Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Peer Counselor Training for High School Students in West Jakarta Risnawaty, Widya; Kartasasmita, Sandi; Suryadi, Denrich
MITRA: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Vol 3 No 2 (2019): MITRA: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Institute for Research and Community Services

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/mitra.v3i2.350

Abstract

The present community service activities were held to provide peer counselor training for high school Students in West Jakarta. Results from our survey showed several problems such as high achievement demand from parents, disparity between peer groups, and verbal abuse from parents. Despite these problems, students prefer to share their problems with their peers to consulting their problems with the Guidance and Counseling (GC) teacher, subject teacher, or homeroom teacher. To address this problem, the solution offered was to prepare assistance for GC teachers by giving training to selected students so that they are able to help other students, that is as peer counselors. Students who were trained must pass a selection process to meet standard qualifications as peer counselors. The peer counselor training aimed to provide competency-based knowledge and skills as a counselor. The task of these peer counselors was to act as peer assistants who can accommodate stories and complaints from peers based on basic counselling skills. Peer counselors are expected to help reduce psychological tension experienced by peers in need. The implementation stages included the following: socializing the program, implementation of training with 14 sessions, practices and supervisions, and evaluation program. Through the training, the students were successfully introduced to simple theories and counseling skills to trainees. After 6 simulated exercises, each participant experienced better counseling skills. However, to keep improving their skills, it is necessary that the trainees be given a periodic training and a strong support from the school, especially from GC teachers.
DINAMIKA PEMBAGIAN PERAN GENDER DALAM HUBUNGAN PERNIKAHAN PADA USIA LANJUT DAN PENSIUN: ANALISIS TINJAUAN SISTEMATIS Cendy, Cendy; Kartasasmita, Sandi
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora , dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v8i1.27291.2024

Abstract

Kesenjangan dalam pembagian tugas rumah tangga merujuk pada pembagian tugas domestik yang tidak setara dalam rumah tangga yang mayoritas dikerjakan oleh perempuan. Kesenjangan ini dapat tetap bertahan hingga pasangan memasuki usia lanjut. Hal ini dapat mempengaruhi tingkat kebahagiaan pernikahan dan meningkatkan risiko memiliki kesehatan mental yang buruk bagi perempuan. Penelitian sebelumnya menunjukan bahwa laki-laki yang telah pensiun lebih sedikit melakukan pekerjaan domestik (memasak dan bersih-bersih) walaupun memiliki lebih banyak waktu luang. Tinjauan sistematis ini ditujukan untuk mensintesis literasi mengenai pembagian pekerjaan rumah tangga antara pasangan lansia yang telah pensiun, untuk mengeksplorasi pembagian, tingkat ketimpangan, dan faktor yang dapat mempengaruhi. Pencarian studi dilakukan melalui database Science Direct, Taylor & Francis Online, dan Pubmed dengan rentang tahun 2012-2023. Studi inklusi jika membahas pembagian tugas domestik antara pasangan berusia >60 tahun dan sudah pensiun. Quality assessment juga dilakukan untuk meningkatkan relevansi dan kualitas. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa perempuan lanjut usia yang telah pensiun tetap memiliki beban pekerjaan domestik yang lebih banyak dibandingkan pasangan. Perempuan lansia yang telah pensiun tetap melakukan tugas domestik antara lain: merawat cucu dan merawat pasangan serta menangani pekerjaan rumah tangga lainnya meskipun suami juga telah pensiun. Penemuan dari studi ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan intervensi atau kebijakan yang dapat meningkatkan kualitas hidup lansia.
Peran Fear of Missing Out (FoMO) Sebagai Moderator Antara Kesejahteraan Subjektif dengan Narsisme pada Dewasa Muda Pengguna Instagram Zulfa, Daffa Aulia; Kartasasmita, Sandi
Reslaj : Religion Education Social Laa Roiba Journal Vol 6 No 3 (2024): Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal
Publisher : LPPM Institut Nasional Laa Roiba Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47467/reslaj.v6i3.5828

