Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

POLA ASUH YANG MEMUNCULKAN KEPRIBADIAN MACHIAVELLIANISM: A SYSTEMATIC REVIEW Tausi, Salwa Divani; Satiadarma, Monty P.
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora , dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v8i1.27284.2024

Abstract

Orang tua merupakan sekolah dan pendidik pertama bagi individu. Oleh karena itu, bentuk pengasuhan berperan terhadap perkembangan individu di kemudian hari termasuk kepribadian Machiavellianism. Penelitian terdahulu menemukan bahwa penolakan dan juga pengabaian terhadap anak bisa menimbulkan Machiavellianism pada anak. Namun ada juga penelitian yang menunjukkan tidak adanya hubungan antara pola asuh dengan kepribadian Machiavellianism. Untuk memperjelas hal ini, penelitian dengan metode systematic review dilakukan guna mencari tahu bentuk pola asuh apa saja yang berpotensi memunculkan kepribadian Machiavellianism pada individu. Pencarian literatur dilakukan melalui dua database yaitu Google Scholar dan Semantic Scholar dengan rentang waktu di antara 1998-2023. Penelitian haruslah (a) membahas terkait pola asuh dan kepribadian Machiavellianism; (b) diterbitkan dalam bahasa Inggris maupun Indonesia; (c) memiliki kualitas jurnal yang baik; serta (d) open access. Sebanyak delapan artikel diikutsertakan pada analisis systematic review. Hasil menunjukkan tujuh dari delapan artikel menemukan adanya hubungan antara pola asuh dengan kepribadian Machiavellianism, sedangkan satu artikel lainnya tidak. Dari ketujuh artikel tersebut, pola asuh yang berperan terhadap kemunculan kepribadian Machiavellianism, yaitu (a) authoritarian: overproteksi, ayah yang keras, komunikasi yang buruk, serta alienasi oleh ibu; (b) neglect: penolakan serta pengabaian; dan (c) indulgent: tidak konsisten. Diharapkan hasil review bisa menjadi dasar dalam mengantisipasi dan mencegah peluang terbentuknya kepribadian Machiavellianism dalam proses pengasuhan.
GAMBARAN KECEMASAN OLAHRAGA ATLET CATUR PRIA DAN WANITA TERKAIT DENGAN ELO RATING Widyachandra, Christine Elisabeth; Satiadarma, Monty P.
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora , dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v8i1.27537.2024

Abstract

Kecemasan olahraga merupakan perasaan ketakutan dan ketegangan seorang atlet dalam menghadapi situasi kompetitif yang dirasakan sebagai suatu yang bahaya atau mengancam. Kecemasan olahraga pada umumnya ditandai dengan munculnya pikirin-pikiran negatif yang menyebabkan kesulitan berkonsentrasi hingga perubahan fisiologis seorang atlet. Kecemasan yang berlebihan pada seorang atlet dapat mempengaruhi performanya sehingga tidak dapat menampilkan performa yang maksimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kecemasan antara atlet catur pria dan wanita yang berkaitan dengan elo rating. Elo rating adalah penilaian peringkat keterampilan berdasarkan prestasi kejuaraan. Metode penulisan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif deskriptif. Karakteristik partisipan penelitian ini adalah atlet catur yang sudah memiliki elo rating internasional FIDE minimal sejak setahun yang lalu. Penelitian ini melibatkan 4 atlet catur pria dan 4 atlet catur wanita. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik wawancara secara luring maupun daring sesuai dengan persetujuan masing-masing partisipan. Pedoman wawancara dalam penelitian ini disusun berdasarkan alat ukur Sport Anxiety Scale-2 (SAS-2). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa atlet catur wanita merasa lebih cemas pada dimensi worry dan somatic dibandingkan dengan atlet catur pria. Atlet catur wanita lebih sering merasa khawatir dan tidak percaya diri yang berdampak pada gangguan fisik. Gangguan fisik atlet catur wanita juga memiliki intensitas yang lebih tinggi dibandingkan atlet catur pria. Faktor-faktor yang menyebabkan seorang atlet catur pria maupun wanita merasa cemas adalah elo rating lawan, perasaan takut akan menampilkan performa yang buruk, takut akan kekalahan, level pertandingan yang tinggi, tuntutan dan target yang ditetapkan pihak luar.  
Perception of Divorced Mothers on the Role of Father's Involvement in Child Emotional Regulation with Coparental Interaction as Moderator Hariadi, Hariadi; Satiadarma, Monty P.; Roswiyani
Analitika: Jurnal Magister Psikologi UMA Vol. 16 No. 2 (2024): ANALITIKA DECEMBER
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/analitika.v16i2.12869

