upaya untuk mengembangkan pusat informasi wisata yang memiliki potensi yang besar terhadap sistem pariwisata pendakian Gunung Semeru. Terutama pada bidang wisata alam yang mampu meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan dengan tujuan wisata pendakian Gunung Semeru. Gunung Semeru terletak di Kabupaten Lumajang, memiliki potensi alam yang besar baik dari sektor wisata maupun dalam menghasilkan potensi bahan alam. Lokasi yang dipilih pada objek kajian jauh dari pusat kota, oleh karena itu pemilihan bahan alami merupakan alternatif solusi yang paling tepat dalam perancangan. Perancangan ini diawali dengan identifikasi bahan alami di sekitar lokasi. Analisis didasari pada teori Arsitektur Ekologis. Hasil penelitian menunjukkan pemanfaatan bahan alami dalam bahan bangunan sebagai solusi dari permasalahan lingkungan dan pendekatan terhadap Arsitektur Ekologis.Kata kunci: Pusat Informasi, Gunung Semeru, bahan alami, ekologis
Analisis Potensi Bahaya Alkalinitas dan Salinitas pada Mata Air untuk Kebutuhan Air Irigasi di Kota Batu Pranantya, Vanadani; Kartikasari, Adelia Nur Isna; Ardiansyah, Ahmad Farid; Kaffa, Niswah Selmi
Jurnal Kridatama Sains dan Teknologi Vol 6 No 02 (2024): JURNAL KRIDATAMA SAINS DAN TEKNOLOGI
Publisher : Universitas Ma'arif Nahdlatul Ulama Kebumen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53863/kst.v6i02.1359

Abstract

Batu City is an area with abundant water spring potential. Springs are an essential part of the air supply for human domestic needs, industrial activities, and agricultural irrigation activities. Springs in Batu City are mostly used as irrigation water sources, where 15 springs spread across three sub-districts that cover Bumiaji District, Batu District, Junrejo District in Batu City use springs as irrigation water sources. The use of springs as a source of irrigation water, in addition to being considered based on quantity, also needs to be considered for its quality. The quality of water irrigation can be reviewed based on the potential alkalinity hazard (SAR) and potential salinity hazard (EC) values. The values of SAR and EC are explained using the Wilcox Graph. There are 15 springs in Batu City that have EC values in the range of 297.2 µS/cm – 748.3 µS/cm and are classified into Class C2 or moderate salinity hazard potential and SAR in the range of 0.0068 – 0.0294 included in the Class S1 classification or low alkalinity hazard potential. The results of the Wilcox Graph analysis show that the water quality of the 15 springs is in Class C2 – S1 with low alkalinity hazard potential and moderate salinity hazard potential. The results of the Wilcox Graph show that the 15 springs in Batu City that are used as irrigation sources are suitable for use as sources of water irrigation
Studi Analisis Penyebab Kelongsoran Timbunan Dan Perencanaan Perkuatan Pada Ruas Jalan Tol Surabaya – Mojokerto STA 14+500 S.D. STA 15+350 Septiandri, Rohmahillah Aviskanasya; Mochtar, Noor Endah; Satrya, Trihanyndio Rendy; Syaripin; Ardiansyah, Ahmad Farid
AGREGAT Vol 9 No 2 (2024): .
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/ag.v9i2.23803

