Articles
Pendekatan Soft System Methodology Untuk Penerapan Proses Sertifikat Layak Fungsi (SLF) Suatu Bangunan Gedung
Syapril Janizar;
An An Anisarida
GEOPLANART Vol 2, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Winaya Mukti
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (587.922 KB)
|
DOI: 10.35138/gp.v2i2.187
SSM adalah sebuah metodologi yang cocok untuk membantu suatu organisasi dalam menjelaskan tujuan mereka dan kemudian merancang sistem aktivitas manusia untuk mencapai tujuan tersebut. Metodologi SSM didasarkan pada 7 tahapan proses yang dimulai dari pengklarifikasian situasi masalah yang tidak terstruktur melalui perancangan system aktivitas manusia yang diharapkan membantu memperbaiki situasi Model konseptual ini kemudian dibandingkan dengan situasi masalah dalam rangka mengidentifikasi perubahan yang layak. Berpikir serba sistem merupakan cara berpikir baru yang memandang permasalahan secara utuh (tidak terpisah-pisah). Berpikir sistem merupakan suatu bidang transdisiplin yang muncul sebagai respon terhadap keterbatasan dari pendekatan teknikal dalam proses reduksi untuk memecahkan suatu permasalahan tertentu yang dalam hal ini dicoba untuk diterapkan melalui SSM sebagai suatu metode dalam kegiatan penilaian kelayakan teknis fungsi bidang struktur sebuah bangunan gedung .
Evaluasi Kondisi Permukaan Jalan Dengan Metode Road Condition Index (RCI)
An an Anisarida
GEOPLANART Vol 1, No 2 (2017): Edisi November
Publisher : Universitas Winaya Mukti
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (373.747 KB)
|
DOI: 10.35138/gp.v1i2.139
Ketersediaan jalan sebagai prasarana transportasi dapat menumbuhkan konektivitas antar lokasi dan daerah yang membentuk suatu jaringan transportasi. Konektivitas antara daerah yang satu dengan daerah lain dapat terbentuk dengan adanya berbagai jaringan transportasi antara daerah dapat memungkinkan bagi pemindahan barang dan jasa atau orang dari satu tempat ke tempat lainnya. Kondisi jalan yang baik dan berdaya guna merupakan tujuan dari setiap perencanaan dan pembangunan prasarana transportasi. Pertumbuhan penduduk yang tinggi menambahkan kondisi jalan yang menurun seiring dengan penurunan kemampuan jalan menurut umur rencana. Kemampuan jalan dalam pemenuhan pelayanan pengguna jalan yang memburuk dapat menyebabkan konektivitas jaringan jalan dalam kota terganggu. Hal ini dapat membuat dampak yang tidak diinginkan baik ketidaknyamanan maupun terjadinya kecelakaan. Sementara itu kebutuhan masyarakat akan value pelayanan dan kenyamanan menjadikan acuan berbagai pihak dalam perwujudan jalan yang berkelanjutan. Metode yang digunakan dalam menentukan jenis dan tingkat kerusakan pada penelitian ini menggunakan metode Road Condition Index (RCI). RCI adalah salah satu system penilaian yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan kondisi perkerasan jalan berdasarkan jenis dan tingkat kerusakan dalam usaha pemeliharaan jalan. Pemeriksaan dilakukan dengan metode sederhana, yaitu mencatat kondisi perkerasan yang ada setiap 50 meter yang dicatat dan mengisikannya dalam formulir. Berdasarkan hasil survey dan analisa yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut terdapat perbedaan panjang ruas jalan purwakarta yang didapat dari dinas adalah 1867m sedangkan hasil survey adalah 1405 m, hal ini dimungkinkan adanya perbedaan titik sta awal dan sta akhir. Secara pengamatan visual, ruas jalan purwakarta mempunyai nilai rata rata yang baik dengan nilai SDI adalah 0
Besaran Biaya Korban Kecelakaan Sepeda Motor di Kota Bandung
An an Anisarida;
Syapril Janizar Janizar
GEOPLANART Vol 2, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Winaya Mukti
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (578.668 KB)
|
DOI: 10.35138/gp.v2i2.181
Kecelakaan lalu lintas di Kota Bandung mengakibatkan jumlah korban fatalitas kecelakaan sepeda motor meningkat. Jumlah korban fatalitas dapat menimbulkan besaran biaya korban kecelakaan lalu lintas. Metode perhitungan yang dipakai dalam penelitian ini menggunakan pendekatan metoda the gross output (gross output metode). Metoda ini dapat dilihat pada peraturan yang dikeluarkan pemerintah pada tahun 2005. Metode ini diasumsikan dapat menghitung nilai dari seluruh sumber daya yang hilang dari semua pihak akibat kecelakaan. Metode yang digunakan untuk menghitung biaya korban kecelakaan dilakukan melalui kategori korban kecelakaan. Kesimpulan yang dapat diambil dari pembahasan dalam paper ini adalah jumlah besaran biaya korban kecelakaan yang ditimbulkan dari kecelakaan lalu lintas mengalami peningkatan pada tahun 2013 sampai tahun 2014 sedangkan sebaliknya pada tahun 2015 sampai dengan tahun 2016. Peningkatan besaran biaya korban kecelakaan terbesar pada tahun 2017. Jumlah korban meninggal dunia yang besar dapat menyebabkan peningkatan biaya kecelakaan lalu lintas.