Abstract

When parents divorce, fathers are often less involved in parenting. Whereas one of the factors that can affect the ability of emotion regulation in children and adolescents is father involvement in parenting. This study aims to determine the relationship between father involvement and emotion regulation of children and adolescents which is moderated by coparental interaction. Coparental interaction is how a divorced couple is involved in raising children together even though their marriage relationship has ended. The participants of this study were 330 divorced women, who had children aged ranging from 2-18 years. Data collection used three measurement tools, namely the Father Engagement, the Emotion Regulation Checklist (ERC), and the Coparenting Scale for Dissolved Relationships (MCS-DR). The results show that Coparental interaction acts as a moderator in the relationship between father involvement and emotion regulation. This study provides evidence that coparental interaction can increase father involvement in parenting which has an impact on children's emotion regulation. Implementing programs that can maintain a pattern of mutually supportive and cooperative relationships in divorced couples can reduce the impact of divorce on children.
The Role of Family Functioning in the Quality of Life of Internet-Addicted Generation Z Individual Riyanto, Melvin Adrian; Roswiyani, Roswiyani; Satiadarma, Monty P.
International Journal of Science and Society Vol 7 No 2 (2025): International Journal of Science and Society (IJSOC)
Publisher : GoAcademica Research & Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/ijsoc.v7i2.1433

Abstract

The rapid development of information technology and internet access has significantly impacted Generation Z, the largest group of internet users in Indonesia. While the internet provides various benefits, excessive use may lead to internet addiction, negatively affecting quality of life, particularly in psychological, physical, and social domains. Family functioning plays a crucial role in supporting the well-being of individuals experiencing internet addiction. This study aims to examine the effect of family functioning on the quality of life of Generation Z individuals with internet addiction. A quantitative approach was employed involving 633 participants aged 17-27 years who were categorized as having moderate to severe internet addiction. Measurements were conducted using the Internet Addiction Test (IAT) by Young (1998), WHOQOL-BREF by the World Health Organization (1996), and the McMaster Family Assessment Device-General Functioning (FAD-GF) by Epstein, Baldwin, & Bishop (1983). Data were analyzed using Pearson correlation and linear regression. The results revealed a significant negative correlation between family functioning scores and quality of life, indicating that better family functioning (lower FAD-GF scores) is associated with higher quality of life. Family functioning contributed most to the social domain (r = -.299, R² = .099, p < .001), followed by the environmental (r = -.275, R² = .081, p < .001), psychological (r = -.234, R² = .061, p < .001), and physical dimensions (r = -.161, R² = .031, p < .001). These findings emphasize the importance of family functioning particularly emotional and social support in enhancing the quality of life among Generation Z individuals with internet addiction.
The Moderating Role of Family Harmony in the Relationship Between Resilience and Suicidal Ideation Among University Students Syola, Devi Uli Grace; Soetikno, Naomi; Satiadarma, Monty P.
International Journal of Science and Society Vol 7 No 2 (2025): International Journal of Science and Society (IJSOC)
Publisher : GoAcademica Research & Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/ijsoc.v7i2.1445

Abstract

Suicidal ideation among college students is a significant mental health issue that requires serious attention. This study aims to examine the role of family harmony as a moderator in the relationship between resilience and suicidal ideation in college students. The study used a quantitative approach with a non-experimental design and convenience sampling method. A total of 388 college students aged 18-25 years old who live with or regularly interact with their families participated in an online survey using the Beck Scale for Suicide Ideation (BSSI), Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC), and Family Harmony Scale (FHS-24). The results of the moderation regression analysis showed that resilience has a significant negative relationship with suicidal ideation, which means that the higher a person's resilience, the lower the tendency of suicidal ideation. In addition, family harmony acted as a moderator in this relationship; students with high resilience from harmonious families showed lower levels of suicidal ideation compared to those from less harmonious families. These findings confirm the importance of family support and strengthening resilience as protective strategies to prevent suicidal ideation among college students. The implications of this study lead to the development of intervention programs that focus on coping training, psychological counseling, and family education to improve the mental well-being of university students.
Millennials' Marriage Readiness: The Role of Marriage Perceptions and Social Support Wilis, Anastasia Putri Leleng; Satiadarma, Monty P.; Roswiyani
Psyche 165 Journal Vol. 18 (2025) No. 2
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Putra Indonesia YPTK Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35134/jpsy165.v18i2.533