Abstract

Jalan tol Surabaya - Mojokerto merupakan jalan tol yang menghubungkan Kota Surabaya dan Kota Mojokerto. Adanya jalan tol tersebut diharapkan dapat memicu pertumbuhan ekonomi di sekitar kawasan yang dilaluinya. Selain kondisi topografi yang tidak rata, jalan tol Surabaya - Mojokerto juga dibangun di atas timbunan setinggi 10 meter. Pada STA 14+500 s.d STA 15+350 diketahui ketebalan lapisan tanah lunak mencapai 9 meter; hal ini kemungkinan menjadi penyebab terjadinya kelongsoran pada saat umur timbunan mencapai 3 bulan dengan ketinggian 8 meter dimana masih kurang dari tinggi timbunan rencana. Untuk itu perlu dilakukan evaluasi penyebab kelongsoran dan alternatif perbaikannya agar kelongsoran tidak terjadi lagi pada ruas jalan tol tersebut. Berdasarkan hasil observasi lapangan, data tanah dan data teknis diketahui bahwa tidak ada perkuatan dan PVD (Prefabricated Vertical Drain) yang dipasang dibawah timbunan. Hal ini diperkuat dengan hasil analisis stabilitas lereng yang dilakukan menggunakan program bantu XSTBL diperoleh nilai SF 0,887 s/d 1,157. Angka keamanan ini menunjukkan bahwa timbunan tersebut tidak stabil, dengan kata lain daya dukung tanah dibawah timbunan tidak mencukupi untuk menahan beban setinggi 8 meter sehingga terjadi kelongsoran. Oleh karena itu, perlu direncanakan sistem perkuatan timbunan dengan pemasangan geotextile dan pemasangan spunpile pada tanah dasar dibawah timbunan. Untuk perhitungannya, perlu diperhatikan kenaikan daya dukung akibat pemampatan yang telah terjadi selama 3 bulan oleh timbunan eksisting setinggi 8 meter. Hasil perencanaan kedua alternatif tersebut kemudian dievaluasi untuk mendapatkan perencanaan yang paling efisien. Apabila perkuatan yang dipakai adalah geotextile, maka diperlukan 26 lapis dan per lapisnya terdapat 2 lembar geotextile tipe UW-250 52/52 dengan total biaya material sisi kanan kiri timbunan sebesar Rp 106,996,623,000. Sedangkan untuk pemasangan spunpile dengan d = 30 cm dan p = 6 m, diperlukan 38 buah spunpile/m panjang jalan; total biaya material sisi kanan kiri adalah Rp 79,853,109,750. Dari kedua alternatif yang telah direncanakan, pemasangan spunpile pada tanah dasar merupakan alternatif terpilih.
PENGARUH SUBSTITUSI LIMBAH KACA TERHADAP TENSILE STRENGTH RATIO CAMPURAN BERASPAL ASPHALT CONCRETE-BINDER COURSE Syaripin; Suparma, Latif Budi; Mulyono, Agus Taufik; Alawy, Gholiqul Amrodh; Ardiansyah, Ahmad Farid; Septiandri, Rohmahillah Aviskanasya
Jurnal HPJI (Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia) Vol. 11 No. 1 (2025)
Publisher : Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia (HPJI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/jhpji.v11i1.9065.39-48

Abstract

Abstract Hot asphalt mixtures require aggregate as the constituent material. In this study, the potential for glass waste to be used as an aggregate substitute is examined. For this reason, a mixture design was determined to obtain the Optimum Asphalt Content of the Asphalt Concrete-Binder Course mixtures using glass waste as a substitute for fine aggregate. The glass waste used is glass waste that passes through sieve No. 50 and retained on sieve No.100. The proportion of glass waste substitution is 0%, 25%, 50%, 75%, and 100% to the amount of fine aggregate in the mixture. The asphalt mixture in this study was made using the Marshall mixture design method. From this design, the Optimum Asphalt Content is obtained at 5.9% (0% glass waste), 5.4% (25% glass waste), 5.2% (50% glass waste), 5.1% (75% glass waste), and 4.9% (100% glass waste). Next, test spe-cimens were made for Indirect Tensile Strength testing, and carried out for testing in dry and wet conditions, and the Tensile Strength Ratio of the test specimens was determined. The Tensile Strength Ratio of the asphalt mixture decreases with increasing proportion of glass waste and decreasing asphalt content. Overall, this research shows that glass waste can be used as a substitute for fine aggregate. Keywords: hot mix asphalt; aggregate; glass waste; Marshall Method; Tensile Strength Ratio Abstrak Campuran beraspal panas memerlukan agregat sebagai material penyusunnya. Pada studi ini dikaji potensi limbah kaca untuk dimanfaatkan sebagai substitusi agregat. Untuk itu ditentukan rancangan campuran dengan untuk mendapatkan Kadar Aspal Optimum pada campuran beraspal jenis Asphalt Concrete-Binder Course dengan menggunakan limbah kaca sebagai substitusi agregat halus. Limbah kaca yang digunakan adalah limbah kaca yang lolos ayakan No. 50 dan tertahan ayakan No.100. Proporsi substitusi limbah kaca adalah 0%, 25%, 50%, 75%, dan 100% terhadap jumlah agregat halus dalam campuran. Campuran beraspal pada studi ini dibuat dengan menggunakan metode perancangan campuran Marshall. Dari perancangan tersebut diperoleh Kadar Aspal Optimum sebesar 5,9% (limbah kaca 0%), 5,4% (limbah kaca 25%), 5,2% (limbah kaca 50%), 5,1% (limbah kaca 75%), dan 4,9% (limbah kaca 100%). Selanjutnya dibuat benda-benda uji untuk pengujian Indirect Tensile Strength, dan dilakukan untuk pengujian dengan kondisi telah dilakukan pengkondisian kering dan kondisi basah, serta ditentukan Tensile Strength Ratio benda-benda uji. Tensile Strength Ratio campuran beraspal mengecil dengan bertambahnya proporsi limbah kaca dan berkurangnya kadar aspal. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa limbah kaca dapat dimanfaatkan sebagai substitusi agregat halus. Kata-kata kunci: campuran beraspal panas; agregat; limbah kaca; Metode Marshall; Tensile Strength Ratio
Studi Analisis Penyebab Kelongsoran Timbunan Dan Perencanaan Perkuatan Pada Ruas Jalan Tol Surabaya – Mojokerto STA 14+500 S.D. STA 15+350 Septiandri, Rohmahillah Aviskanasya; Mochtar, Noor Endah; Satrya, Trihanyndio Rendy; Syaripin; Ardiansyah, Ahmad Farid
AGREGAT Vol 9 No 2 (2024): Vol. 9 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/ag.v9i2.23803

