Articles
Pola Interaksi Sosial Kelompok Perempuan Salafi Pondok Pesantren Salafiyah Luqmanul Hakim di Kota Medan
Saydinni Ainun;
Faisal Riza;
Rholand Muary
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 7 No. 1 (2023): April 2023
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (142.955 KB)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola interaksi sosial kelompok perempuan Salafi pondok pesantren Salafiyah Luqmanul Hakim di Kota Medan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan desktiptif. Adapun teori yang digunakan adalah teori interaksi sosial Gillin Gillin. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bentuk interaksi sosial perempuan Salafi Pondok Pesantren Salafiyah Luqmanul Hakim terdapat dua proses interaksi sosial yaitu asosiatif dan disosiatif. Pola interaksi asosiatif yaitu kerjasama yang dilakukan oleh santri Pondok Pesantren Salafiyah Luqmanul Hakim adalah menyelenggarakan berbagai kegiatan keagamaan. Akomodasi yang terjadi pada santri Pondok Pesantren Salafiyah Luqmanul Hakim adalah terkait tentang pengurusan jenazah, dimana paham yang diterapkan oleh santri berbeda dengan kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat sekitar. Asimilasi yang terjadi pada santri Pondok Pesantren Salafiyah Luqmanul Hakim melalui berbagai kegiatan yang dijadikan wadah dalam menyampaikan dan mengajarkan pemahaman tentang agama sehingga masyarakat yang pada awalnya memiliki pandangan negatif kepada santri Pondok Pesantren Salafiyah Luqmanul Hakim perlahan mulai dapat menerima dan mengikuti kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh santri bahkan banyak masyarakat yang turut ikut kedalam kelompok santri Pondok Pesantren Salafiyah Luqmanul Hakim. Pada proses disosiatif terdapat 3 proses interaksi yaitu persaingan, kontroversi, dan pertentangan. Pada proses interaksi antara santri dengan masyarakat tidak ada persaingan, perselisihan dan pertentangan yang terjadi.
TAHFIDZ AL QURAN CLASS: RELIGION COMMODIFICATION AND POPULAR CULTURE IN MUSLIM MIDDLE CLASS
Rholand Muary;
Puteri Atikah
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Vol 4, No 1 (2023): Dinamika Sosial Pada Masyarakat
Publisher : FISIP Universitas Malikussaleh
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29103/jspm.v4i1.10097
The purpose of this study was to learn about the practice of religion commodification in the Al-Quran tahfidz program, as well as the strategies used to capture the middle-class Islamic market. The study was carried out in North Sumatra Province, specifically in Medan and the Deli Serdang. This study conducted in three schools are the Yayasan Pendidikan Shafiyyatul Amaliyah (YPSA), Rumah Tahfidz al Irsyad, and the Markaz Tahfiz Ali Syamsi. The research method used is a qualitative research method, which researchers believe is capable of exploring and describing data about the practice of religion commodification and marketing strategies in the Al-Quran tahfidz program. According to this study, a new Islamic middle class group emerged in post-New Order Indonesia. The emergence of a new Muslim middle class has resulted in a consumption pattern that differs from that of previous generations. They want to enjoy modernity while maintaining their Muslim piety. Capitalism responds well to this circumstance, resulting in the commodification of religion. Finally, the Islamic middle class's consumption pattern is currently a culture of including children in the Al-Quran tahfidz program. This culture paved the way for the establishment of Al-Quran tahfidz educational institutions. This consumption pattern is inextricably linked to the role of popular culture in the mass media in the creation of Islamic popular culture.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui praktek komodofikasi agama pada program tahfidz Al Quran dan strategi yang digunakan untuk merebut pasar kelompok Islam menengah. Penelitian dilakukan di Provinsi Sumatera Utara, khususnya di Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang. Adapun tiga fokus lokasi penelitian ini antara lain Yayasan Pendidikan Shafiyyatul Amaliyah (YPSA), Rumah Tahfidz al Irsyad, serta Markaz Tahfiz Ali Syamsi. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode penelitian kualitatif yang dianggap peneliti bisa menggali dan mendeskripsikan data tentang praktek komodifikasi agama dan strategi pemasaran dalam program tahfidz Al Quran. Adapun hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa muncul kelompok kelas menengah Islam baru di Indonesia pasca Orde Baru. Kemunculan kelas menengah Muslim baru ini memiliki pola konsumsi yang relative berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka ingin menikmati moderenitas, tapi tanpa meninggalkan kesalehannya sebagai seorang Muslim. Kondisi inilah yang direspon dengan baik oleh kapitalisme sehingga melahirkan komodifikasi agama. Kesimpulannya pola konsumsi kelas menengah Islam ini saat ini budaya mengikutsertakan anak dalam program tahfidz Al Quran. Budaya ini kemudian membuka peluang akan munculnya lembaga pendidikan tahfidz Al Quran. Pola konsumsi ini tidak lepas dari peran budaya popular di media massa yang menciptakan budaya popular Islam.
