Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Hubungan Faktor Risiko dengan Prediktor Preventif Pengetahuan Diabetes Melitus pada Remaja Rima Melati; Munir , Nur Wahyuni; Nur Ilah Padhila; Rahmat Hidayat
Window of Nursing Journal Vol. 5 No. 2 (Desember, 2024)
Publisher : Pusat Kajian dan Pengelola Jurnal FKM UMI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/won.v5i2.917

Abstract

Diabetes mellitus is an increase in blood glucose levels, the occurrence of DM can be caused by several factors, such as age, gender, BMI and family history of DM. This study aims to determine the relationship between risk factors and preventive predictors of Diabetes Mellitus in adolescents at SMAN 5 Makassar. The research design used is a quantitative research method using a multiple correlation design with a cross sectional approach. The sampling technique used stratified sampling with a total sample of 106 teenagers at SMAN 5 Makassar. Research data was taken by distributing questionnaires on risk factors and preventive predictors. The test conducted in this study was the Fisher Exact Test. The results of the Fisher Exact Test showed that there was no relationship between risk factors (age, gender, BMI and family history of DM) with preventive predictors such as knowledge of DM, diet and exercise patterns of DM (age p-value 1.000, gender p-value 0.190 , family history p-value 0.664, BMI p-value 0.397), diet (age p-value 1.000, gender p-value 0.743, family history p-value 0.743, BMI p-value 0.701 and exercise pattern (age p- value 0.052, gender p-value 0.211, family history p-value 1.000, BMI p-value 0.012) The conclusion of this study shows that predictor factors in adolescents such as knowledge of DM, eating patterns and exercise patterns have no relationship with risk factors for DM incidence It is hoped that this research can serve as literature for future researchers.Further research is expected to be able to see the effectiveness of education in the early prevention of diabetes mellitus in adolescents.
PENERAPAN TERAPI BEKAM BASAH TERHADAP PENURUNAN NYERI PADA PASIEN LOW BACK PAIN DI KLINIK ZEIN HOLISTIC THERAPY A. Fajri Nur Islami; Sunarti Sunarti; Nur Ilah Padhila; Mardiah Mardiah
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 2 No. 5 (2025): Oktober - November 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Low Back Pain (LBP) merupakan gangguan muskuloskeletal yang sering dijumpai dan berdampak besar pada kualitas hidup serta produktivitas kerja. Penanganan farmakologis konvensional sering menimbulkan efek samping, sehingga terapi non-farmakologis seperti bekam basah menjadi alternatif yang menjanjikan. Penelitian ini merupakan laporan kasus asuhan keperawatan terhadap pasien perempuan berusia 57 tahun dengan keluhan nyeri punggung bawah kronis. Intervensi dilakukan berupa terapi bekam basah pada titik Al-Warik dengan pendekatan asuhan keperawatan mencakup pengkajian, diagnosis, perencanaan intervensi, implementasi, serta evaluasi menggunakan metode SOAP dan skala nyeri numerik. Sebelum intervensi, pasien melaporkan nyeri berat dengan skala 7/10. Setelah dilakukan terapi bekam basah selama 5 menit, skala nyeri menurun menjadi 5/10. Pasien menunjukkan peningkatan mobilitas, penurunan ketegangan otot, serta merasa lebih nyaman. Terapi disertai edukasi dan latihan mobilisasi ringan. Terapi bekam basah dapat diterapkan sebagai bagian dari intervensi keperawatan komplementer untuk pasien dengan nyeri punggung bawah. Diperlukan penelitian lanjutan dengan jumlah sampel lebih besar untuk menguatkan bukti efektivitasnya dalam konteks praktik keperawatan klinik. Terapi bekam basah pada titik Al-Warik efektif menurunkan intensitas nyeri dan meningkatkan kenyamanan pasien dengan Low Back Pain, sehingga dapat diintegrasikan ke dalam praktik keperawatan holistik berbasis terapi komplementer
Penerapan Terapi Bekam Basah Dengan Keluhan Nyeri Otot di Klinik Zein Holistik Terapi Kota Makassar Suci Aliefia Putri; Wa Ode Sri Asaniar; Eliati Paturungi; Nur Ilah Padhila
Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Vol. 31 No. 2 (2025): Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya
Publisher : Universitas Insan Budi Utomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/paradigma.v31i2.2377