METODE MEKANISTIK-EMPIRIS UNTUK MENGEVALUASI TEBAL PERKERASAN LENTUR MENGGUNAKAN PROGRAM (STUDI KASUS : JALAN CIBADAK-CIKIDANG-PELABUHAN RATU).
An An Anisarida;
Slamet Prabowo;
Engelbertha N. Bria Seran
JURNAL TEKNIK SIPIL CENDEKIA (JTSC) Vol 4 No 1 (2023): February
Publisher : Departement of Civil Engineering, Universitas Winaya Mukti
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51988/jtsc.v4i1.128
Ruas Jalan Cibadak-Cikidang-Pelabuhan Ratu merupakan jalan provinsi dalam rangka mendukung perkembangan daerah Jawa Barat Selatan untuk menumbuhkan investasi yang berdampak pada peningkatan perekonomian nasional. Pada penelitian ini digunakan Pt-T-01- 2002-B serta Manual Desain Perkerasan Jalan 2017 untuk mendesain tebal perkerasan lentur pada ruas jalan tersebut secara empiris yang dikontrol dengan program KENPAVE secara mekanistik. Tebal lapis perkerasan lentur yang didapatkan menggunakan metode Pt T-01-2002-B adalah AC-WC dengan tebal 4 cm dan AC-BC dengan tebal 8 cm sebagai lapis permukaan, AC-Base sebagai lapis pondasi atas dengan tebal 10 cm dan LFA Kelas A sebagai lapis pondasi bawah dengan tebal 20 cm. Tebal lapis perkerasan lentur yang didapatkan menggunakan metode Manual desain perkerasan jalan 2017 adalah AC-WC dengan tebal 4 cm dan AC-BC dengan tebal 6 cm sebagai lapis permukaan, AC-Base sebagai lapis pondasi atas dengan tebal 8 cm dan LFA Kelas A sebagai lapis pondasi bawah dengan tebal 30 cm. Hasil evaluasi menggunakan program KENPAVE didapatkan bahwa hasil desain perkerasan lentur metode struktur perkerasan baik hasil desain melalui Pt T-01- 2002-B maupun Manual Desain Perkerasan Jalan 2017 mampu mencapai umur rencana. Tebal perkerasan alternatif yang mampu menahan repetisi beban lalu lintas ditinjau dari fatigue cracking, rutting dan permanent deformation dari metode Pt T-01-2002-B dan Manual Desain Perkerasan Jalan 2017 B adalah AC-WC dengan tebal 4 cm dan AC-BC dengan tebal 5 cm sebagai lapis permukaan, AC-Base sebagai lapis pondasi atas dengan tebal 5 cm dan LFA Kelas A sebagai lapis pondasi bawah dengan tebal 35 cm.