Analisis Framing “Zero Tolerance” Pada Film Indonesia: Diversity Under Threat di Youtube DW Documentary
Fitri Rezkia;
Syahrul Abidin;
Rholand Muary
Journal of Education, Humaniora and Social Sciences (JEHSS) Vol 4, No 4 (2022): Journal of Education, Humaniora and Social Sciences (JEHSS), May
Publisher : Mahesa Research Center
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (28.788 KB)
|
DOI: 10.34007/jehss.v4i4.1034
This paper aims to find out how DW Documentary frames the meaning and perpetrators of “zero tolerance” which is considered at threat in Indonesia trough journalistic work in the form of the documentary film, Indonesia: Diversity under Threat. The problem is focused on how to frame the media in presenting the film. To approach this problem, the theoretical basis of Peter L. Berger & Thomas Luckmann is used, namely the social construction of reality which is innovated into the social construction of mass media and the theory of Pamela J. Shoemaker & Stephen D. Reese, namely the theory of the hierarchy of influence. The research approach used is a qualitative approach. The data were collected through observation techniques, namely in depth observations and analyzed through framing analysis of the Zhongdang pan dan Gerald M. Kosicki model. This study concludes that DW Documentary frames the meaning of “zero tolerance” as the biggest threat to the Indonesian state, namely religious intolerance and corruption. In terms of religious intolerance, the media through the choice of words, statements, and quotes frame the label for a populist Muslim community. In this case, the media specializes in conservative Islam, through Syariah law which is considered to discriminate against minority communities, contrary to human rights and feminism. The perpetrators of intolerance were discussed with fundamentalist and radicals with violence, injustice, and does not accept differences or called intolerance.
Pengembangan Potensi Generasi Muda Terkait Tradisi Budaya Lokal Sebagai Sarana Pemberdayaan Masyarakat Melalui Program Kkn Di Nagori Dolok Mainu
Fazli Abdillah;
Farhan Manurung;
Alvi Natzmi;
Novita Hannum Harahap;
Rholand Muary
Journal Of Human And Education (JAHE) Vol. 3 No. 2 (2023): Journal Of Human And Education (JAHE)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/jh.v3i2.246
Pengembangan potensi generasi muda yang terkait dengan tradisi budaya lokal telah mendapatkan perhatian yang semakin besar sebagai sarana untuk pemberdayaan masyarakat. Dalam rangka ini, program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Nagori Dolok Mainu telah diinisiasi dengan tujuan mengintegrasikan upaya pelestarian tradisi budaya lokal dengan pembangunan masyarakat yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana program KKN dapat menjadi alat untuk menggerakkan pengembangan potensi generasi muda dan pelestarian tradisi budaya lokal dalam konteks Nagori Dolok Mainu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan analisis dokumen. Data-data tersebut kemudian dianalisis melalui proses yang sistematis untuk mengidentifikasi dampak dari program KKN terhadap pengembangan potensi generasi muda terkait tradisi budaya lokal dan dampaknya terhadap pemberdayaan masyarakat di Nagori Dolok Mainu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program KKN telah berhasil menciptakan platform yang efektif bagi generasi muda untuk terlibat secara aktif dalam pelestarian tradisi budaya lokal. Melalui interaksi langsung dengan masyarakat setempat, mahasiswa KKN telah mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam tentang nilai-nilai budaya, adat istiadat, dan praktik-tradiksi yang membentuk identitas Nagori Dolok Mainu. Di samping itu, Pengembangan potensi generasi muda ini juga berdampak langsung pada pemberdayaan masyarakat. Melalui upaya pelestarian budaya, masyarakat merasa lebih bangga akan warisan budaya mereka dan merasa termotivasi untuk berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan Nagori Dolok Mainu. Dengan adanya partisipasi aktif generasi muda dalam menginisiasi proyek-proyek lokal dan berkolaborasi dengan pemangku kepentingan lainnya, masyarakat telah merasakan peningkatan dalam kualitas hidup dan hubungan sosial di lingkungan mereka.
