Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Factors Influencing Success of Cadre Empowerment in Stunting Prevention in Indonesia: A Scoping Review Wiwaha, Guswan; Husnida, Nintinjri; Adnani, Qorinah Estiningtyas Sakilah; Hilmanto, Dany
Indonesian Journal of Global Health Research Vol 6 No S5 (2024): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v6iS5.4603

Abstract

Cadres are public health volunteers chosen from a local community. Cadres should undergo constant educational training and empowerment since they play an active role in monitoring health issues in their community, in this case stunting. The planning, implementation, and evaluation processes of cadre empowerment are not always successful and effective. This scoping review aims to identify the factors that influence the success of cadre empowerment in Indonesia, so that a model of empowerment and education can be formulated by focusing on the factors that can give the most optimal results. This scoping review is based on the guidelines of PRISMA-ScR. The article search involves two databases, PUBMED and Google Scholar. The keywords used include: Stunting [MeSH] AND “Health Cadres OR Health volunteers” AND Factors associated OR determinant. “Stunting AND Kader AND pemberdayaan AND Factor”. The review resulted in the selection of eight articles, with one focusing on a particular region of Sumatera (Aceh), while the rest are on Java (West Java, Yogyakarta, and East Java). The review finds certain shared factors that influence the success of cadre empowerment, including KAP (knowledge, attitude, and practice), self-efficacy, sectoral and community support, and resources.
Mothers’ Knowledge and Skills as Key Factors in Preventing Stunting in Toddlers: A Case Study in Malingping, Banten Rokayah, Yayah; Kuswandi, Kadar; Nuraeneu, Yaneu; Husnida, Nintinjri
Gema Lingkungan Kesehatan Vol. 23 No. 4 (2025): Gema Lingkungan Kesehatan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/gelinkes.v23i4.365

Abstract

Stunting in children under five years of age remains a serious public health problem in Indonesia because it affects physical growth, cognitive development, and long-term productivity. This study aims to analyse mothers' knowledge and skills in preventing stunting and the relationship between sociodemographic characteristics and these two aspects in the working area of the Malingping Community Health Centre, Banten. The study used a descriptive-analytical survey design with a cross-sectional approach involving 80 mothers of toddlers selected through purposive sampling. Data were collected using a structured questionnaire and analysed univariately and bivariately using the Chi-square test. The results showed that most mothers did not know the definition of stunting (81.3%), its causes (86.3%), signs (83.8%), or how to prevent it (88.8%). Mothers' skills in prevention were also low, with 78.8% unable to prepare a balanced complementary feeding menu, 73.7% lacking hygiene when preparing food, and 81.2% rarely monitoring their children's growth. Bivariate analysis showed no significant relationship between education and knowledge (p = 0.721), but there was a significant relationship between education and skills (p = 0.039). This study concludes that although mothers' knowledge about stunting is still low, practical skills are more influenced by education level. These findings emphasise the importance of educational interventions that not only increase knowledge but also build mothers' practical skills through community-based approaches and support from health cadres.
Pengaruh Paritas, Umur Ibu Dan Berat Bayi Terhadap Ruputure Perineal Pada Ibu Bersalin Di Puskesmas Mandala Rangkasbitung Tahun 2020 Husnida, Nintinjri; Iswanti, Tutik; Yuningsih, Nani; Sutianingsih, Hani
Journal of Midwifery and Health Research Vol. 1 No. 1 (2022): Journal of Midwifery and Health Research
Publisher : Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.947 KB) | DOI: 10.36743/jmhr.v1i1.414