Abstract

Jalan tol Surabaya - Mojokerto merupakan jalan tol yang menghubungkan Kota Surabaya dan Kota Mojokerto. Adanya jalan tol tersebut diharapkan dapat memicu pertumbuhan ekonomi di sekitar kawasan yang dilaluinya. Selain kondisi topografi yang tidak rata, jalan tol Surabaya - Mojokerto juga dibangun di atas timbunan setinggi 10 meter. Pada STA 14+500 s.d STA 15+350 diketahui ketebalan lapisan tanah lunak mencapai 9 meter; hal ini kemungkinan menjadi penyebab terjadinya kelongsoran pada saat umur timbunan mencapai 3 bulan dengan ketinggian 8 meter dimana masih kurang dari tinggi timbunan rencana. Untuk itu perlu dilakukan evaluasi penyebab kelongsoran dan alternatif perbaikannya agar kelongsoran tidak terjadi lagi pada ruas jalan tol tersebut. Berdasarkan hasil observasi lapangan, data tanah dan data teknis diketahui bahwa tidak ada perkuatan dan PVD (Prefabricated Vertical Drain) yang dipasang dibawah timbunan. Hal ini diperkuat dengan hasil analisis stabilitas lereng yang dilakukan menggunakan program bantu XSTBL diperoleh nilai SF 0,887 s/d 1,157. Angka keamanan ini menunjukkan bahwa timbunan tersebut tidak stabil, dengan kata lain daya dukung tanah dibawah timbunan tidak mencukupi untuk menahan beban setinggi 8 meter sehingga terjadi kelongsoran. Oleh karena itu, perlu direncanakan sistem perkuatan timbunan dengan pemasangan geotextile dan pemasangan spunpile pada tanah dasar dibawah timbunan. Untuk perhitungannya, perlu diperhatikan kenaikan daya dukung akibat pemampatan yang telah terjadi selama 3 bulan oleh timbunan eksisting setinggi 8 meter. Hasil perencanaan kedua alternatif tersebut kemudian dievaluasi untuk mendapatkan perencanaan yang paling efisien. Apabila perkuatan yang dipakai adalah geotextile, maka diperlukan 26 lapis dan per lapisnya terdapat 2 lembar geotextile tipe UW-250 52/52 dengan total biaya material sisi kanan kiri timbunan sebesar Rp 106,996,623,000. Sedangkan untuk pemasangan spunpile dengan d = 30 cm dan p = 6 m, diperlukan 38 buah spunpile/m panjang jalan; total biaya material sisi kanan kiri adalah Rp 79,853,109,750. Dari kedua alternatif yang telah direncanakan, pemasangan spunpile pada tanah dasar merupakan alternatif terpilih.
Penerapan Value Engineering Sebagai Strategi Efisiensi Dengan Optimalisasi Local Resource Proyek Konstruksi (Studi Kasus : Proyek Pembangunan Gedung Guest House di Sumba Timur, NTT) Moh Tahsis, Ahmad Farid Ardiansyah, S.T., M.T.; Jhon Jhohan Putra K.D; Syaripin; Vanadani Pranantya
AGREGAT Vol 10 No 1 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/ag.v10i1.26099