STRATEGI KOMUNIKASI PEMASARAN DALAM MENINGKATKAN PENJUALAN LPG SUBSIDI (STUDI KASUS PT. CAHAYA GASINDO DI KABUPATEN DELI SERDANG)
Budimansyah, Arif;
Muary, Rholand
Jurnal Ilmu Komunikasi UHO : Jurnal Penelitian Kajian Ilmu Komunikasi dan Informasi Vol. 9 No. 3 (2024): EDISI JULI
Publisher : Laboratorium Ilmu Komunikasi Fisip UHO
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52423/jikuho.v9i3.240
PT. Energi Cahaya Gasindo merupakan salah satu agen distributor LPG di Kabupaten Deli Serdang, pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komunikasi pemasaran yang dilakukan PT. Energi Cahaya Gasindo kepada sub agen/pangkalan yang menjadi konsumen organisasi yang memiliki tanggung jawab memasarkan gas subsidi ke konsumen terakhir yaitu masyarakat yang memeliki kategori yang telah ditetapkan yaitu masyarakat miskin, serta kendala-kendala yang dihadapi PT. Energi Cahaya Gasindo dalam memasarkan produk tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalaha metode penelitian kualitatif, metode pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi, dengan menggunakan sumber data primer dan sekunder. hasil penelitian menunjukkan bahwasannya penggunaan komunikasi pemasaran direct marketing dapat membuat perusahaan secara langsung mengetahui kendala dan kebutuhan bagi sub agen/pangkalan, selain itu PT. Energi Cahaya Gasindo menggunakan komunikasi interpersonal sehingga dengan penggunaan komunikasi interpersonal dalam direct marketing dapat menumbuhkan kepercayaan kepada pangkalan terhadap produk yang ditawarkan serta perusahaan mendapatkan feedback pada penjualan yang dilakukan. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat ditarik kesimpulan bahwa PT. Energi Cahaya Gasindo dalam rangka meningkatkan penjualan pada gas subsidi 3 kg di Kabupaten Deli Serdang adalah, komunikasi pemasaran PT. Energi Cahaya Gasindo berdasarkan analisis menggunakan alat-alat bauran pemasaran (marketing mix) untuk menentukan metode pemasaran yang tepat dalam proses pemasaran.
PRESERVASI BAHAN PUSTAKA DI DINAS PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN KABUPATEN ASAHAN
Angga Reza Dwi Pradana;
Yusra Dewi Siregar;
Rholand Muary
Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial Vol. 3 No. 7 (2024): Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.6578/triwikrama.v3i7.3023
Penelitian dilaksanakan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Asahan. Tesis ini mengkaji tentang pelaksanaan operasional pelestarian bahan perpustakaan dan tantangan yang dihadapi pustakawan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Asahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui metode preservasi yang digunakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Asahan. Untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi dalam pelestarian di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Asahan. Penulis menggunakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Dengan mewawancarai empat informan. Observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk pengumpulan data Hasil penelitian menunjukkan bahwa telah dilakukan operasi preservasi di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan. Kami telah melakukan tindakan pelestarian seperti penyiangan, pengasapan, dan pengikatan. Pustakawan mempunyai masalah dalam melestarikan barang-barang perpustakaan karena kurangnya pengetahuan kurangnya tenaga manajemen yang terampil, dan tidak adanya ruangan khusus.
