Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Faktor Risiko Kejadian Diare Pada Anak Di Puskesmas Toapaya, Toapaya Asri, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau Yola Mia Jayanti; Dyah Suryani
Jurnal Ilmu Kebidanan (Journal of Midwivery Science) Vol. 9 No. 1 (2021): Jurnal Ilmu Kebidanan (Journal of Midwifery Science)
Publisher : Jurnal Ilmu Kebidanan (Journal of Midwivery Science)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36307/7bdn3d19

Abstract

Background: Diarrhea is one of the major causes of morbidity and mortality around the world anddevelop countries. In 2014, there were 86 cases of diarrhea in Toapaya Asri District and 34 of themwere toddlers. Most of the people already have their own latrines, yet there are still toddlers excrete onimproper excretion places. There are also some families who are not having their own excretion facilitiesin their houses. The lack of knowledge toward individual cleanliness such as the mothers and toddlershard willingness to wash the hands is also related. The objective of this research is to discover the riskfactors of diarrhea incidence to toddlers at Toapaya primary health care in Toapaya Asri VillageRegency of Bintan Province of Riau Island.Method: This quantitative research used cross sectional study design by 71 respondents of toddlersamples. The primary data in this research were obtained by conducting interviews, observations,questionnaires, and check list. Findings: The relation of toddlers’ excretion behavior and the diarrheaincidence are in P-value 0,002; latrines ownership and the diarrhea incidence are in P-value 0,008.Meanwhile, the variable of mothers’ hand-washing habit has no relation toward the diarrhea incidencefrom its P-value 1,000; and the variable of toddlers’ handwashing habit has no relation toward thediarrhea incidence from its P-value 0,756.Conclusion : This research shows that the excretion behavior of toddlers and the ownership of latrinesrelate the diarrhea incidence to toddlers. On the other hand, mothers’ and toddlers’ hand-washing habithas no relation toward the diarrhea incidence.Key Words: Diarrhea, Latrines’ Ownership, Cross Sectional
ANALISIS FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN GEJALA NEROTOKSIK PADA PENGRAJIN KULIT DI DESA MANDING KABUPATEN BANTUL Bambang Indra Subekti; Tri Wahyuni Sukesi; Dyah Suryani
Mitra Raflesia (Journal of Health Science) Vol. 17 No. 2 (2025): Volume 17 Nomor 2 Juli-Desember 2025
Publisher : LPPM STIKES BHAKTI HUSADA BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51712/7wkhtw81

