Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Apgar Score and the Amount of Blood of Mother in Labour in Delayed Cord Clamping Period Marlina, Marlina; Trianingsih, Indah; Sari, Adinda Juwita; Rosmadewi, Rosmadewi
JURNAL INFO KESEHATAN Vol 21 No 2 (2023): JURNAL INFO KESEHATAN
Publisher : Research and Community Service Unit, Poltekkes Kemenkes Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31965/infokes.Vol21.Iss2.1053

Abstract

A delay in cutting the umbilical cord in infants can increase the Apgar score in infants who experience asphyxia. Besides that, it can prevent postpartum hemorrhage from occurring. Most deaths from postpartum hemorrhage occur during the first 24 hours after delivery. This increase in the Apgar value proves that the longer the delay in the umbilical cord is carried out, even until it doesn't pulsate, the better the baby's body will be, which results in an increase in hemoglobin in the baby's body. The population in this study were all mothers in the 3-4 stage of labor in the city area. Bandar Lampung. The sample is part of the number and characteristics possessed by the population with 120 maternal. It is known the length of time delayed cord Clamping is performed on babies born (<30 seconds) as many as 3 (2.5%) respondents, while umbilical cord clamping is delayed for 30-180 seconds as many as 117 (97.5%) respondents, the Apgar score in newborns in the category of mild asphyxia - not asphyxia as much as 100%, the amount of blood that came out <250 grams was 93 (77.5% ) respondents and the amount of blood that came out 250 grams were 27 (22.5%) respondents. Delayed cord clamping does not increase the incidence of asphyxia and bleeding in laboring mothers, so immediate umbilical cord clamping can be performed by observing the baby's birth condition.
Upaya Peningkatan Kebersihan Diri Pada Anak Aliyanto, Warjidin; Rosmadewi, Rosmadewi
Jurnal Perak Malahayati: Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7, No 2 (2025): Volume 7 Nomor 2 November 2025
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jpmpkm.v7i2.23409

Abstract

Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) merupakan perilaku kesehatan yang dilakukan karena kesadaran pribadi sehingga mampu menolong diri sendiri pada bidang kesehatan serta memiliki peran aktif di masyarakat. Upaya untuk merubah perilaku masyarakat agar mendukung peningkatan derajat kesehatan dilakukan melalui program pembinaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). PHBS juga menjadi upaya mengajak individu, keluarga dan masyarakat untuk menjadi agen perubahan agar mampu meningkatkan kualitas perilaku sehari–hari dengan tujuan hidup bersih dan sehat (Kemenkes, 2011).PHBS dapat diterapkan di lingkungan rumah tangga, sekolah, tempat kerja maupun masyarakat umum. Secara umum, PHBS mencakup beberapa langkah untuk membiasakan diri dalam menjalani perilaku hidup sehat termasuk didalamnya tentang personal higiene. Personal hygiene adalah upaya yang dilakukan oleh individu untuk menjaga kebersihan pribadinya agar terhindar dari berbagai penyakit (Hidayat, 2008). Personal hygiene bertujuan untuk dapat mempertahankan perawatan diri, meningkatkan rasa aman dan relaksasi diri, dapat menghilangkan kelelahan, mencegah terjadinya infeksi, dan gangguan sirkulasi darah, serta dapat mempertahankan integritas pada jaringan serta kesejahteraan fisik dan psikis (Hidayat, 2008). Personal hygiene yang buruk pada anak berpotensi menyebabkan masalah kesehatan, seperti infeksi saluran pernapasan, anemia, penyakit kulit, cacingan, dan diare (Rosso & Arlianti, 2009 Dikutip dari Triasmari, 2019). Personal hygiene meliputi kebersihan tangan, kebersihan mulut dan gigi, kebersihan tubuh, kebersihan rambut, kebersihan kuku, kebersihan pakaian dan kebersihan area intim.Panti Asuhan Hasbi Rabbi Kota Bandar Lampung merupakan panti yang memberikan kenyamanan kepada masyarakat terutama dalam bidan usaha penyantunan anak yatim piatu dan dhuafa dengan pola panti asuhan dan lembaga pendidikan formal pondok pesantren, serta memberikan kesejahteraan dengan membantu kepada masyarakat yang dikatagorikan tidak mampu. Pada pengelolaan pendidikan formal ada sebagian peserta didik yang tinggal di asrama. Berdasarkan hasil observasi awal dan wawancara pada studi pendahuluan dengan pengurus atau pengasuh panti asuhan pada tanggal 21 Mei 2025, tidak semua anak yang berada di panti asuhan tersebut berperilaku baik dalam bidang kesehatan akan tetapi ada juga yang berprilaku kurang baik, hal ini ditunjukan anak yang masih tidak menerapkan perilaku bersih hidup sehat antara lain tidak buang sampah pada tempatnya, kebersihan diri yang kurang meliputi anak yang jarang mandi, tidak mengganti pakaian setelah mandi, tidak  gosok gigi terutama sebelum tidur, cara menggosok gigi yang salah.Oleh karenanya, tim pengabdi Poltekkes Kemenkes Tanjungkarang melakukan kegiatan pengabdian masyarakat  di Panti Asuhan Hasbi Rabbi Kota Bandar Lampung berupa penyuluhan tentang personal hygiene. Berkaitan dengan kegiatan pengabdian masyarakat, pengelola panti asuhan cukup antusias dan peserta didik cukup aktif dalam mengikuti kegiatan pengabmas. Sebagian besar peserta didik menyimak materi penyuluhan yang disampaikan dan antusias dalam mengikuti praktik tentang menggosok gigi dengan benar. Disarankan, agar pengelola panti  asuhan memprogramkan kegiatan usaha kesehatan sekolah bekerja sama dengan Puskesmas Terdekat dalam rangka peningkatan personal hygiene kepada peserta didiknya.