Semiotic Analysis of Gender Inequality in the Film Series Kretek Girl
Sakinah, Nurul;
Muary, Rholand
Jurnal Sains Sosio Humaniora Vol. 8 No. 1 (2024): Volume 8, Nomor 1, Juni 2024
Publisher : LPPM Universitas Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22437/jssh.v8i1.36651
This research aims to carry out a semiotic analysis of gender inequality in the "Gretek Girl" film series. In this context, gender inequality is understood as a visual and narrative representation that depicts differences in roles and characteristics between men and women. The analysis method uses a qualitative approach by utilizing Roland Barthes' semiotic concepts to identify visual and narrative symbols that represent gender inequality in the series. Data was collected through in-depth observation of episodes selected purposively. The research results show that "Cretek Girl" uses various traditional gender symbols and stereotypes in depicting its characters. Women tend to be depicted in roles that are more traditional and related to domestic roles, while men are often presented in more powerful and influential contexts. This representation is reflected in the use of body language, the placement of characters in the frame, and the use of colors that depict existing gender conventions. This research underlines the importance of understanding how audiovisual media can influence people's perceptions of gender, and highlights the need to advocate for gender equality in mass media production. The implications of this research indicate the need for a critique of gender representation in the media as well as a call for further research that integrates other approaches to explore the impact of these representations more comprehensively.
Fenomena Childfree Dalam Perspektif Masyarakat Batak
Feriel, Sembiring Amelia;
Muary, Rholand
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Vol. 4 No. 1 (2023): Dinamika Sosial Pada Masyarakat
Publisher : FISIP Universitas Malikussaleh
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29103/jspm.v4i1.9904
The emergence of the child-free phenomenon in Indonesia where the community is still guided by existing cultural values, does not adhere to child-freedom in forming a family. People believe that the purpose of marriage is to give birth to the next generation of families, even the term "many children is a lot of fortune" until now has been used as jargon for Indonesian people. One of them is in the Batak community who still adhere to the value principles of hagabeon, hasangapon, hamoraon. Hagabeon are descendants in Batak society are children born with the aim of continuing the family clan. The importance of descent in Batak society is inseparable from the philosophy of anakkonhi do hamoraon. This study aims to explain the importance of descent for the Batak community and the views of the Batak community in Tarutung City towards the childfree phenomenon. This research is descriptive qualitative using ethnographic and sociological approaches. Sources of data in this study are the results of interviews with several key informants and literature studies that support this research. The results of the study found that in the culture of the Batak people, descent is an important thing in a family. Children are the absolute successors of descendants, especially for boys who have a role to carry on the family clan so that it does not become extinct and is not excluded from the previous family kinship. Apart from being the successor of the family, children will also find their role in every family event. This is what causes the Batak family community to not want child-freeism in their family. Childfree will indirectly eliminate the function and role of the family where so far the family in a sociological view has father, mother and children.Munculnya fenomena childfree di Indonesia di mana masyarakatnya masih berpedoman pada nilai-nilai kebudayaan yang ada, tidak menganut childfree dalam membentuk keluarga. Masyarakat percaya bahwa tujuan dari pernikahan adalah melahirkan generasi penerus keluarga, bahkan istilah banyak anak banyak rejeki hingga sampai saat ini dijadikan jargon bagi masyarakat Indonesia. Salah satunya dalam masyarakat Batak yang masih memegang nilai pandangan hidup yakni hagabeon, hasangapon, hamoraon. Hagabeon merupakan keturunan dalam masyarakat Batak adalah anak-anak yang lahir dengan tujuan meneruskan marga keluarga. Pentingnya keturunan dalam masyarakat Batak tak terlepas dari filosofi anakkonhi do hamoraon di au. Kajian ini bertujuan untuk memaparkan pentingnya keturunan bagi masyarakat Batak dan pandangan masyarakat Batak di Tarutung Kota terhadap fenomena childfree. Penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif dengan menggunakan pendekatan etnografi dan sosiologis. Sumber data dalam penelitian ini adalah hasil wawancara dengan beberapa informan kunci dan studi kepustakaan yang mendukung penelitian ini. Hasil penelitian didapati bahwa dalam budaya masyarakat Batak, keturunan adalah hal penting dalam berkeluarga. Anak adalah penerus keturunan yang sifatnya mutlak terlebih bagi anak laki-laki yang punya peran untuk meneruskan marga (clan) keluarga agar tidak punah dan tidak tersinggirkan dari kekerabatan keluarga yang ada sebelumnya. Selain sebagai penerus keluarga, anak juga akan mendapati perannya dalam setiap acara keluarga. Hal inilah yang menyebabkan masyarakat keluarga Batak tidak menginginkan paham childfree dalam keluarga mereka. Childfree secara tidak langsung akan menghilangkan fungsi dan peran dari keluarga di mana selama ini keluarga dalam pandangan sosiologis yakni ada ayah, ibu dan anak.
