Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK YANG MENGALAMI DIARE DENGAN MASALAH KEPERAWATAN HIPOVOLEMIA DI RUANG ANAK RSUD MGR. GABRIEL MANEK SVD, ATAMBUA Maia, Esperanca De Deus; Nahak, Maria Paula Marla; Nitsae, Veronika; Anugrahini, Christina
Jurnal Sahabat Keperawatan Vol. 6 No. 2 (2024): Jurnal Sahabat Keperawatan, Agustus 2024
Publisher : Program Studi Keperawatan, Universitas Timor Jln. Mgr. Sugyopranoto-Haliwen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32938/jsk.v6i2.7897

Abstract

Latar belakang: Diare pada anak dapat menyebabkan hypovolemia yang berdampak pada penurunan berat badan dan berlanjut pada gagal tumbuh. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan asuhan keperawatan pada anak yang mengalami diare dengan masalah keperawatan hipovolemia di RSUD MGR. Gabriel Manek SVD, Atambua. Metode: Penelitian ini merupakan desain studi kualitatif dengan pendekatan studi kasus pada Anak yang mengalami diare dengan masalah keperawatan hipovolemia di RSUD MGR. Gabriel Manek SVD, Atambua. Studi kasus dilakukan pada 24 Januari 2024 sampai 2 Februari 2024. Subyek yang digunakan adalah dua orang anak yang mengalami diare dengan masalah keperawatan hypovolemiadi RSUD MGR. Gabriel Manek SVD, Atambua. Hasil: Setelah dilakukan tindakan keperawatan berupa manajemen hipovolemia selama 3x24 masalah hipovolemia berhubungan dengan kehilangan cairan aktif pada teratasi. Simpulan: setelah dilakukan asuhan keperawatan 3 x 24 jam dengan pendekatan proses keperawatan yang terdiri dari pengkajian, diagnosis keperawatan, intervensi keperawatan, pelaksanaan dan evaluasi, masalah kehilangan cairan aktif yang dialami Anak. C.B.M dan Anak. G.K.B, teratasi.
GAMBARAN KARAKTERISTIK DAN KUALITAS HIDUP PASIEN GAGAL JANTUNG KONGESTIF DI RS X, ATAMBUA Berek, Pius A. L.; Made, Yovita; Fouk, Maria Fatimah W. A.; Anugrahini, Christina; Saputra, Charles; Alimansur, Moh.
coba Vol 13 No 2 (2025): Mei 2025
Publisher : Akademi Keperawatan Dharma Husada Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32831/jik.v13i2.865