Abstract

Nyeri otot merupakan sensasi sakit atau tidak nyaman yang dirasakan oleh seseorang dan terjadi pada otot. Hal ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti cedera, ketegangan otot, kelelahan, atau kondisi medis tertentu seperti arthritis atau fibromyalgia. Nyeri otot yang membatasi rentang gerakan sendi juga fleksibilitas dan mobilitas merupakan gangguan dalam kehidupan kehidupan sehari-hari. Penanganan dari nyeri otot dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu melakukan peregangan, mendapatkan pijatan, dan terapi seperti bekam. Studi kasus yang menggambarkan suatu temuan pada satu kasus pasien nyeri otot, dimana manajemen perawatan menggunakan terapi bekam basah. Untuk mengetahui gambaran nyata tentang penerapan terapi bekam basah terhadap Tn. G dengan keluhan nyeri otot di Klinik Zein Holistik Terapi Makassar. Penelitian menunjukkan terdapat penurunan nyeri setelah diberikan perlakuan, dimana sebelum terapi bekam basah pasien memiliki skala nyeri 5 atau nyeri sedang, sedangkan sesudah terapi bekam basah memiliki skala nyeri 2 atau nyeri ringan, sedangkan secara visual didapatkan pasien mengatakan nyeri bagian ekstremitas tangan kanan berkurang dan nyeri berkurang. Penerapan intervensi terapi bekam basah dapat menurunkan tingkat nyeri pada pasien dengan keluhan nyeri otot.
Penerapan Terapi Oksigen Pada Anak Dengan Kejang Demam Di RSUD Labung Baji Kota Makassar Muh. Akbar Hashemi Rafsanjani; Nur Ilah Padhila; Idelriani; H. Syahrir
Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Vol. 31 No. 2 (2025): Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya
Publisher : Universitas Insan Budi Utomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/paradigma.v31i2.2420

Abstract

Kejang demam adalah perubahan fungsi otak yang cepat, sementara, atau tiba-tiba yang terjadi pada suhu tubuh yang lebih tinggi. Di seluruh dunia, 18,3 juta insiden kejang demam pada tahun 2019 dimana terdapat 154 ribu orang menderita kejang demam yang berujung pada kematian. Pada tahun 2018, angka kejadian kejang demam di Indonesia mencapai 22,2% kasus. Kejang demam yang terjadi lebih dari 15 menit tanpa pengobatan awal yang cepat dan tepat dapat terjadi apnea yang menyebabkan hipoksia. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran penerapan terapi oksigen pada anak kejang demam di rumah Sakit Labuang Baji. Metode yang digunakan dalam penangan anak kejang demam adalah pemberian terapi oksigen untuk mencegah terjadinya sianosis. Pada kasus kejang demam An. A diagnosa yang mundul adalah hipertemia berhubungan dengan proses penyakit, risiko aspirasi ditandai dengan penurunan kesadaran. Setelah dilakukan asuhan keperawatan didapatkan termoregulasi membaik, tingkat aspirasi menurun dan tingkat nausea menurun.
COGNITIVE DEVELOPMENT IN CHILDREN WITH STUNTING: A REVIEW OF INFECTION HISTORY AND STIMULATION Nur Ilah Padhila; Rahmat Hidayat; Suci Sinar Sari; Desi Ratnasari
Cendekia Medika: Jurnal Stikes Al-Ma`arif Baturaja Vol. 11 No. 1 (2026): January - March
Publisher : LPPM STIKES Al-Ma'arif Baturaja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52235/cendekiamedika.v11i1.656

Abstract

Stunting is a chronic nutritional problem that affects not only children’s physical growth but also their cognitive development, including concentration, memory, and future academic readiness. Cognitive development in stunted children is influenced by multiple factors, including infection history and parental stimulation. This study aimed to analyze the relationship between infection history and stimulation and cognitive development among stunted children. This study employed an observational analytic design with a cross-sectional approach. It was conducted in the working area of Tamamaung Public Health Center, Makassar, from October to November 2025. A total of 40 stunted children aged 12–42 months were recruited using total sampling. Data were collected through structured interviews with parents using validated and reliable questionnaires. Data were analyzed using univariate analysis and bivariate analysis with the Chi-square test at a significance level of 0.05. Most children were aged 12–24 months (40.0%) and female (72.5%). Moderate infection history was reported in 50.0% of respondents, while high and moderate levels of stimulation were each found in 42.5% of children. More than half of the children (52.5%) demonstrated appropriate cognitive development. Bivariate analysis showed that infection history was not significantly associated with cognitive development in stunted children (p=0.316), whereas stimulation was significantly associated with cognitive development (p=0.017). Children who received higher stimulation were more likely to demonstrate age-appropriate cognitive development than those who received inadequate stimulation. Infection history was not significantly associated with cognitive development among stunted children, whereas stimulation showed a significant relationship. Consistent parental stimulation should be considered an essential strategy to optimize cognitive development in children with stunting.