Abstract

Globalization has caused significant changes in the lifestyle patterns of young adults, including a decline in marriage rates, especially among the Millennial generation. In Indonesia, many Millennials are delaying or even not considering marriage. Therefore, it is important to understand the factors that influence marriage readiness. This study aims to analyze the influence of marriage perceptions and social support on marriage readiness among the Millennial generation. The method used in this study is quantitative, involving 775 unmarried individuals aged 28–43 years. The instruments used for collection were The Marital Readiness Scale to measure marriage readiness, Marriage Perception Scale to measure marriage perceptions, and Multidimensional Scale of Perceived Social Support to measure social support. The results of the analysis using Pearson correlation showed a significant positive relationship between marriage perceptions and marriage readiness ( r = 0.480), as well as between social support and marriage readiness ( r = 0.542). In addition, linear regression analysis showed that marriage perceptions contributed 23% to marriage readiness, while social support contributed 29%. These findings suggest that positive views of marriage and adequate social support can improve marriage readiness among Millennials, leading to a more stable and harmonious marriage. Improved marriage readiness can contribute to happier and longer-lasting marriages. Therefore, interventions to improve perceptions and social support may be effective strategies in preparing Millennials for successful marriages.
HUBUNGAN KETIDAKPUASAN CITRA TUBUH DENGAN KECENDERUNGAN PEMBELIAN IMPULSIF PADA WANITA DEWASA AWAL Wijaya, Vioren Chandra; Satiadarma, Monty P.; Wijaya, Erik
Afeksi: Jurnal Psikologi Vol. 3 No. 4 (2024): Afeksi: Jurnal Psikologi
Publisher : Afeksi: Jurnal Psikologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.572349/afeksi.v3i4.2388

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi korelasi antara pembelian impulsif dewasa awal dan ketidakpuasan citra tubuh. Penelitian ini menggunakan metode pengambilan sampel non-probabilitas dan bersifat kuantitatif. Pengambilan Snow Ball Smpling digunakan untuk mengumpulkan data untuk penyelidikan ini. Ada 169 orang yang memenuhi kriteria berikut dan berpartisipasi dalam penelitian ini: Wanita yang tinggal di Jakarta, berusia antara 19 hingga 40 tahun. MBSRQ-AS, adaptasi dari instrumen pengukuran kecenderungan pembelian impulsif yang dikembangkan oleh Verplanken (2001) dan dikelola oleh Amalia (2018), adalah instrumen yang digunakan untuk pengukuran. Variabel kecenderungan pembelian impulsif dan dimensi orientasi penampilan terbukti memiliki hubungan positif (r = .174, p = .024 <.05.) serta hubungan negatif (r = -.176, p = .022 <.05.) dalam penelitian ini. Dari data yang diambil bahwa wanita dewasa muda lebih cenderung membeli secara impulsif jika mereka mendapat skor lebih tinggi pada variabel orientasi penampilan dan kepuasan daerah tubuh.
PERANAN KEPUTUSASAAN DAN RASA SYUKUR TERHADAP DISTRES PSIKOLOGIS MAHASISWA PADA MASA TRANSISI MENUJU KEDEWASAAN Condinata, Frida; Satiadarma, Monty P.; Suyasa, Tommy Y. S.
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 4 No. 2 (2024): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v4i2.35056