Abstract

Social media are a forum for people to search for and share information in the form of writing, videos and images. The presence of social media has given rise to a digital anxiety known as Fear of Missing Out (FoMO). One of the popular applications is Instagram. Considering the large number of users of the Instagram application, researchers are interested in conducting research on the role of Fear of Missing Out (FoMO) as a moderator between Subjective Well-Being and narcissism in young adult Instagram users. The research was conducted using a non-probability sampling method (purpose sampling) and respondents aged 20-30 years used the Google Form platform. Data processing uses SPSS with reliability test parameters. Based on the results of data analysis, there is a negative and significant relationship between Subjective Well-Being and Fear of Missing Out (FoMO) and there is a positive and significant relationship regarding the relationship between narcissism and FoMO among Instagram users among young adults aged 20- 30 years. The results of this research are that FoMO is not related to SWB, while Narcissism can be a moderator of the respondent's Fear of Missing Out (FoMO) trend.
Kepuasan Hidup Sebagai Mediator Rasa Bersyukur dan Kebahagiaan Mahasiswa Tingkat Akhir Melinda, Intan; Kartasasmita, Sandi
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol 2 No 2 (2025): Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Publisher : Pijar Pustaka Widyadhana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk menguji hubungan antara rasa syukur dan kebahagiaan terhadap kepuasan hidup pada mahasiswa tingkat akhir. Pengerjaan tugas akhir atau skripsi seringkali membuat mahasiswa tngkat akhir menjadi tertekan karena beban yang cukup berat sehingga berdampak pada kondisi mahasiswa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini merupakan teknik non-probability sampling. Sampel pada penelitian ini sebanyak 240 mahasiswa tingkat akhir. Dalam penelitian ini Rasa Syukur sebagai variable independent (X) diukur menggunakan skala Gratitude Questionnaire (GQ-6), Kebahagiaan sebagai variable mediator (Y) diukur menggunakan skala Orientation to Happiness-Situations (OTH), sedangkan Kepuasan Hidup sebagai variable dependen (Z) diukur menggunakan skala Satisfaction with Life Scale (SWLS). Model regresi menunjukkan bahwa variable independen rasa bersyukur (X) tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel dependen kepuasan hidup (Z) secara langsung maupun melalui variable mediator kebahagiaan (Y), karena nilai signifikansi keduanya lebih besar dari 0.05. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara rasa syukur terhadap kebahagiaan dan kepuasan hidup pada pada mahasiswa tingkat akhir.
HUBUNGAN ANTARA SELF ESTEEM DENGAN PROBLEMATIC INTERNET USE PADA EMERGING ADULTHOOD PENGGUNA MEDIA SOSIAL Alodia; Kartasasmita, Sandi
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 7 No. 2 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v7i2.26459.2023

Abstract

Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara self esteem dengan problematic internet use pada emerging adulthood pengguna media sosial. Penelitian ini juga dilakukan karena adanya peningkatan durasi waktu penggunaan internet terutama media sosial yang seringkali digunakan oleh individu untuk berinteraksi satu sama lain. Penggunaan internet yang berlebihan dan sulit dikontrol terjadi akibat adanya self esteem yang rendah pada diri individu. Pada penelitian ini, teori dan alat ukur yang digunakan adalah Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES) dari Rosenberg (1965) dan Generalized Problematic Internet Use Scale 2 (GPIUS 2) dari Caplan (2010). Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik non probability sampling yaitu convenience sampling dengan menyebarkan kuesioner secara online melalui google form. Partisipan dalam penelitian ini menghasilkan sebanyak 500 orang partisipan dengan rentang usia 18-25 tahun. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang negatif dan signifikan antara self esteem dengan problematic internet use pada emerging adulthood pengguna media sosial dengan nilai r = -0.566, p = 0.000 < 0.05. Hasil lainnya menunjukkan bahwa self esteem memiliki hubungan negatif dan signifikan dengan dimensi preference for online social interaction, mood regulation, cognitive preoccupation, compulsive internet use, dan negative outcomes pada variabel problematic internet use. Hal ini berarti semakin tinggi self esteem individu, maka semakin rendah problematic internet use.
Peran Fear of Missing Out (FoMO) Sebagai Moderator Antara Kesejahteraan Subjektif dengan Narsisme pada Dewasa Muda Pengguna Instagram Aulia Zulfa, Daffa; Kartasasmita, Sandi
Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Vol. 6 No. 4 (2024): Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal
Publisher : Intitut Agama Islam Nasional Laa Roiba Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47467/reslaj.v6i4.1218

