Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Keterkaitan Ekspresi Emosi dan Toxic Masculinity pada Mahasiswa Laki Laki Tan, Edwin; Kartasasmita, Sandi
QISTINA: Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol 4, No 2 (2025): December 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/qistina.v4i2.7433

Abstract

Budaya patriarki yang masih melekat dalam masyarakat Indonesia membentuk pandangan bahwa laki-laki harus tampil kuat, tegas, dan mampu mengendalikan emosi. Pandangan ini sering menekan ekspresi emosi yang dianggap lemah, seperti kesedihan atau ketakutan, sehingga mendorong munculnya toxic masculinity. Tekanan tersebut dapat menghambat kemampuan individu mengenali dan mengekspresikan emosi secara sehat serta memengaruhi keseimbangan psikologis. Penelitian ini menganalisis keterkaitan antara ekspresi emosi dan toxic masculinity pada mahasiswa laki-laki. Pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional digunakan untuk melihat arah dan kekuatan hubungan kedua variabel. Partisipan merupakan mahasiswa laki-laki aktif yang dipilih melalui teknik purposive sampling, dengan data dikumpulkan secara daring menggunakan Emotional Expressivity Scale (EES) dan Toxic Masculinity Scale-28 (TMS-28). Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Pearson melalui SPSS versi 27. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif antara ekspresi emosi dan toxic masculinity, yang berarti semakin tinggi kemampuan mengekspresikan emosi, semakin rendah kecenderungan terhadap nilai-nilai maskulinitas yang kaku. Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan ekspresi emosional untuk mendukung kesehatan psikologis dan membangun pola maskulinitas yang lebih adaptif di kalangan mahasiswa laki-laki.
Hubungan antara Regulasi Emosi dan Peer Attachment pada Anggota Cheerleader di Indonesia Victoria, Grace Angel; Kartasasmita, Sandi
QISTINA: Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol 4, No 2 (2025): December 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/qistina.v4i2.7490

Abstract

Aktivitas cheerleading menuntut sinergi antara kemampuan fisik, kerja sama tim, dan kestabilan emosional. Remaja yang mengikuti cheerleading menghadapi tekanan performa, tuntutan koordinasi kelompok, serta dinamika sosial yang intens, sehingga regulasi emosi dan kualitas hubungan dengan teman sebaya menjadi aspek utama yang mempengaruhi pengalaman mereka. Peneliti ini bertujuan untuk menguji hubungan antara regulasi emosi dan peer attachment pada anggota tim cheerleader remaja di Indonesia. Desain peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan 378 partisipan yang berusia 15-25 tahun. Instrumen yang digunakan adalah Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) dan Inventory of Parent and Peer attachment - Revised (IPPA-R). Analisis dilakukan menggunakan statistik deskriptif, uji normalitas, reliabilitas, dan korelasi Spearman. Hasil menunjukkan adanya hubungan positif signifikan antara regulasi emosi dan peer attachment (r = .200, p .001). Temuan ini menegaskan bahwa kemampuan mengelola emosi secara adaptif memperkuat kedekatan antar anggota tim cheerleading. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya pelatihan sosial emosional dalam pembinaan cheerleading remaja.
Korelasi antara Self-Regulation dengan Smartphone Addiction pada Mahasiswa DKI Jakarta Fatiha, Salsabila Zahrani; Kartasasmita, Sandi
QISTINA: Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol 4, No 2 (2025): December 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/qistina.v4i2.7409

Abstract

Perkembangan teknologi digital yang pesat membawa dampak signifikan terhadap kehidupan mahasiswa, salah satunya melalui penggunaan smartphone yang berlebihan hingga memicu perilaku adiktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji korelasi antara self regulation dan kecanduan smartphone pada mahasiswa di DKI Jakarta. Self regulation didefinisikan sebagai kemampuan individu untuk mengendalikan emosi, pikiran, dan perilaku agar selaras dengan tujuan yang ingin dicapai, sedangkan kecanduan smartphone menggambarkan pola penggunaan yang kompulsif dan sulit dikendalikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan penelitian adalah mahasiswa berusia 18–25 tahun yang berdomisili di DKI Jakarta, dengan jumlah responden sebanyak 240 responden dengan kritera yang telah di tentukan. Instrumen yang digunakan berupa skala Short Self-Regulation Questionnere (SSRQ) dan skala Smartphone Addiction Scale (SAS) yang telah diuji validitas serta reliabilitasnya. Analisis data dilakukan dengan uji korelasi Spearman sesuai hasil uji asumsi normalitas. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara self regulation dan kecanduan smartphone. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kemampuan regulasi diri mahasiswa, maka semakin rendah kecenderungan mereka mengalami kecanduan smartphone. Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan kemampuan self regulation sebagai strategi preventif dalam menghadapi perilaku adiktif terhadap teknologi di kalangan mahasiswa.
Pengaruh Self-Efficacy terhadap Fear of Failure pada Mahasiswa Tahun Pertama Program Sarjana: Studi pada Perguruan Tinggi di DKI Jakarta Martajaya, Philicia Christanti; Kartasasmita, Sandi
Jurnal Pendidikan Indonesia : Teori, Penelitian, dan Inovasi Vol 5, No 6 (2025): Jurnal Pendidikan Indonesia : Teori, Penelitian, dan Inovasi
Publisher : Penerbit Widina, Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jpi.v5i6.2345