Abstract

Persaingan dalam dunia industri konstruksi menuntut perusahaan dan kegiatan proyek kontruksi untuk melakukan efisiePersaingan dalam dunia industri konstruksi menuntut perusahaan dan kegiatan proyek kontruksi untuk melakukan efisiensi dan penghematanterkait biaya konstruksi. Salah satu usahanya ialah dengan menerapkan Value Engineering (VE), yakni suatu metode penghematan denganmerubah komponen pekerjaan tertentu dengan komponen yang lebih efisien namun tetap mempertahankan fungsi, kualitas, dan performa.Pengembangan analisis ide kreatif komponen pekerjaan yang memberikan kontribusi biaya terbesar berpotensi untuk dilaksanakan. Dengan Perubahan Komponen pekerjaan Arsitektur yang memiliki kontribusi dalam efisiensi anggaran biaya. Komponen pekerjaan yangmemberikan kontribusi biaya terbesar adalah pekerjaan Arsitektur seperti pekerjaan Atap Bitumen, dengan perubahan jenis Atap Bitumen menjadi atap Metal (Spandex) lapis Pasir memiliki kontribusi penghematan dari segi Anggaran Biaya yang signifikan. kemudian komponen pekerjaan Plafon, pekerjaan Dinding dan pekerjaan Lantai juga memiliki kontribusi untuk dilaksanakan VE. Penghematan ini dilakukandengan mengganti komponen pekerjaan Arsitektur dengan Optimalisasi Local Resource. Penerapan Value Engineering memiliki kontribusi dalam efisiensi dari segi anggaran pekerjaan. Sebelum dilaksanakan VE anggaran pekerjaan Rp. 32,000,000,000.00 sedangkan setelahdilaksanakan VE anggaran berkurang menjadi Rp. 28,869,108,847,574. Dengan demikian, didapat besar persentase penghematan terhadap keseluruhan pekerjaan sebesar 9,78 %.nsi dan penghematan terkait biaya konstruksi. Salah satu usahanya ialah dengan menerapkan Value Engineering (VE), yakni suatu metode penghematan dengan merubah komponen pekerjaan tertentu dengan komponen yang lebih efisien namun tetap mempertahankan fungsi, kualitas, dan performa. Pengembangan analisis ide kreatif  komponen pekerjaan yang memberikan kontribusi biaya terbesar berpotensi untuk dilaksanakan. Dengan Perubahan Komponen pekerjaan Arsitektur yang memiliki kontribusi dalam efisiensi anggaran biaya. Komponen pekerjaan yang memberikan  kontribusi biaya terbesar adalah pekerjaan Arsitektur seperti pekerjaan Atap Bitumen, dengan perubahan jenis Atap Bitumen menjadi atap Metal Spandex) lapis Pasir memiliki kontribusi penghematan dari segi Anggaran Biaya yang signifikan. kemudian  komponen pekerjaan Plafon, pekerjaan Dinding dan pekerjaan Lantai juga memiliki kontribusi untuk dilaksanakan VE. Penghematan ini dilakukan dengan mengganti komponen pekerjaan Arsitektur dengan Optimalisasi Local Resource. Penerapan Value Engineering memiliki kontribusi dalam efisiensi  dari segi anggaran pekerjaan.  Sebelum dilaksanakan VE anggaran pekerjaan Rp. 32,000,000,000.00 sedangkan setelah dilaksanakan VE anggaran berkurang menjadi Rp. 28,869,108,847,574.  Dengan demikian, didapat besar persentase penghematan terhadap keseluruhan pekerjaan sebesar 9,78 %.
PENGARUH SUBSTITUSI LIMBAH KACA TERHADAP TENSILE STRENGTH RATIO CAMPURAN BERASPAL ASPHALT CONCRETE-BINDER COURSE Syaripin; Suparma, Latif Budi; Mulyono, Agus Taufik; Alawy, Gholiqul Amrodh; Ardiansyah, Ahmad Farid; Septiandri, Rohmahillah Aviskanasya
Jurnal HPJI (Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia) Vol. 11 No. 1 (2025)
Publisher : Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia (HPJI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/jhpji.v11i1.9065.39-48