Abstract

Social media are a forum for people to search for and share information in the form of writing, videos and images. The presence of social media has given rise to a digital anxiety known as Fear of Missing Out (FoMO). One of the popular applications is Instagram. Considering the large number of users of the Instagram application, researchers are interested in conducting research on the role of Fear of Missing Out (FoMO) as a moderator between Subjective Well-Being and narcissism in young adult Instagram users. The research was conducted using a non-probability sampling method (purpose sampling) and respondents aged 20-30 years used the Google Form platform. Data processing uses SPSS with reliability test parameters. Based on the results of data analysis, there is a negative and significant relationship between Subjective Well-Being and Fear of Missing Out (FoMO) and there is a positive and significant relationship regarding the relationship between narcissism and FoMO among Instagram users among young adults aged 20- 30 years. The results of this research are that FoMO is not related to SWB, while Narcissism can be a moderator of the respondent's Fear of Missing Out (FoMO) trend.
Kecerdasan Emosional dan Perilaku Pembelian Impulsif: Studi Kuantitatif pada Mahasiswa Pengguna E-commerce Gunawan, Anjanette Amelia; Kartasasmita, Sandi
Riwayat: Educational Journal of History and Humanities Vol 8, No 4 (2025): Oktober, Social Issues and Problems in Society
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jr.v8i4.50635

Abstract

Pertumbuhan e-commerce di Indonesia dalam lima tahun terakhir menunjukkan peningkatan signifikan, dengan nilai transaksi mencapai lebih dari Rp1.100 triliun pada tahun 2023. Lonjakan ini sejalan dengan perubahan perilaku konsumsi akibat pandemi COVID-19, yang mendorong mahasiswa sebagai pengguna aktif e-commerce menjadi lebih rentan terhadap perilaku pembelian impulsif. Pembelian impulsif sering kali dipengaruhi oleh faktor emosional dan psikologis individu, salah satunya adalah kecerdasan emosional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kecerdasan emosional terhadap perilaku pembelian impulsif pada mahasiswa pengguna e-commerce. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan teknik survei menggunakan kuesioner terhadap sejumlah mahasiswa aktif. Analisis data dilakukan menggunakan uji regresi linier sederhana untuk melihat seberapa besar pengaruh kecerdasan emosional terhadap pembelian impulsif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan emosional memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku pembelian impulsif, di mana semakin tinggi tingkat kecerdasan emosional mahasiswa, semakin rendah kecenderungan mereka melakukan pembelian impulsif di platform e-commerce. Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan kecerdasan emosional sebagai bentuk pengendalian diri dalam menghadapi stimulus digital, serta memberikan implikasi praktis bagi pengembangan literasi emosional dan finansial di kalangan mahasiswa.
HUBUNGAN ANTARA SELF-CONFIDENCE DENGAN TINDAKAN ACADEMIC DISHONESTY PADA MAHASISWA PENGGUNA CHATGPT Viviana, Tasya; Kartasasmita, Sandi
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8336

Abstract

This study aims to examine the relationship between self-confidence and academic dishonesty among university students who use ChatGPT. Amid the increasing use of Artificial Intelligence (AI) in academia, concerns have arisen regarding its potential misuse. Using a correlational quantitative approach, data were collected from 104 students through purposive sampling. Two standardized instruments were used to measure self-confidence and academic dishonesty. The results indicated that students had high levels of self-confidence and low tendencies toward academic dishonesty. A significant negative relationship was found between the two variables (r = -0.287, p = 0.003), particularly in the grades and studying dimensions. No gender differences were observed in self-confidence, but a significant difference was found in academic dishonesty between male and female students. This study offers important insights into the protective role of self-confidence against unethical behavior in AI usage and supports the need for implementing digital ethics policies in higher education. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara self-confidence dan academic dishonesty pada mahasiswa pengguna ChatGPT di perguruan tinggi. Di tengah meningkatnya pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) dalam dunia akademik, muncul kekhawatiran terkait potensi penyalahgunaannya. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional, data dikumpulkan dari 104 mahasiswa melalui teknik purposive sampling. Pengukuran dilakukan dengan dua skala terstandarisasi: skala self-confidence dan skala academic dishonesty. Hasil analisis menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki tingkat self-confidence yang tinggi dan kecenderungan academic dishonesty yang rendah. Terdapat hubungan negatif signifikan antara kedua variabel (r = -0.287, p = 0.003), terutama pada dimensi grades dan studying. Tidak ditemukan perbedaan self-confidence berdasarkan gender, namun terdapat perbedaan signifikan dalam academic dishonesty antara mahasiswa laki-laki dan perempuan. Studi ini memberikan kontribusi penting dalam memahami peran self-confidence sebagai faktor pelindung terhadap perilaku tidak etis dalam penggunaan AI, serta mendorong penerapan kebijakan etika digital dalam pendidikan tinggi.
Kecerdasan Emosional dan Kepuasan Kerja: Studi pada Karyawan Generasi Z di Sektor Startup Angela, Felice; Kartasasmita, Sandi
QISTINA: Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol 4, No 2 (2025): December 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/qistina.v4i2.7410