Perubahan Gaya Hidup Kaum Ibu Muslim Sub Urban Galang Area Galang Galang Kabupaten Deli Serdang
Hutabarat, Windy Erwita;
Syahminan, Muhammad;
Muary, Rholand
Jurnal Antropologi Sumatera Vol 21, No 1 (2023): Jurnal Antropologi Sumatera, December 2023
Publisher : Program Studi Antropologi Sosial Pascasarjana Universitas Negeri Medan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24114/jas.v21i1.53954
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana perubahan bentuk gaya hidup kaum ibu muslim sub urban area Galang kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara, khususnya pada kelompok ibu muslim generasi milenial, serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Metode penelitian yang digunakan ialah penelitian kualitatif dengan pendekatan Deskriptif. Teknik pengumpulan data yang dipakai adalah melalui observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi. hasil penelitian ini diperoleh bahwa sebagian besar kaum ibu ini mengalami perubahan dalam perilaku konsumsinya dimana hal ini dapat dilihat pada gaya berbelanja yang lebih boros, gaya berpakaian yang kekinian, aktifitas media sosial, kebiasaan nongkrong di cafe, pilihan makanan dan gaya bersenang-senang yang mengutamakan kebahagiaan dan simbol dari gaya hidup modern. Kecenderungan ini dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Gaya hidup ini menjadikan konsumsi sebagai tujuan akhir dalam hidup sehinga terfokus pada citra dan simbolisme. penting untuk lebih kritis terhadap dampak konsumerisme ini dan untuk menjaga keseimbangan yang lebih antara nilai-nilai nyata dan dorongan konsumtif.
Pergeseran Nilai pada Remaja Tanah Bertuah Negeri Beradat di Desa Pulau Gambar Kabupaten Serdang Bedagai
Aprilianda, Nanda;
Syahminan, Muhammad;
Muary, Rholand
Jurnal Antropologi Sumatera Vol 21, No 1 (2023): Jurnal Antropologi Sumatera, December 2023
Publisher : Program Studi Antropologi Sosial Pascasarjana Universitas Negeri Medan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24114/jas.v21i1.53958
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pergeseran nilai pada remaja dan faktor yang menyebabkan pergeseran nilai pada remaja tanah bertuah negeri beradat di desa Pulau Gambar, Kecamatan Serbajadi, Kabupaten Serdang Bedagai. Adapun rumusan masalah yaitu, bagaiman pergeseran nilai pada remaja dan faktor yang menyebabkan pergeseran nilai pada remaja di desa Pulau Gambar. Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dan teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi tentang pergeseran nilai pada remaja tanah bertuah negeribberadat. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah bahwasanya remaja di desa Pulau Gambar mengalami pergeseran nilai dari tanah bertuah negeri beradat yaitu nilai berbudi pekerti yaitu nilai moral dari tingkah laku dan sikap yang menunjukan bahwa remaja sudah banyakmelakukan kenakalan seperti, tidak menghormati orang tua, suka berbohong, suka berkata kasar, mabuk-mabukan, tidak mengerjakan perintah Allah SWT dan bahkan berbuat kasar terhadap orang tua. Pergeseran nilai pada remaja di desa Pulau Gambar terjadi bukan hanya dirumah saja tetapi juga terjadi dan lingkungan masyarakat. Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi pergeseran nilaipada remaja yaitu, perkembangan teknologi, kurangnya kontrol sosial masyarakat dan kurangnya kontrol dari orang tua.