Abstract

Abstract Hot asphalt mixtures require aggregate as the constituent material. In this study, the potential for glass waste to be used as an aggregate substitute is examined. For this reason, a mixture design was determined to obtain the Optimum Asphalt Content of the Asphalt Concrete-Binder Course mixtures using glass waste as a substitute for fine aggregate. The glass waste used is glass waste that passes through sieve No. 50 and retained on sieve No.100. The proportion of glass waste substitution is 0%, 25%, 50%, 75%, and 100% to the amount of fine aggregate in the mixture. The asphalt mixture in this study was made using the Marshall mixture design method. From this design, the Optimum Asphalt Content is obtained at 5.9% (0% glass waste), 5.4% (25% glass waste), 5.2% (50% glass waste), 5.1% (75% glass waste), and 4.9% (100% glass waste). Next, test spe-cimens were made for Indirect Tensile Strength testing, and carried out for testing in dry and wet conditions, and the Tensile Strength Ratio of the test specimens was determined. The Tensile Strength Ratio of the asphalt mixture decreases with increasing proportion of glass waste and decreasing asphalt content. Overall, this research shows that glass waste can be used as a substitute for fine aggregate. Keywords: hot mix asphalt; aggregate; glass waste; Marshall Method; Tensile Strength Ratio Abstrak Campuran beraspal panas memerlukan agregat sebagai material penyusunnya. Pada studi ini dikaji potensi limbah kaca untuk dimanfaatkan sebagai substitusi agregat. Untuk itu ditentukan rancangan campuran dengan untuk mendapatkan Kadar Aspal Optimum pada campuran beraspal jenis Asphalt Concrete-Binder Course dengan menggunakan limbah kaca sebagai substitusi agregat halus. Limbah kaca yang digunakan adalah limbah kaca yang lolos ayakan No. 50 dan tertahan ayakan No.100. Proporsi substitusi limbah kaca adalah 0%, 25%, 50%, 75%, dan 100% terhadap jumlah agregat halus dalam campuran. Campuran beraspal pada studi ini dibuat dengan menggunakan metode perancangan campuran Marshall. Dari perancangan tersebut diperoleh Kadar Aspal Optimum sebesar 5,9% (limbah kaca 0%), 5,4% (limbah kaca 25%), 5,2% (limbah kaca 50%), 5,1% (limbah kaca 75%), dan 4,9% (limbah kaca 100%). Selanjutnya dibuat benda-benda uji untuk pengujian Indirect Tensile Strength, dan dilakukan untuk pengujian dengan kondisi telah dilakukan pengkondisian kering dan kondisi basah, serta ditentukan Tensile Strength Ratio benda-benda uji. Tensile Strength Ratio campuran beraspal mengecil dengan bertambahnya proporsi limbah kaca dan berkurangnya kadar aspal. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa limbah kaca dapat dimanfaatkan sebagai substitusi agregat halus. Kata-kata kunci: campuran beraspal panas; agregat; limbah kaca; Metode Marshall; Tensile Strength Ratio
Identification and Evaluation of Risks in Construction Projects in Archipelagic Areas Using the Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) Method A Case Study of East Sumba, Indonesia Ahmad Farid Ardiansyah
PUBLIKASI RISET ORIENTASI TEKNIK SIPIL (PROTEKSI) Vol 7 No 2 (2025): Vol.7 No 2 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/proteksi.v7n2.p212-222