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji peran Kecerdasan Emosional (EQ) terhadap Kepuasan Kerja (JK) pada angkatan kerja Generasi Z, khususnya yang bekerja di perusahaan startup yang dikenal dinamis dan menantang. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif, data dikumpulkan dari 252 karyawan Generasi Z yang tersebar di berbagai startup melalui instrumen Schutte Self-Report Emotional Intelligence Test (SSEIT) dan Job Satisfaction Survey (JSS). Analisis statistik deskriptif menunjukkan bahwa responden memiliki tingkat Kepuasan Kerja yang cenderung tinggi (Mean JSS = 4.6321) dan Kecerdasan Emosional yang baik (Mean SSEIT = 3.3906). Hasil uji regresi linear sederhana menunjukkan bahwa Kecerdasan Emosional berperan signifikan dan positif dalam memprediksi Kepuasan Kerja (ρ 0.05). Nilai Koefisien Determinasi (R2) sebesar 0.597 mengindikasikan bahwa 59.7% dari variasi Kepuasan Kerja secara substansial dijelaskan oleh Kecerdasan Emosional. Semakin tinggi kemampuan Gen Z dalam mengelola dan memanfaatkan emosi mereka, semakin tinggi pula tingkat kepuasan mereka terhadap pekerjaan. Temuan ini mengimplikasikan bahwa perusahaan startup perlu memprioritaskan pengembangan soft skill, terutama pelatihan Kecerdasan Emosional, sebagai strategi retensi kunci untuk memastikan kesejahteraan psikologis dan produktivitas karyawan Generasi Z.
Hubungan Antara Regulasi Emosi dan Kecenderungan Upward Social Comparison pada Mahasiswa Pengguna Instagram Maharani S Y P, Bintang; Kartasasmita, Sandi
QISTINA: Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol 4, No 2 (2025): December 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/qistina.v4i2.7452

Abstract

Intensitas penggunaan Instagram pada mahasiswa berpotensi memicu terjadinya upward social comparison terhadap pencapaian akademik teman sebaya. Perbandingan tersebut dapat menghasilkan tekanan emosional maupun dorongan motivasional, bergantung pada strategi regulasi emosi yang diterapkan individu. Penelitian ini dilakukan untuk melihat hubungan antara regulasi emosi yang mencakup cognitive reappraisal dan expressive suppression dengan kecenderungan upward social comparison pada mahasiswa pengguna Instagram. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan terdiri atas 400 mahasiswa berusia 18-24 tahun yang menggunakan Instagram minimal dua jam setiap hari. Pengukuran dilakukan menggunakan Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) dan Academic Social Comparison (ASCS) versi Bahasa Indonesia. Data dianalisis dengan melalui uji realibilitas, statistik dekskriptif, serta korelasi Spearman. Hasil menunjukkan bahwa cognitive reappraisal berkorelasi positif signifikan dengan upward social comparison (r = 0,499, p 0,01), begitu pula expressive suppression (r = 0,626, p 0,01). Tidak terdapat perbedaan signifikan berdasarkan jenis kelamin maupun durasi penggunaan Instagram per hari. Temuan ini menegaskan bahwa regulasi emosi berkontribusi pada kecenderungan mahasiswa membandingkan prestasi akademik dengan figur unggul di Instagram. Implikasi penelitian menyoroti pentingnya intervensi psikoedukasi regulasi emosi serta literasi media bagi mahasiswa.