ANALISIS PELEBARAN RUAS JALAN CIOMAS - MANDALAWANGI
An An Anisarida;
Lathifah Nasayyidah Sopian
JURNAL TEKNIK SIPIL CENDEKIA (JTSC) Vol 4 No 2 (2023): July
Publisher : Departement of Civil Engineering, Universitas Winaya Mukti
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51988/jtsc.v4i2.148
Jalan di Indonesia secara konstan mengalami peningkatan seiring dengan pertumbuhan penduduk, pergerakan arus serta volume lalu lintas. Jalan yang memiliki fungsi sebagai sarana penghubung antara manusia dengan tata guna lahan agar dapat meningkatkan kapasitas jalan maka diperlukan pelebaran. Jalan Ciomas – Mandalawangi merupakan jalan provinsi yang selalu di jadikan jalan alternative untuk menuju kawasan wisata di sekitar lokasi, saat ini kondisi lebar jalan exsisting nya belum sesuai standar jalan provinsi di mana lebar minimal kurang lebih 8 meter sehingga di perlukan suatu penanganan dengan cara melebarkan ruas jalan Ciomas – Mandalawangi guna memperlancar arus lalulintas di ruas jalan tersebut. Perencanaan pelebaran jalan ini menggunakan Metode Pt-T-01-2002-B/AASTHO 1993. Dari hasil analisa dapat disimpulkan diperoleh tebal lapis permukaan Laston adalah AC-WC 4 cm, AC-BC 6 cm, tebal Lapis Pondasi Atas (Agregat) kelas A dengan CBR 100% adalah 16 cm, Lapis pondasi bawah (sirtu) kelas B dengan CBR 50% adalah 24 cm dengan umur rencana 20 tahun.
PELEBARAN RUAS JALAN GUNUNG SARI – MANCAK – ANYER
An An Anisarida;
Sri Handayani
JURNAL TEKNIK SIPIL CENDEKIA (JTSC) Vol 4 No 2 (2023): July
Publisher : Departement of Civil Engineering, Universitas Winaya Mukti
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51988/jtsc.v4i2.153
The growth of road infrastructure in Indonesia is increasing in line with the growth in traffic volume. Roads that function as a means of connecting between humans and land use in order to increase road capacity require widening. Jalan Gunungsari - Mancak - Anyer is a provincial road that has always been used as an alternative road to the Anyer tourist area, currently the condition of the existing road width does not meet provincial road standards where the minimum width is approximately 7 meters so that a handling is needed by widening the Gunungsari - Mancak - Anyer road section so that it can increase road capacity on this road section, so that a handling system arrangement is needed so that there are no obstacles or blockages and optimal service. Planning for widening this road using the Road Pavement Manual method Number 04/SE/Db/2017 obtained that the thickness of the Hotmix (AC – WC) surface layer is 6 cm, the thickness of the upper foundation layer (aggregate) class A is 16 cm, the lower foundation layer (aggregate) class B is 24 cm with a design life of 10 years.
THE APPROACH OF SOFT SYSTEMS METHODOLOGY FOR SYSTEM ONLINE MANAGEMENT CONSULTANT CONSTRUCTION
Anisarida, An An;
Syapril Janizar;
Gary Raya Prima
Dinasti International Journal of Digital Business Management Vol. 1 No. 3 (2020): Dinasti International Journal of Digital Business Management (April - May 2020)
Publisher : Dinasti Publisher
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31933/dijdbm.v1i3.239
Consultant as a service provider konstrukusi in order to realize its goal to ensure public safety and create a comfort environment of the construction need to organize a system of internal governance of the company. Governance is translated into the stages of the stages in the implementation of Construction Services. Soft Systems Methodology is the methodology suitable to assist the consultant planner. This methodology can explain their purpose and then designing the system of human activity to achieve these goals. The stages that exist in the methodology of SSM consists of 7 stages that starts from the verification problem situation that is not structured through the design of the system of human activity which are expected to help improve the situation. Think the system is a field transdisiplin that appears as a response to the limitations of a technical approach in the process of reduction to solve a certain problem which in this case is attempted to be applied through the SSM as a method in the application of the online management system (OMS) consultant planner construction. Using the approach of Soft Systems Methodology, manufacturing management system online (CSO) will more fully describe the problems that occurred previously.