Abstract

Construction projects in semi-arid coastal zones operate within complex environmental and managerial constraints that heighten vulnerability to multiple risks. This research analyzes those dynamics through a systematic application of Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) to identify, classify, and prioritize critical risk factors affecting project reliability. The results show that material shortages, heat exposure, and unstable energy supply are the most pressing risks, often intensified by weak procurement systems, inaccurate budgeting, and low compliance with environmental and safety protocols. A comparison of managerial and field-level perceptions reveals notable gaps: while both groups recognize similar degrees of severity, on-site workers view risks as more frequent and difficult to detect, reflecting unequal access to information and experience. When combined, the Probability–Impact Matrix and Risk Priority Number assessment indicate that most hazards fall within the high-risk category. The study argues that sustainable construction in such climates requires a move from reactive to anticipatory management. It recommends optimizing local resources through adaptive technologies, reinforcing safety culture and workforce skills, and ensuring transparency via digital governance tools. These integrated measures strengthen resilience, operational reliability, and environmental sustainability in resource-constrained construction contexts
A Framework for Integrating Vernacular Architecture and Healing Environment Principles for Resilient Post-Disaster Housing Ardiansyah, Ahmad Farid; Soetjipto , Jojok Widodo; Ratnaningsih , Anik
RUAS Vol. 24 No. 1 (2026)
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ruas.2026.024.01.7

Abstract

Post-disaster housing is typically designed to meet immediate shelter needs, yet it often overlooks environmental adaptability, cultural continuity, and psychological recovery. This study proposes a multi-criteria framework by integrating principles of vernacular architecture and healing environments. A mixed-method approach was used, combining literature synthesis, criteria formulation, expert validation, and TOPSIS-based prioritization. Eight design criteria were assessed: ventilation, natural lighting, transitional spaces, building materials, cultural relevance, flexibility and resilience, sustainability, and psychological support. Expert judgment evaluated each criterion across two dimensions—vernacular and healing principles—followed by normalization, weighting, and ranking using TOPSIS.  The results indicate that building materials achieved the highest performance score (Pi = 0.504), followed closely by transitional spaces (0.496), cultural relevance (0.495), and psychological support (0.491). However, the minimal variation between scores suggests that these criteria should not be treated as a strict hierarchy, but rather as an integrated design system. This framework offers a practical basis for developing post-disaster housing that is not only functional but also environmentally responsive, culturally sensitive, and supportive of occupant well-being.
Mapping Coffee Shops as Informal Cooling Spaces: Evidence from Land Surface Temperature and Urban Activity Patterns Jhon Jhohan Putra K.D; Ahmad Farid Ardiansyah; Muhammad Bastian Akbar
DEARSIP : Journal of Architecture and Civil Vol. 6 No. 01 (2026): Desember 2025 - Mei 2026
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Islam Darul Ulum Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52166/dearsip.v6i01.12710

Abstract

This study explores the role of coffee shops as informal cooling spaces within the context of the Urban Heat Island (UHI) phenomenon in Jember, Indonesia. As a rapidly growing secondary city, Jember faces increasing thermal stress due to urbanization, limited green infrastructure, and uneven spatial development. While formal cooling strategies such as urban green spaces remain limited, coffee shops have emerged as accessible semi-public spaces that may contribute to thermal comfort in everyday urban life.This research adopts a quantitative spatial approach by integrating remote sensing and Geographic Information Systems (GIS). Land Surface Temperature (LST) was derived from Landsat 8 imagery to identify urban heat patterns, while coffee shop location data were collected from Google Maps and analyzed using Kernel Density Estimation to detect clustering patterns. An overlay analysis was conducted to examine the spatial relationship between coffee shop distribution and high-temperature zones. The results show that high LST areas exceeding 37°C are concentrated in densely built-up districts, particularly Sumbersari and Kaliwates, which are dominated by residential, commercial, and service activities. In contrast, lower temperature zones are associated with vegetated land uses such as rice fields, plantations, and community forests. Coffee shops exhibit a strong agglomeration pattern in urban cores, with significant hotspots identified in Sumbersari and secondary clusters in Kaliwates. The overlay analysis reveals that a substantial number of coffee shops are located within high-temperature zones, indicating a spatial alignment between areas of high cooling demand and the presence of these establishments.These findings suggest that coffee shops have the potential to function as informal cooling infrastructures, providing thermal refuge in dense urban environments. However, their uneven distribution also reflects spatial inequality, as peripheral areas have limited access to such amenities. This study highlights the importance of recognizing informal and privately operated spaces in urban heat mitigation strategies, particularly in secondary cities where formal cooling infrastructure is insufficient.