Abstract

Latar Belakang: Gagal jantung kongestif (GJK) merupakan salah satu penyakit kronis progresif yang berdampak luas terhadap berbagai aspek kehidupan pasien, termasuk fisik, psikologis, sosial, dan lingkungan. Pemantauan kualitas hidup pasien menjadi penting dalam perencanaan intervensi keperawatan yang holistik. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik dan kualitas hidup pasien gagal jantung kongestif di RS X Atambua. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 120 pasien GJK berpartisipasi dalam pengisian kuesioner Minnesota Living with Heart Failure Questionnaire (MLHFQ) yang terdiri dari 20 item pertanyaan mencakup empat domain kualitas hidup: fisik, psikologis, sosial, dan lingkungan. Hasil: Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar pasien memiliki kualitas hidup yang tergolong rendah. Persentase responden dengan kualitas hidup baik dalam masing-masing domain adalah: fisik (25,8%), psikologis (53,3%), sosial (34,2%), dan lingkungan (37,5%). Kesimpulan: Kualitas hidup pasien gagal jantung kongestif di RS X Atambua cenderung rendah, terutama pada domain fisik. Temuan ini menunjukkan perlunya pendekatan multidisipliner dalam meningkatkan kualitas hidup pasien, dengan fokus pada perawatan fisik dan dukungan sosial yang berkelanjutan. Kata Kunci: gagal jantung kongestif, kualitas hidup, MLHF, pasien kronik, RSUD Atambua
1000 HARI PERTAMA KEHIDUPAN (HPK) PADA IBU HAMIL DAN KELUARGA BERESIKO STUNTING DI DESA KABUNA HALIWEN ATAMBUA NUSA TENGGARA TIMUR Anugrahini, Christina; Fouk, Maria Fatimah W A; Asa, Sefrina Maria Seuk; Naiboho, Jeni Aleta
BUDIMAS : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol. 6 No. 1 (2024): BUDIMAS : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : LPPM ITB AAS Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stunting merupakan salah satu masalah gizi kronis dan masih menjadi masalah di seluruh dunia yang diakibatkan oleh asuhan dan asupan nutrisi yang tidak optimal yang dimulai dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun, artinya status tersebut menunjukkan indikasi masalah gizi kronis akibat kekurangan gizi maupun infeksi dalam jangka waktu yang lama sehingga memicu terjadinya malnutrisi maupun infeksi yang akan menjadi awal mula turunnya kualitas generasi pembangunan Indonesia di masa depan. Ketidaktahuan penyebab stunting dalam 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kejadian stunting, sehingga perlu dilakukan sosialisasi menggunakan media yang efektif. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberikan sosialisasi tentang 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) pada Ibu Hamil dan Keluarga Beresiko Stunting di Desa Kabuna Haliwen Atambua Nusa Tenggara Timur. Peserta pada sosialisasi ini adalah 25 Ibu Rumah Tangga dan 6 Kader, 1 Penyuluh KB, 1 Perawat dan 1 Kader Pembangunan Masyarakat. Hasil: Tingkat Pengetahuan tentang 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) pada Ibu Hamil dan Keluarga Beresiko Stunting 97% Baik. Saran: Tim PkM bekerjasama dengan mitra dalam hal ini pendidikan tinggi khususnya untuk 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) pada Ibu Hamil dan Keluarga Beresiko Stunting. Monitoring dan evaluasi pada ibu hamil dan keluraga beresiko stunting secara berkala.
PELATIHAN PENGOLAHAN BAHAN MAKANAN LOKAL BERBASIS SERBUK DAUN KELOR DI DESA KABUNA HALIWEN ATAMBUA NUSA TENGGARA TIMUR Fouk, Maria Fatimah W A; Anugrahini, Christina; Da Silva, Maria Jenisa
BUDIMAS : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol. 6 No. 1 (2024): BUDIMAS : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : LPPM ITB AAS Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kelor atau daun merungga (Moringa oleifera) merupakan tanaman yang mempunyai kasiat dan nutrisi telah pupuler selama beberapa abad sebagai tanaman yang multiguna, nutrisi berlimpah dan mempunyai khasiat sebagai obat. Namun pembuatan kelor menjadi tepung atau bubuk serta pengembangannya menjadi tambahan makanan fungsional belum banyak dilakukan. Pembuatan menjadi bubuk daun kelor merupakan satu dari beberapa cara yang bisa dilakukan agar dapat dijadikan sebagai tambahan makanan fungsional kaya nutrisi. Daun kelor merupakan tumbuhan yang digunakan sebagai bahan pangan merupakan tumbuhan yang kaya akan zat nutrisi dan tidak bersifat toksik bagi tubuh manusia. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberikan pelatihan pengolahan bahan makanan lokal berbasis serbuk daun kelor di Desa Kabuna Haliwen Atambua Nusa Tenggara Timur. Peserta pada pelatihan ini sejumlah 21 peserta dan 5 kader. Hasil: Pembentukan Tim pelatihan pengolahan bahan makanan lokal berbasis serbuk daun kelor melibatkan kader dan masyarakat. Peningkatan pengetahuan 96% baik dalam hal pengolahan bahan makanan lokal berbasis serbuk daun kelor. Saran: Tim PkM bekerjasama dengan mitra dalam hal ini pendidikan tinggi khususnya untuk pelatihan pengolahan bahan makanan lokal berbasis serbuk daun kelor. Monitoring dan evaluasi pada masyarakat tentang pengolahan bahan makanan lokal berbasis serbuk daun kelor secara berkala.
SOSIALISASI PENTINGNYA BUDAYA LITERASI UNTUK ANAK USIA DINI MELALUI BERCERITA DONGENG DI DESA KABUNA HALIWEN ATAMBUA NUSA TENGGARA TIMUR Anugrahini, Christina; Fouk, Maria Fatimah W A; Sin, Maria Faustin Vickyyanti
BUDIMAS : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol. 6 No. 1 (2024): BUDIMAS : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : LPPM ITB AAS Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Literasi Anak usia dini merupakan sasaran yang sangat tepat untuk menerapkan gerakan budaya literasi di lingkungan keluarga maupun sekitarnya. Gerakan literasi dapat diwujudkan dengan metode mendongeng pada anak. Kemampuan literasi anak bukan hanya sebatas membaca dan menulis, namun bagaimana anak memahami informasi, berfikir kritis dan memecahkan masalah. Kemampuan literasi anak akan berkembang baik jika media stimulus yang digunakan menarik dan menyenangkan untuk anak, adapun media tersebut adalah dongeng dan permainan tradisional. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberikan Sosialisasi Pentingnya Budaya Literasi untuk Anak Usia Dini melalui Bercerita Dongeng di Desa Kabuna Haliwen Atambua Nusa Tenggara Timur. Hasil: Pembentukan Tim sosialisasi Pentingnya Budaya Literasi untuk Anak Usia Dini melalui Bercerita Dongeng dihadiri oleh 1 Tutor Paud, 7 Ibu Rumah Tangga, 11 Anak Paud. Peningkatan pengetahuan peserta mengenai sosialisasi Pentingnya Budaya Literasi untuk Anak Usia Dini melalui Bercerita Dongeng 98% Baik. Saran: Tim PkM bekerjasama dengan mitra dalam hal ini pendidikan tinggi khususnya untuk Pentingnya Budaya Literasi untuk Anak Usia Dini melalui Bercerita Dongeng. Monitoring dan evaluasi pada Budaya Literasi untuk Anak Usia Dini melalui Bercerita Dongeng secara berkala.
Analisis peluang dan tantangan penanggulangan TB paru Berek, Pius Almindu Leki; Seu, Imelda; Anugrahini, Christina
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2234