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara ventilasi ruang kerja dan penggunaan alat pelindung diri (APD) dengan gejala neurotoksik pada pengrajin kulit di Desa Manding, Kabupaten Bantul. Latar belakang dari studi ini berangkat dari kondisi lingkungan kerja pengrajin kulit yang masih minim penerapan keselamatan dan kesehatan kerja, padahal mereka terpapar bahan kimia berbahaya seperti pelarut organik dan logam berat yang dapat menimbulkan gangguan sistem saraf. Kurangnya ventilasi dan rendahnya penggunaan APD diduga berkontribusi terhadap tingginya kejadian gejala neurotoksik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara ventilasi ruang kerja dan penggunaan alat pelindung diri (APD) dengan gejala neurotoksik pada pengrajin kulit di Desa Manding, Kabupaten Bantul. Metode: Metode yang digunakan adalah penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional. Sampel terdiri dari 92 pengrajin kulit yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan lembar observasi, kemudian dianalisis secara bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil: Hasil menunjukkan bahwa 57,6% responden mengalami gejala neurotoksik. Sebanyak 40,2% responden bekerja di ruang dengan ventilasi yang kurang baik dan 78,3% tidak menggunakan APD. Uji bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara ventilasi ruang kerja (p < 0,05) dan penggunaan APD (p < 0,05) dengan gejala neurotoksik. Kesimpulan: Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa ventilasi ruang kerja yang tidak memadai dan rendahnya penggunaan APD berhubungan signifikan dengan kejadian gejala neurotoksik. Oleh karena itu, diperlukan intervensi berupa edukasi keselamatan kerja, penyediaan APD yang sesuai, dan perbaikan sistem ventilasi untuk menurunkan risiko gangguan kesehatan akibat paparan bahan kimia. Kata kunci: Gejala Neurotoksik, Ventilasi Ruang Kerja, Alat Pelindung Diri, Pengrajin Kulit, Bahan Kimia   ABSTRACT Background: The background of this study stems from the working environment of leather craftsmen, which still lacks adequate implementation of occupational health and safety measures. These workers are exposed to hazardous chemicals such as organic solvents and heavy metals that can cause nervous system disorders. Poor ventilation and low use of PPE are suspected to contribute to the high incidence of neurotoxic symptoms. Methods: The method used was an analytical observational study with a cross-sectional design. The sample consisted of 92 leather craftsmen selected using purposive sampling. Data were collected through questionnaires and observation sheets, then analyzed bivariately using the chi-square test. Results: The results showed that 57.6% of respondents experienced neurotoxic symptoms. A total of 40.2% of respondents worked in poorly ventilated spaces, and 78.3% did not use PPE. Bivariate analysis showed a significant relationship between workplace ventilation (p < 0.05) and the use of PPE (p < 0.05) with neurotoxic symptoms. Conclusion: The conclusion of this study is that inadequate workplace ventilation and low use of PPE are significantly associated with the occurrence of neurotoxic symptoms. Therefore, interventions such as occupational safety education, provision of appropriate PPE, and improvements in ventilation systems are necessary to reduce the risk of health problems due to chemical exposure.  Keywords: Neurotoxic symptoms, Workplace ventilation, Personal protective equipment (PPE), Leather craftsmen, Chemical substances
APLIKASI SEMAR MESEM (SISTEM ELEKTRONIK MONITORING ANAK RAWAT MENCEGAH STUNTING EFEKTIF MODERN) UNTUK MENGENDALIKAN STUNTING DI POSYANDU DAHLIA Dyah Suryani; Sri Handayaningsih; Solikhah, Solikhah; Taufan Ali; Ira Hardina; Mohammad Soleh; Aulia Nahda Az-Zahra
Multidisiplin Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 03 (2025): Multidisiplin Pengabdian Kepada Masyarakat, inpress edition 2025
Publisher : Sean Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permasalahan utama yang dihadapi mitra, yaitu Posyandu Dahlia di Padukuhan Pringgading, Kelurahan Guwosari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, adalah pencatatan status gizi balita yang masih dilakukan secara manual sehingga data belum terintegrasi dan rawan kesalahan. Kondisi ini berdampak pada keterlambatan deteksi dini risiko stunting dan pengambilan keputusan dalam intervensi gizi. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas kader posyandu dalam melakukan pemantauan pertumbuhan anak melalui penerapan aplikasi Semar Mesem (Sistem Elektronik Monitoring Anak Rawat Mencegah Stunting Efektif Modern). Metode pelaksanaan meliputi sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan kader posyandu dalam penggunaan aplikasi digital untuk pencatatan dan pelaporan status gizi balita. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test untuk menilai peningkatan pengetahuan kader serta observasi terhadap efektivitas penggunaan aplikasi. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan kader dari 79% menjadi 100% setelah pelatihan, serta meningkatnya efisiensi dan akurasi pencatatan data gizi anak. Selain itu, kader melaporkan kemudahan dalam memantau pertumbuhan anak dan masyarakat menunjukkan peningkatan kesadaran terhadap pentingnya gizi seimbang. Kegiatan ini memberikan dampak positif dalam memperkuat sistem pemantauan stunting berbasis masyarakat, sekaligus membuka peluang replikasi dan pengembangan aplikasi Semar Mesem di posyandu lain secara berkelanjutan.