Abstract

The early years of college place students in a complex adaptation period, marked by changes in academic demands, social relationships, emotional regulation, and institutional systems that have the potential to trigger psychological stress. The inability to manage these demands can lead to the emergence of fear of failure, namely the tendency of individuals to perceive situations with the possibility of failure as a threat. In this context, self-efficacy plays a role as an important psychological factor that influences how individuals respond to challenges and direct behavior towards achieving success. This study aims to analyze the effect of self-efficacy on fear of failure in first-year undergraduate students through a quantitative approach with simple linear regression analysis. The study participants were 251 students recruited using a purposive sampling technique. Data collection was carried out using the Performance Failure Appraisal Inventory (PFAI; ? = .938) and the Indonesian version of the General Self-Efficacy Scale (GSES) (? = .829). The results of the analysis showed that self-efficacy had a significant negative effect on fear of failure with a contribution of 31.5% (p .05). The largest impact was found in the Fear of Devaluing One’s Self-Estimate (FDSE; 30.2%, ? = ?.550, p .05) dimension, while the lowest contribution was found in the Fear of Upsetting Important Others (FUIO; 15.5%, ? = ?.393, p .05) dimension. These findings indicate that self-efficacy plays a greater role in the fear of failure aspect related to internal self-evaluation than external social evaluation. Overall, this study enriches the study of educational psychology by providing an empirical understanding of the role of self-efficacy on the fear of failure in first-year students in the context of Indonesian higher education, while also opening up opportunities to explore other psychological factors that contribute to the dynamics of fear of failure.ABSTRAKMasa awal perkuliahan menempatkan mahasiswa pada periode adaptasi yang kompleks, ditandai oleh perubahan tuntutan akademik, relasi sosial, regulasi emosional, dan sistem institusional yang berpotensi memicu tekanan psikologis. Ketidakmampuan mengelola tuntutan tersebut dapat mendorong munculnya fear of failure, yakni kecenderungan individu untuk memersepsikan situasi dengan peluang gagal sebagai ancaman. Dalam konteks ini, self-efficacy berperan sebagai faktor psikologis penting yang memengaruhi cara individu merespons tantangan dan mengarahkan perilaku menuju pencapaian keberhasilan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh self-efficacy terhadap fear of failure pada mahasiswa tahun pertama program sarjana melalui pendekatan kuantitatif dengan analisis regresi linier sederhana. Partisipan penelitian berjumlah 251 mahasiswa yang direkrut menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Performance Failure Appraisal Inventory (PFAI; ? = .938) dan General Self-Efficacy Scale (GSES) versi Indonesia (? = .829). Hasil analisis menunjukkan bahwa self-efficacy memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap fear of failure dengan kontribusi sebesar 31.5% (p .05). Dampak terbesar ditemukan pada dimensi Fear of Devaluing One’s Self-Estimate (FDSE; 30.2%, ? = ?.550, p .05), sedangkan kontribusi terendah terdapat pada dimensi Fear of Upsetting Important Others (FUIO; 15.5%, ? = ?.393, p .05). Temuan ini mengindikasikan bahwa self-efficacy lebih berperan dalam aspek fear of failure yang berkaitan dengan evaluasi diri internal dibandingkan evaluasi sosial eksternal. Secara keseluruhan, penelitian ini memperkaya kajian psikologi pendidikan dengan memberikan pemahaman empiris mengenai peran self-efficacy terhadap fear of failure pada mahasiswa tahun pertama di konteks pendidikan tinggi Indonesia, sekaligus membuka peluang eksplorasi faktor psikologis lain yang berkontribusi terhadap dinamika ketakutan akan kegagalan.