Abstract

Background: Pulmonary tuberculosis (TB) remains a major public health problem in Indonesia, particularly in regions with complex geographic and social characteristics. Disparities in case detection, stigma against patients, and limited access to health services remain significant challenges. This situation demands a mapping of local evidence-based opportunities and challenges as a basis for strengthening TB control strategies, including through increased cross-sectoral collaboration. Purpose: To analyze the opportunities and challenges in pulmonary TB control as a basis for formulating strategic recommendations and developing a regional action plan. Method: This quantitative descriptive study was conducted in 2025 in Belu Regency, East Nusa Tenggara. The sampling technique used non-probability sampling with a sample size of 218 respondents. The independent variables in this study were the opportunities and challenges of the TB program, while the dependent variable was the effectiveness of TB control. Data analysis used univariate analysis in the form of frequency distributions. Results: A total of 218 respondents participated in this study. The majority of respondents considered government policies, the competence of health workers, the involvement of community leaders, and technological support as significant to very significant opportunities for TB control. Conversely, stigma against TB patients, budget constraints, low community participation, geographic barriers, and suboptimal cross-sector collaboration were identified as key challenges. Conclusion: Border regions have strong structural and social opportunities for accelerating TB elimination, but still face various multidimensional challenges. Efforts to strengthen community-based risk communication, optimize regional financing, and increase access to health services are crucial. Integration of cross-sector collaboration is key to supporting the success of a sustainable TB control program.   Keywords: Control; Challenges; Opportunities; Pulmonary Tuberculosis (TB).   Pendahuluan: Tuberkulosis (TB) paru masih menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di Indonesia, terutama di wilayah dengan karakteristik geografis dan sosial yang kompleks. Kesenjangan dalam penemuan kasus, stigma terhadap penderita, serta keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan masih menjadi tantangan yang signifikan. Kondisi ini menuntut adanya pemetaan peluang dan tantangan berbasis bukti lokal sebagai dasar penguatan strategi penanggulangan TB, termasuk melalui peningkatan kolaborasi lintas sektor. Tujuan: Untuk menganalisis peluang dan tantangan penanggulangan TB paru sebagai dasar perumusan rekomendasi strategis dan penyusunan Rencana Aksi Daerah (RAD). Metode: Penelitian deskriptif kuantitatif, dilaksanakan tahun 2025 di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Teknik pengambilan sampel menggunakan non-probability sampling dengan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 218 responden. Variabel independent dalam penelitian ini adalah faktor peluang dan tantangan program TB, sedangkan variabel dependen adalah efektivitas penanggulangan TB. Analisis data yang digunakan univariat dalam bentuk distribusi frekuensi. Hasil: Sebanyak 218 responden berpartisipasi dalam penelitian ini, mayoritas responden menilai kebijakan pemerintah, kompetensi tenaga kesehatan, keterlibatan tokoh masyarakat, dan dukungan teknologi sebagai peluang besar hingga sangat besar dalam penanggulangan TB. Sebaliknya, stigma terhadap penderita TB, keterbatasan anggaran, rendahnya partisipasi masyarakat, hambatan geografis, serta kolaborasi lintas sektor yang belum optimal diidentifikasi sebagai tantangan utama. Simpulan: Wilayah perbatasan memiliki peluang struktural dan sosial yang kuat untuk percepatan eliminasi TB, namun masih dihadapkan pada berbagai tantangan multidimensional. Upaya penguatan komunikasi risiko berbasis komunitas, optimalisasi pembiayaan daerah, serta peningkatan akses terhadap layanan kesehatan. Integrasi kolaborasi lintas sektor menjadi kunci penting dalam mendukung keberhasilan program penanggulangan TB secara berkelanjutan.   Kata Kunci: Peluang; Penanggulangan; Tantangan; Tuberkulosis (TB) Paru.