Abstract

Manusia tidak pernah terlepas dari perkembangan baik secara fisik, sosial, maupun psikis. Pada periode akhir remaja sampai dengan periode dua puluh-an tahun, dikenal sebagai istilah emerging adulthood dengan fokus pada usia 18-25 tahun. Pada masa ini banyak indivdu yang merasakan distres psikologis, hal tersebut dikarenakan subjek memiliki keputusasaan yang tinggi dan rendahnya rasa syukur. Teknik pengambilan sample dalam penelitian ini adalah accidental sampling. Subjek partisipan dalam penelitian ini adalah mahasiswa aktif S1 ataupun S2 yang berusia 18-25 tahun sebanyak 210 data partisipan yang terkumpul. Metode pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan skala pengukuran berupa Beck Hopelessness Scale, Gratitude Questionnaire-6, dan Kessler Psychological Distress Scale. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan SPSS for windows 26. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara keputusasaan dan rasa syukur terhadap distres psikologis mahasiswa yang berada pada masa emerging adulthood. Hasil penelitian ini ditemukan bahwa adanya hubungan yang positif antara keputusasaan dengan distres psikologis dengan nilai korelasi spearman sebesar 0.519, p<0.005 dan ditemukan bahwa adanya hubungan yang negatif antar rasa syukur dengan distres psikologis dengan nilai korelasi spearman sebesar -0.290, p<0.005.
The Effect Of Dual Role Conflict On Marital Satisfaction Moderated By Emotional Regulation In Young Married Couples In The Special Region Of Jakarta Imara, Analisa; Roswiyani, Roswiyani; Satiadarma, Monty P.
JHSS (JOURNAL OF HUMANITIES AND SOCIAL STUDIES) Vol 9, No 2. (2025): Journal of Humanities and Social Studies
Publisher : UNIVERSITAS PAKUAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jhss.v9i2..12720

Abstract

This study examines the influence of dual role conflict on marital satisfaction among young married couples in Jakarta, with emotion regulation as a moderating variable. The background of this research lies in the increasing demands of household roles, especially for couples who both work. Dual role conflict arises when individuals face pressure to fulfill multiple roles simultaneously, such as being a spouse, a parent, and a professional. This study employed a quantitative approach using a survey method involving 200 participants aged 20–40 years who were already married. The majority of participants were women who actively worked and carried out multiple roles in their daily lives. The instruments used included the Role Conflict Scale to measure dual role conflict, the Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) to measure emotion regulation, and the Enrich Marital Satisfaction Scale (EMSS) to measure marital satisfaction. Data analysis was conducted using moderation regression to determine whether emotion regulation strengthens or weakens the relationship between dual role conflict and marital satisfaction. The results showed that dual role conflict had a significant negative effect on marital satisfaction. However, emotion regulation was found to moderate this relationship. Individuals with strong emotion regulation skills were more capable of managing role pressures and maintaining the quality of their marital relationships. These findings highlight the importance of emotion regulation training as an adaptive strategy, particularly for working women. The practical implications are directed toward counselors, psychologists, and policymakers in providing support for married couples in the modern era.
PERAN KEBERFUNGSIAN KELUARGA SEBAGAI MODERATOR DALAM HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH OVERPROTEKTIF DAN TINGKAT KECEMASAN PADA REMAJA: The Role of Family Functioning as a Moderator in the Relationship between Overprotective Parenting and Anxiety Levels in Adolescents Satiadarma, Monty P.; Soetikno, Naomi; Judodihardjo, Evelyn
Jurnal Ilmu Keluarga dan Konsumen Vol. 17 No. 3 (2024): JURNAL ILMU KELUARGA DAN KONSUMEN 17.3
Publisher : Department of Family and Consumer Sciences, Faculty of Human Ecology, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24156/jikk.2024.17.3.276

Abstract

Kecemasan merupakan salah satu gangguan yang paling banyak ditemui pada remaja dan sering kali dikaitkan dengan pola asuh orang tua dan kelekatan antara orang tua dan anak, sedangkan keberfungsian keluarga secara keseluruhan juga memiliki peran penting sebagai wadah tumbuh kembang bagi anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pola asuh overprotektif dan tingkat kecemasan pada remaja dengan keberfungsian keluarga sebagai moderator. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional. Partisipan dalam penelitian ini terdiri dari 288 remaja berusia 17–21 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Partisipan memiliki tingkat kecemasan sedang sampai sangat berat, dan tinggal bersama salah satu atau kedua orang tuanya. Hasil uji korelasi menunjukkan bahwa pola asuh overprotektif berkorelasi secara positif terhadap kecemasan secara signifikan (r = 0,207, p < 0,05), yakni terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh overprotektif dan kecemasan pada remaja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberfungsian keluarga yang fungsional memiliki peran sebagai moderator, yakni menurunkan tingkat kecemasan pada remaja (β = -2,153, p = 0,038). Temuan ini mengimplikasikan bahwa upaya menurunkan ciri pola asuh yang terlalu protektif dan mempertimbangkan keberfungsian keluarga yang lebih baik merupakan hal yang penting dalam rangka menurunkan tingkat kecemasan remaja.