Abstract

Kematian ibu menurut definisi WHO adalah kematian selama masa kehamilan atau dalam jangka waktu 42 hari setelah berakhirnya masa kehamilan, yang disebabkan oleh segala penyebab yang berhubungan dengan masalah kehamilan atau pengobatannya, tetapi bukan disebabkan oleh kecelakaan/cedera. Berdasarkan laporan kematian ibu dan bayi baru lahir dari Dinas Kesehatan Provinsi Banten tahun 2017, jumlah kematian ibu sebanyak 277 kasus Jumlah ini lebih kecil dari jumlah kasus tahun 2016 yaitu 253 kasus yang disebabkan oleh komplikasi kehamilan, persalinan, dan nifas diantaranya perdarahan, hipertensi dalam kehamilan, infeksi, gangguan pada sistem peredaran darah dan lain-lainJumlah kematian bayi sebanyak 1246 kasus, jumlah ini lebih kecil dari jumlah kematian tahun 2016 yaitu 1297 kasus, adapun penyebab tingginya angka kematian bayi kematian di Provinsi Banten yaitu bayi berat lahir rendah (BBLR), asfiksia, tetanus neonatorum, sepsis, kelainan kongenital, dan lain-lain. Ruptur perineum adalah robekan obstetrik yang terjadi pada daerah perineum akibat ketidakmampuan otot-otot panggul dan jaringan lunak untuk menampung kelahiran janin. Melahirkan sering menyebabkan jaringan parut jalan lahir. Luka yang terjadi biasanya kecil namun sering juga terjadi luka yang luas dan berbahaya, untuk itu setelah melahirkan harus dilakukan pemeriksaan vulva dan perineum. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh paritas, umur ibu dan berat badan bayi terhadap ruptur perineum pada ibu bersalin di Puskesmas Mandala Rangkasbitung tahun 2020. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dan menggunakan partograf sebagai alat observasi. Jumlah sampel yang digunakan adalah 180 responden. Data penelitian ini diambil dengan menggunakan data sekunder. Analisis data untuk mengetahui hubungan antar variabel menggunakan Chi-Square. Hasil penelitian univariat menunjukkan bahwa ibu bersalin mengalami ruptur perineum 33,3%, ibu dengan primipara mengalami ruptur perineum 50,9%, kategori ibu usia < 20 -/> 35 tahun mengalami ruptur perineum sebesar 42,1%, ruptur perineum terjadi pada ibu yang mengalami ruptur perineum. melahirkan bayi dengan berat < 3100 gram 26,6%. Hasil bivariat menunjukkan bahwa ada pengaruh paritas dengan kejadian ruptur perineum dengan nilai P 0,002 dan OR 2,958, Tidak ada pengaruh umur dan berat badan bayi dengan kejadian ruptur perineum.
Pengaruh Senam Maryam Terhadap Lama Kala I Pada Ibu Bersalin Primigravida Di Klinik Mutiara Medika Rangkasbitung Kabupaten Lebak Iswanti, Tutik; Husnida, Nintinjri
Journal of Midwifery and Health Research Vol. 2 No. 02 (2024): Journal of Midwifery and Health Research
Publisher : Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36743/jmhr.v2i02.700

Abstract

Proses persalinan dipengaruhi oleh beberapa faktor yang disebut 5P, yaitu power, passage, passenger, penolong, dan psikis. Lama persalinan dapat disebabkan oleh banyak faktor, namun yang prinsip adalah kontraksi tidak adekuat, faktor janin (malpresentasi, malposisi, dan janin besar) dan faktor jalan lahir. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh senam maryam terhadap lama kala I ibu bersalin primigravida. Metode yang digunakan Quasy Experiment dengan postest, jumlah sampel 33 responden, teknik pengambilan sampel yang memenuhi kriteria inklusi. Metode intervensi yang akan dilakukan adalah ibu hamil Trimester III dengan umur kehamilan 28-33 minggu akan diintervensi dengan senam maryam seminggu tiga kali selama empat minggu. Setelah intervensi selama empat minggu akan dilihat lama kala I pada saat persalinan. Kemudian data diolah dengan Uji Independen Test dan didapatkan hasil bahwa terdapat pengaruh antara senam Maryam dengan lama kala I dengan p value 0,04. Hal ini dapat membuktikan bahwa senam Maryam dapat mempercepat lama kala I pada Ibu bersalin Primigravida.
INCREASING THE CAPACITY OF CADRE FOR CONTROLLING HIGH BLOOD PRESSURE (HYPERTENSION) IN THE COMMUNITY IN THE WORKING AREA OF CIBADAK HEALTH CENTER RANGKASBITUNG LEBAK DISTRICT Rokayah, Yayah; Husnida, Nintinjri; Yuningsih, Nani; Iswanti, Tutik; Widjanarko, Bangun
Jurnal Menara Pengabmas Vol. 1 No. 1 (2023): Jurnal Menara Pengabmas
Publisher : POLTEKKES KEMENKES BANTEN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36743/jmp.v1i1.491