Perkerasan Jalan Kawasan Wisata Kabupaten Cianjur
-, Febrian;
Anisarida, An An;
Janizar, Syapril
CRANE: Civil Engineering Research Journal Vol 5 No 1 (2024): CRANE
Publisher : Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer, Universitas Komputer Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.34010/crane.v5i1.12708
Pertumbuhan ekonomi dapat meningkatkan sektor dibidang pariwisata, salah satu lokasi pariwisata yang akan dikembangkan berada dikabupaten cianjur. Lokasi pariwisata perlu direncanakan untuk mendukung daya tarik wisatawan terhadap fasilitas yang tersedia. Perlu adanya infrastruktur yang memadai untuk menjamin keberlangsungan lokasi pariwisata, yang dapat diakses oleh semua moda dan tempat. Tujuan penelitian ini untuk menentukan komposisi konstruksi perkerasan jalan yang digunakan sebagai infrastruktur lokasi wisata. Metode yang digunakan dengan menggunakan metode analisis komponen berdasrkan SKBI. Pengumpulan data dilakukan dengan mengumpulkan data primer dan sekunder. Hasil penelitian didapatkan komposisi struktur perkerasan yang didapat adalah perekrasan aspal setebal 6cm, lapisan baru pecah kelas B dengan CBR> setebal 30 cm, sirtu kelas B dengan 23 cm
The Study of Legal Aspects of Construction In Civil Building
Janizar, Syapril;
Anisarida, An An
Greenation International Journal of Law and Social Sciences Vol. 1 No. 2 (2023): (GIJLSS) Greenation International Journal of Law and Social Sciences (June 2023
Publisher : Greenation Research & Yayasan Global Resarch National
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.38035/gijlss.v1i2.95
Development is very beneficial for human life, but it does not escape losses both material losses and casualties if it is not built properly. One of them is the collapse of the Kutai Kartanegara Bridge which caused people to die and be injured. Building failure is one of the consequences that can endanger public safety and state losses. The failure of this building is explicitly regulated in Law Number 2 of 2017 concerning Construction Services starting from Article 60 to Article 67. In addition, building failure is regulated in Government Regulation Number 29 of 2000 concerning the Implementation of Construction Services, namely in Chapter V Articles 34 to Article 48. Criminal liability under the Construction Services Law can only be imposed on individuals who directly carry out construction work and not on construction service providers in the form of corporations because to fund the corporation requires clarity to whom sanctions will be imposed. Based on the results of the analysis that based on the theory of criminal liability, with the shift of legal subjects from fysieke dader to functionale dader, corporations can be held accountable. This is also supported by theories and doctrines about corporate responsibility. With the birth of Supreme Court Regulation Number 13 of 2016 concerning Procedures for Handling Criminal Cases by Corporations, where this is intended as an effort to provide legal certainty and encourage the effectiveness and optimization of procedural law in handling criminal cases with corporate actors and / or corporate administrators.
Pengaruh Kebersihan Agregat terhadap Kuat Tekan Beton dan Implikasinya pada Konstruksi Struktural Sederhana
Sukadarminto, Sukadarminto;
Anisarida, An An;
Janizar, Syapril
JURNAL TEKNIK SIPIL CENDEKIA (JTSC) Vol 6 No 2 (2025): July
Publisher : Departement of Civil Engineering, Universitas Winaya Mukti
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51988/jtsc.v6i2.350
Aggregate is the primary component of concrete, comprising 60–75% of its total volume; thus, its quality greatly influences the final performance of the concrete. Technical standards such as SNI 03-2834-2000 and ASTM C33/C33M recommend that aggregates be free from impurities such as silt and clay to ensure proper bonding and long-term durability. However, in small- to medium-scale construction, unwashed aggregates are still commonly used due to economic and logistical constraints. This study aims to evaluate the effect of aggregate cleanliness on compressive strength and explore its practical implications for low-rise residential buildings. The research was conducted through a laboratory experiment using two aggregate conditions (washed and unwashed), a mix ratio of 1:2:3, and compressive strength testing at 7, 14, and 28 days. The results indicate that concrete made with unwashed aggregates exhibited consistently higher compressive strength (by 0.9–1.1 MPa) compared to concrete with washed aggregates. This is likely due to a filler effect from fine particles that enhance the concrete’s density. However, high silt content may still compromise long-term durability. The findings suggest that locally sourced, unwashed aggregates could serve as an alternative for structural concrete in low-rise housing, provided proper quality control and technical validation are implemented.