Abstract

57 million (63%) mortality occurs in the world, and 36 million (43%) morbidity is caused by non-communicable diseases. WHO in 2010 reported that 60% of the causes of death for all ages in the world were PTM and 4% died before the age of 70 years. Community service in the regional partnership program contributed to the Cibadak Rangkasbitung Community Health Center program with the Lebak District Health Office, PTM patient care with hypertension control. Efforts by the Health Office, Cibadak Health Center to educate the community on prevention, control through POSBINDU, training of cadres in the village on hypertension control. not yet optimal and evenly reach the community. The solution is to increase the understanding of cadres in the village of the Cibadak Community Health Center who have not had training in controlling high blood pressure (hypertension). The method of carrying out the Pre test, providing information inviting health service resource persons to increase the cadre's understanding of the concept of hypertension, prevention efforts, early detection. Lecturers train the skills of cadres to measure blood pressure with digital blood pressure. The next meeting was Post test, Monev cadres conducted education, examined 5 patients with high risk of hypertension. There was an increase in the average score of community knowledge about hypertension from 64.3% to 88.3% from 64.3%, there was an increase in the skills of cadres to measure blood pressure with digital blood pressure from 5 people to 12 people. As a continuation of activities, there needs to be community participation, good cooperation between health cadres and village supervisors, program holders
Empowering Cadres in The Use of The Child Development Card (KKA) Application As An Early Detection Tool for Stunting Incidents husnida, nintinjri
Jurnal Menara Pengabmas Vol. 2 No. 1 (2024): Vol 2 No 1 (2024) : Jurnal Menara Pengabmas
Publisher : POLTEKKES KEMENKES BANTEN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36743/jmp.v2i1.736

Abstract

Stunting adalah kondisi ketika balita memiliki tinggi badan dibawah ratarata. Berdasarkan hasil survei pendahuluan, permasalahan yang ditemukankan di Puskesmas Kalanganyar antara lain : Salah satu wilayah kerja Puskesmas kalanganyar Pada tahun 2019, yaitu Sangiangtanjung menjadi bagian dari enam ratus desa prioritas untuk penanganan stunting yang dipilih dari enam puluh kabupaten/ kota prioritas, Tahun 2019 terdapat 11 wilayah tempat tinggal balita di Desa Sangiangtanjung, Peran kader dalam upaya pemantauan perkembangan anak ini adalah sebagai fasilitator orangtua dalam memberikan pola asuh pada dan stimulasi perkembangan anak melalui perannya dalam kegiatan bina keluarga balita. Oleh sebab itu, perlunya upaya untuk memberikan pemahaman pengetahuan dan keterampilan Kader dalam mendeteksi dini stunting melalui aplikasi kartu kembang anak (KKA), Kartu Kembang Anak (KKA) merupakan alat sederhana yang digunakan untuk memantau perkembangan dan kepandaian anak serta suatu alat untuk mendeteksi adanya penyimpangan atau gangguan perkembangan sedini mungkin yang bisa dilakukan oleh ibu / keluarga balita serta kader Posyandu dan Kader Bina Keluarga Balita